
Sampai di rumah, Nathan langsung melempar tasnya asal ke sofa. Kecewa, adalah gambaran yang dia rasakan sekarang. Rasa takut itu kembali menyelimuti dirinya. Dia tidak ingin sakit hati lagi. Cukup karena Jessie saja.
"Dek Nathan kenapa? Itu pipinya memar, berdarah. Saya bantu bersihin mau?" tanya salah satu pekerja di rumahnya.
Nathan menggelengkan kepalanya. "Enggak usah, bi. Gapapa. Nanti Nathan bersihin sendiri aja."
Baru saja Nathan mau melangkah ke kamarnya, mamanya sudah mengetahui keberadaannya lebih dulu.
"Sini, sayang," panggil Lina sambil mengambil es batu dari kulkas dan beberapa kain.
Wajah Nathan terlihat murung. Lina khawatir sesuatu terjadi padanya. "Kamu kenapa? Cerita sama mama."
"Laura bikin Nathan kecewa, ma. Dia gak pernah cerita kalau mau kuliah bareng cowo lain. Mereka les bahasa bareng, ma. Pasti mau keluar negeri deh. Terus omongan cowo itu bikin Nathan emosi. Mangkanya jadi tonjokan. Gak salah kan Nathan kayak gini?"
Lina menaruh beberapa es batu ke dalam sebuah kain. Dia mulai mendekatkan ke bagian memar di wajah anaknya. "Eh, ini darahnya masih ngalir." Cepat-cepat Lina mengambil kain lainnya yang sudah dia siapkan tadi.
"Mama dengarkan tadi Nathan cerita apa? Nathan males ulangin lagi," kata Nathan dengan malas. Sesekali dia meringis karena kesakitan.
"Iya, sayang. Mama denger. Mama ngerti kok posisi kamu gimana. Tapi, sebagai cowo harus bisa kendaliin emosinya. Jangan dikit-dikit diselesaiin pake kekerasan fisik gini." Lina meneruskan mengompres bagian memar itu.
Tidak ada jawaban dari Nathan. Tangannya memegang ponsel dengan niat mematikannya. Dia sedang ingin sendiri dulu, tanpa mengetahui alasan dari Laura.
Arvin terkekeh ketika mendengar cerita dari anaknya. Dia pernah juga diposisi itu saat merebutkan sosok istrinya. "Kamu harus dewasa, Nath. Kita sebagai cowo harus bisa melawan ego. Jangan sampe nanti cewe kamu yang mikirnya kamu ngambekan. Coba ngomong baik-baik sama dia. Tanya sama dia."
Nathan menganggukkan kepalanya paham. Tapi dia tidak ingin sekarang. Mungkin besok ketika pulang sekolah?
*
Sepanjang les bahasa, Laura sama sekali tidak bicara. Dia kesal dengan Martin, juga Olin. Dia yakin, pasti Olin yang menceritakan ini.
"Ngerti Laura?" tanya bu Yuna sambil menunjukkan sebuah kalimat di bukunya.
Laura terdiam cukup lama. Sampai akhirnya suara Martin yang menjawab.
"Kalo gak ngerti saya yang ajarin, bu. Gampang," sahut Martin santai. Dia memang terlalu menganggap semuanya santai, jadi dia tidak merasa bersalah sama sekali. Baginya, hidup tuh harus enjoy.
1 jam berlalu, les kini di akhiri. Laura sama sekali tidak bicara setelah kejadian tadi. Dia mengambil buku-bukunya, lalu meninggalkan Martin begitu saja.
"Woi," panggil Martin sambil menahan lengan Laura.
Laura menatapnya tajam. "Lo denger kan yang dia bilang tadi? Gak usah pegang-pegang!" Dia menghempas tangan Martin begitu saja.
"Serius amat sih lo. Sans aja kali," ucap Martin sambil terkekeh pelan. Dia meraih pergelangan tangan Laura, dan menempelkan telapak tangan Laura ke wajahnya. "Tanggung jawab, kompresin luka gue!"
Dengan cepat Laura menurunkan tangannya dari wajah cowo itu. "Apaan sih?! Ogah!"
"Ada apa sih? Kalian kenapa ribut?" tanya Alma sambil menuruni anak tangga rumahnya.
"Martin cuma minta tolong Laura buat kompresin luka doang kok, tan," jawab Martin sesekali melirik wajah Laura yang terlihat kesal.
Alma kini berdiri diantara mereka. Dia menoleh ke arah Laura. "Kamu bantu dia tuh. Kasihan dia. Mama ambilin kain sama es batu dulu ya. Kalian duduk aja disana." Tangan Alma mengarah ke ruang tamu.
Terpaksa. Laura mau tidak mau menurut. Sambil menunggu, dia mencoba untuk minta maaf ke Nathan. Sudah banyak pesan yang dia kirim, tapi tidak dibalas. Dia juga sudah menelponnya, tapi tidak diangkat.
"Cowo kayak dia tuh cuma menang di tampang," ucap Martin sambil melirik ke ponsel Laura. "Mauan aja lo minta maaf. Lo gak salah."
"Diem lo!" ketus Laura sambil mematikan layar ponselnya. Dia memikirkan kembali apa yang harus dia lakukan, agar Nathan tidak salah paham dengannya.
