
Kring kring
"Hai cewe, gabung boleh ya," minta Ethan yang langsung mengambil posisi duduk di sebelah kursi Kaila yang kosong. Diikuti juga oleh dua temannya.
Laura berdeham pelan, lalu menatap Nathan sekilas. Dia menghela nafasnya kesekian kali. "Hmm.. boleh tolong beliin minum gak?"
Seketika pengisi meja itu menoleh ke arah Laura. Tumben banget Laura mau minta tolong sama Nathan. Sungguh Laura sangat aneh hari ini.
"B-boleh." Nathan berdiri lalu berjalan membelikan sebotol air mineral.
Claretta tersenyum lebar melihat perubahan Laura yang terlihat jelas. "That's my girl."
"Weh, anak barunya masuk kelas gua," ucap Jason dengan wajah datarnya. Dia mengambil makanan yang terletak di meja, entah milik siapa.
"Olin maksud lo?" Nadine akhirnya ikut mengeluarkan suaranya. Setelahnya, dia menyeruput minuman yang dia beli beberapa menit lalu.
Jason mengangguk, sambil melahap lagi makanan itu. Tidak ada yang marah ini. Berarti dia diperbolehkan memakannya.
"Nih, Ra." Nathan memberikan minuman yang dia beli, setelah itu duduk di sebelah Laura. Menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Makasih," kata Laura dengan senyum tipisnya.
"Ra." Suara ini membuat mereka langsung menoleh. Suara ini sangat dikenal oleh Laura. Seketika moodnya menurun di waktu itu juga. Senyumnya memudar.
Laura menatapnya, tidak merespon apa pun. Seisi meja menjadi diam tidak bersuara. Semua ikut menatap ke arah Olin, kecuali Nathan. Dia berkali-kali melihat perubahan ekspresi Laura ketika didepan Olin. Nathan yakin, pasti ada sesuatu. Dia harus cari tau.
"Gue duduk disini ya, Ra? Bingung mau kemana," minta Olin dengan senyum kakunya. Detik berikutnya arah matanya menuju ke Nathan, yang menjadi tujuan Olin kesini.
Laura mengangguk pelan. Tidak mungkin dia menolaknya. Pandangannya menuju ke arah Claretta yang sudah menatapnya ketika Olin ijin bergabung. Tidak ada suara diantara mereka, hanya murid-murid dari meja lain yang sedang berbincang.
Kebetulan, bangku yang masih kosong adalah bangku yang berhadapan langsung dengan Nathan. Olin tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Hai, Nath," sapa Olin dengan senyumnya. Di matanya, Nathan selalu terlihat cool. Rasa ingin memiliki seorang Nathan semakin besar.
Ternyata benar apa yang selama ini Laura ceritakan. Olin memang terlihat manis didepan orang-orang. Bahkan ketiga cewe itu, hampir saja mengira bahwa Laura berbohong mengenai sikap buruk Olin. Mereka akhirnya tau ketika melihat Olin menatap tajam Laura.
Nathan tersenyum sekilas. "Hai." Setelahnya, dia menoleh ke arah Laura yang berubah dari sebelumnya. Padahal dia sangat senang melihat Laura menjadi sosok yang murah senyum. Terlebih lagi, tadi Laura minta tolong padanya. Hanya dengan kehadiran Olin membuat Laura menjadi dingin dan cuek kembali.
"Ra? Lo gapapa?" tanya Nathan untuk memastikan. Ekspresi cewe itu sungguh drastis. Seumur-umur, dia baru melihat cewe seperti Laura yang moodnya cepat berganti dalam waktu bersamaan.
Laura menatap kosong ke arah depannya. Entah apa yang di pikirannya sekarang. Yang jelas, dia ingin cepat-cepat bel istirahat berakhir. Supaya dia bisa memiliki alasan untuk meninggalkan kantin.
"Woi, Ra!" teriak Ethan dengan cukup kencang. Dia menepuk tangan sekali didepan wajah Laura. Cewe itu tersentak kaget.
"Apaan?!"
"Nathan ajak ngomong dari tadi. Kasihan temen gue di kacangin." Tangan Ethan menekan-nekan pipi Nathan gemas. Masa Nathan dicuekin oleh Laura, yang statusnya sudah 'berpacaran'.
Laura menoleh ke arah Nathan yang dari tadi menatapnya. Setelahnya dia melirik sebentar ke arah Olin. Tidak ada 2 detik, Laura sudah mengalihkan kembali tatapannya ke Nathan. "Kenapa?"
"Lo yang kenapa? Kok aneh banget sih." Nathan menempelkan punggung tangannya ke dahi Laura. Tidak terasa hangat. Biasa saja.
"G-gue mau ke toilet dulu, sekalian ke kelas. Duluan ya, bye," pamit Laura sambil berdiri dengan tangan yang memegang botol minum. Dia sungguh malas untuk meladeni Olin sekarang. Olin akan selalu menghalalkan segala cara yang membuat Laura terlihat kalah.
"Gue nyusul Ara ya, bye guys." Satu persatu ketiga cewe itu ikut meninggalkan kantin. Sekarang mereka tau alasan Laura pergi duluan kenapa.
Karena Nathan merasa ada yang aneh, dia pun ikut berdiri dengan niat menyusul Laura ke kelas. "Gue mau samperin Laura dulu."
Dengan cepat Olin menahan tangan Nathan. Dia menatap lekat kedua mata cowo dihadapannya. "Nath, disini aja. Temenin gue."
