I'M Stuck In You

I'M Stuck In You
Merasa bersalah


Selama di kantin, pikiran Laura jauh kemana-mana. Entah apa yang harus dia lakukan ke Nathan setelah ini. Harus minta maaf kah? Atau biarkan saja? Tapi bukan menjadi dirinya kalau minta maaf kepada seorang cowo.


Baru ini juga Laura merasa bersalah karena perbuatannya. Dari dulu, dia tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk minta maaf. Apa lagi dengan cowo.


"Lamunin apa lo?" tanya Nadine membuat Laura sadar dari lamunannya.


Laura mengaduk-aduk makanan dihadapannya menggunakan sendok yang dia pegang. "Gak. Gue lagi bingung aja."


"Karena?" tanya Kaila yang juga sama penasarannya. Belakang ini Laura jadi sering ngelamun.


"Tiba-tiba ngerasa bersalah sama Nathan. Tapi, tunggu dulu... gue cuman kasihan aja," jawab Laura sedikit terbata-bata. Dia bingung cara menjelaskan yang ada dipikirannya. Gengsi juga untuk memberitau kepada teman-temannya.


"Udah gue bilang juga apa! Harusnya lo jangan gitu sama dia! Bagus bisa dapet perhatian dia!" Claretta meninggikan suaranya. Dia terlalu geregetan dengan teman yang satu ini.


"Lo minta maaf aja sama dia," saran Kaila sambil tetap fokus membaca novelnya.


Pandangan Laura tiba-tiba terfokus pada sosok cowo yang berdiri disampingnya. Kevin.


"Ra, nanti mau pulang bareng gak?" tanya Kevin ditengah perbincangan keempatnya.


"Gue bawa mobil. Lain kali ya," tolak Laura dengan hati-hati. Sebenarnya bukan karena dia membawa mobil doang, tetapi ada alasan lain kenapa dia tidak mau pulang bersama Kevin.


Kevin mengangguk paham. "Yauda, gapapa. Tapi, nanti mau nongkrong dulu gak ke cafe?"


"Hmm."


Setelah mendapat kepastian dari Laura, Kevin pun berjalan meninggalkan mereka. Setidaknya dia sudah berhasil membuat Laura ingin pergi bersamanya.


Pandangan Kevin terarah kepada Nathan yang berdiri diujung sana. Kevin memberikan senyum kemenangan.


*


"Lo serius mau pergi sama Kevin? Nathan gimana?" heran Nadine yang tidak abis pikir dengan Laura. Temannya satu ini memang sedikit gila. Banyak sekali cowonya.


Claretta memutar bola matanya malas. "Sampe kapan sih lo kayak gini? Dideket lo udah ada yang pasti, tapi malah dibiarin."


"Siapa? Nathan?" tanya Laura sambil memberesi barang bawaan di mejanya.


Di kelas tinggal mereka berempat. Setelah bel tadi, Nathan langsung saja keluar bersama dengan Ethan. Tanpa bicara dengan Laura. Sepatah kata pun.


"Lo gak minta maaf sama Nathan?" tanya Kaila yang berniat mengingatkan pembahasan mereka di kantin tadi.


Laura menggelengkan kepalanya. "Gak. Ngapain?!"


Kaila dan Nadine saling melempar tatapan. Laura memang keras kepala dari dulu. Tidak berubah.


"Terserah lo deh! Gue duluan ya, mau pulang sama bebeb," pamit Nadine sambil berjalan meninggalkan mereka bertiga. Diantara mereka, hanya Nadine lah yang memiliki pasangan tanpa gonta-ganti. Claretta sama Laura mirip, sering ganti cowo dengan alasan 'tidak cocok'. Sebenarnya, cocok atau tidak cocok balik lagi sama pasangan itu. Walaupun tidak cocok, tapi berusaha membuatnya menjadi cocok, pasti akan berhasil. Sedangkan Kaila, dia tidak menyempatkan dirinya untuk mencari pasangan. Dia sudah asik dengan kehidupannya. Membaca novel, bermain dengan ketiga temannya, dan lain-lain.


Claretta pun melakukan hal yang sama. Dia berpamitan pulang duluan. Katanya sih sudah dijemput cowo barunya.


Laura menghela nafasnya panjang. "Ahh.. gua pusing, Kai."


Kaila menutup novel ditangannya, lalu berjalan mendekat ke arah Laura. "Lo harus dewasa, Ra. Jangan gengsi buat minta maaf. Kasihan Nathan. Menurut gue dia baik. Pantes buat lo."


Kalimat yang terucap dari bibir Kaila mampu membuat Laura terpaku di tempat. Apa benar Nathan pantas buatnya? Dia jadi mengingat beberapa kejadian yang membuat hatinya berdebar lebih cepat. Hal yang jarang dia rasakan, dapat dia rasakan ketika bersama Nathan. Mulai dari hukuman di aula, pergi ke Starbucks, ke rumah kayu malam-malam, sampai tadi di UKS.


"Sana, samperin Nathan. Kali aja dia masih di parkiran," suruh Kaila sambil mendorong pelan tubuh Laura. Memberi kode agar cewe itu cepat berlari mencari Nathan.


Tanpa berpikir panjang, Laura pun berlari kecil mencari keberadaan Nathan. Tapi hasilnya nihil. Sepertinya Nathan sudah pulang duluan.


Langkah Laura terhenti ketika seseorang memukul pundaknya sekali. Laura menoleh. Bukan Nathan ternyata.


"Jadi jalan?" tanya Kevin dengan senyumnya.


Laura menggaruk lehernya yang tidak terasa gatal. "Duh.. gimana ya.. gue ga bisa. Gue ada urusan. Next time. Bye." Laura berlari buru-buru masuk ke mobilnya, dan bergegas meninggalkan sekolah.


