I'M Stuck In You

I'M Stuck In You
Coklat


Sampai di pintu gerbang rumah Laura, cewe itu langsung saja menyuruh Nathan agar menghentikan mobilnya disana.


"Disini aja, gapapa," ucap Laura sambil bersiap-siap untuk turun. Dia memiringkan sedikit posisi duduknya mengarah ke Nathan. "Makasih ya," lirihnya.


Nathan memperlihatkan senyum hangatnya. Dia mengarahkan tangannya ke puncak kepala Laura dan mengelusnya pelan. "Udah jadi kewajiban gue sebagai pacar. Jadi, lo gak perlu bilang 'makasih'."


Deg.


Lagi-lagi detak jantung Laura melebihi kecepatan biasanya. Dia tersenyum tipis, lalu segera turun dari mobil.


Sebelum meninggalkan perkarangan rumah Laura, Nathan membuka kaca jendela mobilnya terlebih dahulu. Dia melambaikan tangannya dengan senyum yang belum pudar. "See you tomorrow, Ra. Jangan kesiangan."


Arah mata Laura mengikuti kepergian mobil Nathan sampai tidak terlihat lagi. Detik berikutnya, ada senyum yang terlihat di wajahnya.


"Kemana lo tadi?"


Suara berat itu membuat Laura tersentak. Senyumnya langsung hilang dalam itungan 1 detik. Dia menoleh ke asal suara.


"Gue.."


"Minta jemput pacar? Iya? Lo bikin orang panik tau gak?! Untung aja gue belom sempet masuk ke rumah lo. Kalo udah, mungkin ortu lo bakal marah sama gue," oceh Martin dengan penuh emosi. Cewe itu tidak tau seberapa paniknya dia. Kalau sampai dia ngilangin anak orang gimana? Malah posisi terakhir mereka di Club. Itu lah isi pikiran Martin tadi.


Laura menggigit bibir bawahnya. Bingung gimana menjelaskannya. "Tadi gue-"


"Oh ya. Lo bilang kan hp lo mati, terus kenapa pacar lo bisa jemput?" tanya Martin yang masih menemukan kejanggalan.


"Tadi gue gak sengaja ketemu dia di jalan," jujur Laura. Dia bepikir keras bagaimana caranya cepat masuk ke rumah, tanpa harus di tanya-tanya oleh cowo ini.


Martin mengangguk paham. "Ngapain lo kabur tadi?" tanya Martin lebih tenang. Tidak ada emosi lagi di nada biacaranya.


"Siapa suruh lo ngaku-ngaku pacar gue!" Kini Laura yang terdengar marah. Suaranya meninggi dari sebelumnya. Wajahnya terlihat sedang kesal.


"Gak boleh emang?" tanya Martin dengan santai. Sepertinya dia lupa kalau Laura sudah memiliki pacar.


Laura menggelengkan kepalanya samar. Heran dengan cowo ini. "Gue udah punya pacar ya tolong. Gak usah ngaku-ngaku."


"Yauda. Jangan nyesel nolak gue," ucap Martin penuh percaya diri. Dia berjalan meninggalkan Laura tanpa pamit atau apa pun.


Laura semakin heran dengan cowo itu. Tapi bagus deh, akhirnya dia bisa masuk ke dalam rumahnya.


Langkahnya terhenti ketika melihat Olin berdiri sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Sorot matanya tajam.


"Kenapa?" tanya Laura. Dia tau, Olin seperti ini pasti karena ingin membuat ulah dengannya. Dia sudah hafal.


Olin tertawa pelan, diakhiri dengan senyum miring. "Abis dari mana lo sama Nathan?"


"Ta-"


"Pulang sekolah di jemput Martin, pas sampe rumah sama Nathan. Lo apain mereka sih sampe mau deket sama lo?"


Laura menghela nafasnya. Rahangnya mengeras gitu saja. "Jaga omongan lo." Suara Laura sangat terdengar santai. Tapi Olin tau, kalau cewe itu sedang menahan amarahnya.


