
"Kenapa sering pergi sama Olin? Terus gue pergi sama Kevin gak boleh? Gue juga baru ini, cuma sekali. Kalo dibandingin sama keseringan lo sama dia, jauh!"
Nathan terdiam. Tangannya terkepal keras, menahan emosinya dari tadi. Dia takut Laura akan menjadi pelampiasannya.
"Lo gak pernah ngomong, Ra. Selama ini keliatannya lo biasa aja liat kita." Nathan bangkit berdiri sambil memakai kembali jaketnya yang belum lama dia lepas. "Mangkanya, kalo ada apa-apa ngomongin baik-baik. Jangan lo pendem sendiri. Kita pacaran kayak bukan pacaran kan?"
Mata sendu Laura menatap punggung Nathan yang menuruni tangga kecil di rumah kayu. Matanya memanas. Dia mengacak-acak rambutnya frustasi.
Laura sampai sekarang belum balik ke rumah. Saat ini sudah pukul 17:41. Dia masih betah diam di rumah kayu. Lagian juga tidak ada yang mencarinya, lebih baik dia berlama diluar rumah.
Sebelum pulang, Laura berniat untuk melihat isi sebuah amplop yang dia temukan beberapa waktu lalu. Walaupun sebenarnya melihat tanpa ijin itu dilarang, tapi Laura tetap memaksa diri untuk melihatnya. Tangannya meraih sebuah kertas putih dari dalam amplop.
'Saat itu, kamu datang menyambut hariku. Hari-hariku menjadi lebih berwarna. Terima kasih atas semua perhatian, canda, suka mau pun duka yang kau beri. Aku sayang kamu, Nathan. Aku mau jadi pacar kamu. I love you.'
Dan di sudut bawah lembar, tertulis sebuah nama. Jessie. Laura terdiam untuk beberapa saat. Dia masih bingung dengan semuanya. Dari yang Nathan jelaskan, kalau Jessie hanya kasihan dengannya. Tapi kenapa seolah-olah di kertas penerimaan cinta Nathan, Jessie pun membalas perasaan yang sama?
*
Mobil yang sangat Nathan kenal, terparkir didepan rumahnya. Mood Nathan sangat buruk kali ini. Dia tidak ingin seisi rumahnya menjadi kena sasaran. Berkali-kali dia mengatur nafasnya agar lebih tenang.
Dengan penuh keyakinan, Nathan berjalan masuk ke dalam rumahnya. Sebisa mungkin dia senyum seperti biasanya.
"Ma, pa, tante," sapa Nathan. Dia menoleh ke arah anak kecil yang juga melihatnya dari tadi. "Hai, Celine."
"Hai, kakak," sapa balik Celine yang terlihat sangat ceria. Dipeluknya salah satu kaki Nathan dengan erat. "Main yuk."
Setidaknya dengan bermain bersama Celine, Nathan bisa memperbaiki sedikit moodnya. "Ayuk. Tapi kakak ganti baju dulu ya."
Celine mengangguk semangat.
"Lin, nanti anak aku kan ulang tahun. Dia mau di rayain katanya. Terus, dia pengen pacarnya anak kamu ikut," kata ibunya Celine. Beberapa hari ini, anaknya selalu merengek agar Laura ikut ke pesta ulang tahunnya. Mau tidak mau dia minta tolong deh.
Lina menganggukkan kepalanya. "Nanti aku bilang ke Nathan ya."
Beberapa menit kemudian, Nathan balik ke ruang tamu dengan kaos hitam polos dan celana jeans pendeknya. Dia menghampiri Celine yang sudah menunggunya.
"Ayuk, jadi main gak?" tanya Nathan yang sudah lebih membaik dari sebelumnya. "Mau main dimana?"
Celine buru-buru lari menghampiri Nathan. Dia menarik tangan cowo itu. "Ke taman."
"Kakak, Celine bentar lagi ulang tahun loh," ucap Celine dengan senyum lebarnya. Tangannya masih menggandeng erat jari jemari Nathan.
Langkah Nathan berhenti, keduanya duduk di salah satu kursi. "Celine mau kakak kasih kado apa?"
"Celine mau boneka aja. Sama masak-masakan. Hmm.. dokter-dokteran juga boleh deh," jawab Celine penuh semangat.
Nathan memang tidak pernah bohong. Dia pasti akan membelikan mainan sesuai yang Celine minta. "Oke, bos!"
"Tapi jangan lupa ya, Celine mau temen kakak dateng nanti," minta Celine.
Senyum Nathan langsung pudar saat itu juga. Mengingat pertengkaran mereka, membuat dadanya terasa sakit. Kecewa itu benar-benar kembali pada dirinya.
"Nathan," panggil Lina dengan lembut. Dia ikut bergabung dengan mereka. "Mama udah siapin makan malam. Kamu makan dulu gih, biar mama temenin Celine."
Baru saja Nathan berdiri untuk bergegas dari taman, Celine menahan bagian celananya. "Kakak jangan lupa ajakin temen kakak ya," mohonnya.
"Iya, nanti kakak ajak."
Senyum Celine lebih lebar dari sebelumnya. Beberapa kali mereka main bareng, dia merasa Laura sangat asik. Sama dengan Nathan. Keduanya asik.
