I'M Stuck In You

I'M Stuck In You
Gugup


Ponsel milik Nathan terus bergetar membuat dia harus mengangkatnya. Telepon itu dari 'mama'.


"Bentar ya, gue angkat telepon dulu." Perlahan dia melepas genggaman tangannya dengan Laura.


"Iya," balas Laura sambil tersenyum tipis. Lalu dia menaruh tasnya ke atas mejanya. "Hari ini gak ada pr kan?"


Kaila menggeleng pelan. "Senin ujian tuh," ingatnya sambil melihat ke arah mereka satu persatu. "Jangan lupa belajar besok!"


Ethan memanyunkan bibirnya. "Gak usah diingetin kek! Bikin males aja lo!" Dia kembali duduk ke tempat duduknya.


Disamping itu, Nathan menggeser tombol hijau untuk mengangkat telepon dari mamanya.


"Nathan, kamu tadi enggak sarapan ya?" tanya mamanya dari seberang sana. "Masih pagi kok udah berangkat, ada apa?"


"Nathan janji jemput pacar Nathan pagi-pagi. Nanti Nathan makan di sekolah kok." Sesekali arah mata Nathan menoleh ke arah Laura yang sedang asik berbincang dengan teman-teman yang lainnya. "Nathan gak bohong kan. Nathan udah punya pacar, ma."


"Jadi udah bisa move on dari Jessie nih," goda mamanya dengan suara meledek. "Kapan-kapan ajak pacar kamu makan bareng ya ke rumah."


Nathan terkekeh pelan, arah matanya kini terfokus pada sosok pacarnya. "Iya, ma. Aku matiin teleponnya dulu ya, bye."


"Semangat sayang belajarnya**." Dibalik telepon, mamanya tersenyum sejenak. Akhirnya ada yang bisa memberanikan Nathan untuk melawan rasa sakitnya. Sakit hati yang pernah Nathan alami, kini seakan tidak pernah ada.


Dirinya pun masih belum bisa percaya. Bagaimana bisa tertarik dengan sosok cewe jutek, hanya dengan tatapan mata yang tidak sengaja. Sebelum bertemu dengan Laura, Nathan sempat benci dengan hal yang berhubungan dengan 'perasaan'. Dia benci dengan percintaan, benci dengan perempuan yang sudah dia cap kalau semuanya sama saja. Tapi setelah dipertemukan dengan Laura, semuanya malah terlihat salah. Nathan jadi berani untuk membuka hatinya lagi. Memulai memahami ulang apa itu rasa sayang.


"Udah?" tanya Laura kepada Nathan yang dari tadi menatapnya dalam lamunan.


Nathan menganggukkan kepalanya. "Udah." Dia teringat dengan permintaan mamanya tadi. "Ra, besok makan malem sama ortu gua ya. Di rumah gua." Nada bicara Nathan seperti menyuruh, bukan bertanya. Seperti tidak menerima sebuah tolakan.


Tentu saja perkataan Nathan membuat teman-temannya heboh sendiri. Mereka bersorak tidak jelas. Padahal yang diajak hanya diam tidak berkomentar.


"Iya," jawab Laura dengan lembut. Seserius ini kah hubungannya kali ini? Sampai harus bertemu orang tua? Jujur, ini akan jadi pertama kalinya.


"Ehem.. gue gak di ajak?" tanya Jason sengaja. Dia menatap jahil ke arah keduanya. "Udah ada pacar, temennya gak pernah diajak ke rumah lagi," sindirnya.


Nathan mendorong pelan kepala temannya itu. "Bacot lo! Biasa juga dateng tanpa gue ajak."


"Tenang." Ethan merentangkan kedua tangannya diantara mereka. Wajahnya menoleh ke Jason. "Son, besok makan malam sama ortu gua ya." Ethan meniru kalimat Nathan dengan nada yang sama.


"Iya iya, mau mau," jawab Jason antusias. Dia memeluk tubuh Ethan dengan kasar. "Makan gratis woi! Kapan lageh!"