"Ups. Berlebihan ya?" Olin menutup mulutnya dengan tangan kanannya. "Sorry deh kalo gitu."


Sungguh lelah kalau meladeni kakak tirinya itu. Laura langsung saja berjalan menuju kamarnya tanpa membalas perkataan Olin.


Pandangannya tertuju pada foto yang selalu mengkuatkannya. Seorang ayah yang selalu mendukungnya walaupun sudah berbeda dunia. Kalau bukan karena ayahnya, Laura sudah pastiin dia sudah menghilang dari bumi ini.


"Laura kangen, pa," lirih Laura sambil fokus menatap foto itu. Matanya mulai memanas. "Laura pengen ikut papa."


*


Cermin itu memperlihatkan sosok Laura yang sudah memakai seragam sekolahnya. Padahal ini masih terlalu pagi untuk menuju sekolah. Dia sengaja bilang ke Nathan agar menjemputnya lebih awal, supaya Olin tidak mengacaukannya lagi.


"Pagi, ma," sapa Laura yang sudah rapih dengan seragamnya.


Alma menoleh lalu mengerutkan alisnya bingung. "Kok kamu udah siap? Masih pagi loh ini."


"Laura di jemput sama Nathan," jawab Laura dengan senyum tipisnya. Dia berjalan menghampiri mamanya dan menoleh ke arah masakan yang sedang dibuat oleh Alma.


"Oh, yauda. Kamu gamau sarapan dulu?"


Laura menggelengkan kepalanya. "Gak usah, ma. Aku sarapan di sekolah aja. Berangkat dulu ya, ma. Nathan udah sampe kayaknya. Titip salam buat papa. Bye, ma."


Alma tersenyum samar melihat tingkah Laura. Setelah itu dia melanjutkan kembali kegiatan memasaknya.


"Hai," sapa Nathan ketika Laura sudah duduk di mobilnya.


"Hai," balas Laura dengan senyum tipis. Dia sudah tidak perlu berpikir ingin senyum atau tidak didepan Nathan.


Kamu? Huh? Laura terdiam dengan pandangan masih melihat ke arah Nathan.


"Ambil," suruh Nathan sambil meraih tangan Laura dan meletakkan coklatnya. "Dibaca ya note-nya."


Laura mengangukkan kepalanya, lalu membuka lipatan kertas diatas coklat itu.


'Jangan cemburu lagi ya, sayang.'


Kedua sudut Laura terangkat begitu saja. Dia tidak tau alasannya jelas. Yang penting dia senang saat ini.


"Jangan cemburu ya. Gue bisa tepatin kan? Lo yang duduk di mobil gue, bukan Olin."


Laura tertawa pelan. "Iya. Makasih."


Tawa Laura sangat berarti bagi Nathan. Dia tidak pernah menyia-nyiakan setiap tawa Laura sedetik pun. Mobilnya mulai dia lajukan menuju sekolah.


Sebelum turun dari mobil, Laura memberanikan diri untuk bertanya sesuatu ke Nathan.


"Nath, gue mau nanya." Laura menggigit kukunya. Tidak biasanya dia gugup seperti ini.


Nathan diam menatap wajah Laura lekat.


"Lo gak bosen sama gue?" Pertanyaan macam apa ini? Tiba-tiba saja pertanyaan ini yang ingin Laura tanyakan.


Nathan terkekeh pelan lalu mencubit pipi Laura gemas. "Kenapa nanya gitu?"


"Gapapa. Aneh aja. Baru ini pacaran lebih dari 1 minggu," jujur Laura dengan senyum kakunya. Benar saja, biasanya hanya pacaran 3 atau 4 hari sudah putus.


"Serius lo?" Nathan tertawa tidak percaya dengan pernyataan Laura barusan. Cewe secantik dia pacarannya cuman 4 hari? Cowonya yang bosenan apa cewenya?


