I'M Stuck In You

I'M Stuck In You
Rapot


Hari-hari berlalu, hubungan keduanya terlihat semakin renggang. Laura yang mulai kesal dengan dirinya sendiri, karena kebodohannya. Nathan juga mulai menjaga jarak dulu karena permintaan Laura.


Alma hari ini akan datang untuk mengambil rapot kedua anaknya. Dan Laura yakin Alma akan kecewa dengan nilainya. Karena memang tiap sambil rapot, selalu seperti itu.


"Ra," panggil Nadine sambil memasukkan beberapa buku ke dalam tasnya.


Laura sudah siap dengan tas di punggungnya. "Hmm?"


"Hari ini lo bisa gak jalan sama kita?" ajak Nadine. Niat dia dan kedua teman lainnya adalah untuk membuat Laura kembali seperti biasa.


Kaila dan Claretta hanya diam menunggu jawaban dari Laura. Mereka harap jawabannya tidak mengecewakan.


"Boleh, tapi gue bisanya sore. Kalian mau nunggu?" Setidaknya Laura sekarang butuh hiburan. Dia bosan terus-terusan di rumah.


"Gue bisa," jawab Claretta antusias. Diikuti juga oleh Nadine dan Kaila.


Dert dert


Laura mengambil ponsel dari saku rok sekolahnya, lalu menggeser tombol hijau.


"Halo, ma?"


"Mama udah sampe nih. Kamu dimana, nak?" tanya Alma di seberang sana.


"Aku masih di kelas. Mama mau kesini?"


"Kamu tunggu didepan kelas aja ya."


"Iya, ma."


Laura menutup sambungan teleponnya. Dia menghela nafasnya. Sebenarnya baginya sudah cukup biasa dengan ocehan mamanya setelah pengambilan rapot. Tapi, tiba-tiba dia merasa kalau dirinya terlalu jahat. Laura merasa dia tidak pernah belajar dengan sungguh-sungguh. Pikirannya perlahan larut dalam penyesalan.


"Ra?" panggil Kaila membuyarkan lamunan temannya. "Masih mikirin Nathan sama Olin ya? Setelah hari itu, lo jadi diem gini."


Claretta menggelengkan kepalanya heran. "Cowo itu banyak. Lo cantik, Ra. Gak usah takut gak ada cowo. Yang mau sama lo bukan cuma Nathan!"


Perkataan itu mampu membuat Laura tersadar. Mungkin iya. Seharusnya dari awal dia jangan terlalu percaya sama Nathan. Dia tarik kata-katanya kalau Nathan itu beda. Baginya semua cowo itu sama. Rasa nyaman itu tidak cukup baginya.


"Move on?" lirih Laura pelan-pelan. Entah ini pilihan yang tepat atau bukan.


Ketiga temannya mengangkat jempol sebagai respon. Ini memang yang terbaik agar Laura tidak terluka. Walaupun bukan sepenuhnya karena Nathan.


Segampang itu lo mau move on? Dasar cewe player! Seharusnya gue tutup rapat hati gue setelah Jessie! - batin Nathan. Dia tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka dari depan pintu kelas. Niat awalnya ingin mengambil buku yang tertinggal di laci mejanya. Semua niat awalnya terlupakan begitu saja. Buru-buru Nathan balik dan bergegas mencari ibunya.


Mereka ber4 telah keluar dari kelas dan digantikan oleh wali kelas mereka yang akan memberikan rapot kepada orang tua murid.


"Ma," panggil Laura setelah melihat mamanya berjalan menujunya. Ketiga temannya ikut menyapa dengan ramah.


Alma tersenyum sambil menoleh kesana-sini. "Olin dimana sayang?" tanyanya.


Ketiga teman Laura saling melirik satu sama lain. Kecuali Laura yang sudah biasa melewati situasi ini. "Oh, kayaknya dia masih di kelasnya deh, ma. Bentar, Laura panggil."


Laura berjalan ke kelas sebelah yang bisa terlihat dari tempat berdiri sebelumnya. Belum sempat masuk ke kelas itu, Laura sudah menemukan sosok Olin yang sedang berbincang dengan seorang cowo. Iya, dia Nathan.


Cemburu itu benar-benar ada. Laura bisa merasakannya. Bahunya melemas. Nathan dan Olin belakangan ini sering berbincang. Dan Nathan sebagai pacarnya pun tidak keberatan dengan ini.


Laura langsung saja membalik tubuhnya, dan berjalan kembali ke mamanya. "Olin lagi ngobrol, ma."


Tentu saja ketiga teman Laura bisa melihat raut sedih Laura. Pasti ada sangkut paut sama Nathan, pikir mereka kompak.


"Oh, yauda. Mama ambil rapot kamu dulu aja," ucap Alma sambil mengetuk pintu kelas Laura, dan masuk kesana.


Laura bilang ke mamanya, kalau dia akan menunggu diluar kelas bersama ketiga temannya. Dia menjelaskan kejadian yang dia lihat tadi.


Claretta kini semakin yakin kalau Laura harus move on. Sebelum sosok Laura yang dia kenal menghilang. Sekarang aja Laura mulai berubah, gimana kalau lama-lama begini? Bisa-bisa Laura kehilangan sosoknya.


"Gue gak mau tau ya, Ra! Lo harus move on!" ujar Claretta setengah berteriak.


Sontak Laura langsung menutup mulut Claretta dengan kedua tangannya. "Retta.. bisa gak sih jangan teriak?!" bisik Laura kesal.


Claretta terkekeh sambil memperlihatkan deretan giginya. "Sorry."


