I'M Stuck In You

I'M Stuck In You
Terimakasih Celine


Kini matanya terarah ke punggung ketiga cewe yang dikenalnya. Mereka berjanji untuk bertemu di salah satu tempat makan. Mata Laura teralih pada barang belanjaan teman-temannya. Baru 1 jam lebih beberapa menit, barang mereka sudah banyak sekali.


"Lo pada beli apaan aja coba?" heran Laura sambil terkekeh pelan. "Gue juga mau ikut belanja kali.."


"Kelamaan nunggu lo!" sahut Nadine pura-pura bete. Detik berikutnya dia tertawa.


Claretta menatap Laura curiga. "Mana nih yang bilang mau move on?" sindirnya.


Kaila sibuk membuka plastik novel barunya. Dia menyempatkan waktu untuk ke Gramedia. Walaupun tadi dia harus berpisah dengan kedua temannya, tapi dia tidak menyesal. Buku ini sudah dia inginkan dari beberapa hari lalu.


"Nih anak kalo udah ketemu novel gini nih, nyatuh sama alamnya sendiri," ucap Claretta sambil menggelengkan kepalanya pelan.


Laura duduk bergabung dengan mereka, dan ikut memesan makanan. Mood yang sempat jelek belakangan ini, terganti semuanya dengan tadi. Cukup bermain 1 jam saja sudah membuat moodnya naik.


"Kenapa lo senyum-senyum?" tanya Nadine sambil menyenggol pelan tubuh Claretta memberitahu.


Melihat Laura kembali ceria membuat mereka lega. Tapi tidak dengan Claretta. Dari dalam hatinya, dia masih takut kalau hati Laura akan lebih sakit dari sekarang. Dia bisa melihat seberapa busuk niat Olin untuk merebut Nathan. Dan sejauh ini Laura selalu diam dan mengalah. Kalau Laura terus seperti ini, suatu saat Nathan akan berpaling.


Kaila yang sudah memberesi plastik-plastik novelnya, kini duduk diam melihat ke arah Laura. "Menurut gue, lo sekarang ngomong baik-baik sama dia. Masa pacaran malah ngambek begini. Lo bedua tuh kegedean gengsi tau," sarannya. Walaupun dia jarang sekali terjebak dalam percintaan, dia bisa mengerti.


"Kalian tau lah gue gimana? Masa gue yang mulai?" ragu Laura. Karena memang sebelumnya dia tidak pernah terjebak seperti ini. Selalu mantan-mantannya yang mulai.


Claretta dan Nadine sama-sama menaikkan lalu menurunkan kembali bahunya. Mereka tidak bisa berkomentar banyak. Begitu pun Kaila.


"Abis ini kalian gak langsung balik kan?" tanya Laura dengan nada panik.


"Lo maunya gimana?" tanya balik Claretta dengan alis kanan yang terangkat. "Kalo lo mau balik ya kita balik lah. Tujuan kemari kan jalan sama lo. Eh.. lo malah jalan sama pacar!"


Ketiganya terkekeh membuat Laura berdecak sebal. "Gue tiba-tiba takut. Takut bakal ngerasain sakit hati karena dia. Gue gak siap. Dan gue gak bakal siap." Suasana mereka mendadak hening dan lebih serius dari sebelumnya.


"Ra, lo harus bisa nanggung resikonya. Lagian, kalo emang kalian jodoh gak bakal kemana kok." Tangan kiri Kaila mengusap pelan bahu Laura.


Laura tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya samar.


*


Mobil Nathan memasuki perumahannya. Celine dari tadi tidak berhenti membicarakan tentang Laura. Tanpa dia sadari, telinganya terus mendengarkan cerita panjang itu.


"Celine kira temen kakak tadi jahat. Soalnya dia minta mainan yang Celine pegang," ceritanya sambil memainkan jari jemarinya.


"Oh ya, tadi Celine ambil mainannya dari tangan kakak itu duluan. Untungnya kakaknya gak marah sama Celine."


Kedua sudut Nathan terangkat. Sepertinya sepupunya itu suka dengan Laura. Ketika sudah memarkirkan mobilnya, Nathan turun dan mengitari mobilnya, lalu menggendong Celine untuk masuk ke rumah.


"Mami.." teriak Celine sambil menggerakkan kakinya cepat, meminta Nathan agar menuruninya. Setelah turun, dia menghampiri ibunya dan menceritakan hal yang sama seperti di mobil.


"Jadi tadi kamu ketemu Laura?" tanya Lina dengan senyum jahilnya. "Terus kalian main bareng?"


Mendengar perkataan istrinya, membuat Arvin ikut senyum jahil. "Ajak dong pacarnya kesini," isengnya sambil menaik-turunkan alisnya.


"Iya, nanti Nathan ajak. Tapi gak sekarang," jawabnya dengan wajah pura-pura kesal.


"Nathan udah punya pacar nih? Kenalin dong ke tante," sambung ibunya Celine dengan tawa kecilnya. Senang melihat Nathan sudah melupakan masa lalunya dengan Jessie.


Nathan menggaruk lehernya yang tidak terasa gatal. "Nanti Nathan atur waktunya."


Sepertinya Nathan harus berterima kasih dengan Celine. Karena sepupu kecilnya, hari ini terasa lebih indah. Walaupun hanya sebentar.


