
Laura lupa, kalau hari ini ada tugas pkn yang belum dia selesaikan minggu lalu. Dengan cepat, Laura mengambil bukunya dari dalam tas.
"Kailaa!! Minta pkn," teriak Laura membuat seisi kelas ikut panik.
"Emang ada tugas ya?" tanya salah satu teman sekelasnya.
"Gue belom kelar ps kemarin," jawab Laura sambil mengambil buku dari tangan Kaila.
Dengan kecepatan tinggi, Laura menyalin jawaban dari buku Kaila. Tanpa menghiraukan Nathan yang sudah duduk disebelah kursinya beberapa detik yang lalu.
"Ra," panggil Nathan mencoba mengalihkan fokus Laura kepadanya. Tangannya menopang dagunya, sambil melihat ke Laura yang serius dengan kegiatannya sekarang.
Tidak ada respon dari cewe itu, membuat Nathan semakin mendekatkan posisi duduknya. Dia menarik kursinya, mendekat ke Laura dan memajukan wajahnya.
"Ara," panggilnya lagi.
"Hmm?" Laura meresponnya dengan berdeham, tanpa menoleh ke arah Nathan. Pandangan dan tangannya masih fokus dengan tugasnya.
"Ra, liat gua dulu," lirih Nathan sambil menarik dagu Laura agar cewe itu menoleh ke arahnya.
"Apa sih, Nath?! Lo gak liat gue lagi apa?!" ketus Laura yang lalu kembali dengan kegiatannya. Dia mengabaikan cowo disebelahnya. Lebih penting tugasnya dari pada Nathan.
Nathan menghela nafasnya. "Gue tau lo lagi ngerjain tugas, tapi tolong dengerin gue bentar. Ini penting!" Suara Nathan beralih menjadi serius. Dia mengambil pulpen pada tangan Laura dengan paksa.
Ucapan Nathan berhasil membuat Laura menoleh ke arahnya. Tapi, bukan hanya Laura yang menoleh, bahkan seisi kelas ikut melihat ke arahnya.
"Gue gak suka liat lo sama Kevin, jangan deket-deket sama dia," ucap Nathan serius. Kedua matanya menatap lekat mata Laura.
Laura tertawa kecil, lalu menggelengkan kepalanya. "Kemarin lo larang gue sama Adriel, sekarang sama Kevin. Terus gue bolehnya deket sama siapa? Lagian juga suka-suka gue lah mau deket sama siapa aja!"
"Sama gua, Ra. Gue sayang sama lo." Nathan tidak merubah ekspresinya. Masih sama. Wajah yang serius. Dia tidak bercanda dengan omongan yang sekarang.
Sekelas XII-Ips sangat baper melihat keduanya seperti ini. Mereka heboh berbisik-bisik membicarakan keduanya. Pasangan yang cocok.
Kaila berjalan mendekati Nadine, lalu memajukan wajahnya ke samping telinga temannya. "Ini si Nathan ngaku buat yang kedua kali? Apa gimana? Gue ga ngerti."
"Gatau gue juga. Lagian si Ara bukannya nerima aja. Kasihan Nathan ampe begitu," bisik Nadine yang pandangannya masih fokus melihat ke arah mereka.
Laura tidak menghiraukan perkataan dari Nathan. Dia tidak suka dengan cowo yang ngekang atau ngelarang-larang. Belum jadi pacar aja udah cemburuan!
"Balikin pulpen gue!" teriak Laura sambil berusaha mengambil pulpen dari genggaman Nathan.
"Ra, gue butuh kepastian itu sekarang. Tolong lo jawab sekarang."
Jantung Laura seperti ingin copot. Pikirannya menjadi campur aduk sekarang. Disatu sisi, dia tidak ingin membuat Nathan sakit hati nantinya. Tapi, disisi lain dia tidak ingin menyia-nyiakan Nathan. Terlebih lagi Olin akan pindah ke sekolahnya. Mental Laura akan dipermainkan dengan kakak tirinya itu.
"Nath, gue belom tau perasaan gue gimana sama lo. Gue gamau nantinya lo sakit hati karena gua." Dengan rasa gugup, Laura melontarkan sisi pertamanya. Entah kenapa, rasa takut kehilangan Nathan lebih besar sekarang.
Tiba-tiba saja Claretta dan Nadine tepuk tangan, kompak. Membuat seisi kelas ikut melakukan hal yang sama, walaupun tidak tau mengapa harus tepuk tangan.
"Hebat. Kapan lagi Ara bisa sebijak itu, ya ga?" ledek Claretta sambil menyenggol pelan tangan milik Nadine yang berdiri disebelahnya.
Nadine terkekeh. "Salut gue, Ra! Kayaknya Nathan emang pas buat lo deh."
Senyum Nathan membuat jantung Laura semakin berdegup kencang. Rasanya sangat gugup menjalani suasana ini.
"Gak usah masalahin itu. Intinya, lo mau nyoba?" Nathan menaruh pulpen Laura ke atas meja, dan tangannya meraih kedua tangan Laura. "Pacaran?"
Spontan kepala Laura mengangguk pelan. Seisi kelas teriak heboh melihat keduanya. Sampai-sampai pak Budi yang berjalan didepan kelasnya masuk untuk mendiami mereka.
"Pelajaran siapa sekarang?! Buka dong bukunya, dibaca-baca. Jangan malah teriak-teriak!"
