I'M Stuck In You

I'M Stuck In You
Formulir


Olin tersenyum-senyum setelah berbincang dengan Nathan tadi. Walaupun hanya kenalan sebentar, Olin sudah memiliki rasa tertarik dengan cowo itu.


"Ma, pa, aku mau ngomong dong," ucap Olin kepada kedua orang tuanya sebelum berangkat ke sekolahnya.


Supaya Alma dan Arief percaya, Olin memasang raut wajah memelas. "Aku mau pindah sekolah ke tempat Laura, boleh?"


Pertanyaan itu membuat tanda tanya besar di kepala keduanya. Kenapa tiba-tiba anaknya mau pindah sekolah? Bukannya baik-baik saja di sekolahnya yang sekarang?


"Loh, kenapa, nak?" tanya Alma dengan wajah kebingungan. Setau dia, Olin memiliki banyak teman di sekolahnya. Tidak ada masalah atau apa pun.


"Kamu kan udah kelas dua belas, nak. Kenapa harus pindah lagi?" Arief ikut membuka suaranya. Heran dengan permintaan anaknya.


Olin berpikir sebentar, mencari alasan yang tepat. Tidak butuh waktu lama, dia menemukan alasan yang menurutnya cukup untuk membuat kedua orang tuanya setuju.


"Aku pengen kayak kakak-adik yang lain, pulang-pergi sekolah bareng, terus pergi jalan-jalan pas pulang sekolah," asal Olin dengan senyum penuh harapan.


"Tapi, nak.. bentar lagi juga lulus kok," kata Arief sambil memberikan senyum hangat kepada anaknya. Bukannya tidak setuju, tapi kan Olin sudah mau lulus. Untuk apa pindah lagi? Bukannya lebih ribet ya? Harus beradaptasi lagi.


Olin berjalan menghampiri Alma, lalu memeluk lengan tangan Alma dengan manja. "Mama, boleh yaa.. yaaa? Aku mau sering-sering sama Laura, ma. Nanti kan dia kuliah di Jerman."


Alma menghela nafasnya pelan. Lalu mengelus bahu Olin. "Iya, nak."


"Serius, ma? Yeyy!!!"


*


Kebetulan hari ini kelas XII-Ips 2 mendapatkan free class selama 3 jam pelajaran. Laura memanfaatkan waktu itu bersama dengan teman-temannya di roof top sekolah. Nathan sempat ijin ingin ikut dengannya, tapi Laura melarang dan menyuruh cowo itu agar tetap diam di kelas. Alhasil, Nathan mengalah dan tetap di kelas.


"Serius? Dia bilang kalo dia sayang sama lo?" kaget Claretta setelah mendengar cerita dari Laura barusan.


Laura mengangguk sebagai jawabannya. "Tapi, Olin, kakak tiri gue, dia ngobrol sama Nathan tadi pagi."


Tentu saja ketiga temannya tau tentang Olin. Si cewe rese yang selalu berusaha mengambil alih segala hal yang dimiliki oleh Laura.


"Nyari ribut tuh orang! Sumpah ya, kalo gue jadi lo, bakal gue bacotin!" celetuk Nadine dengan wajah seriusnya. Walaupun belum pernah melihat sosok Olin sesungguhnya, dia sudah merasa kesal dengan cewe itu.


"Sebenernya bisa aja gue kayak gitu. Tapi, gue gamau jadi orang yang sama jahatnya kayak dia." Banyak orang yang tidak tau sifat aslinya Laura. Walaupun jiwa bar-barnya keliatan jelas, tapi hatinya tetap memiliki perasaan yang lembut.


"Lo gak takut kalo Nathan bakal jadi target selanjutnya?" tanya Claretta membuat Laura diam. Seakan-akan Claretta tau apa yang dipikiran Laura sekarang.


Laura mengangguk pelan, dan menghela nafasnya panjang. "Jujur, gue takut. Tapi gue bisa apa? Gue bukan siapa-siapa Nathan."


Tiba-tiba ketiganya tertawa setelah mendengar perkataan Laura barusan. Entah apa yang lucu dari Laura.


