
Les bahasa kembali mengisi sore Laura. Dia harus bertemu dengan bahasa yang tidak dia suka, sekaligus bertemu dengan cowo yang kasar itu.
"Ambil nih," suruh Martin sambil menyodorkan sebuah buku yang entah apa isinya.
Laura mengerutkan alisnya sambil melihat ke arah buku yang di tangan Martin. "Buat apaan?"
"Ambil aja." Martin semakin mendekatkan buku itu ke Laura.
Tangan Laura meraih buku itu, lalu membukanya. Isinya adalah berbagai kalimat percakapan berbahasa Jerman dengan terjemahan Indonesia. "Kenapa kasih ke gua?"
"Buat belajar lah! Gue gak mau ya, pas di Jerman lo malah repotin gue! Belajar yang bener!" tegas Martin. Tentu saja dia tidak ingin diandalkan oleh Laura nantinya. Tidak mungkin kan kemana-mana Martin yang jadi translatornya.
Laura memutar bola matanya malas. Nih cowo ngeremehin banget! Dia membuka tiap halaman buku, hampir 1 buku itu sudah full dengan percakapan. Apa dia menulisnya secepat itu? Seniat ini? Karena takut Laura merepotkannya nanti?
"Takut banget ya gue repotin lo disana? Seniat ini buatnya?" tanya Laura yang masih sibuk melihat seisi buku di mejanya.
Martin menoleh ke arah Laura. "Itu gue nulis udah lama. Niat banget kan gue ke Jerman?" Dari kecil memang Martin sudah memiliki harapan untuk kuliah dan tinggal disana. Jerman adalah salah satu negara yang dia impikan.
"Oh." Laura mengangguk paham.
"Hmm.. hari ini saya gak bisa terlalu lama, karena ada urusan. Tapi kalian harus tetap belajar bersama sampai waktu selesai," ucap bu Yuna. Dia kembali fokus mengajarkan beberapa materi kepada keduanya.
1 jam berlalu, bu Yuna berpamitan pulang. Dan kini tinggal mereka berdua. Suasana hening yang ada diantaranya. Tidak ada yang memulai pembicaraan.
Entah ada angin apa, Laura membaca percakapan yang diberikan oleh Martin. Dia memahami setiap kalimat, dan menyicil menghafalkannya. Benar apa kata Martin, kalau dia tidak belajar, akan merepotkan cowo itu.
"Tumben mau belajar." Suara Martin terdengar menyindir. Pandangannya masih fokus ke buku yang dia pegang. "Biasanya males-malesan."
"Supaya gak ngerepotin lo!" jawab dingin Laura. Setelah kejadian waktu itu, dia jadi kesal dengan Martin. Tidak menyangka kalau Martin adalah cowo yang kasar dan galak.
Martin terkekeh pelan. "Baperan amat lo!" Dia memiringkan posisi duduknya ke arah Laura. "Sini bukunya," minta Martin sambil mengulurkan tangannya.
"Ngapain?! Gue bisa belajar sendiri!" ketus Laura yang menjauhkan buku itu dari tangan Martin.
"Kayak bisa aja bacanya." Martin berdiri sedikit sambil mengambil paksa buku yang di tangan Laura. Dia membantu Laura mengenai cara bacanya.
Laura terpaksa mendengarkan Martin. Mereka larut dalam pembelajaran.
"Laura, Martin, kalian masih belajar?" tanya Alma setengah berteriak dari ujung sana. Setaunya bu Yuna sudah pulang dari beberapa jam lalu.
Laura sontak menoleh ke arah jam di dinding. Pukul 19:24. "Eh, iya. Lupa, ma. Ini udah kok," jawab Laura sambil menutup bukunya.
"Keasikan belajar ya?" sindir Martin. Dia merapihkan beberapa buku, dan segera berpamitan ke orang tua Laura.
Baru saja Laura melangkah menaiki anak tangga, Alma sudah mencegahnya. "Makan malam dulu, nak."
"Aku kenyang, ma," jawab Laura yang sudah siap melanjutkan langkahnya.
"Laura, makan dulu ya sayang." Suara Alma terdengar memohon, yang membuat Laura tak mampu menolak.
"Iya, ma." Laura menaruh buku-bukunya kembali ke atas meja. Dia berjalan mengikuti Alma ke ruang makan. Disana sudah ada papanya dan kakak tirinya.
Arief tersenyum kepada Laura. "Gimana lesnya hari ini?" tanyanya sambil menyendok beberapa lauk ke piringnya.
Olin menoleh singkat, lalu menjauhkan kursinya dari kursi yang akan di duduki Laura. Wajahnya menjadi bete.
"Lancar, pa," jawab Laura sambil membalas senyum Arief. Dia menduduki kursi disamping Olin.
Kalau bukan karena mamanya, Laura tidak akan gabung makan malam saat ini. Sungguh suasana yang canggung. Dia tidak suka suasananya.
Setelah makanan di piringnya habis, Laura memutuskan untuk pergi menuju kamarnya. Lebih baik dia tidak ada, supaya Olin tidak diam seperti ini.
"Pa, ma, Olin, aku ke kamar duluan ya," pamit Laura sambil berdiri dari kursinya.
"Iya, sayang," jawab Alma sambil tersenyum. Begitu juga dengan Arief yang meresponnya. Kecuali Olin, yang hanya menghiraukannya.
