
Nathan sama sekali tidak menoleh ke arah Laura. Kejadian beberapa hari lalu masih membuat dirinya kecewa. Tanpa menyapa atau apa pun, Nathan langsung keluar kelas membawa topinya, bersiap untuk kegiatan upacara.
"Nath, tumben lo langsung keluar?" tanya Ethan yang berpapasan dengan Nathan. Tumben banget Nathan langsung keluar kelas. Malah biasanya cowo itu paling betah di kelas.
Nathan tersenyum singkat, lalu menepuk bahu Ethan pelan. "Nyari hiburan." Dia langsung saja berlalu, meninggalkan Ethan yang mungkin masih bertanya-tanya.
"Bukannya ada Laura?" gumam Ethan sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal. Dia memutuskan untuk masuk ke kelas, menaruh tasnya.
Ethan melihat raut wajah Laura seperti tidak baik-baik saja. Apa mereka bertengkar? Mungkin ini masalah besar. Kalau kecil, tidak mungkin Nathan sampai kayak gini.
"Ra, Nathan kenapa?" tanya Ethan kepada Laura.
Laura menggelengkan kepalanya sebagai respon. Dia tidak bisa jelaskan ini sekarang. Mungkin dia harus pura-pura tidak tau saja.
Merasa risih dilihatin oleh ketiga temannya, ditambah Ethan, Laura memutuskan untuk cabut keluar. Kebetulan upacara pun akan dimulai.
Tangan kanan Laura meraba-raba isi tas, mencari keberadaan topi berwarna abu-abunya. Segala isi di tas itu sudah dia keluarkan, demi menemukan topinya. Tapi semua itu tidak membuahkan hasil. Topi Laura tidak ada.
"Kenapa, Ra?" tanya Kaila yang menyadari bahwa Laura sedang mencari sesuatu.
Laura masih berusaha membongkar isi tasnya. "Topi gue gak ada."
"Bolos aja ke roof top, biar gak ketauan," saran Claretta dengan santai. Memang ini bagian dari makanan tiap seninnya.
Laura menganggukkan kepalanya, menyetujui saran dari temannya. Buru-buru dia lari ke roof top, sebelum ada guru piket yang akan mengecek tiap kelas, memastikan murid-muridnya turun.
Murid di sekolah ini tidak lah sedikit. Jadi, walaupun berkurang beberapa murid, tidak akan ketauan.
Tubuh Laura terbaring di kursi panjang yang terletak di sudut bagian roof top sekolah, dengan tangan kanan sebagai tumpuannya. Dia memejamkan matanya, dan tangan kirinya menutupi bagian atas kedua matanya.
Beberapa menit berlalu begitu cepat. Terik panas matahari semakin terasa dikulitnya. Laura menoleh ke arah arloji di pergelangan tangannya. Pukul 07:54. Sebentar lagi upacara akan selesai. Dia meraba-raba saku roknya, mencari benda tipis yang selalu dia bawa.
Laura langsung saja merubah posisinya menjadi duduk, dia menepuk dahinya kasar. "*****, gue lupaa...!!" Dia mengacak-acak rambutnya frustasi. "Hp gue masih dicas di kamar. Duh!"
Moodnya semakin tidak jelas. Suara bel sudah dia dengar samar. Tapi, niat dia sama sekali tidak terarah untuk balik ke kelas. Dia ingin bolos saja saat ini.
*
Pak Budi sudah berada di kelas XII-Ips 2. Seluruh murid berdiri untuk memberikan salam seperti yang biasa mereka lakukan setiap ada guru masuk kelas.
"Laura belom balik?" bisik Kaila kepada kedua temannya.
Nadine menggelengkan kepalanya. "Tuh anak kemana coba," jawabnya dengan suara berbisik.
Claretta membuka ponselnya diam-diam dibawah laci. Dia mencari kontak bernama 'Laura' untuk menanyakan keberadaan cewe itu.
Mendengar bisikan itu membuat Nathan sedikit cemas. Dia belum melihat wajah pacarnya sama sekali. Akhirnya Nathan mengikuti yang Claretta lakukan, mengambil ponsel untuk menanyakan keberadaan cewe itu.
5 menit.. 7 menit.. 10 menit.. keduanya sama-sama tidak mendapat balasan dari Laura.
"Ta, terakhir Laura bilang dia mau kemana?" tanya Nathan pelan-pelan sambil fokus melihat pak Budi.
Claretta memudurkan sedikit tubuhnya ke belakang. "Katanya ..."
"Baik, anak-anak. Saya ingin memberikan informasi sebentar." Suara pak Budi menutupi suara kecil Claretta. Alhasil Nathan tidak dapat mengetahuinya.
Pak Budi memberikan lembaran surat kepada setiap muridnya. "Jadi ini ada beberapa perubahan mengenai jadwal tahunan kita. Pengambilan rapot akan dipercepat menjadi jumat ini. UAS pun juga dipercepat. Silahkan kalian baca."
Beberapa murid mengeluh karena waktu ujian semuanya dipercepat. Baru saja kelar UTS, mereka harus melaksanakan UAS dalam waktu 1 bulan 2 minggu kedepan.
Kini pak Budi melangkah ke arah meja Laura. "Ini teman sebangku kamu kemana?" tanya pak Budi kepada Claretta.
