
Mobil Laura melaju dengan kecepatan standar. Dia sungguh ingin berlama-lama. Tidak ingin berpapasan dengan Nathan dan Olin nantinya.
Pikirannya terpenuhi dengan sikap apa yang harus dia ambil nantinya. Tidak mungkin Laura mendadak menjadi sosok yang pendiam hanya karena kehadiran Olin di sekolahnya. Tapi tidak mungkin juga Laura bisa terlihat biasa saja ketika ada Olin. Buktinya baru dua kali berpapasan dengan Olin, sudah membuatnya diam tak berekspresi. Sebenarnya bisa saja Laura menunjukkan kebahagian diluar sekolahnya, tapi dia tidak mau membuat Olin semakin iri dengannya. Karena sejauh ini Laura tau bahwa Olin banyak sekali iri dengannya. Walaupun hanya hal kecil. Dan yang paling penting, Laura tidak mau menjadi seperti kakak tirinya.
Tin tin
"Bawa mobil yang bener dong!" teriak seorang bapak-bapak membuat lamunan Laura membuyar.
Laura berusaha fokus kepada jalanan didepannya. Dia memutuskan segera pulang ke rumahnya tanpa harus memikirkan apakah dia akan berpapasan dengan mereka atau tidak.
Mini Cooper Laura terparkir di halaman rumahnya. Disana ada motor ninja juga yang terparkir. Laura yakin kalau Nathan masih ada didalam.
"Ma," sapa Laura yang hanya tersenyum singkat. Setelah itu dia berjalan menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya. Dia sama sekali tidak niat untuk menemukan Nathan di ruang tamu.
Alma menatap anaknya heran. Wajah Laura terlihat sangat murung. Apakah dia ada masalah di sekolahnya?
"Olin, mama mau bicara dulu sama Nathan. Kamu ke kamar dulu ya," suruh Alma yang sudah duduk disebelah Nathan beberapa menit yang lalu.
Olin menurut walaupun dalam hatinya masih ingin berlama-lama dengan Nathan. Dia berjalan menuju kamarnya.
"Nathan."
Nathan menoleh ke arah Alma. Dia menunggu sampai Alma melanjutkan pembicaraannya.
"Tante boleh minta tolong sama kamu?"
"Boleh, tante. Selagi saya bisa, akan saya bantu."
"Kamu tau kalo papanya Laura udah meninggal?" tanya Alma setengah berbisik. Dia tidak mau Laura mengetahui tentang pembicaraan mereka.
Nathan mengangguk pelan. "Tau, tante. Dia sempet cerita."
Alma benar-benar terkejut. Sebelumnya Laura tidak pernah cerita mengenai hal ini kepada orang lain. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya.
"Kamu udah spesial dong ya? Laura gak cerita masalah kayak gini ke sembarang orang loh."
Pernyataan dari Alma sungguh membuatnya kepedean. Dia tersenyum-senyum malu. Sesekali melihat ke kaca yang terdapat di sudut ruang tamu. Ganteng banget gue.
"Tante mau minta tolong, supaya kamu jagain Laura. Tante sayang sama dia. Tante gak mau kehilangan orang yang berharga lagi di hidup tante. Jadi, tolong kamu jagain Laura."
"Siap, tante. Pasti bakal saya jagain," ucap Nathan sambil memberikan tangan hormat. Dia berjanji akan menjaga Laura, pacarnya.
Alma tersenyum senang. "Kebetulan kamu pacar dia kan? Bantu tante buat bahagiain dia."
"Iya, tante." Nathan terlihat salah tingkah sekarang. Bagaimana tidak? Sekarang dia sedang dihadapan calon mertuanya. Sudah cukup jelas sekarang.
"Oh ya, Lauranya dimana, tante? Kayaknya tadi ada suara dia." Nathan menoleh sana-sini mencari keberadaan cewe itu.
Alma berdiri dari sofanya. "Sebentar, tante panggil dulu."
Kini Laura sedang memandang langit-langit kamarnya. Dia sungguh tidak percaya dengan beberapa perasaan yang muncul berbarengan belakangan ini. Bahkan dia belum kenal Nathan lebih dari satu bulan. Bisa dihitung dengan jari.
"Laura," panggil Alma dari depan kamar. Setelah mengetuk beberapa kali, Alma berjalan masuk menghampiri anaknya.
Laura merubah posisinya menjadi duduk. "Kenapa, ma?"
"Nathan nungguin kamu tuh dibawah. Samperin dia, gih," suruh Alma dengan hati-hati.
"Suruh dia pulang aja, ma," jawab Laura sedikit ketus. Dia melipat kedua tangannya didepan dadanya, lalu mengalihkan pandangannya ke balkon kamarnya.
Alma menggeser posisi duduknya, merangkul Laura sambil mengelus pelan. "Gak boleh gitu. Dia nunggu dari tadi loh."
Dengan rasa malas, akhirnya Laura memutuskan untuk turun menghampiri Nathan. Bukan untuk mengobrol, tapi untuk mengusirnya!
"Lo ngapain sih masih disini?! Pulang aja!" ketus Laura setelah berdiri mendekati Nathan.
"Jadi ceritanya lo ngusir?" tanya Nathan sambil menaikkan sebelah alis dan mulut sedikit terbuka.
"Padahal mau ngobrol sama lu," gumam Nathan yang pasrah mengikuti langkah Laura. Entah sampai kapan Laura akan terus dingin dengannya.