Olin melihat mereka dari depan kelas. Dia sengaja membiarkan Laura bersenang-senang sekarang. Tapi, setelah ujian tengah semester berlalu. Dia pastikan semuanya berakhir dengan cepat.


*


Laura frustasi mencari pakaian yang cocok untuk pergi makan malam. Ranjangnya sudah tercipta tumpukan baju menyerupai gunung. Berbagai dress dan setelan baju-rok sudah dia coba. Tapi masih belum menemukan yang pas.


Dert dert


Matanya menoleh ke arah ponselnya. 'Nathan gans' sedang menelponnya. Duh! Gimana dong, baju belum ketemu.


"Halo?"


"Gue udah didepan rumah lo**."


Kedua mata Laura membulat. Dia semakin frustasi dengan waktu yang mendesak saat ini. "Nath, gue.. belum nemu baju." Laura menggigit bibir bawahnya dengan pandangan ke tumpukan baju.


"Yaampun. Pake yang ada aja."


"Yauda deh. Sabar." Laura langsung mematikan teleponnya sepihak. Dia lihat dress yang masih tergantung di lemarinya. Ini salah satu dress kesukaannya dulu. Dress yang menjadi kado ulang tahun dari ayahnya.


Langsung saja dia kenakan untuk mempercepat waktu. Ternyata sudah kependekan. Tapi dia sudah tidak bisa mencari pakaian lain. Nathan sudah menunggunya. Mau tidak mau Laura langsung melapisi bibirnya dengan lip gloss yang biasa dia pakai. Dan tidak lupa menyemprotkan parfum.


"Sorry lama," ucap Laura sambil masuk ke dalam mobil Nathan.


Nathan terdiam cukup lama. Matanya merhatikan penampilan Laura malam ini. Dia akui, sangat cantik.


"Aneh?" tanya Laura sambil menunduk, melihat pakaiannya. "Make up gue ketebelan? Gue cuma pake-"


"Enggak. Cantik kok," jawab Nathan dengan senyum yang mengembang. "Cuma agak kependekan aja dress-nya."


Laura menggaruk lehernya yang tidak terasa gatal. "Cuma ini dress yang gue suka. Papa yang kasih waktu ulang tahun. Udah lama banget. Mangkanya kependekan."


"Tumben gak pelit ngomong." Nathan terkekeh pelan lalu mulai melajukan mobilnya agar orang tua di rumah tidak menunggu lama.


"Hah? Maksudnya?"


"Gajadi." Nathan memasang ekspresi datar. Gak seru banget!


"Gatau, tiba-tiba mama nyuruh," jawab Nathan dengan mata yang masih melihat ke jalanan depan.


Rasa gugup mendadak muncul begitu saja. Mobil Nathan sudah masuk ke pekarangan rumahnya. Laura meremas bagian ujung dress-nya. Dan itu dilihat oleh Nathan.


"Santai aja," kata Nathan seolah-olah dia tau yang sedang dipikiri cewenya. "Ortu gua gak gigit."


"Bukan gitu. Tapi.. ini gue pertama kali dateng ke rumah cowo. Pertama kali juga makan malem sama ortu.." Laura memberi jeda diakhir kalimat. Dia menatap Nathan yang terlihat santai sekarang. ".. pacar."


Nathan tertawa kecil setelah itu keluar dari mobilnya. Tingkah gugup Laura selalu berhasil menyita perhatiannya. Buru-buru Nathan berlari kecil, meraih gagang pintu mobilnya untuk membukakan pintu Laura.


"Udah siap?" tanya Nathan sengaja. Dia berniat menambahkan rasa gugup pacarnya.


Laura berdiri dan kembali meremas sisi kiri dan sisi kanan dress-nya. "Gue takut."


"Kenapa takut? Apa yang harus lo takutin? Coba bilang." Nathan penasaran apa yang membuat cewe itu gugup untuk makan malam di rumahnya. Apa rumahnya yang terlalu besar membuat Laura gugup? Ah, enggak kok. Rumah Laura tak kalah jauh besar dari rumahnya. Lantas kenapa?


