I'M Stuck In You

I'M Stuck In You
Sebuah keputusan


Suara nyaring pluit dari lapangan membuat seisi kelas mereka berhamburan keluar kelas. Hari ini kelas mereka mendapat jadwal pengambilan nilai ujian praktek olahraga.


Setelah pemanasan beberapa menit, dan lari mengitari lapangan sebanyak 10 kali, mereka pun mendapat arahan dari guru olahraga. Basket, akan menjadi ujiannya.


Untung saja Laura sudah pernah mengikuti ekstrakurikuler basket, sehingga dia tidak perlu khawatir. Nama mereka dipanggil bergiliran. Sambil menunggu, Laura duduk dipinggir lapangan. Dia melihat Nathan yang asik bermain dengan Ethan. Sungguh tidak bisa dipercaya, hari semakin cepat berlalu. Mereka pun akan semakin cepat terpisah dengan jarak.


"Nath, diliatin tuh sama cewe lo!" Ethan melemparkan bola basket ke arah Nathan. Reflek Nathan menangkap bolanya.


"Iya, tau." Dia sudah menyadarinya dari beberapa menit lalu. "Gue lagi labil, Than."


Ethan terdiam. Dia tidak menangkap bola yang diberikan oleh temannya. "Gila ya lo?! Dia udah berubah jadi lebih baik karena lo, terus lo sia-siain?"


"Bukan, bukan gitu. Gue gak siap LDR, Than. Lo gak ngerti."


*


Seusai pengambilan nilai selesai, Laura dan ketiga temannya berjalan menuju kantin untuk beli minum yang dingin. Ujian praktek mereka sudah selesai semua. Ujian selanjutnya adalah UNBK dan yang terakhir UN.


"Kalian udah tau bakal kuliah dimana?" tanya Laura yang sama sekali belum mengetahui tentang itu.


Mereka pun saling tukar cerita seputar kuliah mereka di kantin. Hingga mereka tidak sadar kalau sekarang sudah menunjukkan pukul 15:02. Jam pulang sekolah sudah lewat dari 2 jam yang lalu.


"Gue harus les bahasa, gue lupa. Duluan ya," pamit Laura yang buru-buru berlari mengambil tasnya di kelas.


Dengan kecepatan lebih cepat dari biasanya, Laura pun sampai ke gedung les bahasanya. Dia berlari karena hampir saja telat. Jadwal les akhir-akhir ini akan lebih padat dari sebelumnya.


"Telat lagi?" Suara berat Martin membuat Laura tersentak.


Laura membalikkan tubuhnya, menemukan sosok Martin yang belum masuk ruang les. "Kok lo belom masuk?"


"Abis ke toilet." Martin berjalan lebih dulu meninggalkan Laura.


Tok tok


Tubuh Laura mengikuti Martin. Dia berharap guru lesnya tidak melihat. Mungkin keadaan sedang memihak padanya. Saking fokusnya, guru les itu tidak mengetahui kalau Laura telat.


Dengan cepat Laura langsung saja mengeluarkan bukunya, mengikuti halaman berapa buku Martin terbuka. Mereka memang duduk bareng. Ada juga beberapa murid lainnya yang bergabung les.


*


Makan malam hari ini, keluarga Nathan pergi keluar. Arvin sengaja membawa keluarga kecilnya makan diluar malam ini. Sesekali mereka akan meluangkan waktu.


"Sayang, kamu mau makan apa? Pesen aja," suruh Lina kepada Nathan.


Nathan memesan beberapa makanan keinginannya. Selain itu, dia juga memesan minuman yang menarik perhatiannya.


"Papa mau bicara tentang kuliah kamu, Nathan," kata Arvin dengan senyumnya. "Kamu kan tahun ini kuliah. Waktu itu papa pernah nanya, kamu bilang dimana aja kan? Asal jurusannya Bisnis. Iya kan?"


Nathan menganggukkan kepalanya. Bisnis memang jurusan yang dia inginkan dari SMA. Mungkin itu salah satu alasan dia memilih Ips.


"Papa udah daftarin kamu di salah satu universitas. Kamu pasti suka," ucap Arvin penuh keyakinan. Ada beberapa bahasa yang pernah Nathan tunjukkan padanya waktu kelas 9, dan Arvin yakin Nathan menyukai ini.


"Makasih pa, ma."


Beberapa makanan datang satu persatu. Mereka pun mulai larut dalam makanan yang tersedia disana.


*


Laura berjalan menuruni anak tangga, dengan niat untuk mengambil makanan. Seperti biasa, dia selalu menuju meja makan kalau keluarga di rumah ini sudah selesai makan malam. Mungkin sesekali dia ikut makan malam, tapi terkadang juga dia beralasan belum lapar.


"Nathan masih pacaran sama lo? Atau udah putus?" tanya Olin yang ternyata sedang berada disana juga.


Kakak tirinya memang sering seperti ini di rumah, memancing dirinya agar emosi. Tapi untungnya Laura selalu bisa menahannya.


"Bentar lagi kayaknya," sambung Olin dengan santai. Dia meneguk minuman di gelas yang dia pegang.


Laura tidak menjawab. Setelah mengambil makanan ke piringnya, dia membawa ke kamar.


