I'M Stuck In You

I'M Stuck In You
I'm stuck in you


EXTRA PART.


4 tahun kemudian, mereka telah menyelesaikan pendidikannya di salah satu kampus Jerman. Selama waktu itu, Nathan dan Laura menjalin hubungan yang cukup baik. Begitu juga dengan Martin dan Dinda, mereka resmi berpacaran dari 2 tahun lalu. Sampai sekarang, keduanya masih bersama.


Sebelum pergi meninggalkan negara Jerman, mereka ber4 berniat untuk double date ke salah satu wisata terkenal disana, bernama Brandenburg Gate.


Laura sangat beruntung bisa dipertemukan dengan cowo seperti Nathan. Nathan yang bisa membuat Laura luluh. Nathan yang bisa membuat Laura berhenti dan fokus pada satu orang.


Dunia serasa milik mereka saja. Mereka asik dengan pasangan masing-masing. Tidak memikirkan orang-orang disekelilingnya.


Setelah menghabiskan waktu disana, mereka pun menuju bandara untuk pulang ke Indonesia. Erlan dan Rany sudah berangkat tadi pagi. Kini, tinggal mereka ber4 saja.


"Bye, Jerman," gumam Laura sebelum pesawat yang dia tumpangi lepas landas. Makasih buat kenangan indahnya, lanjut Laura dalam hati.


Nathan menaruh kepalanya ke bahu milik Laura. Dia juga sama beruntungnya seperti Laura. Laura bisa menyembuhkan dia dari sakit hati. Laura yang mampu membuat Nathan berani untuk jatuh cinta lagi. Makasih, Ra.


*


Sampai di Jakarta, mereka langsung berpisah karena orang tua mereka menjemputnya. Laura memeluk tubuh Alma erat.


"Laura kangen, ma," kata Laura.


Alma hampir saja meneteskan air matanya. "Mama juga, sayang."


Setelah sekitar 3 menit mereka berpelukan, Laura beralih pada Arief yang diam dibelakang tubuh Alma.


"Papa," ucap Laura yang lalu memeluknya. "Makasih ya, pa. Papa udah kasih kesempatan Laura buat kuliah disana."


Arief membalas pelukan Laura. "Iya, sama-sama." Dia tersenyum hangat.


Olin dari tadi memainkan jari jemarinya. Dia tidak berani untuk menghampiri Laura terlebih dahulu.


Mata Laura terarah pada Olin. "Hai, gimana kabar lo?"


"B-baik," gugup Olin. Dia memajukan langkahnya mendekat, lalu memeluk tubuh Laura. "Sorry, selama ini gue jahat sama lo. Gue nyesel."


Laura tersenyum tipis. "Gapapa. Gue bisa ngertiin lo kok."


Alma dan Arief saling menatap satu sama lain. Dan mereka pun akhirnya pulang ke rumah.


Karena merasa kangen dengan ayahnya, Laura memaksakan diri untuk menuju pemakaman ayahnya sendiri. Walaupun cape, dia akan tetap kesana untuk ayahnya.


Mobil Mini Cooper Laura yang sudah lama tidak dia pakai, kini dia gunakan lagi. Dengan kecepatan normal dia menuju pemakaman.


Laura turun, langsung saja berlutut disamping kediaman ayahnya. "Pa, Laura balik lagi," lirih Laura.


"Laura udah selesaiin kuliah Laura di Jerman. Sekarang Laura bisa sering kesini. Laura kangen sama papa. Sekarang semua udah berjalan dengan baik, pa. Laura udah gak kayak dulu yang kesini buat ngeluh. Sekarang Laura kasih kabar bahagia buat papa."


Laura tersenyum samar.


*


"Sayang, mama sama papa aku ngajakin makan malem, kamu siap-siap ya. Nanti aku jemput," kata Nathan dari sambungan telepon.


Laura tersenyum sambil melihat dirinya dari kaca cermin di kamarnya. "Iya iya. Yauda, aku siap-siap dulu."


"Bye, nanti aku kabarin kalo udah jalan kesana**."


