
Motor ninja Nathan sudah terparkir rapih. Keduanya turun dan berjalan masuk ke rumah. Mata Nathan terus menyoroti satu persatu sudut ruangan. Berharap akan melihat sosok yang dicarinya.
"Laura mana?" Nathan sudah tidak sabar ingin melihat Laura sekarang. Hatinya merasa bersalah telah mengantar Olin barusan.
Olin memasang wajah betenya. Dia tidak merespon apa pun pertanyaan Nathan. Kenapa sih dipikiran Nathan tuh cuma Laura aja?!
Nathan berjalan menghampiri Alma yang sedang memasak di dapur. "Tante, aku boleh ketemu Laura gak?"
"Boleh. Naik aja, dia ada di kamar," respon Alma yang masih fokus memasukkan beberapa wortel ke dalam panci.
Perlahan Nathan menaiki anak tangga. Disamping kirinya terpajang beberapa foto keluarga pemilik rumah di dinding. Satu persatu dia lihat. Sampai langkah kaki Nathan terhenti dan juga pandangannya terhenti pada satu foto. Seorang anak kecil sedang tertawa lebar di sebuah taman. Nathan yakin itu Laura kecil. Tanpa disadari senyumnya terlihat jelas.
"Ngapain lo?!"
Nathan langsung saja menoleh ke asal suara. Suara yang dingin dan khas baginya.
"Mau samperin lo," jawab santai Nathan sambil tersenyum tipis.
"Udah sore, pulang sono!"
"Gamau." Nathan menggelengkan kepalanya seperti anak kecil. Sungguh menggemaskan.
Sudut bibir Laura sedikit tertarik. Dengan cepat dia tahan. Berusaha tidak memperlihatkan senyumnya.
"Ra, lo gak cemburu?" lirih Nathan yang mendadak serius. Dia butuh kepastian mengenai perasaan Laura. Nathan tidak ingin kejadian dulu terulang kembali.
Laura mengerutkan alisnya. Menetralisir jantung yang mulai berdegup kencang. Please Nath, jangan kayak gini.
"Hmm.. lo pulang aja, nanti ortu lo nyariin." Kini suara Laura melembut dari sebelumnya.
Percuma Nathan mau nanya berapa kali, Laura pasti akan menghindarinya. Mau tidak mau, Nathan harus membuktikannya sendiri.
Begitu juga Laura. Dia harus menemukan jawaban dari setiap pertanyaan yang menyangkut terus diotaknya.
*
Hari ini adalah hari pertama Olin akan bergabung ke sekolah Evergreen International School. Laura berharap, mereka tidak akan sekelas. Dia sudah berjanji dengan dirinya sendiri, kalau mereka satu kelas, Laura akan melepaskan Nathan di hari ini juga. Tapi, kalau mereka tidak sekelas, Laura akan pertahankan Nathan.
Pagi tadi, Arief menyuruh Olin berangkat bersama dengan Laura. Tapi Laura mencari alasan agar bisa berangkat duluan. Dia memakai alasan 'aku buru-buru, ada tugas yang belum selesai'.
Laura menoleh ke arah arloji pada pergelangan tangannya. Pukul 06:42. Baginya masih pagi untuk menginjak halaman sekolah.
"Woi, tumben amat lo udah dateng!" teriak Kaila membuat Laura tersentak kaget. Lagian tumben banget Laura dateng sepagi ini. Biasanya kan dia mepet sama bel.
"Ngagetin aja lo! Gue kabur, biar gak bareng sama Olin."
"Olin mulai sekolah hari ini?" tanya Kaila penasaran.
Laura menganggukkan kepalanya sambil menaikkan alis kanannya.
"Orang kayak dia gak usah dipusingin, Ra. Masih ada kita-kita kok. Gue yakin, Nathan bakal pilih lo."
Seketika langkah Laura terhenti. 'Nathan bakal pilih lo', kalimat yang terus muter-muter di kepala Laura sekarang. Kalau boleh memilih, Laura akan memilih kalimat itu terjadi nyata. Entah semesta akan berpihak pada mereka atau tidak. Semoga, iya.
"Ra, lo udah nyaman kan sama Nathan? Jujur deh!" Kaila terlihat serius sekarang. Dia hanya ingin tau gimana perasaan temannya ke cowo itu. Karena Laura tidak biasanya seperti ini kepada cowo.
"Gue gatau, Kai."
Selalu. Kata 'gatau' menjadi jawaban dari pertanyaan ini. Padahal tidak sulit. Cukup jawab iya atau tidak.
"Lo tuh sayang sama Nathan, gue yakin, Ra. Lo nya aja gengsi!"
Laura melanjutkan langkahnya tanpa berniat untuk membalas ucapan temannya itu. Semuanya membuat pikirannya semakin rumit.
"Ra, udah kerjain tugas bahasa indonesia belom?" tanya Nadine berniat mengingatkan. Dia baru saja selesai menyalin tugas dari buku Kaila.
Laura memukul dahinya. "Lupa, pinjem dong!"
Seperti biasa, dengan cepat Laura menyalin tugas dari buku Kaila. Sudah banyak teman-teman yang lain menunggu sumber jawabannya. Salah satunya Ethan yang terkenal rusuhnya kalau ada tugas.
Laura berdecak sebal. Dia menggaruk kepalanya frustasi. Waktu tinggal 3 menit, entah keburu atau tidak. "Lo mah kebiasaan! Jangan main ambil aja kek!"
Nathan yang baru saja berjalan masuk ke kelasnya, merasa bingung dengan keadaan kelas. Semuanya sibuk mencatat. Setaunya tidak ada tugas apa pun.
