I'M Stuck In You

I'M Stuck In You
Kelulusan


Finally, sekolah Evergreen International School akan mengumumkan hasil ujian mereka. Entah itu lulus atau tidak. Semua kelas 12 akan datang ke sekolah menggunakan pakaian putih-abu mereka.


Hari ini Laura sengaja datang lebih telat dari jam yang sudah ditentukan. Dia malas berlama-lama di sekolah. Kalau waktu bisa diputar, mungkin dia akan memajukan lebih cepat.


Diam-diam Laura masuk melalui gerbang belakang sekolah. Mobil Mini Cooper-nya dia parkir di sebuah cafe yang hanya beda beberapa gedung dari sekolah. Langkahnya terhenti ketika melihat bu Ani sedang berdiri di ujung sana. Dia sembunyi di balik tembok.


"Jangan lupa kamu cek tiket penerbangan kelas 12 ya. Lusa kita berangkat loh," ucap bu Ani yang terdengar sampai telinga Laura.


Seorang yang terkait menjadi panitia di acara perpisahan nanti pun menganggukkan kepalanya. "Udah siap semua, bu."


"Yauda, kamu balik ke kelas ya."


Laura bernafas lega ketika melihat kepergian bu Ani. Dia melangkah kembali melewati koridor sekolah, menuju kelasnya yang berada di lantai 4.


Sampai di kelas, semuanya tampak rusuh. Belum ada guru yang datang. Hampir semua murid-murid cewe sibuk befoto dan juga membuat tik tok. Sedangkan murid-murid cowo, mereka seperti biasa sibuk bermain game.


"Ra," panggil Kaila menyambut kedatangannya. "Gue kira lo gak dateng."


Laura menanggapinya dengan sebuah senyuman. Matanya berusaha tidak menoleh ke arah cowo yang duduk di belakang kursinya.


Setelah berhasil menaruh tas ke atas mejanya, dia berbalik kembali ke arah pintu kelas. "Nanti gue balik. Gue bosen di kelas."


Ketiga temannya saling menoleh. Laura tidak terdengar marah atau apa pun. Cara bicaranya biasa saja. Aneh. Seperti bukan Laura biasanya. Sudah berapa tahun kenal Laura, yang mereka tau, kalau Laura badmood pasti nada bicaranya akan membuat orang lain ikut kesal. Tapi kali ini enggak.


"Aneh temen lu," ucap Claretta setelah melihat kepergian Laura. Dia menggelengkan kepalanya.


Disamping itu Nathan melihat dan mendengar mereka jelas. Walaupun telinganya terdapat earphone, dia sudah mengecilkan volume suaranya dari kehadiran Laura ke kelas tadi. Ada rasa yang mengganjal. Ingin menghampiri, tapi sudah bukan haknya lagi.


*


Kepala sekolah sudah menempelkan lembaran hasil ujian mereka di mading lapangan. Kini semua siswa disuruh untuk turun dan membacanya.


Ketiga teman Laura tidak berhasil menemukan sosok cewe itu. Entah dimana Laura sekarang. Hanya dia yang tidak ada di lapangan saat ini.


Rasa cemas pun bisa di rasakan oleh Nathan, sebagai mantannya, yang tentu saja masih menyayanginya. Dari tadi dia tidak fokus dengan keadaan dihadapannya. Semuanya terfokus pada Laura yang menghilang.


"Gue ke sana bentar," pamit Nathan kepada kedua temannya.


Langkah demi langkah, Nathan bergegas menuju rooftop. Hanya tempat itu yang ada di pikirannya sekarang. Tapi, ternyata tidak ada. Laura tidak disana.


Nathan menuju parkiran sekolah, yang jaraknya lumayan memakan waktu. Karena posisi rooftop dengan parkiran, seperti dari ujung ke ujung. Dia pun tidak melihat mobil yang biasa Laura pakai. Rambutnya dia acak-acak asal, frustasi.


Dengan nekat, Nathan meraih ponsel dari sakunya, lalu menelpon nomor Laura. Tidak peduli apa kata cewe itu nantinya. Asal dia tau kalau Laura baik-baik saja.


"Halo?" Suara yang Nathan rindukan. Padahal mereka belum lama ini putusnya.


"Lo dimana?" tanya Nathan berusaha dingin.


"UKS."


Nathan mengerutkan alisnya. Dia sakit? Apa bener yang Claretta bilang waktu itu, Laura sakit? "Ngapain?" Kakinya sambil berjalan menuju tempat itu.


"Abis tidur, ngantuk," jawab santai Laura dari seberang sana.


