I'M Stuck In You

I'M Stuck In You
Kevin


"Gue duluan ya," pamit Laura yang lalu bergegas menaiki mobilnya.


Dia tidak langsung pulang ke rumah, melainkan ke pemakaman ayahnya. Rindu yang memuncak membuat dirinya ingin kesana. Butuh waktu sekitar 1 jam, hingga akhirnya sampai.


Taburan bunga sudah terlihat diatas pemakaman ayahnya. Laura tersenyum samar.


"Pa, Laura bakal pergi jauh. Laura bakal lebih jarang kesini. Laura juga bakal jarang ketemu mama," lirihnya. Tangannya mengusap-usap sudut batu nisan ayahnya.


Hening untuk beberapa saat.


"Olin sekarang berhasil, pa. Dia udah diujung proses merebut cowo yang Laura sayang. Laura egois gak sih kalo maunya Nathan sama Laura aja?"


Rintihan hujan mulai menyentuh kulitnya. Tapi dia tidak beranjak dari tempat. Cairan panas mulai mengalir dari matanya, membasahi pipinya.


"Laura merasa sepi sekarang. Gimana nanti Laura di Jerman? Papa doain Laura ya, supaya Laura bisa lebih semangat hidup. Laura harus bisa bahagiain papa."


*


Hari senin pun tiba, tidak disangka kalau senin lalu adalah upacara terakhir mereka. Hari ini kelas 10 dan 11 akan menjalankan Ujian Tengah Semester 2, sedangkan kelas 12 akan menjalankan Ujian Akhir Semester 2.


Lain hal dengan ujian-ujian lalu, kali ini Laura lebih banyak mengerjakan soalnya sendiri. Sesekali dia bertanya kepada Kaila yang selalu di tempatkan seruangan dengannya.


"Shh.." Laura memberikan kode angka 34 kepada Kaila yang menoleh. Kaila pun memberikan jawabannya.


Kring kring


Tidak biasanya diluar kelas ramai seperti ini. Dengan rasa penasaran Laura dan Kaila berjalan keluar.


"Ayo, Nathan!"


"Kevin!"


Suara tepuk tangan yang diberikan murid-murid semakin kencang. Bukannya memisahkan, mereka malah antusias menontoninya.


"Kenapa?! Terima aja kalo emang kenyataannya lo gak bisa sama dia!" teriak Kevin memanasi Nathan. "Kasihan cewe lo!"


"Apa maksud lo! Hah?!" sahut Nathan tidak kalah emosi. Dia meraih kerah sekolah Kevin.


Laura tidak berniat untuk memisahkan. Dia ingin mendengarkan pembicaraan yang terarah kepadanya.


Kevin tersenyum miring. "Kalo udah sama Laura ya Laura aja! Jangan Olin juga lo embat!"


Deg.


Degupan jantung Laura mendadak cepat. Maksud Kevin apa? Setelah pembicaraan Kevin menyebut namanya, beberapa sorot mata terarah padanya.


"Gak usah ngomong aneh-aneh lo!"


Satu tonjokan melayang ke pipi kiri Kevin. Emosi Nathan sudah tidak bisa dia kendalikan. Dari dulu Kevin sama saja, selalu merusak hubungannya dengan seseorang.


"Nathan! Stop!" teriak Laura yang sudah tidak tahan dengan ini. "Lo juga, stop!" Laura menunjuk Kevin sambil menjauhkan tubuh Nathan dari cowo itu.


"Eh, apa-apaan ini?" Bu Mevi menghampiri mereka dengan heran. "Kalian berantem? Iya?!"


Tidak ada sahutan dari mereka, akhirnya bu Mevi menyuruh mereka ke kantornya. Sebelum itu Laura menatap Nathan dengan sorot mata yang sendu.


"Maksud Kevin apa tadi?" tanya Laura penasaran kepada Nathan. Tentu saja ini masih bisa didengar oleh Kevin.


Belum sempat Nathan menjawab, Kevin mendahuluinya. "Kalo lo mau tau, nanti pulang sekolah ikut gue."


"Nih anak ya! Bukannya ke kantor. Cepetan!" teriak bu Mevi.


*


Bel pulang sekolah berbunyi. Tadi Nathan sempat bilang kalau Laura tidak perlu mendengar penjelasan dari Kevin. Nathan yang ingin menjelaskannya. Oke, Laura ikutin permintaan cowonya. Tapi ketika Laura ingin menghampiri Nathan, cowo itu sudah berduaan dengan Olin duluan. Bener apa kata Kevin?


"Ra? Masih mikirin kata-kata Kevin ya?" tanya Kaila sambil menepuk bahu Laura pelan.


Claretta dan Nadine melihat ke arah yang sama dengan Laura. Semakin hari memang mereka semakin dekat, tapi Olin sudah lebih better dari awal-awal. Cewe itu sudah tidak melarang Nathan jika ingin menghampiri Laura. Beda dengan beberapa waktu lalu yang selalu menahan Nathan agar bersamanya tiap waktu.


Bagi Laura, Olin itu sengaja seperti ini agar tidak terlalu terlihat merebut. Karena posisi dia sudah diujung proses. Dalam waktu dekat pun, Olin bisa membuat Nathan menjadi miliknya.


"Menurut kalian, gue dengerin penjelasan Nathan aja atau Kevin?" tanya Laura yang masih fokus melihat pacarnya dengan cewe lain dari jauh.


"Kevin," jawab Claretta cepat dan disetujui oleh Nadine. Beda dengan Kaila yang tidak berkomentar.


Tatapan Laura dibalas oleh Nathan. Buru-buru Laura memalingkan wajahnya.