Entah kenapa, hati Laura seperti ingin copot. Dia takut orang tua Nathan tidak suka dengannya. Terlebih lagi ini pertama kali dia bertemu dengan orang tua pacarnya sendiri. Dia tidak mengerti gimana caranya menjadikan malam ini adalah kesan yang baik.


"Ayuk," ajak Nathan. Perlahan cowo itu meraih tangan Laura dan menggandengnya. "Gak usah takut. Ada gue."


Laura terpaku dengan megahnya rumah Nathan. Rumah yang lebih luas dibandingkan dengan rumahnya. Dia melihat ke sekeliling. Banyak sekali pembantu rumah yang menyapanya dengan ramah.


Langkahnya semakin pelan ketika melihat ruangan yang berisi meja makan, dan disana ada 2 orang yang sedang duduk. Dan orang itu pasti mama dan papanya Nathan.


"Ma, pa," panggil Nathan dengan senyum yang lebar. "Ini pacar aku, Laura."


Sorot mata mereka sangat ramah bagi Laura. Dia rasa orang tua Nathan tidak seseram yang dia bayangkan beberapa menit lalu.


"Malam om, tante." Laura sedikit menundukkan kepalanya agar terlihat lebih sopan. "Aku Laura."


"Silahkan duduk," suruh Arvin, ayah Nathan.


Laura merasa sangat canggung saat ini. Dia belum terbiasa dengan suasana yang dihadapannya.


"Cantik kok," gumam Lina, ibu Nathan. Dia dari tadi perhatikan Laura dari ujung rambut hingga kaki. "Laura pacarnya Nathan ya?"


"Iya, tante," jawab Laura dengan senyumnya. Perlahan rasa takutnya berubah menjadi hangat. Dia nyaman dengan suasana ini.


"Kalo Nathan nakal omelin aja, jangan takut-takut," ucap Lina dengan tawa diakhir kalimatnya.


Nathan melipat kedua tangannya didepan dada. "Mama.."


"Emang, omelin aja," sahut Arvin yang terlihat serius. Tapi Laura yakin itu hanya candaan.


Terlihat dari sini, kalau keluarga mereka sangat hangat. Berbanding balik dengan keluarga Laura. Tanpa dia sadari, dia sedang tersenyum miris.


"Ayuk, di makan Laura," suruh Lina sambil memberi beberapa lauk ke piring Laura. "Jangan malu-malu, makan yang banyak."


"Nathan tuh yang malu, ma. Pasti dia makannya dikit. Biasanya ampe sepiring mentung," ujar Arvin dengan tawanya. Dia tau betul bagaimana anaknya. Selalu ingin terlihat cool didepan pacarnya. Seperti didepan Jessie waktu itu.


"Papa.." rengek Nathan seperti anak kecil.


Justru melihat ini membuat Laura terasa iri. Suasana hangat keluarganya yang dulu sudah tiada. Semua sudah terganti begitu saja. Dia ingin semuanya kembali seperti dulu.


*


"Nathan dulu punya mantan, namanya Jessie. Dia pernah cerita sama kamu?" tanya Lina sambil berjalan dihalaman belakang rumahnya.


Laura mengikuti langkah Lina. Pandangannya terus melihat ke arah sekeliling halaman rumah ini. "Pernah, tan. Tapi belum detail banget."


"Nanti deh, kapan-kapan suruh dia cerita." Lina tidak ingin mendahului Nathan. Biarlah anaknya yang cerita sendiri. Karena dia tidak ingin mencampuri urusan mereka. "Tante mau ucapin terima kasih sama kamu."


Langkah Laura berhenti ketika Lina duduk disalah satu kursi. "Kenapa terima kasih, tante?" Dia belum paham.


Tangan Lina menepuk dua kali kursi disebelahnya, menyuruh Laura agar duduk disampingnya. "Duduk sebelah tante."


Laura menurut. Perlahan dia duduk disebelah Lina. "Kenapa, tante?"


"Karena kamu, Nathan jadi berani buka hatinya lagi," ucap Lina sambil mengelus puncak kepala Laura pelan. "Tante gak perlu khawatir lagi."


Udah langsung makan malem nih..


Jangan lupa like sama komen ya💙


Tunggu episode berikutnya.