I'M Stuck In You

I'M Stuck In You
Gramed


"Duh.. sorry." Sesekali Laura melirik ke arah Martin, tidak enak telah membuat cowo itu menunggu lama. Seharusnya mamanya biarkan saja dia pergi sendiri. Tidak perlu membuat Martin repot karenanya.


Martin terkekeh pelan. "Santai aja kali. Gue cuma bercanda."


Hening. Hanya itu menjadi obrolan terakhir. Martin melajukan mobilnya menuju mall terdekat dari sana.


Ponsel Laura terus bergetar tidak berhenti. Tangannya tergerak untuk mengangkat telepon itu.


"Halo?"


"Ra, lo kemana?" tanya Nathan dari telepon. Terdengar suara khawatir disana.


"Gue mau beli kamus bentar. Abis itu langsung balik," jawab Laura seadanya. Memang benar kan, dia ingin beli kamus saja?


Nathan sempat tidak menjawab beberapa detik, dan Laura tau alasannya detik selanjutnya. Ada suara cewe disamping sana. Berusaha membujuk Nathan agar mengantarnya pulang.


"Anterin aja, kasihan dia," suruh Laura seakan-akan tau pembahasan mereka. Walaupun hatinya berkata lain, dia tetap berusaha tidak egois.


"Gue bukan tukang ojek dia, Ra. Lo aja sebagai pacar gak pernah minta anterin tuh," balas Nathan dengan kesal. Dia sengaja berbicara ini terang-terangan. Biar Olin sadar diri.


Olin berdecak sebal mendengar perkataan Nathan. "Tadi kan lo yang jemput. Wajar dong kalo gue minta lo anter balik?"


Nathan masih belum menutup teleponnya, yang membuat Laura bisa mendengar perdebatan mereka.


"Gue gak jemput lo! Gue jemput Laura!" tegas Nathan. "Lo aja yang ngebet mau dianter!"


Mulut Olin tertutup rapat. Dia tidak bisa menjawab apa-apa lagi. Nathan berhasil menyudutkannya.


"Halo? Ra? Gue nyusul lo ya?"


Laura menoleh sekilas ke Martin. "Hmm.. gak usah, Nath. Nanti kalo udah balik, gue kabarin lo."


"Yauda, hati-hati."


"Iya, bye." Laura mematikan hubungan telepon itu. Dia menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.


"Siapa? Pacar?" tanya Martin berhasil membuat Laura tersentak. Dia masih fokus melajukan mobilnya.


Laura berpikir sebentar. Apa dia harus jujur? "Hmm.."


"Hmm? Pacar?" tanya Martin sekali lagi. Mencoba mencari tau jawabannya sendiri.


"Iya," jawab singkat Laura tanpa menoleh ke arah Martin. Matanya fokus melihat ke arah jalanan didepannya.


Martin menganggukkan kepalanya paham. "Dia gak cemburu lo pergi sama gua?"


"Enggak. Kita cuma beli kamus, dia pasti ngerti," jawab Laura spontan. Aneh juga dia bisa menjawab seperti ini.


Martin menganggukkan lagi kepalanya, paham. "Lo udah pikir mateng-mateng, dan tetep mau ke Jerman?" Entah kenapa dari cara pandang Martin, cewe itu terlihat tidak berniat untuk ke Jerman. Terlihat hanya terpaksa.


"Gatau, gue bingung," jawab Laura terdengar pasrah. Dia sama sekali tidak terbesit dalam pikirannya untuk belajar ke luar negeri. Dan tiba-tiba saja semuanya akan terjadi.


"Gue tau lo gak niat kesana. Dari cara lo belajar bahasa aja gak ada niat sama sekali," terus terang Martin. Seakan-akan dia sudah tau apa yang dipikiran Luara.


Laura menoleh ke arahnya. "Emang lo niat kesana?" Kini gantian dia yang bertanya.


"Niat lah. Justru ini gue yang minta. Dan kebetulan gue gamau sendiri, gua butuh temen. Mungkin karena ini lo jadi kebawa kesana," jelas Martin dengan jujur. Benar saja, memang dia yang meminta orang tuanya untuk mencarikan teman disana nantinya. Dia juga yang minta agar temannya perempuan, karena dia ingin memiliki pengalaman yang berbeda.


"Jadi?! Ini gara-gara lo?!" teriak Laura dengan wajah kesal. "Sumpah!"


Martin memberikan tangan berbentuk peace. "Iya." Pandangan Martin bergantian ke Laura dan ke jalanan didepan.


Mobil Martin terparkir di parkiran valet. Dia segera turun dan diikuti juga oleh Laura. Tanpa menunggu lama, langkah mereka langsung tertuju ke tujuan utama mereka, Gramedia.


"Yang mana? Gue gak tau." Laura membuka suaranya. Dia sudah bingung ingin membeli yang mana. Buku bertulis 'kamus bahasa Jerman' cukup banyak dihadapannya.


Martin meraih beberapa buku, dan melihat detailnya satu persatu. "Yang ini aja." Dia memberikan sebuah kamus yang cukup tebal.


"Seriusan? Tebel banget," jawab malas Laura sambil memperjelas penglihatannya ke buku yang dia pegang. Sangat tebal.


Martin terkekeh. "Kayak gak pernah liat kamus aja lo! Itu belom seberapa."


"Hmm," gumam Laura pasrah. Dia langsung saja berjalan ke kasir untuk membayarnya.


