
Nathan mengantar cewe itu hingga sampai ke depan halaman kediaman si cewe. Sepanjang perjalanan, dia sama sekali tidak memulai pembicaraan. Walaupun suara cewe itu ngeisi keheningan antaranya, Nathan tetap diam.
"Makasih, Nath," ucap Olin dengan senyum lebarnya.
Tujuan awal Nathan mengiyakan Olin tadi, adalah untuk memastikan kalau Laura pulang dengan selamat. Tapi, dia tidak menemukan tanda-tanda kalau Laura sudah pulang. Mungkin dia udah di dalem - batinnya.
Nathan melajukan motornya, meninggalkan pekarangan rumah itu. Dia sedikit menyesal telah bersikap dingin ke pacarnya sendiri. Seharusnya dia bisa menyikapi masalah ini dengan baik.
Dia tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan pergi ke rumah kayu. Nathan mendadak ingin kesana.
*
Sungguh hari yang menyebalkan. Dicuekin Nathan, ponsel ketinggalan, diajak pulang doi malah gajadi, sekarang dia malah pergi sama cowo yang gak jelas tujuannya. Setiap dia tanya, selalu direspon galak oleh cowo itu.
Moodnya sudah jauh dibawah. Rasa kesalnya semakin meninggi. Walaupun dia marah, pasti cowo disebelahnya yang akan lebih marah darinya.
Malah Laura gak bawa ponsel, mau tidak mau dia melihat ke jalanan disampingnya, menghilangkan rasa kesal.
"Sampe, turun," suruh Martin yang lalu melepas sabuk pengamannya dan turun.
Mata Laura melihat ke arah gedung didepannya. Gedung bernuansa putih yang cukup tinggi. Tidak lama kemudian, dia turun mengikuti langkah Martin.
"Ngapain kita kesini?" tanya Laura pelan. Dia berhenti melangkah setelah berbicara, "gue gamau masuk kalo lo gak jawab!"
Martin membalikkan tubuhnya. Cewe itu benar-benar diam di tempatnya. "Bisa gak sih, gak usah ribet?! Gue juga gatau, Ra. Nyokap yang nyuruh kesini."
"Terus kenapa harus ada gue sih?! Sono, lo aja! Gue tunggu disini." Laura memutar bola matanya malas. Ngapain juga dia datang ke tempat yang sama sekali tidak perlu dia kunjungi.
"Laura Agatha Veronica," panggil Martin dengan sabar. Dia menghela nafasnya. "Tolong pake otak lo! Ngapain juga gue bawa lo kalo gak ada sangkut pautnya sama lo! Dasar, pinter!" Dia menekankan kata 'pinter' di kalimatnya.
Seorang cewe yang sedang berduduk manis di dalam membuat Laura terkejut. Dia adalah Rany, ibunya Martin. Laura tersenyum kaku. Apa barusan Rany melihatnya?
Martin tersenyum miring, lalu menghampiri mamanya. "Ma," panggil Martin sambil duduk disebelahnya.
"Iya. Kok Laura masih diem disana?" tanya Rany sambil menarik sudut kemeja sekolah anaknya. "Ajak kesini dong."
"Ribet dia. Masa aku ajak kesini malah marah-marah," adu Martin dengan nada malas-malasan.
Rany terkekeh. Mereka sangat lucu tadi. "Kamu bikin dia kesel pasti. Mangkanya dia marah-marah."
Bukan membela, mamanya malah lebih mendukung Laura. Martin rasa Laura sudah meracuni mamanya agar menyukai cewe itu.
Terpaksa Martin berdiri dan menghampiri Laura yang masih berdiri diam disana. "Dipanggil mama."
"Hmm." Laura berjalan dibelakang Martin menghampiri Rany. "Tante," sapanya ramah. Kepalanya sedikit dia tundukkan.
"Duduk, sayang," suruh Rany sambil menepuk kursi disebelahnya.
Laura tersenyum lalu duduk disebelah Rany. Dia menoleh ke arah Martin yang sedang menatapnya tanpa ekspresi. "Kalo boleh tau, kita mau ngapain ya, tante?" tanya Laura kepada Rany.
"Bu Yuna sementara gak bisa ngajar kalian. Dia ada sedikit masalah yang harus diselesaikan. Jadi, kalian bakal les disini sementara," jelas Rany dengan senyum. "Gak kerasa loh, bentar lagi kita ke Jerman. Tante gak sabar," lanjutnya antusias. Ini akan menjadi pengalaman pertamanya tinggal di negeri lain dalam waktu cukup lama.
Laura mengangguk paham. Pikirannya terlintas seseorang yang sedang bersikap dingin dengannya. Nathan lagi apa ya? Pikirnya.
"Eh, itu gurunya. Ayuk, kita bicara sama mereka," ajak Rany sambil mengarahkan mereka berdua untuk ikut masuk ke ruangan pendaftaran.
*
Tatapannya kosong. Telinganya terdapat earphone. Nathan menikmati alunan musik yang sedang dia dengarkan. Sesekali tangannya mengetik pesan, tapi belum sempat dia menekan tombol kirim, dia langsung menghapusnya lagi. Dia ingin sekali bertanya, apakah cewe itu sudah pulang.
"Gue gak boleh kayak gini," gumam Nathan. "Banci doang yang cuek sama cewenya!"
Sudah hampir 4 kali Nathan menghubungi Laura. Tapi, tidak ada satu pun yang diangkat.
Nathan menghela nafasnya kasar. Dia melepas earphone-nya, lalu memasukkan kedalam tas sekolahnya. Dia berjalan turun untuk pulang.