"Oke."


Hampir 1 jam Laura berisap-siap, kini dia sudah selesai. Tinggal menunggu Nathan menjemputnya.


Dert


Laura menoleh dan mendapatkan notifikasi dari 'Nathan gans'. Cowo itu sudah sampai didepan rumahnya.


"Ma, pa, Olin, Laura pergi dulu ya," pamit Laura.


Alma mengerutkan alisnya. "Mau kemana?"


"Jalan sama Nathan, ma. Hehe."


"Iya, ma."


*


Nathan membukakan pintu untuk Laura. Kini mereka sudah sampai didepan rumah Nathan. Jari jemari mereka terkait. Masih sama hangatnya.


"Tante, om," sapa Laura ketika mendapatkan kedua orang tua Nathan di meja makan.


Kedua orang tua Nathan menyambut Laura dengan hangat. Mereka pun makan malam bersama.


Setelah selesai makan, Nathan mengajak Laura untuk berjalan mengelilingi rumahnya. Tiba-tiba dia teringat, dulu ketika mereka kelulusan, dia sempat ingin memberikan Laura sesuatu. Tapi karena keadaan tidak mendukung, sampai sekarang dia belum sempat memberikannya.


"Ra, dulu aku sempet mau kasih kamu sesuatu. Tapi sampe sekarang belom aku kasih. Aku kasih sekarang aja, mau?" tanya Nathan yang masih setia menggandeng tangan pacarnya.


Tentu saja Laura mau. Dia menganggukkan kepalanya sebagai respon.


Nathan membawa Laura menuju depan kamarnya. Dia menyimpan benda itu di laci kamarnya.


"Aku tunggu sini aja," ucap Laura yang berdiri didepan pintu kamar Nathan.


Nathan masuk, dan membuka laci kamarnya. Dia mengambil benda itu.


Laura mendapatkan sebuah kertas yang dia yakin itu adalah amplop. Warna itu, warna yang sama seperti amplop yang dia temukan di rumah kayu. Jessie, iya.


"Ini, aku mau kasih kamu ini." Nathan menunjukkan sebuah gelang yang dia beli dulu. Emas asli yang dia beli dari uang jajannya sendiri. Dulu dia ingin menjadikan benda itu sebagai kenangan. "Aku pakein ya."


Laura mengulurkan tangan kanannya, membiarkan Nathan memakaikannya disana.


"Nathan," panggil Lina.


Nathan langsung saja menghampiri mamanya. Dia menyuruh Laura untuk tunggu disini sebentar.


Karena penasaran dengan isi amplopnya, Laura nekat berjalan masuk untuk melihatnya. Dia meraih amplop itu dan membukanya.


Setelah membaca isi tulisan itu, kini Laura paham. Nathan memang tipe cowo yang setia. Kalau dia sudah nyaman dengan seorang cewe, dia akan pertahankan cewe itu sebisa mungkin.


Kalau saja Nathan kenal Laura lebih dulu dibanding Jessie, mungkin Nathan tidak akan merasakan sakit hati seperti dulu.


"Ra?" panggil Nathan yang sudah balik.


Laura buru-buru menyimpan kembali amplop itu. "Sorry, aku gak bermaksud lancang. Aku cuma penasaran aja. Soalnya sebelumnya aku liat amplop ini di rumah kayu."


Nathan terkekeh. "Santai aja kali. Gak salah juga kalo kamu mau baca."


"Sayang banget ya kamu sama dia?" lirih Laura.


"Cemburu?" goda Nathan dengan tawanya.


Laura tersenyum. "E-enggak."


"Sekarang kan aku udah ada kamu, sayangnya udah ada di kamu semua."


Laura dan Nathan sama-sama terkekeh. Nathan berjalan mendekat ke arah Laura. Dia memeluk tubuh cewe itu.


"I love you, Laura."


"Love you more, Nathan."


END.


Semoga suka ya sama ceritanyađź’•


Maaf kalo masih kurang, karena masih belajar. Hehe.


Like dan komen.


Thank you.