Perkataan Olin terus mengelilingi pikiran Laura. Memang sepertinya mereka akan putus. Keadaan sudah melihatkan kalau mereka sudah tidak cocok. Hubungan mereka selalu penuh dengan pertengkaran.


Nasi yang berada di piring, hanya dia aduk-aduk. Perutnya terasa kenyang tiba-tiba. Padahal terakhir makan siang tadi di kantin.


*


"Semangat, ini UN hari terakhir," gumam Laura sebelum mengerjakan soal-soalnya.


Waktu sudah hampir selesai, Laura masih mengerjakan 39 soal. Sedangkan total soal ada 50 soal. Otaknya sudah terasa panas.


Akhirnya, selesai. Laura bebas dari segala ujian sekolah. Dia berhasil menuntaskan semuanya. Kelas 12 benar-benar hampir dia lewatkan.


"Anak-anak, jangan langsung pulang. Semuanya baris di lapangan. Akan ada pengumuman."


Lapangan sekolah sudah terisi oleh murid-murid kelas 12, baik ipa maupun ips. Wajah mereka semua terlihat sangat cerah dibandingkan beberapa waktu lalu. Seperti terlepas dari beban.


"Oke, selamat siang anak-anak," sapa pak Budi sebagai perwakilan dari guru-guru.


"Siang, pak," jawab murid-murid kompak.


"Pertama-tama, saya ucapkan selamat kepada kalian yang sudah melewati berbagai ujian. Tapi jangan senang dulu. Masih ada banyak yang harus kalian selesaikan kedepannya. Tetap semangat. Bapak harap setelah ini semuanya akan meneruskan kuliah. Tidak ada yang nganggur ya.."


Beberapa murid tertawa ketika pak Budi menekankan kata 'nganggur'. Waktu sangat tidak terasa. Mereka akan berpisah dalam waktu dekat. Masa-masa SMA mereka akan berakhir.


"Setelah ini kalian akan mengadakan classmeeting selama tiga hari berturut. Lalu libur kurang lebih satu minggu. Dan akan ada pengumuman kelulusan sesuai jadwal yang sudah di kasih di mading. Lusanya dari hari kelulusan, kita akan pergi merayakannya ke Bali sesuai permintaan kalian."


Sorak sorai para murid membuat telinga Laura terasa pengang. Dia menutup kedua telinganya dengan tangannya.


Setelah mendengar pengumuman tadi, Nathan menghampiri Laura. Entah apa yang membuat cowo itu ingin berbicara dengannya.


"Ra, gue mau ngomong sama lo," kata Nathan dengan sedikit gugup. Dia tidak yakin ingin membicarakan ini sekarang. Tapi cepat atau lambat semuanya juga akan terjadi. Nathan tidak ingin menggantungan perasaan keduanya.


Laura menganggukkan kepalanya. "Dimana?"


"Lo bawa mobil ya?"


"Iya."


Nathan berpikir sejenak. Tadinya dia ingin mengajak Laura pergi keluar, sepertinya tidak sekarang.


"Yauda, belakang sekolah aja."


Suasana terasa sepi. Keduanya sudah berdiam di belakang sekolah sekitar 5 menit. Tidak ada satu pun yang memulai pembicaraan.


"Ra," panggil Nathan serius. Dia ikut duduk di samping Laura. "Gue gak siap LDR."


Tubuh Laura terasa lemas, bersamaan dengan hatinya yang perih. "Yauda."


"Pasrah banget ya," sindir Nathan dengan senyum mirisnya. Cewe itu seolah-olah tidak keberatan.


"Kalo gak siap mau gimana, Nath? Gue gak bisa maksa," jawab Laura apa adanya. Pikirannya kacau.


Nathan memiringkan sedikit posisi duduknya. "Ra, kalo lo beneran sayang sama gue, lo peluk gue sekarang. Kalo lo selama ini emang cuma main-main, lo boleh pergi sekarang."


Jantung Laura lagi-lagi berdegup kencang. Dia bingung harus memilih apa. Ingin rasanya memeluk. Tapi itu akan semakin menyakitkan keduanya.


"Nath," lirih Laura. "Sorry. Kita harus akhirin semuanya."


Laura menunduk, tidak berani membalas tatapan Nathan. Dia yakin sebentar lagi cowo itu akan marah dan membentaknya. Tapi asal bisa membuat Nathan membencinya dan melupakannya lebih cepat, dia tidak apa-apa. LDR memang sulit.


Segampang itu Laura mengakhiri hubungannya? Apa dia gak mikirin perasaan? "Segampang itu, Ra?" tanya Nathan. Terdengar dari cara bicaranya, dia kecewa.


Air mata Laura menetes begitu saja. Dia masih belum membalas tatapan Nathan. "Jangan bikin ini semakin sulit." Suara serak Laura membuat Nathan mengetahui kalau dirinya menangis.


"Gak usah nangis. Gue gak bakal bikin semakin sulit." Nathan bangkit berdiri. Sebelum meninggalkan Laura, dia membalikkan kembali tubuhnya. "Makasih, Ra. Lo cewe kedua yang berhasil hancurin kepercayaan terbesar gue!"


Isak tangis Laura semakin menjadi. Dia tidak berniat melukai perasaan cowo itu. Bahkan perasaannya pun sangat hancur saat ini. Semuanya kacau.


Gimana kelanjutannya?


Cari tau di eps berikutnya❣️