
Hari ini Laura berniat untuk menuju ke pemakaman ayahnya setelah pulang sekolah. Dia membatalkan janji dengan teman-temannya, dengan alasan ada acara keluarga.
"Nanti gue ga ikut ya," ucap Laura sambil memainkan pulpen ditangannya.
"Kenapa?" tanya Kaila yang baru saja menyelesaikan satu soal pertanyaan.
"Ada acara keluarga."
Ketiga temannya mengangguk. Lalu melanjutkan tugas yang diberikan oleh pak Budi. Ada yang mengandalkan google, ada juga yang mengandalkan teman sekelas yang pinter.
"Ra," panggil Nathan sambil memukul pelan pundak milik Laura.
Merasa ada yang memanggilnya, Laura pun menoleh ke belakang. "Hmm?"
"Bagi jawaban dong, hehe," minta Nathan dengan senyum kakunya.
"Nyari google aja, susah amat," ketus Laura yang sudah membalikkan posisi duduknya seperti semula.
Nathan cengengesan. "Gue ga punya kuota," bisik Nathan dengan malu-malu.
"Rumah gede, kuota ga punya," celetuk Laura tanpa menoleh ke arah Nathan sedikit pun.
Teman sebangku Nathan menahan ketawa. Kalau dia jadi Nathan, pasti akan malu banget.
"Ngeselin banget lo," dumel Nathan. Setelah itu dia mencari cara lain agar tugasnya selesai.
Kring kring
Jam istirahat pun tiba. Kali ini kantin terlihat sangat sepi, rata-rata semuanya menuju lapangan outdoor untuk melihat pertandingan basket antara sekolah mereka dengan sekolah Kasih Karunia School.
"Gue ga ke kantin, mau nonton cogan tanding, ahay," seru Claretta sambil berlari menuju lapangan, melupakan tiga temannya yang masih merapihkan beberapa buku di meja.
Nadine menggelengkan kepalanya, memutar bola matanya. "Kebiasaan banget tuh anak."
"Emang sekolah kita tanding sama sekolah mana?" tanya Kaila sambil fokus menaruh beberapa buku ke dalam tasnya agar mejanya terlihat lebih rapih.
"Kasih Karunia School kalo gak salah," jawab Nadine sambil bersandar pada tembok sambil menunggu dua temannya selesai.
Kegiatan Laura terhenti ketika mendengar nama sekolah itu. 'Kasih Karunia School '?
Kayak pernah denger nama sekolahnya. Tapi dari mana ya?
Karena ketiganya sudah selesai membereskan buku, mereka segera menyusul Claretta menuju lapangan.
"Ta, lo tuh kebiasaan banget sih," gerutu Nadine sambil mendorong pelan kepala milik Claretta. Rasanya sangat geregetan. Pengen punch.
Claretta hanya memperlihatkan deretan giginya, dengan tatapan yang masih fokus ke arah cowo-cowo yang sedang tanding.
Tatapan Laura terhenti pada sosok cowo yang sedang berdiri diujung sana. Adriel? - batinnya.
"Ra, sini duduk," suruh Nadine sambil menepuk kursi sebelahnya yang masih kosong.
Laura menuruti apa yang disuruh oleh temannya.
Tidak terasa, bel masuk pun berbunyi. Dengan rasa malas, mereka berempat pergi meninggalkan lapangan. Tapi, langkah mereka terhenti karena seseorang memanggil nama salah satu dari mereka.
"Laura."
Si pemilik nama pun menoleh ke asal suara itu. "Ya?"
"Oh, ini sekolah lo?" tanya Adriel sambil menyelipkan tangannya pada saku celana sekolahnya.
Laura mengangguk. "Iya."
"Ra," panggil seorang lain.
Tatapan mereka tertuju pada Nathan yang baru saja menghampiri mereka.
"Kenapa?" tanya Laura dingin.
"Hmm, lo lagi ngobrol sama dia ya?" Nathan menoleh ke arah Adriel sekilas, setelah itu kembali menatap kedua mata Laura.
Laura mengangguk. Ketiga teman Laura hanya diam menatapi mereka.
"Yauda, lanjut dulu aja." Nathan pergi meninggalkan mereka.
Entah perasaan apa, Laura merasa bersalah sudah bersikap terlalu cuek kepada Nathan barusan.
"Gue ke kelas dulu ya," ucap Claretta ditengah keheningan. Dia berjalan menuju kelasnya yang tidak terlalu jauh dari posisi mereka sekarang. Karena merasa canggung, Nadine dan Kaila mengikuti langkah Claretta.
"Ehem," deham Adriel membuat Laura menoleh ke arahnya.
"Gue masuk kelas dulu ya, udah bel." Baru saja Laura melangkahkan kaki kirinya, tangannya sudah dipegang oleh Adriel.
"Bolos demi gue, please," lirih Adriel dengan wajah yang memohon. Dengan terpaksa, Laura menganggukkan kepalanya.
Karena bingung ingin bolos kemana, pada akhirnya Laura mengajak Adriel ke roof top sekolahnya, yang menjadi tempat bolos favoritnya.
"Suka ga?" tanya Laura kepada Adriel yang sedang memandangi jalanan dibawah.
Adriel membalikkan tubuhnya ke arah Laura. "Ra, cowo tadi siapa?"
"Yang mana?"
"Tadi, yang manggil lo."
Laura berpikir sebentar. "Oh.. dia temen sekelas. Murid baru."
Tiba-tiba saja Laura mengerutkan alisnya. Kenapa Adriel jadi banyak bertanya seperti ini?
