I'M Stuck In You

I'M Stuck In You
Takut


"Tante gak perlu khawatir lagi." Tangan Lina masih mengelus puncak kepala Laura dengan pelan.


"Maksud tante?" Laura masih tidak mengerti dari setiap perkataan Lina.


Lina tersenyum sejenak. Dia menatap lekat mata Laura. "Dulu dia benci sama percintaan karena Jessie. Tante ngerti apa yang membuat dia jadi murung waktu itu. Itu lah resiko kalau jatuh cinta sama seseorang. Kita harus siap menanggung rasa sakitnya. Nathan bilang sama tante, dia gamau punya pacar sampai nemu yang pas. Dan tiba-tiba sekarang Nathan bawa kamu kesini. Itu artinya?"


"K-kalo boleh tau, Nathan kenapa putus sama Jessie, tante?" tanya Laura penuh hati-hati. Tidak bisa bohong. Dari cerita Lina, dia jadi penasaran dengan sosok Jessie. Kenapa cewe itu bisa membuat Nathan sakit hati?


Lina mengurung niatnya untuk menceritakannya. "Kamu tanya aja sama Nathan. Pasti dia mau cerita sama kamu."


Laura menganggukan kepalanya pelan. "Nathan baik, tante" Tiba-tiba bibir Laura serasa bergerak sendiri untuk berbicara seperti itu.


Senyum Lina mengembang. "Tante minta tolong sama kamu. Jangan bikin Nathan sakit hati lagi," lirih Lina. Terdengar dari nadanya seperti memohon. Kayaknya Lina memang sayang banget sama Nathan. Bukan kayaknya lagi, tapi emang iya. Banget.


Laura tersenyum dengan posisi duduk yang sengaja dia miringkan beberapa detik lalu. "Aku bakal berusaha sebisa aku, tante."


"Makasih." Lina memeluk tubuh Laura dan dibalas olehnya.


*


"Gue boleh nanya?" tanya Laura yang menoleh sekilas ke arah Nathan.


Nathan sibuk mengendarai mobilnya. Tapi tidak mungkin juga dia mendiami pacarnya. "Nanya aja."


"Boleh gue tau tentang Jessie?" tanya Laura hati-hati. Dia tidak ingin mengingatkan masa lalu Nathan. Tapi dia juga tidak bisa menahan rasa penasarannya.


Tidak ada jawaban dari Nathan. Cowo itu tetap fokus kepada jalanan didepannya. Laura menghela nafasnya sambil menoleh ke samping jendela. Mungkin belum saatnya Nathan bercerita tentang masa lalunya.


Laura sedikit bingung ketika mobil Nathan belok yang arahnya bukan menuju rumahnya. "Nath, rumah gue kesana."


"Ke rumah kayu bentar. Gue ceritain," jawab Nathan dengan tenang. Tidak ada emosi disana.


"Nath, gelap," dumel Laura sambil menutup kedua matanya dengan tangan. "Kenapa lo matiin mobilnya sih! Kan lampunya jadi mati," dumelnya yang masih menutup mata rapat-rapat.


Nathan terkekeh pelan. Dia masih heran dengan cewe disampingnya. Masih aja takut sama gelap. Padahal tidak ada apa-apa disini.


Tidak ada sahutan dari Nathan membuat Laura jadi cemas. "Nath, gue serius! Gue gak bercanda. Gue takut gelap!"


Masih hening. Tidak ada sahutan dari Nathan.


"Gue benci sama lo!" gerutu Laura yang sudah kesal. "Tau gini gue mending balik aja!"


Nathan sudah menyalakan flash-nya dari beberapa menit lalu. Cewe itu saja yang masih menutup rapat matanya hingga tidak menyadari hal ini.


"Nathan!" rengek Laura sambil menghentakkan kakinya sekali. Dia benci keadaan ini. Dia selalu takut gelap. Dia tidak suka gelap. Tak pernah suka. Matanya mulai berair. "Nath, gue serius takut." Kini suaranya bergetar.


Nathan panik. Sungguh dia tidak berpikir sampai kesana. Cewenya setakut itu dengan gelap? "Ra, gue disini." Nathan menarik tangan Laura agar membuka matanya. "Gue udah nyalain flash dari tadi."


Laura memukul kasar tubuh Nathan. Dia kesal. "Lo sengaja bikin gue takut?! Iya?" Tangan Laura perlahan menghapus air mata yang baru saja keluar. "Gue mau pulang!"


"Maaf, gue gatau kalo lo takut banget. Sorry," lirihnya sambil meraih tangan Laura yang sempat lepas dari genggamannya. "Jangan ngambek."


Kini gantian Laura yang diam. Dia tidak merespon. Malu banget udah nangis didepan Nathan. Selemah itu dia? Nangis hanya karena gelap.


"Jadi gue ceritain gak nih?" tanya Nathan sambil tersenyum jahil. "Ayuk, naik lah ke atas. Mau liat bintang."


Laura tersenyum samar. Dia mengikuti arah Nathan yang sudah menariknya. Rasa takut itu hilang dan berganti dengan rasa hangat sekaligus nyaman.


Sebelum naik ke atas, tangan Nathan meraih sebuah foto yang pernah Laura lihat ketika pertama kali ke sini.


"Itu apa?" tanya Laura sambil menunjuk ke arah sebuah foto.


Nathan menoleh, lalu merubah posisi tidurnya menjadi duduk. "Mantan gue."


"Oh."


"Nanti, ada saatnya gue cerita. Gak sekarang. Gue gamau terlalu cepet ambil langkah."