"Nyalin apaan lu pada?" tanya Nathan sambil meletakkan tasnya diatas meja. Menoleh ke kiri-kanan, semuanya sibuk masing-masing.
"Woi, tugas apaan?" Nathan memukul pelan pundak Ethan sambil mendekatkan pandangannya ke arah tugas di meja Ethan.
Ethan menatapnya tajam. Nathan sangat menggangu. "Woi ah! Kecoret nih!" Ethan menunjuk ke arah buku yang terdapat garis panjang.
"Lagian gua nanya kaga di jawab. Ada tugas apaan?" Nathan tersenyum kaku. Pandangannya masih fokus ke buku. Entah tugas apa, tulisan Ethan sungguh hancur. Tidak terbaca.
"Bahasa Indonesia. Lo belom?" Tangan Ethan masih fokus menyalin tugas milik Kaila dengan cepat. Tidak terlewatkan satu kata pun. Tanda titik, koma, semuanya persis seperti kunci jawabannya.
Nathan mengerutkan alisnya. "Tugas apaan dah?"
Kaila menoleh ke arah Nathan. Cowo itu ngapain aja sih selama pelajaran?! "Mangkanya jangan ngelamun terus, Nath!"
Nathan tidak menunggu lagi. Dia mengambil buku bertulis 'b.ind' dari tasnya, setelah itu mengambil asal pulpen di meja belakangnya, dan mulai ikut menyalin tugas dari buku Kaila.
Kring kring
Untung saja hari ini guru-guru ada rapat dadakan, yang membuat upacara dan jam pelajaran menjadi free. Kalau tau kayak gini mending gak suka kerjain tugas buru-buru. Semua pemikiran murid kelas XII-Ips 2, sama.
Laura mengibaskan tangannya ke udara. Tangannya sungguh pegal. Dia baru teringat. Kenapa Olin belum datang? Waktu sudah pukul 07:29. Apa itu berarti dia di kelas lain?
"Guys, kok Olin belom dateng ya?" bisik Laura kepada ketiga temannya. Sontak Nadine dan Kaila menoleh ke belakang, memasang raut wajah bingung. Laura menatap mereka bergantian.
Claretta menatap jam yang terdapat di dinding atas papan tulis. Seharusnya, Olin sudah masuk ke kelas sekarang. "Antara masih di kantor, atau gak dia di kelas lain."
"Gua sih berharap dia di kelas lain ya! Males banget kalo ngadepin dia tiap hari!" dumel Nadine dengan wajah kesalnya. Baru membayangkan bertemu dengan Olin di sekolah saja sudah membuatnya sungguh malas. Bagaimana jadinya kalau dia di posisi Laura yang satu rumah.
Kaila menggelengkan kepalanya pelan, memutar bola matanya malas. "Me too."
"Ra, dengerin gue." Claretta memajukan sedikit wajahnya, dan menyuruh ketiga temannya agar lebih merapat. Biasanya kalau seperti ini adalah obrolan penting. "Lo harus bisa tunjukin ke dia, kalo gak selamanya apa yang lo miliki bisa diambil sama dia. Pertahanin Nathan, Ra! Jangan terlalu pasrah kalo dia nyoba ambil cowo lo."
Laura terdiam di tempat. Perkataan Claretta sungguh menghantamnya. Ada benarnya sih. Gak selamanya Olin terus-terusan mengambil apa yang menjadi miliknya. Tapi, dia gatau gimana caranya untuk pertahanin Nathan. Bukan karakternya banget untuk mempertahankan seseorang. Orang-orang pun tau, kalau Laura adalah playgirl. Kalau cowonya bosen, Laura tinggal cari yang lain. Bahkan sejauh ini Laura yang bosenan! Bukan cowonya.
"Ngomongin gua ya lu," ucap Ethan yang sudah berdiri di samping mereka. Begini lah kalau sedang kurang kerjaan, keempatnya jadi korban jahilan Ethan.
Laura menatap Ethan dengan sorot mata tajam. "Ge-er banget sih lo!"
Ethan menoleh ke arah Nathan--yang dari tadi duduk diam--dengan senyum jahilnya. "Cewe lo nih, Nath."
Nathan tersenyum samar sambil menggelengkan kepalanya pelan. Dia pun berdiri berjalan ke samping Ethan. "Mana cewe gue?"
Apa gue harus ikutin omongan Retta ya? Tapi gue gak pernah pertahanin sebuah hubungan. Duh! Kini pikiran Laura sedang beradu argumen. Bingung pake banget rasanya.
"Hai pacar," sapa Nathan dengan senyum menggoda ke arah Laura. Dia memasang senjatanya, yang biasa berhasil membuat banyak cewe luluh karena senyumnya.
Jantung Laura. Jantungnya berdegup cukup cepat dari sebelumnya. Senyumnya bikin Laura senang dan tenang sekaligus. "Hai."
Sontak ketiga teman Laura dan juga Ethan menyorakinya. Kapan lagi dibalas Laura dengan hangat. WOOOO!!
Claretta menyenggol pelan tubuh Laura, lalu membisikkan, "inget omongan gue tadi!"
Laura menarik nafasnya panjang, setelah itu membuangnya perlahan. Sungguh menyiksa. Jantungnya tidak bersahabat saat ini. Dia memejamkan matanya sebentar, setelah itu menatap kedua mata Nathan. Sudut bibirnya mulai dia tarik, alhasil dia menciptakan sebuah senyuman yang manis dan tulus dari hatinya.
Nathan tidak melewatkan momen itu. Dia melihat jelas senyum yang Laura berikan. Ada apa dengan Laura?
Laura bakal pertahanin Nathan gak ya?
Komen dan like ya💚
Tunggu episode selanjutnya!