I'M Stuck In You

I'M Stuck In You
Bertengkar


Nathan terkekeh melihat wajah sembab Laura. Sangat menggemaskan. Walaupun melihat itu membuatnya ikut sedih.


"Udah, jangan nangis lagi. Udah satu jam lebih lo nangis," ucap Nathan setengah berteriak.


Tangan Laura tergerak untuk menghapus air mata yang masih membasahi pipinya. "Gak usah ketawa!" ketusnya.


"Gemes." Nathan mencubit pipi Laura pelan. Mencoba menghibur pacarnya yang sedang sedih. "Jangan nangis lagi dong. Mau gue beliin balon? Atau permen?"


Laura tertawa kecil. Senyumnya terlihat di wajahnya. Makasih, Nath.


"Ciee ketawa," ledek Nathan sambil tertawa lepas.


Hening. Keduanya kembali terdiam. Tangis Laura perlahan mereda. Dia masih bingung, kenapa tadi dia jadi bahas masalah hidupnya?


"Nath, jangan kasihan sama gue," lirih Laura. Matanya melihat wajah Nathan lekat. "Gue takut lo nerima gue hanya karena kasihan, Nath." Laura meniru kata-kata Nathan beberapa waktu lalu. Tentu saja mereka masih mengingatnya.


"Lo ngeledek gue?" tanya Nathan. Detik berikutnya, mereka berdua tertawa.


Malam itu, rumah kayu sebagai saksi mereka. Tangis dan tawa berlangsung di waktu yang sama. Laura tidak akan menyesal menaruh perasaannya ke Nathan. Begitu sebaliknya. Nathan akan berusaha menjadikan Laura yang terakhir. Dia tidak ingin merasakan yang namanya sakit hati lagi.


*


Tidak terasa, hari ini sudah hari jumat. Ujian tengah semester mereka akan segera berakhir, hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh murid. Tapi kecuali Laura. Dia tidak merasa senang hari ini.


Melihat Olin antusias untuk mengerjakan tugas bersama Nathan, membuat dirinya mengurungkan niat untuk langsung balik ke rumah. Siang itu, pukul 12:14. Laura bergegas menuju rumah kayu sendirian. Yang biasanya sama Nathan, kini tidak. Diam-diam dia pergi kesana. Sebelum itu, dia pergi ke tempat makan terdekat dari sekolahnya untuk makan siang.


Walaupun sudah berkali-kali ke rumah kayu, dia belum pernah tuh menyentuh barang-barang disana kecuali bingkai foto itu. Kali ini Laura tertarik untuk melihat-lihat isi ruangannya.


Banyak debu. Meja di sudut ruangan ini penuh debu. Laura melihat-lihat tanpa memegang. Disana ada beberapa pajangan kecil. Dan juga beberapa foto yang tertutup kumpulan debu. Tanpa rasa jijik, Laura mengambilnya dan meniup debu itu.


"Uhuk uhuk." Laura mengibaskan tangannya didepan hidung dan mulutnya. "Gila nih debu!"


Kedua sudut bibir Laura terangkat. "Segitu sayangnya lo sama Jessie?" gumamnya.


Jelas di foto itu ada Nathan yang sedang menggandeng tangan Jessie sambil menatap cewe itu. Keduanya tersenyum bahagia. Tidak ada tanda-tanda Jessie menyakitinya. Jari jemari Laura tergerak untuk mengusap foto itu lagi, dengan niat menghilangkan sisa debu.


Terakhir. Ada laci yang belum Laura buka. Entah apa isinya disana, dia sungguh penasaran. Tangannya meraih gagang laci, dan membukanya. Disana ada sebuah amplop berwarna biru. Laura mengambilnya.


Dert dert


Ponsel Laura bergetar dari tadi. Sudah banyak panggilan yang diabaikannya. Ketika mengetahui siapa penelponnya, dia langsung menoleh ke arloji di pergelangan tangannya. Pukul 15:49. Laura lupa kalau sekarang ada les bahasa.


"Halo?" Suara Laura terdengar hati-hati, sudah siap mendengar ocehan cowo itu.


Martin berdecak sebal. "Kemana sih lo? Gue sama bu Yuna nungguin lo!"


Sontak Laura menjauhkan benda itu dari telinganya. Kupingnya terasa sakit akibat suara nyaring Martin.


"Lo bisa gak sih gak usah teriak-tetiak?! Ini gue mau jalan pulang. Lo duluan aja belajar!" ketus Laura yang langsung mematikan telepon sepihak setelahnya.


"Kalo bukan karena papa dan mama, gue gamau pergi ke Jerman sama dia!"


Sebelum pergi, Laura buru-buru menaruh amplop itu kembali. Dia bergegas pulang.


*


Nathan menoleh sana-sini, mencari keberadaan Laura yang tak kunjung pulang. Sejak tadi, dia tidak fokus mengerjakan tugasnya. Pikirannya penuh dengan Laura.


Tersadar dengan tingkah Nathan, Olin menghentikan kegiatan menulisnya. "Lo nyari apa, Nath? Toilet?" tanyanya.


"Iya, gue mau ke toilet. Dimana?" alasan Nathan sekalian mencari keberadaan cewe itu.


Setelah mendapat instruksi dari Olin, dia melangkah ke arah yang sudah diberikan oleh cewe itu. Sesekali dia melihat ke ponselnya untuk melihat jam, dan menunggu balasan pesan dari Laura. Sudah pukul 15:35, cewe itu belum balik. Pesan tidak dibalas, telepon tidak diangkat.


