
"Enak gak?" tanya Laura mengalihkan topik mereka.
Nathan mengerutkan alisnya. "Enak? Enak dibaikin sama lo? Apa enak dimarahin sama lo?"
Laura menghela nafasnya. "Maksud gue, enak gak minumannya?"
"Oh.. enak kok."
Melihat Laura yang berdiri dari kursinya, membuat Nathan ikut melakukan hal yang sama. "Mau kemana?" tanya Nathan.
"Balik," jawab singkat Laura sambil menyeruput minuman ditangannya.
"Terus gue? Ditinggal?"
"Menurut lo? Tadi lo minta bareng kan? Ya berarti ikut balik lah," kesal Laura.
Nathan terdiam di tempat. Baru aja dipuji baik, udah beda lagi sekarang. Jadi galak lagi. Dengan cepat, Nathan mengikuti Laura sebelum benar-benar ditinggal.
Selama diperjalanan, hanya lagu saja yang terdengar didalam mobil. Sesekali Nathan memberikan arahan menuju rumahnya.
Mini Cooper Laura terhenti didepan rumah yang terlihat mewah. Awalnya Laura tidak yakin kalau itu adalah rumah dari orang tuanya Nathan. Tapi, setelah melihat beberapa satpam yang akrab pada Nathan, membuat Laura yakin kalau itu rumahnya.
"Makasih ya, Ra," ucap Nathan sebelum turun dari mobil Laura.
Laura memutar bola matanya malas. "Harusnya cowo yang anter cewe, bukan cewe yang anter cowo!"
Nathan tersenyum kaku. Benar sih apa yang diucapkan Laura. "Yauda. Sini hp lo," minta Nathan sambil mengambil ponsel milik Laura dari tangan cewe itu.
"Ng-ngapain?"
Beberapa detik kemudian.
"Abis add kontak. Nama gue Nathan Aldorino, lo belom tau kan?"
"Hmm. Gak nyambung lo! Gue ngomong apa dikasihnya apa," bete Laura sambil mengambil kasar ponselnya dari tangan Nathan.
Setelah melihat Nathan yang sudah turun dari mobilnya, Laura pun berniat untuk langsung pulang. Sebelum Laura bergegas, Nathan mengetuk kaca jendela mobil Laura.
"Kenapa?" tanya Laura dengan wajah datarnya.
"Nanti bales chat gue ya. Bye, Ra," ucap Nathan sambil melambaikan tangannya.
Laura hanya mengangguk pelan, tanpa berniat membalas ucapan Nathan. Cara Nathan ternyata sangat berbeda. Membuat Laura diam-diam juga penasaran.
*
Suasana paling enak adalah ketika di kamar, tiduran, dengerin lagu, pasang AC. Itu lah yang sedang dilakukan oleh Laura sekarang.
"Laura," teriak seorang cewe dari depan kamarnya sambil menggedor-gedor pintu.
"Bentar."
Ganggu aja, heran - batin Laura.
"Kenapa?" tanya Laura dengan malas.
Olin memutar bola matanya, lalu berkacak pinggang. "Dipanggil sama mama dari tadi, ga denger emang?!"
"Oh." Laura berjalan meninggalkan Olin yang masih berdiri didepan pintu kamarnya.
Melihat Alma sedang mengiris-iris sayuran di dapur, Laura pun langsung menghampirinya.
"Kenapa ma?"
"Sayang, besok mama sama papa ada acara makan malam sama temen papa. Kamu ikut, bisa kan?" tanya Alma yang baru saja menghentikan kegiatan memotongnya.
Sejujurnya, Laura malas untuk ikut makan malam seperti itu. Apa lagi temen papa tirinya. Tapi, kalau sudah permintaan dari Alma, Laura tidak bisa menolaknya.
"Iya, ma."
*
Suara ponsel yang berdering kencang membuat pemiliknya terbangun. Laura meraba-raba meja sampingnya, mencari keberadaan ponsel miliknya. Lalu mematikan alarm tersebut.
Sebelum bersiap-siap sekolah, Laura mengecek ponselnya yang terdapat berbagai pesan disana.
Mygirls🤙🏻
Nadine : gais, lu pd sklh g?
Kaila : sklh, knp emg?
Nadine : kt bokap, hari ini guru² pd rapat. Percuma kt sklh.
Claretta : msk aja. Ntr kt bolos ke roof top.
Laura : ges, ntr mlm mama nyuruh gw ikt mkn mlm sm tmn papa. Gw mls tp, gmn ya?
Setelah membaca dan memberikan pesan kepada grupnya, Laura melihat ada notifikasi lain yang masuk.
Nathan gans.
Ara, gw jmpt ya.
Kedua mata Laura melotot. Gak salah baca? Nathan mau jemput? Ngapain dia jemput? Udah malah namanya ada 'gans'
Nathan gans.
Ara, gw jmpt ya.
Laura.
Gw bawa mobil.
Nathan gans.
Karena tidak mau banyak berdebat, Laura mengirim saja lokasinya kepada Nathan. Setelahnya, dia bersiap-siap.
Melihat mobil yang terparkir diluar halaman rumahnya, Laura pun berniat berjalan kesana. Tidak mau membuat Nathan menunggu lama.
"Ma, pa, olin, aku berangkat ya," pamit Laura sambil melihat ke arah mereka bergantian.
Arief bingung, kenapa anak itu tidak mengambil kunci mobilnya. Apa sudah ditasnya? Atau gimana?
"Kamu gak bawa mobil?" tanya Arief membuat Laura menghentikan langkahnya, dan membalikkan tubuhnya ke arah mereka.
