I'M Stuck In You

I'M Stuck In You
Timezone


Kalau bukan karena ingin mengejar nilai, Nathan malas untuk berada disini sekarang. Selain risih karena Olin, dia juga ingin mencoba menghindar dari Laura dulu.


"Kemarin kan tugas bu Ani udah, sekarang mau punya bu Mevi dulu atau pak Budi?" tanya Olin sambil menaruh beberapa buku yang dia bawa. Dia mengambil posisi duduk sebelah Nathan.


Tanpa merespon, Nathan langsung membuka lembaran bukunya dan mulai membaca tugas yang harus dia selesaikan. Tidak perlu melihat internet, dia mampu menjawab dan menyelesaikannya. Kebetulan, materinya sama dengan materi yang dia pelajari sebelumnya di sekolah lama.


"Kok lo ngerjain sendiri sih?!" bete Olin sambil melipat kedua tangannya didepan dada. "Kayak gini mah namanya tugas individu, bukan tugas kelompok!" dumelnya.


Telinga Nathan sudah kebal dengan segala ocehan Olin. Pikiran dan tangannya terus fokus menjawab soal-soal. Dia rasa, lebih baik mengerjakan semua tugasnya sendiri. Tapi niat itu dia urungkan. Bisa-bisa Olin mengadu ke kepala sekolah.


*


Laura sudah menunggu ketiga temannya dari 10 menit yang lalu. Mereka memang selalu begini. Setelat-telatnya Laura, pasti akan lebih telat ketiganya.


Karena merasa bosan menunggu di mobil, Laura pun turun dan berjalan masuk ke gedung besar itu. Toko-toko baju dan kosmetik adalah yang pertama didapati oleh kedua mata Laura.


Sudah sekitar 15 menit berjalan, langkahnya berhenti di toko bertulis 'scoop'. Benda berwarna putih-ungu muda yang biasa disebut 'dream catcher' berhasil menarik perhatiannya. Ketika dia berusia 7 tahun, ayahnya pernah membelikan benda ini. Tapi sekarang benda itu sudah hilang. Kali ini Laura berniat membelinya.


Laura meraih benda itu, dan segera membawanya ke kasir. Tapi tiba-tiba saja tangan seorang anak kecil merampas dream catcher yang akan menjadi miliknya.


"Aku duluan," ucap anak kecil sambil memeluknya erat-erat, seakan-akan Laura akan memaksa mengambilnya.


Laura menghela nafasnya kecewa. Tangannya kalah cepat dengan tangan anak kecil itu. Dia berdecak sekali. Tidak mungkin dia merampasnya. Mau tidak mau dia mengalah.


Laura melihat sekeliling. Masih ada satu dream catcher lain. Tapi warnanya tidak semenarik yang dipeluk oleh anak kecil. Tangan Laura mengambil benda itu.


"Tukeran, mau?" rayu Laura pelan-pelan. Dia ingin sekali dream catcher putih-ungu muda itu. Senyum manisnya dia keluarkan demi benda yang dia inginkan.


Anak kecil itu melirik benda yang dia peluk dan mengalihkan lirikannya ke benda yang dipegang Laura. "Gamau! Celine mau yang ini!" gerutunya.


Oh, namanya Celine. Dengan pasrah Laura kembalikan benda yang dia pegang. Usahanya sia-sia. Dia tidak akan membawa pulang benda yang beberapa menit lalu menarik perhatiannya.


Laura membungkukkan tubuhnya, menyamakan tingginya dengan Celine. "Aku mau dream catcher-nya, boleh ya?" mohonnya. Dia sungguh tertarik dan suka dengan benda itu. Karena warna dan ukurannya mirip dengan pemberian ayahnya dulu.


"Ih! Ini punya aku! Kakak ga boleh ambil!" Celine merengek sambil menendang kakinya. Terciptalah suara benturan antara sepatunya dengan lantai.


Beberapa sorot mata melihat ke arah mereka. Buru-buru Laura mengelus puncak kepala Celine. "Jangan nangis. Itu buat kamu aja. Aku beli yang lain. Berenti nangis ya," bujuk Laura karena merasa bersalah.


Bukannya berhenti, Celine malah semakin jadi. Suara benturannya semakin besar. Dibalik Celine, seorang cowo menghampirinya dan langsung menggendongnya.


"Nathan?" gumam Laura tidak percaya.


Sepertinya cowo itu tidak mendengarnya. Dia fokus mendiami Celine. "Udah, jangan nangis lagi ya. Kamu diapain?" Barulah dia menoleh ke arah Laura.


Hening. Keduanya hanya bertukar pandang. Tidak ada satu pun yang memulai bicara. 10 detik berlalu. Laura langsung membalikkan tubuhnya.


"Tanggung jawab." Nada yang cukup santai dan tenang. Dia melangkah mendekati Laura. "Lo apain dia?" Kali ini lebih dingin.


Jujur, bukan senang bertemu dengan Nathan, kini malah rasa kecewa yang muncul. Kenapa Nathan jadi dingin setelah hari itu? Semua berubah drastis.


"Gue cuma mau dream catcher yang dia pegang. Udah, itu aja. Gue gak maksa dia kok," jawab Laura dengan tenang. Dia membalikkan kembali dan berjalan meninggalkan Nathan.


"Tunggu!" teriak Nathan yang cukup keras.