Langkah Nathan berhenti begitu mendengar jawaban dari Laura. Segitu sayangnya sampai panik tau Laura di UKS? Yang nyatanya dia tidak sakit. 'Abis tidur'.


Niatan Nathan ingin menghampiri cewe itu pun buyar. Kini gengsinya yang menguasai dirinya. Buru-buru dia mematikan sambungan ponselnya.


Banyak sekali teriak-teriakan heboh yang Nathan dengar. Teman-temannya terlihat bahagia. Tapi untuknya semua ini malah menyedihkan. Dia tidak bisa membayangkan gimana rasanya merelakan kepergian seseorang yang dia sayang untuk kedua kalinya.


Karena merasa terpanggil, Nathan pun kesana.


"Lo lulus!" teriaknya antusias. "Selama ini kita belajar bareng, dikasih tugas sama kepala sekolah, semuanya gak sia-sia."


"Iya. Bagus deh," jawab Nathan dengan senyum terpaksanya. Dia menoleh ke lorong yang menuju UKS, tapi masih belum mendapatkan sosok Laura yang keluar dari sana.


"Coret segaram gue dong," minta Olin kepada Nathan sambil memberikan sebuah sepidol berwarna hijau.


Buang cewe rese itu dari pikiran lo! batin Nathan. Tapi gak bisa.


*


Laura sengaja pergi meninggalkan kelas setelah menaruh tasnya. Dia tidak ingin terlalu banyak bersama Nathan lagi. Lebih baik seperti ini. Terluka sendirian.


Mungkin Nathan tidak tau rasa sakit yang Laura rasakan. Begitu pun sebaliknya. Mereka sama-sama sayang, tapi tidak ada satu pun yang berani memperjuangkannya. Keduanya terlalu pasrah dengan keadaan.


Merasa bosan di rooftop, Laura pindah ke UKS. Dia membaringkan tubuhnya diatas kasur yang terletak disana. Alam mimpi pun datang. Laura tertidur.


Dert dert


Laura memejamkan matanya beberapa kali. Dia menoleh, dan mendapatkan pesan dari ketiga temannya. Tapi dia urung niatnya untuk membalas pesan-pesan mereka.


Sampai akhirnya sebuah nama yang membuat detak jantungnya kembali terasa cepat. 'Nathan gans'. Mantan terindahnya menelpon. Setelah berdeham sekitar 3 kali untuk menyesuaikan suara yang serak, ibu jarinya pun mengangkat sambungan teleponnya.


"Halo?"


...


Laura berjalan keluar dari UKS. Tapi dia tidak berniat untuk langsung melihat mading. Dia berdiri, melihat teman-temannya dari jauh. Semua sibuk mencoret-coret seragam sekolah mereka.


Sepasang matanya terfokus pada Nathan yang sedang mencoret kemeja sekolah Olin bagian pundak. Tangannya berhasil terkepal erat.


Demi mencegah emosi, Laura buru-buru bergegas meninggalkan sekolah. Dia menuju gerbang utama sekolah. Tidak sengaja dia bertemu dengan kepala sekolah. Alhasil dia terpaksa kembali.


"Kak Ara, selamat ya," ucap salah satu adik kelas yang berpapasan dengannya.


Laura tersenyum tipis. "Makasih."


"Woi, Ra!" teriak Claretta sangat kencang membuat banyak perhatian terarah kepadanya. "Kemana aja lu?!"


Dengan pasrah Laura berjalan menghampiri teman-temannya. Sudah tidak ada pilihan lain. "Selamat buat kalian. Semoga sukses kedepannya," alih Laura dengan senyum tipisnya.


"Lo juga," respon Kaila sambil memeluknya erat. Disambung juga oleh Claretta dan Nadine.


Keempatnya akan berpisah. Mereka punya tujuan masing-masing. Laura yang ke Jerman, Claretta ke Australia, Nadine ke Taiwan, dan Kaila yang memilih menetap di Indonesia.


Tanpa ijin dari pemilik seragam, ketiga cewe itu langsung mencoret-coret seragam milik Laura. Seragam yang tadinya bersih, tidak ada coretan sama sekali, kini sebaliknya. Tentu saja Laura tidak bisa diam. Dia juga membalas perbuatan ketiga temannya.


Disamping itu Nathan diam-diam melihat ke arah Laura. Ingin sekali rasanya menghampiri dan mengucapkan selamat. Tapi semua itu hanyalah khayalan. Dia lebih baik merhatikan dari jauh, tanpa harus mendekat.


Melihatmu senyum dari jarak yang jauh, sudah cukup membuat hatiku lega -Nathan-


Cari tau di eps berikutnyašŸ¤—


Like dan komen.