I'M Stuck In You

I'M Stuck In You
Jerman


Rasa perpisahan itu sungguh terasa bagi Laura. Dia akan pergi meninggalkan negara kelahirannya. Semua akan terasa baru lagi. Laura berharap akan berjalan dengan semestinya.


"Ma, Laura pergi ya. Jaga kesehatan mama. Jangan kecapean, jangan lupa makan ya," ucap Laura sebelum berpisah dengan ibunya. Dia memeluk sekali lagi dengan hangat.


Alma mengelus puncak kepala Laura pelan. "Kamu juga ya, sayang. Sering-sering kabarin mama. Kalo ada apa-apa bilang sama Martin ya. Atau enggak kamu bilang sama tante Rany, om Erlan."


Laura menganggukkan kepalanya paham. Dia beralih ke arah Arief dan Olin. "Pa, Olin, Laura pergi ya."


"Hati-hati ya," balas Arief dengan senyumnya, setelah itu memeluk Laura.


Tidak ada jawaban dari Olin, Laura berjalan mengikuti keluarga Martin yang sudah menunggunya. Dia menoleh untuk terakhir kalinya dan melambaikan tangannya.


Bahkan Nathan gak cegah gue. Dia gak peduli kemana pun gue pergi.


*


Udara sejuk menyentuh kulitnya. Dia meraih jaket tebal yang sebelumnya diikat melingkar di pinggang, dan memakainya. Untung saja belakangan ini Laura serius dalam les bahasa, sehingga dia tidak perlu merepotkan orang lain.


"Bener apa kata lo," gumam Laura bisik-bisik kepada Martin yang berjalan disebelahnya.


Martin menoleh dengan langkah yang masih sama cepatnya mengikuti kedua orang tuanya. "Bener apaan?"


"Belajar bahasa supaya gak repotin orang," jawab Laura dengan santai. Dia sesekali tersenyum tipis. Semoga dengan begini dia bisa melupakan Nathan, dan memulai kisah cintanya yang baru.


Mereka ber4 telah sampai ke sebuah apartemen yang sudah dibeli oleh Erlan beberapa bulan lalu. Tidak terlalu luas, tetapi cukup untuk mereka.


"Secepatnya kita beli rumah. Ini cuman sementara," kata Erlan tiba-tiba. Dia sibuk memindahkan barang-barang mereka.


"Kalian istirahat aja. Besok kalian harus dateng ke kampusnya loh buat pertemuan mahasiswa baru," ujar Rany sambil memberi kode kepada keduanya agar beristirahat.


Isi apartemennya ada 3 ruang kamar, ruang tamu, dapur, balkon, dan toilet. Sederhana tapi terlihat mewah.


Karena waktu Jerman sudah menunjukkan pukul 22:34, Laura memilih untuk beristirahat saja. Ketika di pesawat tadi, dia tidak bisa tidur.


*


Sinar matahari membangunkan sosok Laura yang sebelumnya bermain di alam mimpi. Dia memejamkan matanya berkali-kali. Setelah itu beranjak dari kamarnya, menuju dapur untuk mengambil minum.


"Sayang, udah bangun? Kamu mau sarapan apa? Biar tante buatin," ucap Rany dengan senyumnya. Dia sudah menganggap Laura seperti anak perempuannya.


Laura membalas senyuman Rany. "Apa aja, tante."


"Oke."


"Aku mandi bentar ya, tan. Nanti aku kesini lagi." Laura segera bergegas untuk mandi dan bersiap-siap ke kampus.


Setelah sarapan dan menunggu Martin yang kesiangan, akhirnya mereka pun sampai di salah satu kampus Jerman. Gedung yang cukup luas. Laura berharap akan mendapatkan teman yang tidak berbeda jauh dari ketiga teman lamanya.


Ketika sedang pertemuan mahasiswa, ternyata lumayan banyak yang dari Indonesia juga. Terlebih lagi jurusan yang Laura ambil. Kampus ini memang terkenal bagus di jurusan bisnisnya. Sedangkan Martin, dia masuk arsitektur yang hanya berbeda gedung saja.


"Lo dari Indo?" tanya seseorang yang berdiri tidak jauh dari Laura.


Laura menoleh ke arah belakangnya. "Gue?"


"Iya."


"Iya, Indo," jawab Laura singkat.


Cewe itu mengulurkan tangannya ke Laura. "Dinda, nice to meet you."


Laura meraih tangan Dinda dan tersenyum tipis. "Laura."


"Jurusan apa?" tanya Dinda yang sudah melangkah mendekat ke Laura.


"Bisnis. Lo?" tanya balik Laura.


Dinda menganggukkan kepalanya. "Sama. Semoga kita bisa berteman dengan baik."


Laura tersenyum sebagai respon. Setidaknya dia sudah kenal satu orang dari ratusan orang di ruangan ini.


Setelah selesai kegiatan di kampus, Dinda mengajak Laura untuk pergi ke cafe dekat-dekat kampus. Karena tidak ada acara apa-apa lagi, Laura ikut dengannya.


"Lo kenapa milih Jerman?" tanya Dinda menciptakan obrolan. Sesekali dia menyeruput minumannya.


"Bukan gue yang milih. Sebenernya gue gak punya impian kesini," jujur Laura. Memang kenyataannya seperti ini.


Dinda menganggukkan kepalanya paham. "Tapi kalo jurusan lo yang milih kan?"