"Tumben lo setakut itu, Ra? Jadi, Nathan cocok nih sama lo?" ledek Kaila dengan tawanya. Dia yakin, pasti Laura juga sayang dengan Nathan.


Laura tersenyum samar, lalu memasang wajah bete. "Apaan sih!"


"Ululu, my girl udah nemu yang pas," sambung Nadine sambil menunjuk ke arah Laura menggunakan jari telunjuknya.


Claretta tertawa lepas. "Adriel udah gak ada nanyain lo lagi?"


Bahkan Laura sampai lupa dengan cowo itu. Setelah pergi makan hari sabtu waktu itu, susah tidak ada kabar darinya. Berarti sudah jelas, Adriel tidak serius dengannya.


"Gak ada."


"Udah deh, Nathan aja," ucap Kaila sedikit teriak, membuat Laura tersenyum malu.


*


Seperti biasa, Laura tidak pernah tidak berurusan dengan guru. Pasti dalam satu hari minimal ada masalah dengan satu guru.


"LAURA!!" teriak bu Mevi membuat seisi kelas menutup telinga mereka masing-masing.


Dengan santai Laura hanya memberi senyum kaku. "Saya lupa bu, suer." Laura mengangkat tangannya membentuk peace.


"Gimana bisa pake kaos kaki pramuka?! Hari ini bukan seragam pramuka, Laura!"


Seisi kelas menahan tawanya. Lagian ada-ada saja si Laura. Ngapain pake kaos kaki pramuka? Adeh.


"Tadi saya buru-buru, tanya aja Nathan eh-" Laura menutup mulutnya dengan tangannya rapat-rapat. Bodoh sekali. Kenapa keceplosan.


Nathan terkekeh. "Iya, bu. Tadi dia buru-buru. Dia gugup gara-gara saya jemput. Mangkanya salah pake kaos kaki."


Laura melotot ke arah Nathan. Bukan itu yang dia inginkan. Kalau kayak gini kan semakin banyak gosip yang tidak-tidak mengenai mereka.


"Jadi kalian beneran pacaran? Kemarin bu Ani bilang kalian pacaran di UKS." Bu Mevi menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Iya, bu," sahut Ethan dengan pede. Membuat seisi kelas menoleh ke arahnya.


Laura menggelengkan kepalanya cepat. "Apaan sih lo sethan! Gak usah ikut campur!"


Tidak abis pikir, Laura dengan Nathan sangat cepat untuk menjalin hubungan. Bu Mevi menyuruh Laura untuk menghampirinya.


"Sini kamu, Laura!" teriak bu Mevi yang sudah emosi dengannya.


Dengan malas, Laura berjalan kedepan kelas. Tanpa merasa bersalah.


"Lepas sepatu kamu!" suruh bu Mevi sambil menunjuk ke arah sepatunya menggunakan penggaris di tangannya.


"Ih! Gamau! Yang lain aja, bu," tawar Laura dengan wajah memelas.


"Laura!" Bu Mevi meninggikan suaranya, dengan mata yang sudah membulat besar.


Seusai menyelesaikan pelajaran bu Mevi, Laura mengira sepatunya akan dikembalikan. Nyatanya tidak, sepatunya dibawa ke kantor guru dan bisa diambil setelah proses pembelajaran selesai. Alhasil, Laura harus menyeker sampai pulang sekolah.


"Lagian lo ngapain pake kaos kaki pramuka dah?" heran Kaila dengan tawanya. Anehnya dia baru menyadari hal itu. Claretta dan Nadine ikut tertawa.


"Ya namanya juga lupa, mana inget," jawab Laura dengan malas.


"Skuy, kantin," ajak Claretta kepada ketiga temannya itu.


Nadine berdiri duluan, lalu mengembangkan senyumnya. "Gue mau ketemu bebeb dulu. Muahh."


Untung saja cowonya Claretta diluar sekolah ini. Kalau saja satu sekolah, mungkin Claretta akan ngebucin setiap hari.


"Bodo amat!" kesal Claretta yang iri dengan itu.


