I'M Stuck In You

I'M Stuck In You
Tugas


Setelah istirahat berakhir, Laura berjalan balik menuju kelasnya bersama dengan teman-temannya. Dia merasa sedikit aneh. Kemana Olin? Tumben gak muncul.


"Liat Olin gak?" bisik Laura kepada mereka. Pandangannya fokus melihat satu persatu murid cewe yang berdiri di lorong sekolah yang dia lalui untuk menuju kelasnya. Beberapa pasang mata juga ikut melihat balik ke arah Laura. Ada yang menyapa, dan memanggil namanya.


Nathan menatap tajam beberapa cowo yang menatap pacarnya sedetail itu. Cara pandang mereka, seperti tidak pernah melihat cewe cantik.


"Ngapain lo nanyain dia?" balas Claretta dengan suara ketus. Dia tidak suka dengan cewe yang bernama 'Olin'. Bermuka dua.


Laura memukul pelan lengan Claretta, memberi kode agar tidak seperti tadi. Dia sudah berkali-kali bilang ke mereka, jangan pernah perlihatkan sosok Olin sesungguhnya.


Claretta memperlihatkan deretan giginya dengan senyum kaku. "Lupa."


Untung saja mereka hanya berbisik. Kalau saja berbicara kencang, mungkin cowo-cowo bisa mendengarnya.


"Misi, kak. Kak Nathan dipanggil kepala sekolah di kantor," ucap adik kelas yang terlihat gugup. Rasanya sangat malu untuk berbicara didepan kakak kelas yang cukup ternama ini.


Nathan mengangguk pelan. "Makasih." Nathan menoleh ke arah mereka bergantian, setelah itu berniat untuk segera ke kantor. "Gue ke kantor dulu. Kalian ke kelas aja."


"Siapa juga yang mau nungguin lo!" sahut Ethan dengan nada meledek. Detik berikutnya dia memperlihatkan tangan berbentuk v, yang artinya 'peace'.


Melihat respon Nathan membuat mereka terkekeh. Setelah melihat punggung Nathan berbalik, mereka pun melanjutkan langkahnya ke kelas.


*


Nathan mengetuk pintu sekitar 3 kali, lalu perlahan masuk ke kantor kepala sekolah. Apa ini gara-gara gue bolos kelamaan ya? Tapi kok dia gak dipanggil sih. Kampret nih si Ethan**!


Keringatnya mulai membasahi dahinya. Padahal bisa dibilang suhu ruangan ini tidak terlalu panas. Hanya dia saja yang keringatan.


"Misi pak, ada apa ya?" tanya Nathan dengan hati-hati. Kalau memang ini karena bolos, dia akan menyalahkan Ethan!


"Kamu murid baru kan? Nanti kamu sama Olin tolong ke guru masing-masing pelajaran, untuk menanyakan tugas kalian. Untuk mempermudah, saya sudah bilang ke semua guru agar membuat tugas kelompok saja. Jadi kalian kerjain berdua. Lebih gampang kan?"


Nathan mengangguk paham. "Iya, pak." Setelah merasa tidak ada yang harus dibicarakan lagi, Nathan bergegas keluar dari ruangan itu.


Ketika tangan Nathan ingin meraih gagang pintu untuk keluar, pintu itu sudah terbuka lebih dulu. Olin terlihat kaget saat itu.


"Hai," sapa Olin dengan senyumnya.


Cara senyum Olin sangat berbeda dengan Laura. Olin sangat mudah memberikan senyum itu kepadanya. Sedangkan Laura, sangat pelit untuk berbagi senyum dengannya.


"Iya," balas Nathan dengan senyum kakunya. Setelah itu dia berjalan melewati Olin yang masih berdiri di posisi yang sama.


Senyum Olin mengembang setelah mendengar tugas dari kepala sekolah. Kapan lagi kan Olin niat untuk mengerjakan tugas. Baru ini dia niat. Alasannya, karena ada Nathan.


*


Laura terkekeh mendengar setiap cerita dari teman-teman sekelasnya. Terlebih lagi cowo-cowo yang rusuh dengan Instagramnya, hanya karena video lucu.


"Buat lo cowo-cowo yang udah nyakitin gue waktu SMP, fucek." Itu yang terdengar samar di telinga Laura. Entah apa yang lucu dari video itu, dia tidak tau. Yang jelas, rata-rata cowo di kelasnya meniru ucapan dari video tadi dengan gerakan yang menambah kesan lucu.


"WOI FUCEK," teriak Ethan dengan kedua jari tengah menaik. Dia sangat membuat teman sekelasnya tertawa hingga sakit perut. Tingkah konyolnya berhasil membuat teman-teman mengalihkan fokusnya ke dia.


Nathan yang tidak tau apa-apa, hanya berjalan menghampiri kumpulan cowo-cowo dengan raut wajah bingung. "Apaan sih? Ada apa?"


Salah satu dari mereka menjelaskan ke Nathan, dan juga melihatkan video yang mereka tertawakan dari beberapa menit lalu hingga sekarang. Dan anehnya, Nathan berhasil ngakak juga.


Hampir cowo yang ada di kelas XII-Ips 2 saling meniru gaya dan ucapan dari video. Yang cewe-cewe hanya bisa tertawa melihat tingkah mereka semua. Beberapa ponsel merekam kegiatan mereka sekarang, dan tidak ada yang menyadari kalau aib mereka akan tersebar bentar lagi.