"Iya lah. Jurusan mah gue yang mau." Laura terkekeh. Belum kenal 1 hari, ternyata Dinda sudah seasik ini.


"Kalo lo? Kenapa ke sini?" tanya Laura gantian.


Dinda tersenyum tipis. "Random aja sih. Karena gue terlalu nyantai, gatau mau kemana, dan akhirnya nyokap nyuruh buat ikut sepupu. Eh, sepupu gue bakal satu jurusan sama kita. Nanti gue kenalin deh. Asik orangnya."


*


Beberapa hari berlalu, hari ini akan menjadi hari pertama tahun ajaran baru di kampus Laura dimulai. Sebelum berangkat, Laura dan Martin sarapan dulu.


Ditengah jalan, Martin bercerita singkat mengenai teman-teman yang dia temukan beberapa hari lalu.


"Temen cewe kampus gue, cakep-cakep," ucap Martin bersemangat.


Laura memutar bola matanya malas. "Dasar!"


"Mayan, cuci mata."


"Serah deh!"


Sampai di gerbang kampus, terpaksa Laura dan Martin harus berpisah. Karena gedung Laura yang letaknya di kanan, dan Martin di kiri.


"Ntar pulang gue tunggu disini," ucap Martin sebelum meninggalkan Laura.


"Iya."


Laura berjalan masuk ke gedung jurusannya. Seperti mimpi dia bisa merasakan suasana yang sangat berbeda jauh. Dia tidak menyesal dengan keputusan ini. Walaupun terkadang dia masih sakit dengan kenangan kelas 12-nya.


Hubungan Laura dengan ketiga teman lamanya masih sama, mereka sering bertukar cerita. Terlebih lagi hebohnya Claretta yang melihat banyak cowo ganteng disana. Sedangkan Nadine, mengeluh karena ldr dengan pacarnya. Beda dengan Kaila yang merasa sama saja dari sebelumnya.


"Laura," panggil Dinda sambil menepuk pundak Laura dari belakang.


Laura sedikit tersentak. "Ngagetin aja."


"Sorry. Baru sampe?" tanya Dinda sambil mengikuti langkah Laura.


"Iya nih. Lo juga?"


"Sama."


*


Hari pertama pun selesai, semuanya berjalan dengan lancar. Sama sekali tidak membuat hari Laura buruk. Untungnya ada Dinda yang menemaninya. Selain itu, dia juga bergabung dengan cewe asli Jerman, dan beberapa teman dari negara lainnya.


"Jangan langsung pulang, Ra. Gue mau kenalin lo sama sepupu gue. Noh dia duduk di paling pojok." Dinda menunjuk ke arah orang yang dia maksud.


Laura menoleh, tidak bisa mendapatkan sosok yang Dinda maksud karena jumlah siswa yang cukup padat.


"Iya, gue gak langsung balik. Tapi jangan lama-lama, gue di tunggu temen."


"Bentar aja kok," ucap Dinda. "Tunggu sini. Gue panggil dia dulu."


Laura menganggukkan kepalanya. Sambil menunggu, dia mengirim pesan ke Martin. Semoga Martin mau menunggunya.


"Ra, ini sepupu gue," kata Dinda sambil menarik tangan sepupunya.


Seketika tubuh Laura melemas. Pertahanannya hancur. Dia bertemu dengan sosok itu lagi. Sosok yang hampir dia lupakan. Rasa yang pernah ada kini muncul lagi.


"Gue duluan." Laura buru-buru meraih tasnya dan berlari meninggalkan keduanya.


Dinda bingung dengan sikap Laura barusan. Dia menoleh ke arah sepupunya. Sama paniknya seperti ekspresi Laura tadi. Mereka kenapa?


Nathan berlari mengejar Laura yang sudah pergi. Tiba-tiba saja dia rindu dengan cewe itu. Dia ingin memperbaiki semuanya. Karena ldr itu tidak pernah ada. Nathan yakin mereka bisa seperti dulu lagi.


"Laura," teriak Nathan hampir menarik seluruh perhatian mahasiswa yang ada disana.


Laura mendengar itu dengan jelas, tapi dia tidak ingin meresponnya. Hatinya kembali perih. Hampir dia sampai di tempat janjiannya dengan Martin, dia menoleh dan tidak mendapatkan sosok Martin disana.


Langkahnya berhenti, mencoba mencari Martin dengan tenang. Dia mengecek ponselnya, dan Martin bilang dia akan keluar lebih telat 15 menit.


Tiba-tiba tangan Laura digenggam oleh seseorang, yang Laura yakin dia adalah Nathan.


"Ra," lirih Nathan.


"Tolong lepasin!" tegas Laura sambil mencoba melepas tangan Nathan dari tangannya.


Nathan melepasnya pelan-pelan. "Dengerin gue. Ra, gue masih sayang sama lo. Tolong kasih kesempatan. Kita perbaiki semuanya."


Laura terdiam. Denyut jantungnya terasa cepat. Ingin rasanya dia menerima ini, tapi keputusannya sudah bulat. 'Move on'.


"Sorry. Gue ga bisa," tolak Laura yang lalu berjalan meninggalkan Nathan seorang diri.


Kebetulan disana Laura langsung bertemu dengan Martin. Dia langsung saja menarik tangan Martin agar segera pergi dari kampus.


Apa ini yang dibilang jodoh gak akan kemana?


Tunggu eps selanjutnya ya💕