Tangan kiri Nathan ditarik dengan arah yang berbeda, membuat Laura berhenti dan menoleh. Perlahan Laura melepas tangan Nathan. Sorot matanya melemah. Tentu saja, Nathan selalu melihat perubahan itu setiap ada Olin. Dia takut sama Olin? Apa gimana?
"Nath, temenin gue ke Gramedia bentar dong." Olin menatap mohon kepada Nathan. Berharap Nathan akan menemaninya.
Nathan menoleh ke arah Laura. *Please, larang gue, Ra*. Tidak ada respon dari Laura. Dia hanya diam di tempat. Tiba-tiba dipikiran Nathan berniat untuk membuat Laura cemburu. Dia ingin tau apakah Laura punya perasaan dengannya atau tidak.
"Oke," jawab Nathan dengan senyum singkat. Dia menunggu Laura melarangnya. Tapi tak kunjung terjadi. Mungkin itu akan terjadi di alam mimpi saja. Kenapa dia terima gue jadi pacarnya? Buat iseng aja?
Lagi-lagi perasaan aneh muncul. Sungguh, ini membuat Laura bingung sekali. Apa dia sedang cemburu sekarang? Rasanya sangat sesak melihat Nathan pergi dengan cewe lain. Terlebih lagi itu adalah Olin.
*
"Gak mau ikut masuk?" tanya Olin kepada Nathan yang dari tadi tidak bersuara. Sungguh sulit untuk menarik perhatian Nathan.
Nathan terdiam sebentar, beberapa detik kemudian dia menjawab. "Gue tunggu sini."
Deket sama Nathan tuh butuh kesabaran. Harus menghadapi sikap dinginnya. Tapi, Laura sangat beruntung. Dia tidak perlu repot-repot bersabar dengan Nathan. Malah Nathan yang berusaha menarik perhatian Laura yang dingin sepertinya. Olin sungguh iri dengan ini.
Dia lagi apa? Dia marah gak ga? Dia cemburu gak tadi? Pikiran Nathan dipenuhi oleh Laura. Seharusnya tadi dia tolak saja ajakan Olin, dan memilih untuk mengajak Laura jalan. Rasanya ingin cepat-cepat anter Olin pulang, dengan begitu dia bisa melihat Laura. Itu pun kalau Laura mau bertemu dengannya.
Melihat Olin yang sudah membawa beberapa plastik belanjaan, Nathan pun menjadi lebih semangat. Dia ingin menanyakan beberapa hal kepada cewe itu.
"Naik," suruh Nathan yang sudah siap melajukan motornya.
Olin tersenyum. Kayaknya Nathan semangat banget mau anter gue pulang. Hanya dengan hal kecil seperti itu, membuat Olin jadi berharap lebih.
Ditengah perjalanan, Nathan melambatkan sedikit lajuan motornya. Dan ini hal kecil kedua kalinya yang membuat Olin kege-eran. Dia mengira kalau Nathan ingin berlama-lama dengannya.
"Lin," panggil Nathan setengah berteriak.
Olin memajukan sedikit wajahnya ke samping Nathan. "Kenapa?" Dia mengembangkan senyumnya. Akhirnya Nathan yang memulai pembicaraan mereka, setelah berkali-kali dicuekin.
"Gue mau nanya."
Jantung Olin berdebar hebat. Kayaknya dia mau nanya udah punya pacar apa belom deh. Atau gak dia mau nanya tipe cowo gue. Pikiran Olin sungguh jauh.
"Nanya apa?" tanya Olin malu-malu. Dia menahan pipinya yang sudah memerah.
"Laura itu gimana sih orangnya?" Nathan sungguh penasaran dengan keseharian Laura. Apakah cewe itu memang dingin? Jutek? Atau hanya dengannya? Atau jangan-jangan Laura sengaja dingin dengannya agar dia diperjuangkan seorang Nathan?
Senyum Olin seketika memudar. Jantungnya mendadak sesak. Harapan yang dia taruh seakan runtuh dalam waktu bersamaan. Nama Laura semakin dibenci olehnya.
"Baik kok dia." Olin memundurkan kembali wajahnya. Sungguh topik yang tidak menarik. Olin memutar bola matanya malas.
"Dia emang jutek gitu ya?" Nathan terus berusaha mencari informasi lebih banyak lagi dari Olin. Karena Olin pasti tau gimana Laura. Mereka kan satu rumah.
Olin tersenyum jahat. Dia menemukan sebuah ide. "Dia jutek ke orang-orang yang dia gak suka gitu. Kayak gue aja, dia pasti jutek. Karena dia gak suka sama gue. Padahal gue selalu berusaha perbaiki hubungan kami."
Nathan mengerutkan alisnya. Gak mungkin Laura seperti itu. Apa benar yang dibilang Olin? "Kalo jutek ke gua, kenapa?"
"Oh, setau gua, dia gamau sama lu. Mending lu cari yang pasti aja. Laura kalo udah jutek susah buat luluhnya."
Tidak ada respon dari Nathan. Apa cowo itu percaya dengan omongan Olin?
Olin tersenyum samar. Dengan begini dia bisa menggantikan posisi Laura di hati Nathan. Yang dibutuhkan hanya lah sebuah proses.
Kenapa Laura selalu ngalah sama Olin ya?
Komen dan likeš„°
Tunggu part berikut!