"Ayuk," ajak Kaila yang sudah berdiri, siap untuk ke kantin. Diikuti oleh kedua temannya.


Langkah Laura terhenti ketika seorang cowo berdiri didepan pintu, menghalang langkahnya.


"Mau pake sepatu gue ga?" tanya Nathan membuat ketiganya menatap ke arahnya.


Laura menggeleng cepat. "Gak!"


"Yakin? Nanti kaki lo kotor loh.." Nathan tersenyum meledek.


"Yakin! Awas, minggir!" Laura mendorong tubuh tinggi Nathan yang menghalang langkah ketiganya.


Ethan terkekeh dari balik tubuh Nathan. "Woi, mba! Galak amat sih jadi cewe. Bagus Nathan tawarin. Nanti nyesel lagi loh! Terus minta maaf lagi ntar. Di mana Nath? Rumah kayu ya?" ledek Ethan dengan tawa lepasnya.


Laura bingung. Tau dari mana cowo itu? Apa Nathan cerita? Nyebelin banget! Bikin malu aja.


Tanpa merespon ucapan dari Ethan, Laura langsung saja berjalan menuju kantin. Dan diikuti oleh kedua temannya dibelakang.


Dert dert


Ponsel milik Laura bergetar dua kali berturut. Siapakah yang mengirimnya pesan jam segini?


Mama.


Syng, nnti km ke kntr ambil formulir ya.


Td mama ud tlpn guru km, tinggal ambil aja.


Laura mengerutkan alisnya. Untuk apa formulir itu? Siapa yang mau daftar ke sekolahnya?


"Kenapa?" tanya Kaila yang melihat perubahan raut wajah Laura.


"Nyokap nyuruh ambil formulir. Gatau buat siapa." Laura kembali melahap makanan di mejanya.


Kebetulan, setelah pulang sekolah Laura ingin ambil sepatunya, sekalian mengambil formulir yang disuruh oleh Alma tadi.


"Misi," ucap Laura setelah mengetuk pintu kantor guru. Dia berjalan masuk dan mencari keberadaan bu Mevi.


"Ini sepatu kamu! Lain kali jangan diulangi!"


"Iya, bu."


Untung saja Laura tidak lupa. Dia berjalan menghampiri bu Ani untuk mengambil formulir.


"Bu, tadi mama saya nyuruh ambil formulir."


Tangan kanan Laura meraih formulir yang diberikan oleh bu Ani.


"Emang kakak kamu dari sekolah mana, Ra?" tanya bu Ani membuat Laura berdiam di tempat. Kakaknya? Maksudnya?


"G-gimana, bu? Maksudnya?"


"Kakak kamu yang mau pindah kan? Seharusnya udah gak boleh tau. Tapi, karena mama mu maksa, mau tidak mau saya ijin kan."


"Saya kurang tau, bu. Permisi, saya pulang dulu. Makasih, bu."


Pikiran Laura kembali campur aduk. Apa dia salah dengar? Tidak mungkin Olin pindah ke sekolahnya. Untuk apa juga hal seperti itu terjadi.


"Ayuk, balik." Nathan merangkul tubuh Laura yang kini sedang berjalan sendiri menuju depan sekolah.


Laura tersentak kaget. Dia memutar bola matanya malas. "Gak usah ngagetin bisa gak sih?!"


"Yaudah, maap."


Kedua mata Nathan teralih kepada map hijau di tangan Laura. "Formulir? Buat siapa?"


"Hmm? Ga-gatau gue. Nyokap cuman nyuruh ambil," jawab Laura terbata-bata. Bingung ingin bilang apa kepada cowo itu.


"Yauda, ayuk." Nathan melanjutkan langkahnya sambil merangkul Laura.


Gatau kenapa, gue gak siap kalo nanti liat lo bakal lebih milih Olin, Nath. Gue yakin, Olin sengaja pindah karena mau rebut lo.


Olin pindah ke sekolah mereka? Gimana ya kira-kira?


Komen dan like ya!


Tungguin part selanjutnya🤗