Tangan kiri Laura terus berusaha menelpon nomor Nathan, tapi cowo itu tidak mengangkat. Sampai akhirnya Laura pun hampir nyerah. Dia rasa dia sudah bersalah besar. Sampai-sampai, Nathan tidak mau berbicara dengannya lagi.


"Angkat dong," gumam Laura kepada ponselnya. Berharap Nathan akan menjawab telepon darinya.


Disamping itu, Nathan sedang naik motor dengan kecepatan cukup tinggi. Dia mematikan notice ponselnya. Jadi, tidak akan terdengar kalau ada yang menghubunginya.


Sebenarnya Nathan tidak marah dengan cewe itu. Hanya saja sedikit kecewa dengan respon-respon yang diberikan Laura belakangan ini. Seakan-akan kehadirannya mengganggu hidupnya.


Sudah hampir 20 kali Laura menguhungi Nathan, tapi cowo itu belum mengangkat teleponnya. Dan akhirnya Laura memutuskan untuk berhenti meleponnya.


Pukul 19:03. Nathan masih belum melihat pesan yang dikirim oleh Laura. Entah kemana cowo itu pergi. Dan anehnya, kenapa Laura bisa sepanik ini.


Mygirls🤙🏻


Laura : gw sejht itu ya? Smpe Nathan ud gmw ngmng sm gw:v


Sampai pukul 20:16, akhirnya Nathan menelpon balik Laura. Senyum yang tersembunyi dari tadi, akhirnya terlihat kembali diwajah Laura.


"Halo?" Suara berat diseberang sana membuat jantung Laura berdegup lebih kencang.


"E-itu.. gue mau minta maaf," ucap Laura dengan gugup. Dibalik telepon, Laura memukul kepalanya berkali-kali. Merasa sangat bodoh.


Nathan terkekeh. "Gimana? Ngomong langsung dong, ga asik kalo lewat telepon."


Ngeselin. Nathan ngeselin. Ngomong lewat telepon aja udah malu setengah mati. Gimana ngomong langsung, bertatapan mata?


"Hah? Apaan?" panik Laura pura-pura tidak mengerti.


"Liat jendela, gue di luar."


Laura masih diam dengan posisinya. Jantungnya terasa sakit.


"Ra?" panggil Nathan dari telepon.


"Iya? Bentar."


Laura berjalan menuju balkonnya. Benar saja. Dia melihat Nathan yang masih memakai seragam sekolah sedang bersandar di motor ninjanya. Tatapan mereka bertemu. Nathan melambaikan tangan ke atas sana. Laura memberikan senyumnya sebagai respon.


"Sini, turun. Masa gue dibiarin aja**."


"Sabar."


Dengan cepat, Laura berlari kecil menuruni anak tangganya dan menghampiri cowo itu.


"Kok lo kesini?" tanya Laura yang sudah berdiri tidak jauh dari Nathan.


Nathan tersenyum samar. Lalu menaikkan sebelah alisnya. "Gak boleh?"


"Boleh sih. Tapi, kenapa masih pake baju sekolah? Belom pulang?"


Lagi-lagi Nathan tersenyum samar. Lalu mengangkat telunjuknya, diarahkan kepada Laura. "Khawatir ya lo?"


"Ih! Ga usah kepedean ya!" Balik lagi seperti biasa. Menjadi galak. Dan Nathan sudah terbiasa dengan nada Laura yang membuat telinganya sedikit sakit.


"Tadi mau ngomong apa?" tanya Nathan mengalihkan topik. Sebenarnya Nathan tau. Pasti Laura ingin minta maaf karena kejadian di sekolah tadi. Selama Laura mengirim pesan spam, Nathan membaca lewat notifikasi yang masuk di layarnya. Laura lucu juga kalau udah panik.


"Hmm-"


"Tunggu.. kita ngomong tempat lain aja ya. Lo boleh keluar kan?" potong Nathan sebelum Laura menjelaskan semuanya sekarang.


Laura mengangguk pelan. "Boleh. Bentar, gue mau ambil barang. Sekalian tuker baju."


"Iya. Jangan lama-lama. Biasanya cewe bilang bentar, tau-tau nya satu jam!"


Laura tertawa kecil, lalu dengan cepat dia ke rumahnya untuk tukar baju. Ketika dia masuk ke dalam, Olin keciduk sedang mengintip lewat jendela.


"Ngapain lo?" tanya Laura dengan nada dingin. Berbeda dengan bersama Nathan diluar tadi.


Olin masih melihat ke arah Nathan. "Temen lo itu? Cakep juga."


"Cowo gue! Ga usah diliatin!"


Gini ya kalau gamau diambil. Jadi ngaku-ngaku. Padahal bukan miliknya. Tapi, gapapa. Memang cocok kok sama Laura.


"Oh."


Karena sudah janji dengan Nathan hanya sebentar, Laura pun memilih untuk siap-siap saja. Setelah itu dia turun lagi menghampiri cowo itu.


"Udah nih," ucap Laura sambil merapihkan lagi helaian rambutnya menggunakan jari jemarinya.


"Naik."


Malam ini Nathan membawa Laura ke rumah kayu yang waktu itu pernah ditunjukkan sebelumnya. Dan Laura tidak melupakan itu. Dia masih ingat.


"Kesini lagi? Gelap banget, kasih lampu kek!" dumel Laura yang masih mempersalahkan kegelapan disana.


Tiba-tiba dari bawah ponsel Nathan terpancar cahaya, flashlight. Jadi tidak terlalu gelap. Laura menoleh ke arah Nathan, begitu juga dengan Nathan.


Apa ya yang bakal mereka bahas nanti?


Tunggu dipart berikutnya!


Like dan komen🙈