Tangan Laura meraih foto itu. Dia melihat jelas wajah Jessie. Cantik. Terlihat seperti cewe populer sekolahnya, seperti dia.


"Gue dulu sayang banget sama dia, dan bodohnya gue jadi bucin. Apa yang dia mau gue turutin, demi gak kehilangan dia. Saking sayangnya, gue gak kepikiran kalau dia bakal nyakitin gue." Nathan tersenyum miris, membayangkan seberapa bodohnya dia dulu. "Hari itu, hari yang paling gue benci. Gue gak sengaja baca chat dia sama temen cowonya. Disitu gue tau alasan kenapa Jessie terima cinta gue. Jessie cuma kasihan liat gue. Dia ternyata suka sama cowo lain. Dan cowo yang disukai Jessie itu temen deket gue, Ra."


Laura masih terdiam. Berusaha memahami setiap kalimat yang Nathan lontarkan. "Jadi Jessie nerima cinta lo karena kasihan? Terus dia ternyata suka sama temen deket lo?" tanyanya untuk memastikan.


Nathan mengangguk lemah. Masih belum bisa menerima kenyataan pahit itu. Sejujurnya tidak akan menjadi masalah besar kalau Jessie menerimanya karena kasihan. Yang bikin dia sakit itu adalah teman dekatnya sendiri. Temannya yang waktu itu berusaha keras dan mendukung hubungannya dengan Jessie. Tapi kenapa malah main dibelakang? Dan sikap manis Jessie yang selalu membuat rasa sayang Nathan padanya semakin bertambah.


"Gue.. gue boleh nanya lagi?" tanya Laura dengan gugup. Dia takut Nathan akan marah padanya.


Nathan mengangkat kepalanya ke atas, ke arah langit. "Nanya aja. Gue bakal jawab."


"Kenapa lo milih gue?" tanya Laura dengan serius. "Kenapa gue yang lo pilih dari sekian banyak cewe?"


Nathan terdiam. Dia juga gak tau jelas alasannya kenapa. Karena baginya, tidak perlu alasan untuk menyayangi seseorang. Semua itu terjadi begitu saja.


"Lo doang yang berhasil narik perhatian gue," jawab Nathan dengan kepala yang masih ke arah langit. Dia melihat banyak bintang disana.


Laura tersenyum tipis. Segitu menariknya dia?


Kini giliran Nathan yang bertanya. "Sekarang gue mau nanya."


"Iya, nanya aja." Sekarang Laura ikut menatap langit.


"Lo udah bisa ngerasain perasaan yang sama?" lirih Nathan yang kini menoleh ke arah Laura. Dia serius dengan pertanyaannya.


Laura menelan salivanya. Dia mambalas tatapan Nathan. "Maksudnya?"


"Bahasa gue ketinggian ya?" Nathan tertawa kecil diakhir kalimatnya. Memecahkan keseriusan diantaranya. "Maksud gue. Lo udah mulai sayang belom sama gue? Seperti perasaan gue buat lo."


"Gue gatau pasti. Tapi sekarang gue mulai terbuka sama lo. Gak kayak awal-awal kan?" Laura menjawab dengan sedikit gugup. Dia salah tingkah karena tatapan Nathan.


Nathan mengangguk mengerti. "Tau apa yang gue takutin sekarang?" Nathan mengalihkan pandangannya ke depan.


"Hmm?" Laura masih menatap wajah Nathan. "Apa yang lo takutin?"


"Gue takut lo nerima gue hanya karena kasihan, Ra. Gue gamau kita berakhir kayak kisah gue sama Jessie," jelas Nathan dengan serius. Dia perlahan meraih tangan Laura dan mengelus punggung tangan itu. "Gue boleh minta satu permintaan?"


Laura terdiam. Tidak mampu membalas kata-kata Nathan. Mulutnya terasa kaku.


"Jangan tinggalin gue, Ra," lirih Nathan. Tatapan Nathan kembali membuat jantung Laura berdetak cepat.


Tiba-tiba Olin masuk dalam pikirannya. Apa dia bisa mengabaikan Olin? Cewe licik yang bakal mengabadikan segala cara.


"Nath, ada yang gue takutin juga." Kini Laura yang membuka suara. Dia sempat ragu ingin bilang atau tidak. Tapi ini untuk kebaikan mereka, jadi dia harus membicarakannya sekarang.


"Apa?" tanya Nathan yang masih sibuk menatap wajah Laura. "Lo takut kenapa? Gelap?"


Laura terkekeh. Disaat dia sedang serius, Nathan malah berhasil membuatnya tertawa.


"Gue takut lo yang ninggalin gue."


Nathan mengerutkan alisnya. Bagaimana bisa dia meninggalkan Laura? Dia sudah yakin dengan perasaannya. Dia sayang sama Laura.


"Gue sayang sama lo, Ra. Gak mungkin gue tinggalin lo," jawab Nathan yang kini terlihat serius. Dia merasa ada yang aneh dengan Laura. Apa cewe itu tidak percaya dengannya?


"Kan cuma takut." Laura terkekeh memecahkan keseriusan diantaranya.


Nathan mengacak-acak rambut Laura gemas. Dia senang malam ini. Makan malam bersama, berbagi cerita, dan melihat tawa Laura berkali-kali. Cewe itu sudah tidak jutek dengannya. Dia yakin, Laura juga merasakan yang dia rasakan. Pasti.


Gimana kelanjutannya ya..


Cari tau di part selanjutnya🙈


Like dan komen.