
"Kenapa sih?" heran Martin yang masih terburu-buru mengikuti jalan cepat Laura. Dia sama sekali tidak mengerti.
Laura tidak menjawab. Cairan hangat sudah lolos dari matanya. Dia tidak berani menatap wajah Martin.
Kenapa dia datang lagi? Kalo begini gimana move on?!
Ponsel Laura bergetar, dia mengambil benda tersebut dari tasnya. Disana menampakkan sebuah nama 'Nathan gans'. Bahkan Laura tidak berniat untuk mengganti nama cowo itu. Dia masih ingat, Nathan yang ngetik sendiri.
"Gak diangkat?" tanya Martin. Matanya berusaha menangkap nama dari penelpon, tapi tidak berhasil.
Laura berdeham sekali, lalu menaruh kembali ponselnya ke dalam tas. "Enggak."
Sampai di apartemen, Laura langsung saja menceritakan kejadian tadi kepada ketiga temannya. Mulai dari Dinda yang akan mengenalkan dengan sepupunya, sampai kejadian di dekat gerbang kampus.
Mygirls🤙🏻
Nadine : jodoh mah ga kemana, Ra.
Claretta : klo lu gmw skt hati lg, ya gk ush respon.
Kaila : klo menurut gw, mending kalian omongin baik² dlu sih. Klo sm² syng, knp ngk?
Laura membaca ulang komentar ketiga temannya. Mereka memang pasti selalu berbeda pendapat. Tapi, Laura akan mencoba memilih sesuai kata hatinya.
Sudah ada lebih dari 100 kali Nathan telepon Laura. Tidak ada satu pun yang dia angkat. Pikirannya masih kacau. Dia belum tau ingin mencoba lagi atau tidak.
Dengan ragu, Laura mengecek pesan dari 'Nathan gans', yang juga sama banyaknya seperti telepon yang tidak dia angkat.
Nathan gans.
Ra, tlg dgrin gw.
Kt hrs ngmng dlu.
Gw syng sm lo.
Please, Ra.
Wkt itu gw emosi, dan gw sengaja meluk Olin.
Bsk lo ikt gw, kt ngmng.
Apa perlu gue ngejar lo kyk dlu?
Ra?
P.
Dan masih banyak lainnya. Langsung saja Laura mematikan layar ponselnya dan membuangnya asal ke samping posisi tidurnya. Dia memejamkan matanya untuk beristirahat sebentar.
*
Mood untuk kuliah pun berubah. Yang tadinya semangat, kini sama sekali tidak ada niat. Dia sudah membayangkan Nathan yang akan menghampirinya.
"Ra, nanti gue mau ngerjain tugas sama temen di perpus kampus. Lo mau nunggu atau balik sendiri?" tanya Martin ketika mereka sedang berjalan menuju kampus.
Laura berpikir sebentar. Dia mengingat kembali, kalau Nathan mengajaknya untuk ngobrol. Entah itu serius atau tidak.
"Nanti gue balik duluan deh."
"Yauda. Kabarin aja ya."
Tidak butuh waktu lama, mereka tiba di depan gerbang kampus. Seperti kemarin, mereka harus berpisah disana.
Karena masih terlalu cepat 10 menit, Laura tidak langsung menuju kelasnya. Langkahnya menuju kantin kampus yang jaraknya lumayan jauh dari kelasnya.
Setelah membeli minuman, dan sudah sekitar 3 menit lagi kelas dimulai, akhirnya Laura memutuskan untuk bergegas dari kantin.
"Ra? Lo baca chat gue kemarin kan?" tanya Nathan berusaha mengajak Laura bicara.
Laura hanya menatap cowo itu tanpa menjawab. Rasa kecewa masih terasa sampai sekarang. Ya, walaupun dia tidak akan sakit melihat Nathan dengan Olin lagi.
"Oke, gue bakal mulai dari awal. Gue bakal luluhin lo lagi kayak dulu!" teriak Nathan.
Tidak semua orang mengerti percakapan keduanya. Bahkan mereka mengira Nathan sedang marah-marahin Laura. Sampai ada beberapa cowo yang datang untuk memisahkan.
Laura masih menutup rapat mulutnya. Dia berjalan menuju kursinya dan duduk disana.
"Ra? Lo kenapa sama Nathan?" tanya Dinda yang sampai sekarang belum mengerti apa pun. Karena kemarin pas nanya ke Nathan, cowo itu tidak cerita apa-apa.
"Sorry Ra, kalo gue ada salah," lanjut Dinda sambil menarik pelan tangan Laura.
Laura menoleh dan tersenyum. "Lo gak salah."
"Terus? Kenapa?"
"Nanti kelar kelas mau temenin gue ketemu dia?" tanya Laura.
Dinda menganggukkan kepalanya.
*
"Ra," panggil Nathan yang menghampirinya.
Laura menatap dengan tatapan tajam. "Kita ngobrol di cafe deket kampus. Sama Dinda juga!"
Sampai di cafe, Nathan menjelaskan semuanya kepada Dinda tentang hubungan keduanya. Karena merasa cerita Nathan tidak dilebih-lebihkan, Laura hanya diam menyimak.
"Terus lo mau ngomong apa kemaren?" tanya Laura dingin. Sebisa mungkin dia masih dengan pendiriannya, 'move on kalo gak mau sakit hati'.
"Jangan menghindar. Gue mau kita kayak dulu. Gue sayang sama lo, Ra," lirih Nathan penuh keseriusan.
Jantung Laura berdetak hebat. Dia masih bisa merasakan itu. Tandanya dia masih menyimpan rasa juga dengan Nathan.
"Kalo lo masih mau perbaiki hubungan kita, nanti malam jam tujuh gue tunggu di sini lagi," ucap Nathan. "Kalo emang lo mau lupain gue, jangan dateng."
Ini pilihan yang sangat berat bagi Laura. Entah apa yang harus dia pilih. Tapi dia yakin, perasaan dia kepada Nathan masih sama.
"Gue duluan," pamit Laura yang segera bergegas keluar dari cafe itu. Dia harus memikirkan keputusannya saat ini juga.
Laura mengacak-acak rambutnya frustasi. Dia ingin move on pun kalau caranya seperti ini, tidak akan bisa. Tapi kalau memilih balik seperti dulu, Laura siap tidak siap akan sakit hati lagi.
Waktu sudah menunjukkan pukul 18:39. Laura masih bulak-balik memikirkan keputusannya. Mengapa ini terasa sangat sulit?
Laura tidak bisa bohong. Dia sangat menyayangi sosok Nathan. Buru-buru dia berlari keluar apartemen menuju cafe dekat kampusnya.
Martin, Erlan, dan Rany sempat mencegahnya karena sangat berbahaya untuk Laura. Mereka belum tinggal disini lebih dari 1 bulan, Laura pun pasti belum afal jalan. Tapi nekat seorang Laura tidak akan bisa diganggu.
Tepat pukul 19:00, Laura membuka pintu cafe. Dia melihat Nathan sedang duduk dengan rangkaian bunga di mejanya.
"Gue dateng," ucap Laura sambil menyesuaikan pernapasannya.
Nathan tersenyum senang. Dia menghampiri cewe itu, dan memeluknya. "Gue yakin lo dateng, Ra."
Tidak bisa ditahan, Laura membalas pelukan Nathan dengan erat. Dia tidak ingin Nathan pergi lagi darinya. "Jangan pergi lagi, Nath."
"Aku janji," lirih Nathan.
Udah mau selesai nih ceritanya..
Like dan komen
Tunggu part selanjutnya😊