Martin tidak mengikutinya ke kasir, tapi dia menunggunya didepan Gramedia sambil bermain ponsel. Sesekali mata Laura balik melihat Martin yang sibuk dengan benda di tangannya. Seriusan gue bakal ke Jerman sama dia?!


"Udah, ayuk balik," ajak Laura tanpa menunggu Martin. Dia langsung saja berjalan mendahului cowo itu.


Rasa lapar membuat Martin harus pergi makan dulu. "Makan dulu," ucap Martin terdengar tegas. Seakan-akan tidak menerima penolakan dari Laura.


Martin melipat kedua tangannya didepan dada. "Terserah lo! Intinya gue makan dulu. Lo balik aja sendiri kalo gitu." Tanpa berpikir panjang lagi, dia langsung saja berjalan meninggalkan Laura. Dia yakin, cewe itu tidak akan mau pulang sendirian. Nyokap Laura pernah bilang ke dia, kalau Laura takut naik taxi online atau apa pun itu.


"Yauda lah, gue ikut." Laura mengikuti langkah Martin dari belakang. Dia mencoba mengambil ponselnya dengan kaki yang terus melangkah.


Tangannya mengetik sebuah pesan untuk dikirim ke Nathan.


Laura.


Nath, gue mkn dlu.


Setelah ibu jarinya menekan kirim, entah kenapa dia merasa sangat bodoh. Ngapain juga gue kasih kabar? Detik berikutnya dia berusaha secepat mungkin untuk menghapus pesan itu. Tapi, Nathan lebih cepat membacanya.


Nathan gans.


Sama cowo itu?


Laura memejamkan matanya sejenak. Sangat bodoh. Harusnya jangan bilang seperti itu ke Nathan. Bisa-bisa dia cemburu lagi.


Laura.


Iya. Abs itu lngsng blik kok.


"Mau makan apa?" tanya Martin terdengar galak. Pandanganya sibuk mencari makanan yang ingin dia makan.


Laura langsung saja mematikan layar ponselnya, dia menoleh ke samping kiri-kanan. "Apa aja."


"Semua cewe sama aja ya, jawabannya selalu 'apa aja' atau gak 'terserah'. Bisa gak sih milih?!" dumel Martin terdengar sedang marah. Martin memang lebih tegas dan emosian orangnya. Dia tidak suka kalau bertanya dan jawabannya seperti yang Laura jawab tadi.


"Samain kayak lo aja," jawab Laura pelan. Dia tidak ingin membalas dengan marah juga. Tidak ingin berdebat sekarang.


Martin menghela nafasnya. Segitu susahnya milih? "Yauda!"


Beda ya. Nathan lebih lembut, Martin lebih kasar. Pikiran Laura terus berdebat. Ngapain juga gue bandingin mereka?


Setelah duduk dan menghabiskan makanannya, Laura meraih ponselnya, berniat mengecek room chat dengan Nathan. Tiba-tiba saja ponselnya mati. Dia baru ingat, pagi tadi dia lupa menghubungkan ke kabel charger. Alhasil, ponselnya mati sekarang.


"Kenapa?" tanya Martin sambil menatapnya heran.


Laura berkali-kali menyalakan ponselnya, tapi tidak bisa. "Batre gue abis."


"Yauda, biarin aja. Kalo nyokap lo nyariin, pasti ntar teleponnya ke gue," jawab santai Martin tidak berekspresi. Dia menyeruput minumannya.


Masalahnya yang nyariin itu Nathan. Bukan nyokap. Jawab Laura dalam hati. Anehnya kenapa dia takut Nathan cemburu dan marah? Benar, kali ini fiks dia udah ada rasa sama Nathan.


"Udah kan makannya? Balik yuk," ajak Laura berusaha supaya Martin mau mengantarnya pulang sekarang.


Martin tidak menghiraukan, dia masih fokus membalas pesan-pesan di ponselnya.


"Ayuk, balik," ulang Laura dengan suara lebih keras.


"Kita ke Club dulu. Gue mau ketemu temen bentar," jawab Martin yang setelah itu berdiri meraih kunci mobilnya dan berjalan ke kasir.


Laura menghela nafasnya panjang. Kalau saja dia berani balik sendiri, dia sudah balik sejak tadi. Dan kalau saja ponselnya masih menyala, dia pasti akan minta tolong Nathan menjemputnya, atau tidak minta supir menjemputnya.


"Harus banget kita ke Club sekarang?" tanya Laura sambil mengikuti langkah Martin disebelahnya.


Martin menoleh sekilas. "Gak usah bawel. Ikut aja."


Sepertinya percuma Laura ngomong seberapa banyak, cowo itu tidak akan mendengarkan. Dia hanya bisa pasrah, ikut kemana cowo itu pergi.


Untuk ke-3 kalinya Laura berada di Club. Banyak sekali kumpulan cowo yang melihat ke arahnya. Dan Martin malah membawanya kesana.


"Bro, gua kira lo gak jadi kesini," sapa salah satu dari cowo itu. Pandangan mereka tidak jauh dari Laura.


Laura berpikir keras, apa yang aneh darinya. Apa mungkin karena masih pakai seragam sekolah? Mangkanya mereka memperhatikan sedetail itu?


"Cewe baru lu?" tanya yang lainnya sambil menepuk pundak Martin.


Martin tersenyum penuh arti. Dia menoleh ke Laura. "Iya, kenalin, namanya Laura."


Kedua mata Laura membulat. Apa-apaan nih?


Reaksi Laura gimana ya?


Tunggu episode selanjutnya💘


Like dan komen.