Ethan dan Jason yang mendadak canggung dengan suasana ini, hanya bisa pura-pura tidak mendengarkan mereka. Sepertinya Nathan punya penggemar baru.
Olin mempererat genggaman tangannya. Dia menarik Nathan agar cowo itu tetap duduk bersamanya. "Gue gatau mau kemana, Nath. Tolong temenin gue."
"Ehem.. gue duluan deh Nath," pamit Jason yang sudah berdiri untuk meninggalkan mereka. Sebelum bergegas, Jason menepuk dua kali pundak Nathan dengan senyum yang penuh arti.
Ethan tidak ingin menjadi korban dari suasana ini. Dari pada ujung-ujungnya di suruh Nathan buat gantiin posisinya--nemenin Olin--lebih baik dia ikut Jason pergi dari kantin. "Gue juga, Nath."
Nathan menghela nafasnya panjang. Sial banget gue! Perlahan Nathan melepas tangan Olin dari tangannya. "Mending cari orang lain. Gue ada urusan."
"Gue belom kenal siapa-siapa," jawab Olin sambil mengangkat sebelah alisnya. Dia pura-pura melihat kiri-kanan agar terlihat bingung.
"Bima, mari dah.. lo penolong gua banget sumpah! Untung ada lo. Tolong temenin dia lagi nih, kalian udah kenal kan?" Nathan merangkul tubuh Bima yang sedang berjalan membawa nampan makanan agar mendekat kepadanya.
Olin berdecak sebal, tapi nyaris tidak terlihat. Nathan sungguh menyebalkan. Terlebih lagi Bima! Dia selalu muncul ketika Nathan ingin menghindar darinya.
"Dia lagi?" heran Bima. Wajahnya sungguh datar. "Yauda, mari ikut gua."
"Gamau, gue mau sama Nathan aja," dumel Olin sambil berpindah posisi menjadi di sebelah Nathan. Dia memberikan senyum penuh mohon kepada Nathan.
Nathan menggaruk kepalanya frustasi. Nih cewe ribet banget! "Terserah lo lah! Gue mau nyusul Laura intinya!" Tanpa menunggu respon dari Olin, Nathan langsung saja berjalan menuju kelas.
*
"Gila ya tuh kakak tiri lo! Gak tau diri, ****." Claretta memutar bola matanya malas sambil membasahi tangannya dengan air di wastafel kamar mandi.
Laura yang masih berada di dalam kamar mandi hanya berdiam tanpa berniat untuk membalas. Nathan masih di kantin sama Olin gak ya? Lagi ngapain mereka?
"Kalo Nathan mau sama Olin mah gak ngerti lagi sih gue! Seburuk itu tipe cewenya?!" sahut Nadine yang juga ikut kesal. Kehadiran Olin sangat mengganggu keseharian mereka. Padahal masih hari pertama.
Kaila tertawa kecil mendengarkan dumelan kedua temannya itu. Memang benar sih. Dia juga dari tadi melihat tingkah Olin yang sangat jelas ingin mencari perhatian pada Nathan.
Beberapa detik berikutnya, Laura keluar dari kamar mandi lalu mencuci tangannya. Dia merapihkan helaian rambutnya.
"Ra, gue ingetin sekali lagi ya, Nathan udah jadi pacar lo. Lo berhak atur Nathan yang mana yang baik buat dia. Jangan sampe Olin ambil alih semuanya!" peringat Claretta. Laura sungguh membuatnya geregetan. Kalau saja dia di posisi Laura, pasti di kantin tadi akan dia sengajakan untuk dekat-dekat dengan Nathan. Agar Olin panas.
Laura mengangguk pelan. Setelah itu dia berjalan menuju kelas, dan diikuti oleh ketiga temannya. Tiba-tiba dia teringat dengan janjinya pagi tadi. Ternyata tidak sekelas. Itu artinya? Dia harus pertahanin Nathan, sesuai dengan yang teman-temannya suruh. Keadaan pun ikut berpihak kepada mereka.
"Laura," panggil seseorang dari arah belakang. Sontak keempatnya menoleh bersamaan.
Laura tidak menjawab, menunggu sampai Olin melanjutkan perkataannya. Tapi, kenapa Olin bisa disini? Bukannya dia di kantin sama Nathan?
"Gue pinjem Laura dulu ya," ujar Olin dengan senyumnya. "Oh ya, kita belom kenalan, nama gue-"
Pantes saja orang-orang pada tertipu. Olin sungguh bermuka dua! Tidak di rumah, tidak di sekolah sama saja!
"Olin," potong Claretta dengan nada dingin. Tidak sama sekali tersenyum.
Olin mengerutkan alisnya. Kok dia bisa tau? Kenalan aja belom. "Tau dari mana?" tanya Olin dengan tawa kakunya.
Claretta memajukan langkahnya satu kali. Menatap Olin dengan tatapan tidak suka. "Laura suka cerita kok sama kita."
Pandangan Olin langsung terarah kepada Laura. Cerita apa aja tuh ke teman-temannya? Olin harus tanya ini! Dia harus tau.
"Oh. Laura, gue mau ngomong bentar." Olin balik ke tujuan utamanya. Dia menarik pelan tangan Laura. Ketiga teman Laura sempat menahan dan melarang Laura untuk pergi bersamanya. Tapi Laura mengasih kode agar mereka duluan ke kelas. Alhasil sekarang Olin membawa Laura, entah kemana.
Makasih buat yang udah baca untuk sejauh iniš„°
Ikutin terus ya ceritanya!
Komen dan like.