"E-enggak."
"Bagus deh. Jangan deket-deket sama dia," suruh Adriel dengan percaya diri. Dia masih setia menatap wajah Laura.
"Mau bilang kalo lo cemburu?" tebak Laura dengan tawanya. Tentu saja dia tau, semua cowo rata-rata sama. Apa gak ada materi lain buat ngegombal? Itu-itu mulu perasaan.
Adriel tertawa lepas. "Tau aja lo."
"By the way, gue ke kelas dulu ya. Ada ujian bahasa inggris, bye," pamit Laura setelah melihat arloji pada pergelangan tangannya. Pukul 11:23. 2 menit lagi pergantian jam.
"Bye, Ra. Semangat belajarnya."
Langkah kaki Laura terhenti ketika melihat Nathan sedang dihukum diluar kelas. Dengan santai, cowo itu tidak melaksanakan hukumannya. Seperti Laura. Mirip. Jarang sekali menjalankan hukuman dengan benar.
"Dihukum?" tanya Laura hati-hati. Dia takut ada guru didalam kelas yang mendengar.
Nathan menoleh ke arah Laura. Tahapannya sulit diartikan. "Abis dari mana?" Bukannya menjawab, Nathan malah melontarkan pertanyaan yang topiknya sangat jauh dari pertanyaan Laura.
"Roof top," jawab Laura dengan gugup. Entah kenapa tatapan Nathan menjadi dingin. Tidak seperti biasanya. Dan, anehnya. Laura malah tidak berani melawan ucapan Nathan.
"Bolos?"
Laura menganggukan kepalanya pelan. Dari mana Nathan tau? Kan dia dihukum disini.
"Sana masuk. Gak ada guru," suruh Nathan dengan nada yang masih dingin. Setelah itu, Nathan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Tanpa merespon ucapan Nathan, Laura pun berjalan masuk ke kelasnya.
"Woi, Ra. Lo kemana aja?" teriak Claretta seperti orang yang sedang panik.
Nadine pun sama hebohnya. "Ra.. abis dari mana sih lo?"
Tidak dengan Kaila. Dia super kalem. Hanya diam, menyimak pembicaraan mereka. Seperti biasa yang dilakukannya.
"Bolos ke roof top," jujur Laura sambil berjalan menuju kursinya.
"Ternyata Nathan gak bohong sama kita," ucap Nadine membuat kedua mata Laura melotot. Maksudnya gimana? 'Nathan gak bohong'?
"Maksudnya?"
"Lo liat kan Nathan dihukum diluar?" tanya Nadine dengan serius.
Laura menganggukkan kepalanya.
"Itu gara-gara dia ngikutin lo ke roof top. Terus dia balik ke sini pas ada bu Ani. Ya abis lah dia. Tapi, dia bohong ke bu Ani. Dia bilangnya dia abis bolos ke UKS," jelas Nadine dengan cepat.
"Terus? Gimana cara Nathan kasih tau ke kalian?" bingung Laura yang masih tidak percaya kalau Nathan mengikutinya. Lagian ngapain juga Nathan ngikutin dia sampai ke roof top.
Claretta menghela nafasnya. "Bu Ani kan dateng cuman bentar. Terus pas bu Ani pergi, si Nathan balik ke kelas buat cerita. Terus dia keluar lagi gara-gara takut ketauan bu Ani. Lagian lo sih ngapain juga bolos!"
Laura mengerutkan alisnya. "Kok gue sih? Siapa suruh dia ngikutin gue."
"Iya juga ya, ngapain dia ngikutin lo?" sambung Kaila yang sekarang ikut heran.
Kring kring
Nathan baru diperbolehkan masuk ke kelas setelah bel pulang sekolah berbunyi. Dipikiran Nathan sekarang adalah bayangan Laura dengan Adriel di roof top yang sedang bercanda. Kenapa Laura bisa selepas itu dengan cowo lain? Tapi dengan Nathan, selalu cuek dan galak. Ya, walaupun kadang baik.
"Tadi ngapain ngikutin gue?" tanya Laura dengan penuh penekanan.
Nathan mengabaikan pertanyaan dari Laura. Dia fokus merapihkan mejanya.
"Nath, gue nanya," lirih Laura membuat Nathan menoleh sekilas ke arahnya.
Karena kesal dicuekin oleh Nathan, akhirnya Laura berjalan mendekat ke arahnya. "Nathan!" teriak Laura membuat telinga Nathan terasa sakit.
"Apaan sih?" kesal Nathan sambil menatap tajam mata Laura.
"Lo kenapa ngikutin gue tadi?" tanya Laura dengan wajah kesalnya.
"Karena gue khawatir sama lo!"
Deg.
Jantung Laura berdetak lebih cepat dari biasanya. Selalu. Nathan selalu membuat Laura merasakan itu.
"Gak jelas lo! Gak ada hubungannya!"
"Gue yakin, cowo tadi bukan cowo baik-baik, Ra," jelas Nathan yang menatap kedua mata Laura dengan serius.
"Jangan nuduh orang sembarang! Lo aja belom tentu orang baik-baik."
"Terserah lo."
Nathan meraih tasnya, lalu berjalan meninggalkan Laura. Langkahnya sempat terhenti. Nathan memejamkan matanya sebentar. Apakah udah keterlaluan berbicara seperti itu? Wajar. Nathan gak boleh ngerasa bersalah. Dia pun melanjutkan langkahnya.
Team Nathan atau Adriel?
Komen dan like ya!
Tunggu episode selanjutnya💞