Sebelum menjauh dari ruang tamu, langkah Nathan terhenti ketika mendengar ketukan pintu utama rumah ini. Dia menoleh, menanti siapa yang pulang. Bisa jadi itu Laura.


"Laura belom balik, lo nunggu di dalem aja," suruh Olin yang membukakan pintu.


Martin mengangguk. Dia melangkah masuk menuju tempat biasanya dia belajar. Tidak lama kemudian disusul oleh bu Yuna. Mereka menunggu sampai Laura pulang.


Melihat cowo itu, membuat Nathan sedikit penasaran. Dia melangkah mendekat.


"Nath," panggil Olin membuat Nathan tersentak kaget. "Lo ngapain? Udah ke toiletnya?"


Olin melihat ke arah Martin juga. Ada niat jahat yang terlintas di kepalanya. "Oh, dia temen deket Laura. Mereka nanti kuliah bareng tuh, mangkanya les bahasa."


Les bahasa bareng? Kuliah bareng? Emang mereka mau kuliah kemana? Pikiran Nathan langsung buyar ketika mendengar Martin meneriaki sosok orang dibalik telepon. Dia yakin sosok itu adalah pacarnya.


Karena rasa tidak senang, Nathan berniat menghampiri cowo itu. Tapi langsung saja Olin tahan. "Nath, kita lanjut belajar yuk."


Pikiran Nathan kembali kepada topik tadi. Mengenai kuliah bareng mereka, dan les bahasa bareng mereka.


"Laura mau kuliah bareng cowo itu?" tanya Nathan memastikan.


"Laura gak cerita sama lo?" Olin semakin memiliki banyak ide di pikirannya. Haruskah dia ceritakan ke Nathan sekarang?


Nathan berpikir sejenak. Sepertinya tidak pernah. "Enggak. Cowo itu anak mana? Namanya siapa?"


"Namanya Martin. Gue kurang tau kalo anak mananya." Olin menjawab seadanya dulu aja. Akan lebih seru kalau tunggu adik tirinya pulang.


"Mereka kuliah kemana?" tanya Nathan lagi.


"Nath, kok lo jadi nanyain ke gua sih? Tanya sendiri sama pacar lo."


Suara pintu terbuka, membuat keduanya menoleh. Yap, Laura pulang. Senyum Olin terlihat lebar disana. Sepertinya akan terjadi perdebatan sekarang.


*


Laura sedikit terkejut melihat pemandangan pertama ketika masuk ke rumahnya. Melihat Nathan sedang duduk berdua bersama Olin membuat hatinya sedikit perih. Mereka cuma ngerjain tugas. Gak boleh mikir lebih.


"Ra," panggil Nathan dengan ekspresi yang aneh.


"Kenapa?" tanya Laura. Dia menutup pintu dan melangkah lebih dekat ke arah mereka.


"Lo kenapa gak cerita kalo mau kuliah sama cowo yang namanya Martin?"


Deg.


Laura terdiam di tempat. Pertanyaan itu sangat sulit untuk dia jawab sekarang. Dia pun masih belum bisa menerima kalau dirinya akan kuliah di luar negeri. Terlebih lagi bersama Martin.


"Laura!" teriak Martin dari ujung sana. Dia berjalan menghampiri mereka. "Cepetan kek! Demen amat biarin orang nunggu."


Hening. Laura belum bisa melepas tatapannya dari mata Nathan. Dia tidak percaya kalau Nathan mengetahui ini sekarang.


Martin menarik tangan Laura kasar. Tentu saja sebagai pacar, Nathan tidak bisa membiarkan ini terjadi.


"Gak usah kasar sama cewe gue!" teriak Nathan sambil melepas genggaman tangan Martin dari tangan Laura. "Dia bisa jalan sendiri. Gak usah lo pegang-pegang."


Laura mengigit bibir bawahnya. Suasana ini yang tidak dia inginkan. Yang dia tau, Martin itu jago berkelahi. Pikirannya jauh kemana-mana.


"Oh, ini pacar lo?" tanya Martin kepada Laura. Sesekali dia tersenyum miring kepada Nathan. "Mendingan lo sama gua, Ra," lirih Martin sambil mengelus pipi Laura pelan.


Laura sontak menjauhkan wajahnya dari tangan cowo itu. Detik itu juga, sebuah tonjokan berhasil mengenai pipi Martin.


Seperti yang Laura bilang, Martin jago berkelahi. Dia balik menonjok pipi Nathan. Alhasil mereka beradu fisik sekarang.


Laura sudah berusaha memisahkan mereka, tapi tidak bisa. Dia menoleh ke arah Olin. Bukannya membantu, cewe itu malah asik menontoni sambil tersenyum miring.


Mendengar suara pertengkaran, Alma dan juga bu Yuna langsung menghampiri mereka.


"Kalian apa-apaan ini?!" teriak Alma sambil memisahkan mereka. Dibantu oleh bu Yuna.


Keduanya langsung berhenti. Mereka masih saling bertukar pandang. Nathan sangat emosi saat ini. Mengetahui pacarnya akan pergi bersama dengan cowo lain, dan ditambahkan dengan omongan cowo itu.


"Sorry, tante. Saya gak bermaksud bikin keributan," ucap Nathan sambil menundukkan kepalanya. Tangannya tergerak untuk menghapus aliran darah dari wajahnya. "Saya pamit pulang dulu, tante."


Nathan sama sekali tidak berpamitan kepada Laura. Bahkan menoleh pun tidak. Dia langsung mengambil tas sekolahnya di sofa, dan bergegas keluar dari rumah itu.


Nathan bakal marah gak ya sama Laura?


Cari tau di episode berikutnya.


Like dan komen🙈