*


Hari demi hari berlalu begitu cepat. Hingga saat ini sudah tiba UAS semester 2. Ujian-ujian sudah didepan mata mereka. Hubungan Laura dengan Nathan mulai membaik, walaupun terkadang masih ada orang ketiga diantara mereka. Bahkan orang keempat juga ada. Kelima bahkan. Olin, Martin, kevin. Rame ya.


"Retta, pulpen gue mana?" tanya Kaila sambil mengacak-acak meja Laura dan Claretta, mencari pulpennya.


Karena merasa terganggu, Claretta buru-buru menahan tangan temannya. "Pulpen yang mana sih?"


"Yang kemarin lo pinjem pas pelajaran bu Ani. Kan lo belum balikin. Pulpen gue tintanya abis ini. Cepetan balikin!" dumelnya tergesa-gesa. Karena waktu mengerjakan tugas sudah hampir selesai. Ini akan menjadi nilai terakhir pelajaran agama di SMA-nya.


Tangan Laura tergerak memberikan salah satu pulpennnya. "Nih, pake punya gua dulu aja."


Bel pulang sekolah berbunyi. Keempatnya langsung saja berjalan menuju mading, yang katanya terdapat beberapa jadwal susunan akhir mereka. Banyaknya murid yang membuat mereka sulit untuk melihat.


"Tunggu sepi dulu deh, males dorong-dorongan," ucap Nadine sambil memainkan ponselnya. Dia berjanji akan pulang bersama kekasihnya.


Laura menghentikan matanya ketika melihat sepasang mata orang lain juga menatapnya. Ini akan menjadi beberapa bulan terakhir dia bertemu dengan cowo itu. Tanpa dia sadar, tangannya meremas sisi roknya dengan kuat.


"Lo kenapa?" tanya Kaila yang paling peka dengan keadaan. "Baik-baik aja kan lo?"


"Eh? Iya, baik-baik aja." Laura mengalihkan pandangannya ke arah lain. Susah payah dia mencoba untuk mengurangi rasa sayangnya ke cowo itu. Tapi Nathan selalu berhasil meluluhkan hati Laura yang sempat dingin.


Cowo itu semakin mendekat. Jantung Laura terasa ingin copot. Nathan berjalan ke arahnya. Belakang ini mereka memang lagi jarang bicara secara langsung, karena selalu ada halangan. Dan kini Nathan mencobanya.


"Hai," sapanya dengan senyum. Walaupun ada 4 orang disana, arah mata dan bicaranya hanya ke Laura seorang.


Laura berusaha terlihat biasa saja. Dia melepas rok dari tangannya, lalu mencoba santai. "Iya, hai."


"Hari ini ada les bahasa ya?" tanya Nathan to the point. Ada niatan untuk mengajak Laura jalan, tapi semuanya itu selalu gagal karena kesibukan Laura dalam mempersiapkan kuliah di Jerman.


Dengan ragu Laura menganggukkan kepalanya. Ini untuk kesekian kali dia merasa tidak enak ke Nathan. Dia yang sering berhalangan.


"Hmm, Ra, kita kesana ya, udah sepi," pamit Claretta mewakili.


Laura menoleh ke arah mading yang memang sudah sepi. "Gue mau kesana, mau ikut?"


"Boleh. Gue belom liat juga."


"Setelah ujian kelar semua, kita bakal ada acara perpisahan.. yeyy," teriak histeris Nadine. Tentu saja ini yang sangat dia tunggu-tunggu. Acara yang akan menyenangkan.


Berbeda dengan Laura yang sama sekali tidak terlihat senang. Ini rasanya kalo mau pergi jauh dari mereka? Ekspresi wajah Laura sama sekali tidak tertebak.


"Ra?" panggil Nathan sambil melambaikan tangannya.


"Hmm?" Buyar semua lamunannya. Tapi tidak sampai disitu saja. Dia juga kepikiran dengan ibunya yang nanti akan berbeda rumah.


"Nathan," panggil seorang cewe dari seberang sana. "Lo udah janji mau anter gue, ayuk."


Oh ya, lupa bilang. Kalau sekarang ini Olin semakin dekat dengan Nathan. Ya, walaupun Nathan suka bilang kalau dia tidak punya perasaan apa-apa dengan Olin. Katanya sih karena Olin pernah membantu dirinya meningkatkan beberapa pelajaran yang masih jauh dari nilai rata-rata. Nathan memang pintar, tapi ada beberapa bidang yang dia tidak bisa menjadi bisa berkat bantuan Olin.


Nathan juga udah bilang kok ke Olin, kalau dia tidak akan pernah menaruh perasaan kepada cewe itu. Bahkan Nathan sudah menolak Olin, sebelum cewe itu terus terang dengan perasaannya. Dan Olin juga menerimanya walaupun dengan hati yang berat.


"Iya, bentar," sahut Nathan setengah berteriak.


Wajah Nathan mendekat ke arah telinga Laura. "Jangan cemburu ya, sayang. Gue cuma sayang sama lo. Gue anter dia karena-"


"Iya, lo udah sering bilang. Gue ngerti," jawab Laura dengan senyum. Seperti biasa, senyum 'paksaan'.


Ketiga teman Laura melihat ke arah Olin yang memang sudah lebih baik dari sebelumnya. Cewe itu lebih ramah dibanding dengan awal ketika masuk sekolah ini. Mereka juga sudah melihat kerelaan Olin kalau Nathan dengan Laura.


S'moga suka🙏🏻


Tunggu episode berikutnya.