Seketika keadaan kelas menjadi hening. Dan detik berikutnya beberapa murid cowo malah tertawa mendengar ucapan dari pak Budi.
"Gak ada yang lucu! Kenapa ketawa?!" Pak Budi sudah terlihat kesal didepan pintu sana.
"Kan sekarang pelajaran bapa.." teriak Ethan dengan tawanya. Diikuti dengan teman-teman kelasnya.
"Diem-diem! Keluarkan bukunya!"
Sebelum Nathan balik ke kursi tempat duduknya, dia membisikkan sesuatu ke telinga Laura. "Semangat belajarnya, Ara."
Selama proses pembelajaran, pikiran Laura terpenuhi oleh sosok Nathan. Tidak menjadi masalah baginya untuk pacaran secepat ini. Toh biasanya juga baru kenalan, langsung jadian. Tapi, entah kenapa Nathan membuat Laura memiliki rasa takut. Dia tidak siap melihat Nathan nantinya dengan Olin. Bukan pesimis, tapi Olin itu memang sangat licik.
Claretta menyipitkan kedua matanya, melihat raut wajah Laura yang sulit terbaca. Sebenernya dia seneng gak sih jadian sama Nathan? Kaga ada ekspresi.
"Ra, lo seneng ga sih pacaran sama Nathan?" bisik Claretta dengan hati-hati. Dia tidak mau objek pembicaraannya mendengar.
Laura menaikkan kedua bahunya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah jalanan dibawah. Kenapa Olin belum puas dengan semuanya? Seluruh kasih sayang di rumah sudah teralih pada Olin, dan sekarang? Sekolah juga menjadi incarannya? Lantas, Laura harus bagaimana? Yang sebelumnya hanya tersiksa di rumah, dan sekarang di sekolah pun akan samanya seperti di rumah.
Kring kring
Akhirnya, 3 jam mata pelajaran sudah dilewatnya. Waktunya seluruh murid-murid mencuci otak. Mereka berhamburan keluar kelas, ada yang menuju kantin, perpustakaan, taman belakang sekolah, dan lain-lain.
Nathan langsung saja menghampiri Laura yang sudah menjadi pacarnya sekarang. "Ra, kantin ga?"
"Hmm.. gue duluan ya, Ra," pamit Claretta dan diikuti oleh Nadine dan Kaila.
"Misi, gue mau ikut temen gue," ucap Laura dingin. Tidak ada bedanya dengan pacaran dan tidak pacaran. Sama-sama jutek.
Nathan menghalangi langkah cewe itu dengan meregangkan kedua tangannya. "Sama gue aja. Kan kita udah pacaran. Lebih baik kalo berdua terus," goda Nathan dengan senyumnya.
"Terserah lo deh!"
Banyak pasang mata yang melihat keduanya berjalan bedua menuju kantin. Sudah biasa bagi Laura selalu menjadi sorotan teman sekolahnya.
"Jangan galak-galak kek. Sekarang kan kita udah pacaran," ujar Nathan tiba-tiba membuat Laura mengharuskan memberi tatapan yang tajam.
"Berisik lo!"
*
Nathan berniat untuk mengajak Laura jalan setelah pulang sekolah. Tapi, kayaknya Laura membawa mobil hari ini. Nathan berpikir keras, bagaimana caranya dia bisa jalan dengan cewenya.
"Than, gue mau ajak Ara jalan nih. Tapi, kayaknya dia bawa mobil deh. Gimana ya? Bantu dong," mohon Nathan sambil memainkan kedua alisnya. Otaknya lagi sulit untuk berpikir.
"Yauda, lo ikut ke rumah dia aja. Abis taruh mobil, jalan pake motor lo," jawab santai Ethan dengan wajah datarnya.
Jason yang tidak tau apa-apa hanya diam menyimak obrolan mereka. Efek beda kelas kayak gini. Pasti ketinggalan info banyak.
"Lo gatau ya.. tadi si Nathan nembak Laura. Cewe yang paling wanted di sekolah kita diambil dia dengan gampang, bruh!" adu Ethan kepada Jason. Seperti ada rasa bangga dengan temannya.
"Baru juga masuk, Nath. Gercep amat," heran Jason sambil menggelengkan kepalanya. Dia saja yang sempat mendekati Laura 1 bulan, ditolak. Kok Nathan yang masa PDKT-nya gak ada setengah bulan, bisa dapetin Laura dengan gampang?
Nathan tersenyum jahil. Memainkan kedua alisnya. "Atuh iya, jiwa kegantengan gua keluar nih."
Ethan berdiri dari kursinya. "Gue mau ke kelas nih, mau ikut gak?"
Ketiganya berjalan meninggalkan taman belakang, yang menjadi tempat bolos mereka. Bolos janjian mereka lebih tepatnya. Sebelum benar-benar masuk kelas, berpisah dengan Jason, Nathan menghentikan langkahnya sebentar.
"Jadi, gue nemenin Ara taruh mobil dulu? Terus perginya pake motor gua?" tanya Nathan yang ternyata dari tadi masih memikirkan permasalahan ini.
"Iya, yawlaa.." gereget Jason dan Ethan bersamaan. Kadang Nathan kalau lagi lola membuat keduanya kesal. Walaupun baru saja bermain bareng, ketiganya sudah merasa cocok untuk berteman.
Sejauh ini makasih buat yang udah baca💞
Ikutin terus ya ceritanya.
Like dan komen!
Tunggu part berikutnya.