"Aku sama temen, pa," jawab Laura.
"Temen cowo ya," ledek Arief sambil tersenyum jahil.
Mendengar itu, Olin langsung saja menoleh ke arah Laura. Penasaran. Apakah temannya cowo atau bukan.
"Iya. Temen doang tapi." Karena Laura tidak mau ditanya lebih jelas, dia segera berjalan cepat menuju luar.
Alma hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ternyata anaknya sudah dewasa. Sudah berani membiarkan teman cowonya ke rumah. Sebelumnya, tidak pernah.
Seorang cowo yang didalam mobil sedang fokus merapihkan tatanan rambutnya, sampai tidak mengetahui kalau Laura sudah berdiri disebelah mobilnya.
"Woii, buka pintunya," teriak Laura sambil mengetuk kencang kaca jendela mobil Nathan.
"Eh, iya."
"Lo niat gak sih jemputnya?!" kesal Laura sambil melirik tajam ke arah Nathan.
Senyum tipis terukir diwajah Nathan. Rasanya ingin sekali mencubit pipi milik Laura. Tapi, kalau dia melakukannya, pasti akan dimarahi oleh cewe itu.
"Ra," panggil Nathan membuat Laura menoleh ke arahnya.
"Nanti bisa bantuin gua kerjain tugas ekonomi gak? Buat ngejar nilai. Kan gue baru pindah sekolah," minta Nathan sambil tersenyum kaku. Gatau mau minta bantuan siapa lagi. Nathan baru dekat dengan Laura saja.
"Heh! Asal lo tau ya.. selama dua tahun di SMA, gue gak pernah tuh ngerti sama pelajaran kayak gitu. Lo salah kalo minta bantuan sama gue."
Nathan memasang wajah curiga. Masa sih model kayak Laura gak ngerti pelajaran ekonomi? Kelihatannya anak rajin kok.
"Bohong ya lo? Bilang aja gamau bantuin gue," kata Nathan dengan tawanya.
"Berisik, udah ayu, otw. Gamau dihukum lagi sama lo!"
*
Kedua mata Claretta fokus kepada Laura yang baru saja turun dari mobil sport berwarna merah. Sejak kapan Laura beli mobil sport? Biasanya kan Laura naik mobil Mini Cooper.
"Nad, Kai, liat deh. Itu Laura kan?" tanya Claretta sambil menunjuk ke arah Laura. Dia yakin, kalau itu adalah Laura.
Kaila membenarkan kacamatanya, menyipitkan kedua matanya, fokus melihat ke arah cewe yang baru saja turun dari mobil.
"Kayaknya iya deh, mirip Laura," jawab Kaila.
"Ehh, itu kan Nathan. Mereka satu mobil?" kaget Nadine yang melihat Nathan ikut turun dari mobil yang sama. Mereka berangkat bareng?
Claretta mendadak bete. Dia sudah didahului oleh temannya sendiri. Padahal Laura tau, Claretta sedang mencoba mendekati Nathan.
Melihat Claretta yang berlari kecil menuju Laura, Nadine dan Kaila pun ikut menghampiri Laura.
"Ra, gak asik lo mah," gerutu Claretta kepada Laura yang masih berdiri disamping Nathan.
Laura mengerutkan alisnya. "Hah? Maksud lo?"
"Kok sama Nathan sih?" bisik Claretta tepat disamping telinga Laura.
Nathan hanya bisa diam merhatikan tingkah mereka. Dia mengurungkan niatnya untuk masuk kelas duluan. Nathan ingin menuju kelas bersama dengan Laura.
"Nanti gue ceritain," balas Laura dengan nada berbisik juga.
"Udah? Gue pinjem Laura dulu ya, nanti gue balikin," ucap Nathan. Dia menggandeng tangan kanan Laura, membuat Laura sedikit terkejut akan itu. Tidak hanya Laura yang terkejut, ketiga temannya juga.
"Ngapain sih lo-"
"Shh, berisik," potong Nathan yang masih setia menggandeng tangan Laura.
Dengan pasrah, Laura mengikuti langkah Nathan. Arah mereka tidak ke kelas, tapi ke taman belakang sekolah. Mau ngapain Nathan bawa Laura kesana?
"Duduk," suruh Nathan kepada Laura. Entah bagaimana, Laura menjadi nurut kepada Nathan. Dia mengikuti arahan Nathan dari tadi.
"Ngapain?" tanya Laura setelah duduk di kursi taman.
"Masih ada lima menit lagi, bosen kalo langsung ke kelas," jawab Nathan yang berdiri membelakangi Laura.
Laura menganggukkan kepalanya. Dia menoleh kesana-sini. Ini pertama kalinya Laura duduk di taman belakang sekolah. Biasanya roof top lah yang menjadi tongkrongannya sehari-hari.
"Nath," panggil Laura. Untuk pertama kalinya, Laura memanggil nama Nathan. Tanpa disadari, senyum Nathan terlihat lagi.
Nathan membalikkan tubuhnya ke arah Laura. "Hmm?"
"Kok lo pindah sekolah sih? Kan udah kelas dua belas, udah mau lulus malah," tanya Laura. Pertanyaan ini selalu tersangkut dipikiran Laura. Akhirnya, sekarang Laura berani untuk menanyakan itu.
"Gak betah," jawab singkat Nathan. Kedua mata Nathan fokus melihat wajah Laura.
Laura menganggukkan kepalanya, seakan mengerti dengan jawaban yang Nathan berikan.
Makasih buat yang udah baca ceritanya.
Ditunggu ya episode berikutnya.
Dilike dan dikomen💜