Alma memberikan balutan kain berisi es batu ke tangan anaknya. Dia memberikan senyuman yang penuh arti. Setelahnya, Alma pergi meninggalkan mereka.
Tangan Laura perlahan bergerak mendekati bagian memar di wajah Martin. Tanpa dia sadari, Martin sedang memperhatikannya.
"Kenapa lo mau sama dia sih?" tanya Martin tiba-tiba setelah benda di tangan Laura menyentuh wajahnya beberapa kali. "Dia baik emang?"
"Kepo!" Laura menekan wajah Martin dengan kasar.
Martin meringis kesakitan. "Woi! Gila lo! Sakit tau gak?!"
"Jawab dulu, Ra. Gua nanya!" teriak Martin dengan wajah seriusnya. Dia memang ingin tau alasan Laura kenapa. Karena kalau di lihat-lihat, tidak ada hal menarik dari cowo tadi.
Laura menjauhkan benda yang dia genggam dari wajah Martin. "Lo mau jadi wawancara?! Nanya mulu dari tadi!"
"Cepetan! Jawab aja sih. Susah amat!"
"Dia beda dari yang lain!" jawab Laura malas. Cukup kalimat itu saja yang menjadi penjelasannya. Baginya sudah cukup jelas.
Martin terkekeh seperti meremehkan penjelasan dari cewe dihadapannya. "Apa bedanya sama gue emang? Coba kasih contoh."
"Gue emang dasarnya suka cowo badboy-"
"Tunggu. Gue gak nanya tentang lo!" Martin melanjutkan lagi, sebelum Laura marah dan melanjutkan penjelasannya. "Tapi, Kenapa suka badboy?"
Benda yang tadinya dia genggam, kini dia taruh ke atas meja. Sepertinya Martin sudah tidak butuh dikompres lagi. "Menurut gue cocok aja sama gue. Karena emang gue juga badgirl, cewe nakal di sekolah."
Martin mengangguk paham. "Terus.. apa hubungannya sama pertanyaan gue?!" Dia melipat kedua tangannya didepan dada. Nafasnya dia hembuskan kasar. "Jadi setiap cowo yang badboy, lo suka?"
"Enggak juga. Cuma dia yang punya cara sendiri, dan bisa bikin gue nyaman," jelas Laura jujur. Memang kenyataannya seperti itu.
Lagi-lagi Martin menganggukkan kepalanya. "Gue bisa prediksi, beberapa waktu kedepan lo bakal jauh sama dia."
Laura tidak merespon. Dia mencerna kalimat itu di otaknya. Ya, dia setuju dengan pernyataan Martin. Alasan pertama, Olin akan membuat dirinya seolah-olah lebih pantas untuk Nathan. Kedua, dengan kepergiannya ke Jerman, akan membuat hubungan mereka lebih sulit. Jadi, Martin tidak salah dengan itu.
*
Sudah berapa ratus pesan yang Laura kirim, tapi dia masih belum mendapatkan balasan satu pun. Tangannya mulai malas untuk mengetik pesan.
Kini pukul 01:37 pagi. Iya, pagi. Laura belum tidur. Tiba-tiba pikirannya kacau. Ngapain juga sih gue kayak gini? Bukan gue banget kalo ngerayu cowo. Beruntung lo Nath, bisa bikin gue kayak gini! dumel Laura dalam hati.
Percuma. Mau menunggu sampai kapan lagi? Akhirnya Laura memutuskan untuk memejamkan matanya. Dia mencoba untuk tidur. Menit berikutnya, dia terjebak di alam mimpinya.
*
2 hari kemarin, Nathan hanya membalas pesan Laura singkat. Cowo itu terlihat tidak niat membalas pesannya. Laura pun sama, dia jadi malas sekarang. Usaha untuk mencegah kesalahan pahaman antara mereka, sia-sia.
"Gais, besok kita di undang ke acara tujuh belasan si Feli tuh. Adik kelas kita," ucap Nadine sambil menoleh ke arah mereka bergantian.
Claretta mengerutkan alisnya. "Adik kelas yang mana?"
"Kebiasaan deh lo! Mangkanya jangan murid cowo doang yang lo perhatiin!" teriak Nadine sambil menggelengkan kepalanya.
"Kai, lo dateng gak?" tanya Claretta sambil menghalang pandangan Kaila dari novelnya.
Kaila menutup novelnya yang sudah dia taruh pembatas sebelumnya. "Kalo kalian dateng, ya gue juga dateng."
Claretta langsung menoleh ke arah Laura. "Lo, Ra?" Tidak mendapatkan respon, dia langsung mendorong tubuh Laura pelan. "Woi!" teriaknya.
"Apaan?" Laura menatap mereka malas. Dia tidak mood bicara saat ini.
"Males gue kalo lo lagi kayak gini!" Claretta mengalihkan pandangannya.
"Iya, gue ikut." Laura menjawab pertanyaan Claretta tadi.
Detik berikutnya Claretta menoleh lagi, dia tersenyum. "Gitu dong. Tandanya lo dengerin kita."
Kehadiran seorang cowo yang membuat Laura memalingkan wajahnya. Dia merasa sangat bodoh telah mengirim pesan banyak, dan hanya dibalas singkat. Laura berjanji, tidak akan mengulangi hal bodoh seperti itu.
Nathan sama Laura bakal gimana ya?
Baca di episode berikutnya😉
Like dan komen.