Kebetulan hari ini Laura diantar supir, sehingga dia tidak repot memikirkan mobilnya. "Lo sama Olin kan?" tanyanya hati-hati.


Claretta dan Nadine kompak menatap tajam temannya satu ini. Sikap Laura yang seolah-olah terus membiarkan Nathan bersama Olin, akan membuat cowo itu tidak memikirkan perasaannya.


"Iya, gue sama Nathan," jawab Olin dengan cepat. "Nanti lo dijemput supir kan?"


"Iya," pasrah Laura. Dia menunggu sampai Nathan menolak ajakan kakak tirinya dan meminta agar dirinya pulang bersama cowo itu. Tapi, pikiran Laura buyar ketika melihat Nathan ditarik pergi oleh Olin. Dan lebih sakitnya, Nathan tidak menolak.


"Gue cape gini terus," lirih Laura sambil melihat ke arah temannya satu-satu. "Harusnya gue jadiin dia sama kayak cowo-cowo gue dulu. Tapi ga bisa."


"Salah lo juga. Harusnya gak terus-terusan kasih cowo lo sama Olin. Lo pacar dia kan? Lo bisa larang, Ra," ucap Claretta yang kepancing emosinya.


Nadine berpamitan pulang karena ditunggu pacarnya. Begitu pun Kaila yang sudah dijemput.


"Gue juga balik dulu. Mending lo ke Kevin, minta dia jelasin yang tadi. Semangat." Claretta berjalan menuju gerbang depan sekolah.


Laura berjalan mencari keberadaan Kevin. Belum lama dia mencari, cowo itu sudah menampakkan keberadaannya.


"Kevin," panggil Laura sambil berjalan mendekat ke arahnya.


Kevin yang sedang ingin menghampiri motor kesayangan, harus berhenti. Dia kira cewe itu tidak akan mencarinya untuk penjelasan. Tapi ternyata malah sebaliknya.


"Kita sambil pergi makan aja ya," ajak Kevin sambil tersenyum tipis.


Motor Kevin baru saja terparkir di area restoran terdekat dari sekolahnya. Mereka berjalan masuk, duduk di kursi dekat jendela. Setelah memesan minuman dan makanan, keduanya saling diam.


"Hmm.. boleh jelasin yang tadi?" tanya Laura hati-hati.


Kevin tersenyum samar. Dia memajukan sedikit kursinya. "Oke. Jadi yang gue tau, Nathan juga deket sama Olin. Soalnya beberapa kali gue ketemu mereka jalan bareng."


"Tunggu, kok lo bisa tau? Emang kalo gak sengaja ketemu bakal sesering itu?" bingung Laura. Sesekali ponselnya bergetar, tapi dia abaikan.


"Rumah gue deket sama Nathan. Beberapa kali gue liat Olin ke rumahnya."


Mendengar segitu saja sudah membuat hati Laura terasa perih. Dia semakin yakin kalau Olin akan berhasil. Terlebih lagi beberapa bulan lagi dia akan pergi.


Dert dert


"Halo?" Suara Laura sedikit bergetar. Dia takut Nathan tau dirinya pergi dengan Kevin. Tapi setelah berpikir sebentar, Laura juga boleh pergi dengan Kevin kalau Nathan juga pergi sama Olin. Toh juga lebih sering mereka.


"Lo dimana?"


****** gue! Laura terdiam, tidak menjawab.


"Dia lagi sama gue!" teriak Kevin membuat Laura membulatkan kedua matanya.


"Ra, gue kan udah bilang tadi. Gue bisa jelasin. Lo gak perlu dengerin dia," kata Nathan dengan serius. Terdengar dari nada bicaranya kalau dia marah. "Share lokasi lo!"


Sambungan teleponnya berakhir. Sesuai permintaan Nathan, Laura memberikan lokasinya. Ketika makanan datang, keduanya diam.


"Lo sayang banget sama Nathan?" tanya Kevin tiba-tiba. "Dulu kan cowo lo ganti-ganti. Kok bisa pas sama Nathan kayak gini?"


Iya, gue sayang dia. Laura menghentikan kegiatan makannya sejenak. "Gue juga gatau."


Tangan Laura tiba-tiba saja ditarik kasar oleh Nathan. Sorot mata cowo itu sangat tajam. Kevin sempat marah karena Nathan mengganggunya. Tapi Laura memilih untuk pergi dengan Nathan.


"Gak usah jelasin sekarang! Jelasin di rumah kayu aja!"


Dingin. Dinginnya Nathan kembali hadir. Motor Nathan melaju lebih cepat dari biasanya. Hanya butuh beberapa menit, akhirnya mereka tiba di rumah kayu.


"Ra, gue mau nanya. Perasaan lo masih sama gak sih kayak dulu?" tanya Nathan dengan serius. Dia menatap kedua mata Laura lekat.


Laura menghela nafasnya pelan. Berusaha menahan emosinya. "Menurut lo gimana?"


"Jawab, Ra," suruh Nathan penuh emosi. Dia kesal karena Laura pergi dengan Kevin. Masa lalunya teringat lagi karena ini.


"Sekarang gue yang nanya sama lo. Sebenarnya cewe lo itu gue apa Olin?" tanya Laura yang kini sama emosinya. Baru kali ini dia menunjukkan cemburu bersamaan dengan rasa kesalnya.


Nathan diam untuk beberapa detik. Dia tidak percaya kalau Laura akan sama emosinya. "Cewe gue ya lo lah, Ra!"


"Kenapa sering pergi sama Olin? Terus gue pergi sama Kevin gak boleh? Gue juga baru ini, cuma sekali. Kalo dibandingin sama keseringan lo sama dia, jauh!"


Cari tau di episode selanjutnya👋🏻


Like dan komen.