"Woi! Ngapain lo? Ngomong gue ya?" Ethan merapihkan tatanan rambutnya dengan jari jemarinya. Dia menaik-turunkan alisnya.


Keempat cewe itu kompak menatap tajam Ethan. Untung saja Ethan tidak datang disaat Claretta berteriak. Bisa-bisa kacau.


"Ganggu aja lo!" kesal Nadine sambil mengibas-ngibaskan tangannya, mengusir Ethan.


Kaila terkekeh. "Mending lo pergi sebelum Retta atau Nadine marah," peringat Kaila.


Laura tersenyum tipis. Dia tidak sengaja melihat seorang ibu yang dikenalnya. Lina, mamanya Nathan sedang berjalan ke arahnya.


"Tante," sapa Laura ramah. Begitu juga dengan ketiga temannya.


"Siapa, Ra?" bisik Claretta pelan-pelan.


Suara yang sudah dipelankan oleh Claretta masih terdengar jelas di telinga Lina. "Saya mamanya Nathan." Dia tersenyum ramah.


Ketiganya mengangguk paham. Lalu melirik ke arah Laura. Berarti Laura pernah di ajak ke rumah Nathan, pikir mereka.


"Nathan kemana ya? Kalian tau?" tanya Lina sambil melihat ke arah mereka satu per satu.


Laura menoleh ke arah sebelumnya, ke arah yang sebelumnya dia melihat Nathan disana. Tapi cowo itu sudah pergi. "Aku lagi gak sama Nathan, tante."


"Boleh tolong cariin gak? Hp tante ketinggalan di mobil, jadinya gak bisa hubungin dia. Atau enggak, kamu tolong teleponin aja," minta Lina dengan memohon.


Tentu saja ini membuat Laura terkejut. Hari ini keduanya sama sekali belum bertukar pesan atau pun telepon. Dan harus banget Laura yang memulainya?


"Aku coba cari dulu ya, tante," pamit Laura yang langsung meninggalkan ketiga temannya juga.


Tidak butuh waktu lama, Laura melihat sosok Nathan sedang berbincang dengan Ethan dan juga Jason di lapangan sekolah. Langkah Laura sempat terhenti. Dia ragu untuk berjalan kesana.


Setelah berdiri di tempat sekitar 5 menit, Laura pun memaksa dirinya untuk kesana. Tangannya mengepal sisi kiri-kanan roknya.


"Nath, lo di cariin mama lo," ucap Laura dengan santai. Tentu saja ini sebenarnya sulit.


Jason menyenggol tubuh Nathan untuk menyadarkan cowo itu dari lamunannya. "Sono, kasihan dia nungguin."


Deg.


Jantung Laura berdetak cepat. Apa-apaan ini? 'Kasihan dia nungguin'. Yang benar saja?! Laura memejamkan matanya sambil membalikkan tubuhnya. Sangat malu. Seharusnya setelah bicara itu, dia langsung pergi saja supaya tidak berkesan 'menunggu'.


Buru-buru Laura meninggalkan mereka. Dan ada suara Ethan yang terdengar jelas di telinganya. 'Laura gak bisa jauh-jauh dari lo tuh!'


Padahal hanya memanggil cowo itu karena di cari oleh mamanya. Tapi kenapa mereka menganggap Laura sedang mendekati Nathan?


Langkah Nathan sangat cepat, yang membuat mereka kini bersampingan. Jantung Laura terus berdetak sangat cepat. Dia mempercepat langkanya.


"Santai aja. Gak usah buru-buru." Suara berat Nathan terdengar sangat santai dan memohon.


Entah kenapa Laura jadi nurut. Dia memperlambat langkahnya menjadi sampingan dengan pacarnya.


Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi diantara mereka. Kini keduanya telah sampai ke depan kelasnya.


Laura berpisah dengan Nathan yang masuk ke kelas bersama ibunya. Dia menghampiri ketiga temannya yang setia menunggunya dari tadi.


"Orang tua kalian udah dateng?" tanya Laura.


"Udah. Gue kayaknya balik duluan deh. nyokap nunggu di mobil," jawab Claretta.


Nadine menganggukan kepalanya. "Bokap gue lagi ambil. Bentar lagi keluar paling."


"Gue udah juga," jawab Kaila paling singkat.


"Perginya besok aja ya. Besok kan sabtu. Hari ini gue mau les bahasa dulu. Gapapa?" tanya Laura hati-hati. Dia tidak ingin membuat perasaan ketiga temannya kecewa.


Ketiga temannya memahami itu, dan setuju. Laura menoleh ke kaca, dan sudah tidak ada ibunya. "Nyokap gue kemana?"


"Tadi ke kelas Olin."


Laura menganggukan kepalanya. "Gue kesana ya. See you tomorrow."


Laura berpapasan dengan ibunya dan juga kakak tirinya yang sudah mengambil rapot. Dia yakin, setelah ini Alma akan memarahinya karena nilainya jauh dari rata-rata.


"Laura, Martin udah jalan jemput kamu. Katanya kalian les ya sore ini?"


Gak salah? Alma tidak marah dengannya? Biasanya setelah mengambil rapot, kalimat pertama yang disebut oleh Alma adalah 'nilai kamu kenapa bisa jelek semua, Laura?' atau 'satu minggu kamu gak boleh keluar! Belajar di rumah'.


"Iya, ma."


Disamping itu, Olin tidak menghiraukan mereka. Dia sibuk memainkan ponselnya. Sesekali cewe itu tersenyum. Laura yakin karena pesan dari seseorang.


Gimana? Semoga suka ya💞


Like dan komen.