Dihiraukan kakak tirinya, bukan hal yang sulit untuk diterima. Laura bahkan sudah terbiasa dengan itu. Dan dia tidak ingin memperbesarkannya. Arief sudah sungguh baik padanya. Tidak mungkin hanya karena dihiraukan Olin--anak kandung Arief--lalu Laura marah padanya. Laura harus membiasakan itu.
Dert dert
'Nathan gans' menelponnya. Sebelum menggeser tombol hijau, Laura berdeham sebentar, mengatur suara.
"Halo?"
Laura duduk di tepi kasurnya sambil menerawang ke balkon kamarnya. "Duduk aja."
"Gak belajar?"
"Gue mana pernah belajar." Laura terkekeh pelan. Malu pada dirinya sendiri.
Diseberang sana, Nathan sedang tidur di tengah kasurnya sambil melihat ke langit-langit kamarnya. "Gue juga gak belajar nih."
"Kenapa?" tanya Laura. Dia berdiri, melangkah menuju kaca yang membatasi kamar dengan balkon.
"Tadi udah belajar kok. Btw mama mau ketemu lo lagi tuh**." Perkataan Nathan berhasil membuat Laura sedikit terkejut.
"Mama lo? Mau ketemu gua?" tanya Laura ragu. Dia membuka bagian jendela itu, dan melangkah keluar untuk mencari udara segar. Kebetulan angin diluar sedang kencang, membuat ponsel Nathan terdengar begitu berisik.
"Lo lagi dimana? Lagi diluar ya?" tanya Nathan khawatir. "Gue samperin lo deh ya."
Laura mengembangkan senyumnya. Sepanik itu? Hanya suara angin loh. "Gue di balkon kamar. Gak usah kaget gitu kek."
"Lagian bikin khawatir aja**," ucap Nathan yang suaranya masih meninggi.
Setakut itu? Laura merasa dirinya sangat berarti buat Nathan. Belum pernah dia merasa seperti ini. "Maaf." Laura terkekeh.
"Iya. Abis ujian main ke rumah gue ya. Mama maksa ketemu lo."
"Yauda."
"Kayaknya mama suka banget sama lo." Nathan tertawa kecil di seberang sana.
Laura tersenyum malu, yang tidak bisa dilihat oleh siapa-siapa. "Hmm.."
Mereka larut dalam pembicaraan. Hampir tengah malam mereka belum mengakhiri teleponnya. Seasik itu mereka.
*
Garis terdepan-Fiersa Besari, menemani Laura dalam perjalanan menuju sekolahnya. Pagi ini dia membawa Mini Cooper kesayangannya ke sekolah. Nathan sudah berniat untuk menjemputnya, tapi dia menolak.
Hari ini terasa seperti bukan hari ujian. Orang yang biasanya akan membuka buku menjelang UTS, dia tidak. Bahkan dia tidak tau apa jadwal ujian hari ini. Sebodo amat itu.
Ketika sampai di sekolah, Laura melihat banyak sekali murid-murid sekolahnya yang memegang buku. Sesekali mereka menyapa Laura dan memberikan semangat untuk ujian.
Langkah Laura terhenti ketika jalannya dihalangi oleh seseorang. "Semangat hari keduanya. Ini buat lo."
Cowo itu memberikan sekaleng minuman yang memang kesukaan Laura. Tapi ini tidak mampu menarik perhatian Laura.
"Makasih." Laura sengaja berjalan meninggalkan cowo itu tanpa mengambil minuman dari tangannya. Karena kalau dia terima, sama saja dia memberi harapan kepada cowo itu.
Lagi-lagi langkah Laura dihalang oleh Kevin. Dia masih bersemangat berusaha memberikan minumannya. "Ambil, Ra. Gue beliin buat lo."
"Eits, apa nih," ujar Claretta setengah berteriak. Dia menepuk pundak Kevin sambil menoleh ke arah Laura. "Sini minumannya," minta Claretta sambil mengambil alih minuman itu.
"Itu buat Laura, bukan buat lo!" Kevin mengambil kembali kaleng tersebut dengan paksa. Dia memberikannya lagi ke Laura.
Laura menoleh ke arah Claretta dengan maksud agar temannya membantunya. Dia tidak ingin menerima minuman itu. Pertama, dia tidak mau Nathan cemburu dan marah. Kedua, kalau dia terima, dia berpikir kalau Kevin akan semakin berusaha nantinya.
"Biar gue yang kasih," bisik Claretta ke telinga Kevin. Dia mengambil kaleng itu dan menepuk sekali pundak Kevin sebelum membawa Laura pergi.
Setelah menjauh dari Kevin, Claretta tersenyum jahil ke arah Laura. "Ra, bener kan yang gue bilang. Dia suka sama lo!"
Laura mengibaskan tangannya ke arah temannya. "Udah. Jangan ngomong itu mulu."
"Kasihan Nathan." Claretta sengaja memelaskan mukanya dan melemahkan cara ngomongnya, supaya bisa meledek temannya.
"Gue tetep maunya sama Nathan! Bukan sama Kevin!" ketus Laura. Setelahnya dia terdiam. Menutup mulutnya rapat-rapat.
"Ululu." Claretta tersenyum jahil. Detik berikutnya dia tertawa lepas karena Laura.
Semoga suka ya💞, masih belajar hehe.
Ditunggu episode selanjutnya.
Like dan komen.