Sontak Laura berhenti di tempat. Dia menoleh. Mulutnya masih dia tutup rapat. Tidak berniat untuk banyak bicara. Mendengar betapa dinginnya cowo itu kepadanya sudah cukup membuat dia bete.


Celine memeluk tubuh Nathan dengan benda yang masih didepan tubuhnya. "Itu temen kak Nathan?" tanyanya dengan lembut.


Nathan hanya mengangguk sebagai jawaban. Langkahnya kembali mendekati dirinya dengan Laura. "Lo ngapain kesini?" Masih sama. Dingin.


"Jalan aja," jawab Laura lebih cuek.


Tidak ada jawaban dari Nathan. Tiba-tiba tangan Celine terulur, memberikan dream catcher yang mereka rebutan beberapa menit lalu. "Ini buat kakak aja. Aku mau beli yang lain." Celine menggerakkan kakinya, meminta untuk turun.


"Kakak Nathan jangan marahin temen sendiri. Kasihan kakak itu," ucap Celine sambil melihat ke arah Laura. "Kita main ke timezone aja.. mau kan?" mohonnya sambil menarik-narik tangan Nathan.


"Iya, ayuk," jawab Nathan singkat yang lalu menuntun Celine menuju keluar toko.


Buru-buru Celine menarik Nathan ke arah sebaliknya. "Ih.. ajak temen kakak. Biar seru." Dia melepas genggaman tangan Nathan dan menuju ke arah Laura.


Dari tadi Laura tidak bergerak dari tempat. Dia masih bingung dengan semua ini. Tiba-tiba tangan Celine menarik jari telunjuk dan kelingkingnya.


"Mau kemana?" tanya Laura bingung. "Aku bayar ini dulu." Dia tersenyum kaku kepada Celine.


"Aku tunggu didepan ya, kak."


Benar, dia menemukan Nathan dan Celine yang menunggunya didepan toko. Langkah Laura terasa berat. Ingin sekali yang bersamanya adalah sosok Nathan yang sebelumnya. Pasti akan menjadi momen yang indah.


"Hmm," deham Laura sambil menggigit bibir bawahnya.


Nathan dan Celine menoleh bersamaan. Dengan cepat Celine menggandeng tangan keduanya. Dia berlari entah kemana.


"Timezone kesana, Lin," kata Nathan. Sesekali dia melirik ke arah Laura. Cewe itu sama sekali tidak terlihat keberatan untuk bermain dengan sepupunya.


Ditengah jalan, Laura bertemu dengan ketiga temannya. Tapi langkahnya tidak bisa berhenti karena tarikan tangan Celine yang sangat cepat. Tangan satunya meraih ponsel dari dalam tas. Dia menggerakkan ibu jarinya untuk melepon salah satu dari ketiganya.


"Halo?" Suara dari telepon.


"Nanti gue jelasin. Kalian jangan langsung balik. Nanti gue nyusul," bisik Laura yang masih terdengar oleh Nathan.


Setelah Laura memutuskan sambungan teleponnya, mereka pun tiba di timezone. Nathan mengisi saldo kartu, sedangkan Celine dan Laura sedang sibuk mencari permainan mana yang akan mereka mainkan.


Detik sebelumnya mereka merebutkan sebuah benda, dan detik selanjutnya mereka malah akrab seperti detik sebelumnya tidak pernah terjadi.


"Mau main apa?" tanya Nathan yang lebih tertuju ke arah sepupunya.


Celine menujuk sebuah permainan. Tentu saja dia tidak ingin menaikinya sendirian. Dia ingin ditemani oleh mereka berdua.


Kini Nathan dan Laura terjebak oleh jarak yang sangat dekat. Bahkan sisi tangan mereka sesekali saling bersentuhan. Jantung Laura tidak bekerja dengan baik saat ini. Begitu pun Nathan. Diam-diam cowo itu juga merasakannya.


"Gak terpaksa kan?" tanya Nathan disela-sela permainan. Tangannya fokus menyetir mobil di permainan boom-boom car.


Walaupun suara disekelilingnya sangat berisik, Laura bisa mendengar jelas pertanyaan Nathan. "Enggak," jawabnya cepat.


"Dia siapa?" tanya Laura hati-hati. Suara teriakkan Celine yang dia pangku membuat dirinya sesekali tertawa kecil.


"Sepupu gue." Nathan tersenyum samar melihat tawa Laura. Cewenya terlihat senang saat ini. "Ketawa terus, Ra. Gue seneng liatnya," gumamnya samar.


Tentu saja Laura bisa mendengarnya. Memang sangat kecil, tapi masih mampu terdengar. Dia menoleh ke arah Nathan dan tersenyum. Dibalas oleh cowo itu.


Setelah menghabiskan waktu disana sekitar 1 jam lebih, kini mereka sudah di tempat akhir. Photobox menjadi tempat terakhir mereka ber3. Nathan yang memintanya.


"Makasih buat hari ini," lirih Nathan samar disamping telinga Laura. Jantung Laura terus berdetak cepat dari tadi. Abis ini dia harus cek ke dokter.


Mereka keluar dari photobox dengan dua lembar cetakan foto. Yang 1 dibawa Nathan, 1 lagi diberikan ke Laura. Senyum Laura pun terlihat.


"Makasih."


Gimana gue mau move on kalo lo kasih harapan terus..


Semoga suka🧔


Tunggu part selanjutnya.