Tanpa sengaja Nathan melihat foto di mejanya berantakan. Dan sebuah foto terlihat jelas, tanpa debu yang seharusnya mengumpul disana. Nathan mengerutkan alisnya. Jessie kesini? Atau Laura yang liat ini?
Dert dert
Nathan langsung meraih ponselnya dengan secepat mungkin. Dia menghembuskan nafasnya kecewa. Bukan Laura.
Mama.
Km kn lg di luar.
Tlg beliin mama sate boleh?
*
Setelah berhasil terdaftar disana, ketiganya keluar dan mendapatkan sosok Erlan disana.
"Om," sapa Laura dengan ramah. Seperti tadi, dia menundukkan sedikit kepalanya.
Erlan tersenyum senang. "Iya. Kita makan dulu ya," ucapnya.
Bukannya ingin menolak, tapi Laura ingin sekali pulang sekarang. Dia ingin memberi kabar kepada pacarnya. Detik berikutnya, Laura mengurung niat itu. Dia rasa sudah seharusnya dia biarkan. Sudah berkali-kali dia mencoba untuk menjelaskan, tapi Nathan selalu menolaknya. Jadi, tidak salah kalau Laura kesal padanya.
Sesekali Martin melirik ke arah Laura. "Tumben gak main hp dari tadi."
Laura dibuat semakin bete ketika mengingat hal itu. "Ketinggalan."
Tidak ada jawaban dari Martin, hingga kini mereka sudah sampai di sebuah tempat makan, 'Sate Khas Senayan'. Tiba-tiba Laura teringat kalau dia belum memberikan kabar kepada orang di rumah. Tapi, mereka gak nyariin gue sama sekali.
Perut Laura terasa kenyang. Dia sudah tidak memiliki nafsu makan. Sore itu, dia hanya memakan sedikit nasi dan beberapa tusuk sate.
Jantungnya mendadak berdetak cepat ketika melihat sosok Nathan berdiri menghadap ke arahnya. Dia pasti salah paham!
Dengan cepat Laura langsung berdiri. "Bentar ya, om, tante."
Laura berlari menghampiri Nathan yang sudah berjalan meninggalkannya. "Nathan, tunggu." Dia menahan tangan Nathan dengan kuat. "Lo salah paham. Please, dengerin gue dulu!" teriaknya.
"Bisa lo pulang sama gue?" tanya Nathan. Dia sudah memikirkan baik-baik. Dia harus mendengarkan penjelasan cewe itu lebih dulu. "Gue bakal dengerin kalo lo jelasin malem ini."
"Oke, bentar," jawab Laura. Dia melangkah kembali ke dalam restoran, lalu berpamitan kepada mereka dan keluar menghampiri Nathan. "Ayuk."
Gue seneng liat lo gini. Semangat banget buat ngejelasin - batin Nathan. Senyum samarnya nyaris tidak terlihat.
Malam itu, Nathan membawa Laura ke rumahnya. Alasan pertama, karena mamanya sudah menunggu sate. Alasan kedua, dia sudah tidak tau mau pergi kemana selain ke rumah.
"Tante," sapa Laura dengan senyum ramahnya.
Lina membalas senyuman itu, lalu dia melirik ke arah Nathan dengan tatapan curiga. Seolah-olah Lina sedang bicara, 'udah baikan ya?'
"Mama, Nathan ajak Laura ke kolam renang ya. Tapi, mama jangan ganggu. Kita mau ngomong serius," ujar Nathan dengan wajah seriusnya. Setelahnya, dia meraih tangan Laura, membawa cewe itu ke tempat yang dia bilang tadi.
Kolam renang dengan sisi yang terdapat lampu-lampu, mampu menyita perhatian Laura. Rumah Nathan terlalu lengkap.
"Lo bisa jelasin sekarang," suruh Nathan seakan ingin diberi penjelasannya saat ini juga.
Laura menghela nafasnya pelan. Dia duduk disisi kolam, membiarkan setengah kakinya tercelup disana.
"Gue sama Martin gak ada apa-apa. Semua ini karena mama, papa yang nyuruh gue buat kuliah bareng dia disana. Awalnya gue sempet mau nolak, cuman karena mama terus-terusan mohon, gue gak bisa nolak."
Nathan mengangguk paham. Tapi kenapa harus pergi ke luar? Kenapa gak tetap di Indo? Dia mengurungkan niatnya untuk menanyakan ini.
"Gue salah ngira, Ra," ucap Nathan nyaris tidak terdengar oleh Laura. "Tapi, dengan begitu, dia bisa deketin lo kapan pun itu."
"Gue gak suka dia. Dia kasar. Dia beda sama lo." Laura menoleh ke arah Nathan yang ternyata sedang melihatnya.
Kedua sudut bibir Nathan terangkat. Mendengar Laura mengakui hal seperti itu saja membuat hatinya hangat. Karena dia yakin, Laura tidak akan mudah menyatakan sesuatu seperti itu. Dan nyatanya Laura sudah menyatakan itu.
"Terus tadi sama siapa?" tanya Nathan. Dari yang dia lihat tadi, kalau Laura sedang makan dengan keluarga Martin.
"Tadi gue makan sama ortu Martin. Tapi, jangan salah paham-"
Belum sempat Laura menjelaskan lebih detail, Nathan langsung memotongnya. "Iya, gue paham, Ra."
Laura tersenyum lega. Akhirnya ke salah pahaman ini sudah selesai.
Semoga suka😉
Like dan komen.
Ditunggu episode berikutnya.