Tok tok


Kehadiran seorang cewe yang mungkin kelasnya bukan disini--melainkan di kelas sebelah--membuat semua terdiam sejenak dan menoleh ke arahnya.


Olin melangkah pelan menuju Nathan, membuat beberapa pasang mata melirik ke arah Laura. Yang dilirik hanya pura-pura tidak melihat mereka semua. Dia memalingkan pandangannya ke arah kaca jendela sebelah tempat duduknya.


"Kita di suruh nanya tugas ke setiap guru." Olin membuka suara di tengah keheningan mereka. Dia menatap beberapa orang di sekelilingnya dengan gugup.


Nathan tidak berekspresi. Cukup malas untuk mengerjakan tugas bersama dengan Olin. Lebih baik dia ngerjain sendiri saja. "Iya, tau." Dia menoleh ke arah Laura yang sedang membelakanginya.


Perlahan Nathan melangkah menuju Laura, dan mengabaikan Olin. Dia tidak ingin membuat pacarnya malu. Terlebih lagi ketika dia melihat banyak pasang mata melihat ke arah Laura. Dia tau maksud itu.


"Hai cantik," goda Nathan sambil merangkul tubuh Laura.


Cewe-cewe di kelas yang melihat kejadian ini jadi terbawa suasana. Mereka malah baper dengan sikap Nathan. Suara sorak-sorai mengisi kelas ini.


Laura meliriknya tajam. Tiba-tiba saja perasaannya jadi bete. Apa mungkin karena tau mereka akan mengerjakan tugas bareng?


Pandangan Laura teralih kepada Olin yang sudah berdiri disamping Nathan duduk. Detik berikutnya Nathan ikut melihat ke arah Olin.


Suasana kelas sudah tidak sehening tadi, cowo-cowo balik ke kegiatan awal mereka lagi. Memutar ulang berkali-kali video yang sama. Dan yang cewe sekarang ikut bergabung karena penasaran apa yang membuat cowo-cowo tertawa seperti tadi.


"Ngapain lagi?" Kini Nathan membuka suara yang tidak dingin dan tidak hangat. Tangannya masih merangkul Laura.


Kalau saja bukan ingin membuat Laura panas, dia tidak akan nekat menghampiri kayak gini. Membuat nama baiknya buruk saja.


"Makasih ya, tadi lo anterin gue ke sekolah. Ternyata lo orangnya gak tegaan juga ya. Pas liat gue jalan sendiri, langsung nyuruh bareng. By the way, jangan marahin Laura ya. Dia gak berniat nurunin gue di jalan kok," cerocos Olin tanpa jeda. Dia sangat kekeh ingin membuat Laura panas.


Laura menoleh ke arah Nathan, mencoba melihat raut wajah Nathan. Awalnya Laura kira cowonya akan menjawab, 'apaan sih? Gue gak pernah anter lo! Gak usah ngada-ngada'. Tapi ternyata salah. Nathan malah menjawab sesuatu yang tidak ingin Laura dengar.


"Iya, sama-sama."


Sebelum Olin bergegas meninggalkan kelas adik tirinya, dia tersenyum dulu kepada Laura. Memperlihatkan sesuatu yang mungkin hanya mereka berdua yang tau.


Ketiga teman Laura memang sedang berdiri cukup jauh dari mereka. Tapi, pandangan dan pendengarnya fokus dengan perbincangan mereka. Terlebih lagi Claretta yang mulai emosi melihat tingkah Olin. Kalau saja Laura tidak menyuruhnya tutup mulut tentang ini, dia siap untuk membuat Olin sadar diri dengan caranya.


*


Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Laura pamit lebih dahulu karena ada kegiatan les sore ini. Dan kebetulan Nathan juga ada urusan dengan guru-guru. Jadi mereka berpisah ketika didepan kelas.


Olin tersenyum lebar saat ini. Itu yang dilihat oleh mata Laura sekarang. Sebahagia itu dia bertemu Nathan?


"Gue duluan ya," pamit Laura kepada keduanya. Dan diikuti oleh ketiga temannya dibelakang.


Nathan melambaikan tangannya sebelum Laura mengalihkan pandangannya. "Hati-hati ya, Ra."


Ketiga teman Laura menghentikan tangannya sebelum benar-benar membuka mobil untuk pergi meninggalkan sekolah.


"Gue tau kok, lo cemburu," ucap Kaila membuat Laura bergeleng cepat.


"Yeh.. enak aja lo. Anti cemburu-cemburu club gua mah," asal Laura dengan tawa kecilnya.


Nadine tersenyum heran sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Keliatan kali, Ra. Lo lagi cemburu gitu."


"Udah gue relain juga dia buat lo, bukannya pertahanin. Ntar gue ambil lagi nih," ledek Claretta dengan wajah jahilnya.


Ketiga temannya memang paling bisa membuat rasa badmood Laura hilang. Mereka juga selalu ngerti apa yang dia rasain tanpa harus bilang. Mungkin itu yang namanya sahabat.


Gimana ya cara Laura menghadapi mereka yang akan ngerjain tugas bareng?


Tunggu part selanjutnya🙈


Like dan komen.