
"Mau ngapain?" tanya dingin Laura sambil menghentikan langkahnya ketika sudah jauh dari ketiga temannya. Dia melepas tangan Olin yang masih memegang pergelangan tangannya.
Olin menghela nafasnya kasar. Tatapan tajam yang biasa hanya terlihat di rumah, kini terlihat di sekolah. Hanya mereka berdua yang berada di taman belakang sekolah. Ini yang membuat Olin tidak perlu berbuat baik dengannya.
"Sedeket apa lo sama Nathan?!" Olin tersenyum miring sambil menggelengkan kepalanya.
"Bukan urusan lo. Gue balik duluan." Belum sempat Laura melangkahkan kakinya, tangannya sudah di tarik kasar oleh Olin.
Olin mengeratkan genggamannya, sampai menimbulkan rasa sakit di tangan Laura. "Itu urusan gue! Gue suka sama dia. Tunggu aja sampe waktunya nanti!"
"Kenapa sih lo selalu ambil yang gue punya? Hidup lo kurang apa sih?!" Amarah Laura sedang sulit dikendalikan. Emosinya meluap. Perkataan yang tidak rencanakan, spontan keluar dari mulutnya.
"Lo yang mulai duluan. Ngapain sih lo sama nyokap lo tinggal di rumah gua?! Perhatian bokap gua jadi ke kalian, bukan ke gua!"
Laura menghempas tangan Olin. Dia mengeraskan rahangnya, lalu mengambil nafas lebih banyak dari biasanya dan menghembuskan perlahan. "Gua gak berniat ambil perhatian bokap lo. Tolong jangan ambil Nathan. Dia pacar gue."
"Iya, sekarang lo emang pacarnya, tapi suatu saat nanti dia pacar gue!" ujar Olin penuh penekanan di setiap katanya.
"Terserah. Gue mau balik."
Olin menarik bahu Laura dengan kasar. "Lo cerita apa aja selama ini ke temen-temen lo?"
"Bu-"
"Ara!" teriak Nathan yang berdiri cukup jauh dari mereka. Perkataan Laura jadi terhenti karenanya.
Laura mengambil kesempatan keadaan ini. Dengan cepat dia berjalan menuju Nathan. "Lo nyariin gua ya? Ayuk ke kelas."
Kok Laura? Dia kenapa sih hari ini? Entar dingin, entar sikapnya hangat. Sungguh membuat bingung. "Iya, ayuk." Nathan ikut berjalan di samping Laura tanpa menoleh sedikit pun ke arah Olin.
Melihat kejadian barusan membuat hatinya perih. Kenapa Nathan selalu mengabaikannya? Menurutnya, dia tidak terlalu buruk kok dibanding dengan Laura. Olin sungguh iri saat ini.
"Tadi ngapain ke taman?" tanya Nathan di tengah keheningan mereka. Sesekali arah mata Nathan tertuju kepada cewe yang sedang dia ajak bicara. Sikap Laura hari ini seakan memberi harapan padanya.
Laura menoleh ke Nathan tanpa menghentikan langkahnya. Pikirannya sedang mencari alasan yang tepat. "Hmm.. tadi dia minta ditemenin keliling."
Nathan tersenyum samar. Ternyata Laura tidak akan membalasnya dengan nada yang dingin seperti biasanya. Dia mengangguk paham, dengan mulut berbentuk 'o'
"Kita pacaran kayak gak pacaran ya." Nathan sengaja. Dia ingin memberi kode kepada pacarnya.
Langkahnya terhenti ketika mendengar kalimat dari Nathan. Detak jantungnya tiba-tiba tidak beraturan. "Hmm? Gimana?"
Nathan terkekeh. Cewe itu sungguh menggemaskan saat sedang salah tingkah. Dia mengulurkan tangannya kepada Laura, dan memberi tatapan penuh arti.
Tangan kiri Laura terangkat ke udara dan berhenti diatas tangan Nathan. Rasanya sangat hangat. Ingin senyum tapi sulit. Dia takut semua ini akan berakhir, dan Olin yang akan menggantikan posisinya.