Laura menganggukkan kepalanya. "Iya, Serius."


"Gue spesial dong ya?" goda Nathan sambil menaik-turunkan alisnya. "Semoga kita langgeng ya."


Iya. Jawab Laura dalam hati. Dia terdiam menatap wajah Nathan. Untuk beberapa detik dia larut juga dalam pikirannya. Kenapa gue bisa nyamannya sama dia? Orang yang belum gue kenal lebih jauh, tapi bisa bikin gue nyaman dengan mudah.


"Ra?" panggil Nathan sambil melambaikan tangannya tepat didepan wajah Laura.


"Eh, iya." Laura memalingkan wajahnya ke kaca jendela samping tempat duduknya. "Mau turun?"


Nathan terkekeh melihat tingkah Laura barusan. "Lo mulai naruh hati ke gue kan?" tanya Nathan dengan senyum jahilnya.


"Eh, apaan sih. Ayuk turun," jawab Laura yang langsung saja membuka pintu mobil. Dia berjalan lebih dulu meninggalkan Nathan yang baru saja turun.


Tanpa disadari, cowo itu sudah berdiri mengikuti tiap langkahnya. Telapak tangan yang tadinya bebas terkena angin, kini terkait dengan genggaman tangan Nathan yang hangat. Laura sempat menghentikan langkahnya sejenak, tapi Nathan langsung saja menarik tangannya agar tetap melanjuti langkahnya.


"Wuih, gue liat-liat makin nempel nih," ucap Ethan sambil berkacak pinggang. Dia menggelengkan kepalanya heran. "Boleh kali gue ikut ditengah."


Tawa Claretta, Nadine, dan Kaila pecah saat itu juga. Ketiganya menatap Laura penuh arti.


"Uwuu," ledek Claretta sambil menoel dagu Laura jahil. "Pacar gue gak sekolah disini sih," dumelnya sambil memanyunkan bibir.


Kaila membuka kembali buku novelnya, dan meneruskan kalimat yang belum selesai dia baca.


"Lah gue? Satu sekolah tapi jarang ketemu," gerutu Nadine tidak mau kalah. Pacarnya jarang sekali mengunjungi kelasnya, dengan alasan malu. Begitu juga Nadine, dia gengsi untuk menghampiri pacarnya duluan.


Nathan terkekeh pelan melihat ocehan dari ketiga cewe itu. "Gak usah iri!" Tangannya semakin mempererat jemari milik Laura. Senyumnya tidak berubah dari tadi.


Jason terdiam didepan pintu memperhatikan mereka semua. Mereka terlalu asik sampai tidak menyadari keberadaannya. "Woi, lu pada kalo lagi seneng-seneng nih ya, gak inget sama gue. Pas sedih aja, nyarinya gue," dumel Jason sambil berjalan menghampiri mereka.


"Gue sih enggak. Mereka doang," sahut Ethan sambil berjalan menghampiri Jason. Tangannya siap merangkul tubuh Jason, tapi sebelum itu Jason sudah menghempasnya duluan. "Najis lo!"


"Mana yang lagi gandengan?" Jason melangkah lebih dekat ke arah mereka. Mencari keberadaan Nathan dan Laura.


Nathan sengaja mengangkat tangan mereka yang masih bergandengan. "Nih di mari."


Laura memaksa menurunkan tangannya yang masih di udara, tapi tenaga cowo itu lebih kuat. "Nath, turunin!"


Wajah Nathan perlahan mendekat ke samping telinga cewenya. "Gamau."


Nada Nathan barusan sangat menggemaskan di telinga Laura. Seperti anak kecil yang sedang menolak sesuatu. 'Gamau'. Tanpa disadari sudut bibirnya terangkat.


"Ih, lo senyum, Ra," teriak Ethan sambil menujuk ke arah Laura. "Gak boong. Lo senyum! Karena Nathan pastinya."


Jangan lupa dilike sama komen ya.


Tunggu part selanjutnya☺️