*
Setelah pertengkaran hari itu, keduanya kembali diam. Tidak ada yang memberikan kabar lagi. Butuh waktu bagi Laura untuk memutuskan sesuatu. Dia rasa semuanya akan berakhir sia-sia. Haruskah semuanya berakhir sekarang?
"Ra, fokus. UAS lo lebih penting dari cowo itu!" komentar Claretta yang melihat Laura kembali sering melamun.
Dari cerita yang Laura berikan, ketiga teman Laura bisa menyimpulkan kalau keduanya sama-sama keras kepala. Mereka selalu menjadikan masalah kecil jadi besar, hanya karena sikap keduanya. Kalau saja bisa diomongin dengan kepala dingin, pasti tidak akan sering bertengkar.
Tidak sengaja kedua mata Laura menangkap posisi Nathan yang duduk tidak jauh darinya. Dia sedang sibuk dengan makanannya.
"Ra, lo jadinya kuliah di Jerman ya?" tanya Kaila memecahkan keheningan diantara mereka.
Laura buru-buru mengalihkan pandangan ke teman-temannya. "Iya. Gue sekalian mau buktiin, kalo gue bisa lebih baik dari Olin."
"Nilai lo sekarang juga gak beda jauh sama dia." Claretta ikut membahas, sambil melahap makanannya.
Dert
Nathan gans.
Nnti tgg gw di parkiran.
Sontak Laura menatap ke arah Nathan. Cowo itu mentapnya dingin. Buru-buru Laura membalas pesannya.
*
Semua pelajaran hari ini sudah dia tuntaskan. Bel pulang sekolah pun sudah berbunyi dari beberapa menit lalu. Laura sudah bilang kepada ketiga temannya kalau dia ingin bertemu dengan Nathan dulu.
"Pulang sama gue," suruh Nathan dingin.
"Eh, tunggu. Mobil gue?"
Nathan masih berjalan ke arah mobilnya. "Kasih kuncinya ke Ethan, dia yang urus."
"Mana?" Ethan mengulurkan tangannya ke arah Laura, meminta kunci mobilnya. "Gak usah takut, gak gue apa-apain mobilnya. Paling pinjem bentar buat jalan, hehe."
Laura memutar bola matanya malas. "Awas kalo mobil gue lecet!"
"Iya, santuy. Paling baret doang," jawab Ethan santai. Dia merampas kunci mobil Laura, lalu meninggalkan cewe itu.
Buru-buru Laura masuk ke mobil Nathan. Suasana sangat canggung. Hanya lagu di mobil Nathan yang terdengar.
"Mau kemana?" tanya Laura pelan. Dia sama sekali tidak menoleh ke arah Nathan.
Nathan pun sama, tidak menoleh. Dia fokus menyetir mobilnya. "Acara ulang tahun Celine."
"Oh." Detik berikutnya Laura menoleh ke arah Nathan. "Pake baju sekolah?"
"Menurut lo?"
Mana gue tau! balas Laura dalam hati. Nathan kalo lagi dingin selalu nyebelin.
Tidak butuh waktu lama, mobil Nathan tiba di sebuah rumah yang tidak jauh besarnya dari rumah cowo itu. Dia menyuruh Laura turun dan mengikutinya.
"Kakak!" teriak Celine antusias. Dia menghampiri Laura dan Nathan. Hari ulang tahunnya semakin lengkap saat ini.
"Selamat ulang tahun, Celine." Laura jongkok, lalu memeluk tubuh Celine dengan gemas.
Tanpa disadari Nathan tersenyum. "Happy birthday, Celine." Dia juga melakukan yang sama setelah Laura melepas pelukan Celine.
"Mainan Celine mana?" minta Celine kepada Nathan. "Kakak janji loh beliin boneka, sama mainan yang banyak."
"Ada di mobil, nanti kakak turunin." Nathan tertawa kecil dengan pertanyaan pertama Celine. Bukannya terimakasih karena sudah diucapkan, malah menanyakan mainan.
Laura menggigit bagian bawah bibirnya gugup. "Celine, aku belom sempet beli kado buat kamu." Suaranya pelan tapi masih terdengar. Semua ini karena Nathan yang tidak bilang-bilang lebih dulu. "Nanti kado dari aku nyusul ya."
"Oke!" jawab cepat Celine.
Lina dan Arvin menghampiri mereka dengan senyum ramahnya. Senang melihat Nathan bisa memiliki pacar seperti Laura.
"Sayang, makan dulu. Kalian pasti belum makan," suruh Lina.
"Iya, ma," jawab Nathan sambil membalas senyuman mamanya. Dia menoleh ke arah Celine. "Kakak makan dulu ya. Celine main sama yang lain dulu."
Laura menoleh ke arah Nathan. Jujur saja dia malu. Isi rumah ini kebanyakan saudara dari pacarnya. Dan dibalik ini, mereka sedang tidak baik-baik saja.
"Santai aja, ayuk." Nathan mengaitkan jari jemarinya ke milik Laura. Rasa hangat itu kembali menyelimuti keduanya.
Tidak bisa bohong, jantung Laura berdetak cepat. Dia menggenggam erat jari jemari Nathan. Jangan pernah lepas, Nath.
Semoga suka yaa😊
Like dan komen.