Pandangan murid-murid yang masih berkeliaran diluar kelas, tertuju kepada keduanya. Mereka terlihat cocok. Tapi tidak dengan pandangan Kevin, baginya terlihat sangat menjijikan.
Kini keduanya sudah hampir sampai ke depan kelas yang bertulis 'XII-Ips 2' diatas pintunya. Tangan mereka masih saling terkait, membuat seisi kelas terlihat heboh.
"Eits.. takut ilang ya," ledek Jason dengan tawanya. Dia menggelengkan kepalanya heran.
Ethan ikut tertawa ketika melihat Nathan menaikkan kedua alisnya berkali-kali. "Punya gue mana?" Tangan Ethan meraih udara, seakan-akan sedang menggandeng seseorang.
"Ehem.. mulai ya. Gapapa-gapapa, bagus-bagus." Claretta tidak melepas pandangannya dari tangan mereka. Dia tertawa jahil. Diikuti juga oleh Nadine dan Kaila.
*
Tidak salah ternyata untuk bersikap seperti ini ke Nathan. Rasanya lebih senang aja gitu. Semoga momen seperti ini tidak akan berakhir.
Setelah Laura memberesi buku-bukunya, dia meraih tasnya dan berdiri dari bangkunya. "Ayuk."
"Ra, mau pergi makan gak?" tanya Nathan. Dia ingin sekali hubungannya dengan Laura semakin erat. Terlebih lagi mereka sudah pacaran. Tidak salah kalau Nathan jadi sering mengajaknya jalan.
Laura berpikir sejenak. Kalau tidak salah hari ini dia sudah ada jadwal untuk les bahasa. Seingatnya, Arief pernah bilang kalau les bahasa mulai diawal bulan. Dan hari ini adalah tanggal 3. "Kayaknya ga bisa hari ini. Gue ada les bahasa."
Kaila menoleh cepat. Laura mau les bahasa? Tumben banget dia mau belajar diluar sekolah. Di sekolah aja ogah-ogahan belajarnya. "Sejak kapan lo jadi rajin?" Kaila terkekeh pelan.
Kalau bukan disuruh Arief, Laura juga tidak akan ingin les bahasa. Mending dia tidur saja di kamar.
"Les bahasa apaan emang?" tanya Nadine yang penasaran. Setaunya, Laura bukan tipe yang giat belajar. Walaupun semisalnya ikut les, pasti ada alasannya.
"Jerman," jawab malas Laura. Pasti setelah ini dia akan diejek oleh teman-temannya. Karena emang dasarnya Laura tuh paling males diantara mereka.
Claretta tertawa lepas. "Gila lo? Ada masalah apa hidup lo? Buat apaan belajar Jerman? Saking gak ada kerjaan sampe belajar bahasa Jerman?" Tangannya memegang sudut meja dan tangan sebelahnya lagi memegang perut yang mulai sakit karena tawanya.
"Hai," sapa seseorang yang sudah berdiri tidak jauh dari mereka.
Olin melangkah lebih dekat untuk bergabung. Senyum pertamanya ditujukan kepada Nathan. Setelah itu dia melihat ke arah Laura. "Ra, disuruh papa baca chat," ucap Olin dengan senyum tipisnya.
Tangannya meraih ponsel yang dia taruh ke saku rok beberapa menit yang lalu. Dibukalah room chat dengan Arief.
Papa.
Jgn lupa ya, km mulai les hari ini.
Guruny dtng jam 4 sore.
Nnti km g bljr sendiri, ad ankny tmn papa yg nnti bkl kuliah brng km.
Laura mengerutkan alisnya. Anaknya temen papa les bareng gue juga? Gapapa lah, jadi Laura tidak perlu repot-repot menahan ngantuknya. Setidaknya ada temen ngobrol.
"Gue duluan ya, jam empat mulai les. Bye." Laura melambaikan tangannya dan menoleh ke arah temannya satu per satu. Sebelum benar-benar menghilang dari mereka, Laura menoleh lagi ke arah Nathan dan tersenyum samar.