"Hmm.. itu pak.. dia lagi.. boker. Iya, Laura lagi boker," jawab Claretta mengimbangi gugupnya. "Bentar lagi juga balik pak."
2 jam pelajaran berlalu begitu saja. Kini waktunya mereka istirahat. Ketiga cewe itu, termasuk satu cowo, menunggu Laura di kelas. Tapi Laura tak kunjung balik.
Karena merasa geregetan, Nathan pun berdiri dari tempat duduknya. "Tadi gue gak denger lo ngomong apa. Laura terakhir bilang mau kemana?" Dia mengulangi pertanyaan tadi.
"Roof top," jawab Claretta datar.
"Balik ke kelas," suruh Nathan dingin. Wajahnya sama sekali tidak ramah.
Laura menoleh dan melihat sosok Nathan disana. "Ngapain kesini?" tanya Laura pelan.
"Balik ke kelas!" suruh Nathan lebih dingin dari sebelumnya. ****! Ngapain lo marahin dia. Kalo dia jadi ngambek? Yang ada makin jauh.
Nathan melangkah mendekat. Dia meraih tangan Laura. Jari jemari mereka terkait.
Mulut Laura seperti terkunci. Dia tidak bisa berkata apa pun. Detak jantungnya begitu cepat.
"Nanti gue mau ngomong sama lo. Pulang bareng gue," suruh Nathan. Sorot matanya sama sekali tidak mendukung.
Laura menganggukkan kepalanya sebagai respon. Untung saja pagi tadi Laura diantar oleh supir. Alhasil, dia bisa pulang bareng Nathan.
"Kemana aja lo?!" teriak Claretta dengan kesal. Dia berkacak pinggang. "Laper nih gue. Nungguin lo kayak nunggu upin ipin lulus TK, njay," dumelnya.
Kaila terkekeh. Dia sama sekali tidak keberatan menunggu temannya selama ini. Karena perutnya belum terlalu lapar.
"Sorry, gue tadi males balik ke kelas," jawab Laura santai. Dia menoleh ke sana-sini. Ada yang hilang. "Nadine? Kemana?" Disamping itu Nathan melepas genggamannya perlahan, dan pergi begitu saja. Tentu ini membuat banyak pertanyaan terlintas dipikirannya.
"Nadine lagi sama pacarnya," jawab Kaila memecahkan keheningan diantara mereka.
Laura masih menatap punggung Nathan yang menjauh. Jantungnya tidak lagi berdetak cepat, melainkan terasa perih. "Gue ke kelas ya."
Claretta berdecak sebal. "Gue gamau tau ya, lo ikut ke kantin! Gue udah nungguin lo lama, terus lo malah nolak gitu aja? Gak bisa!" Dia menarik tangan Laura paksa.
Kaila tersenyum sambil mengikuti langkah mereka ke kantin.
*
Ternyata omongan Nathan tadi tidak bercanda. Dia benar-benar menunggu Laura. Nathan kini berdiri didepan kelas sambil menunggu cewe itu selesai merapihkan barang-barangnya.
"Gue duluan ya," pamit Laura kepada ketiga temannya. Kini dia berdiri tepat dihadapan Nathan. "Jadi?" tanyanya pelan.
Nathan mengangguk lalu berjalan mendahului Laura. Dia mau ngomong apa ya? Pasti tentang kuliah nih. Duh! Gue harus jelasin gimana? Pikiran Laura sudah jauh.
Kedua mata Laura membulat besar. Dia melihat sosok cowo berdiri di halaman sekolahnya, bersandar di mobilnya. Para cewe terfokus padanya. Duh! Laura mengecak-acak rambutnya kasar.
"Oh, lo di jemput dia. Gue duluan deh," pamit Nathan yang langsung meninggalkan Laura begitu saja. Tidak ada cara penolakan lain gitu? Harus banget liat pacar sendiri di jemput sama cowo lain?
Nathan mencoba untuk tetap tenang. Dia tidak ingin mengambil tindakan yang salah. Orang tuanya selalu mengajarkan untuk menyelesaikan setiap masalah dengan kepala dingin. Dia mengembuskan nafasnya pelan.
"Nath, dengerin gue dulu!" teriak Laura sambil berlari menghalang langkah Nathan. "Gue harus jelasin sesuatu ke lo. Tapi-"
"Gak usah! Lo balik aja!"
Laura tersentak kaget mendengar respon dari Nathan yang suaranya terdengar kencang. Dia tersenyum miris. Memang harusnya dia biarkan saja. Semua usaha untuk menjelaskan menjadi hilang begitu saja. Semuanya terasa sia-sia.
Tanpa menjawab atau berusaha menjelaskan, Laura langsung saja berbalik dan menghampiri sosok Martin yang sedang dilirik oleh para cewe.
"Ngapain sih lo kesini?!" tanya Laura sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
Martin membukakan pintu agar cewe itu masuk ke mobilnya. "Bawel. Masuk aja."
Melihat kejadian itu membuat beberapa murid heboh. Bahkan mereka merekam untuk posting ke akun news sekolah.
Berdirilah Nathan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari mereka. Dia melihat jelas kejadian itu.
"Nath, gue boleh balik bareng lo gak?" tanya cewe itu hati-hati. Dia tersenyum manis ke Nathan.
"Hmm.."
Makasih buat yang udah baca😊
Ditunggu part berikutnya..
Like dan komen.