Kebetulan mobil Laura hari ini terparkir dibagian lebih pojok dari biasanya, karena pagi tadi berangkat terlalu cepat. Jadi dia harus berjalan lebih jauh dari biasanya. Tiba-tiba seorang cowo berjalan mengikuti langkahnya dari samping.
"Ngapain?" tanya Laura tidak berekspresi. Dia masih tetap melanjutkan langkahnya.
Kevin terkekeh. "Mau pulang." Dia terus menatap wajah Laura yang belakangan ini terus ada di pikirannya.
Dia tidak merespon. Laura memilih untuk tetap fokus dengan langkah kakinya. Kini mobilnya sudah terlihat lebih dekat.
"Buru-buru amat," ucap Kevin yang dari tadi merhatikan tingkah Laura. Dia mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum miring.
"Duluan ya, Kev." Laura langsung saja masuk ke dalam mobilnya. Setiap melihat Kevin, Laura menjadi ingat dengan ucapan Nathan waktu itu. Nathan yang tidak suka melihatnya dengan Kevin. Entah memang Nathan yang posesif, atau gimana, Laura tidak tau.
*
"Olin gak bareng kamu?" tanya Alma ketika melihat Laura pulang hanya seorang diri. Padahal tadi pagi Alma sudah menyuruh Olin agar pulang bersama dengan Laura saja.
Laura menggelengkan kepalanya. "Tadi Laura buru-buru. Lupa juga kalo dia udah sekolah sama Laura," alasan Laura spontan. Sungguh ini alasan yang sangat random.
"Yauda. Kamu mandi gih. Bentar lagi guru kamu dateng loh." Alma merangkul tubuh Laura dan mengarahkan ke ujung anak tangga, agar anaknya segera menuju kamarnya untuk mandi.
Tok tok
"Misi, saya Yuna, guru bahasa yang akan mengajarkan Laura dan Martin," ucap seorang cewe yang berdiri mengenakan kemeja dan celana jeans panjang. Dia masih terlihat muda.
Alma menyambutnya dengan ramah. Dia tersenyum lebar dan mempersilahkan Yuna untuk segera masuk.
"Silahkan duduk disini. Saya panggil Laura sebentar," ucap Alma dengan senyum ramahnya. Dia segera menaiki anak tangga rumahnya dan memanggil anaknya.
Laura baru saja selesai mandi. Dia sedang duduk didepan cermin sambil memakai handbody miliknya. Setelah itu menyisir tiap helaian rambutnya.
"Laura, guru les kamu udah dateng, nak," ujar Alma dari luar pintu kamar Laura. Detik berikutnya Alma berjalan masuk ke kamar Laura.
Senyum Alma mengembang. Tidak terasa, sekarang Laura sudah dewasa. Tahun depan anaknya akan tinggal di negara lain. Dia yakin, Laura pasti bisa mandiri.
"Iya, ma. Ini aku mau turun," jawab Laura sambil mengambil beberapa buku kosong yang sudah tersedia dari kenaikan kelas beberapa bulan lalu.
Kini Laura duduk dihadapan Yuna yang sedang membaca buku diatas mejanya. "Sore bu, saya Laura."
Yuna mengalihkan perhatiannya ke Laura. Dia tersenyum senang. "Sore, saya bu Yuna. Saya yang akan mengajarkan kamu bahasa Jerman."
Laura mengangguk sambil menaruh beberapa buku yang dia bawa tadi. Ini pertama kalinya dia belajar bahasa selain Indonesia, Inggris, dan Mandarin.
"Kita belajar basic dulu ya..." Bu Yuna mulai mengarahkan Laura kepada bukunya.
"Misi." Suara yang cukup berat mengalihkan pandangan keduanya.
Laura mengerutkan alisnya. "Lo?" Sepertinya dia pernah liat cowo itu. Dimana ya? Hmm.. Club? Iya! Di club!
Inget gak sama cowo yang Laura liat waktu di Club? yang ditunjuk sama Retta.
Tunggu part selanjutnya🙈
Komen dan like ya!