I'M Stuck In You

I'M Stuck In You
Teringat masa lalu


Laura tidak tertarik dengan pembicaraan mereka. Dia tetap fokus menyelesaikan sarapannya.


"Laura, kemarin les gimana? Martin dateng gak?" tanya Arief kepada Laura. Dia menaruh sendok dan garpunya menyilang. Kegiatan sarapannya sudah selesai.


Laura menganggukkan kepalanya. "Dateng, pa."


Enak ya jadi Laura, dikelilingi cowo ganteng terus. Mulai dari Nathan dan sekarang Martin. Sedangkan dirinya, dideketin cowo ganteng saja tidak sama sekali. Bahkan dilirik pun tidak. Semisalkan ada yang deketin, baginya dibawah rata-rata. Padahal kalau Olin bandingin dengan Laura, dirinya tidak kalah cantik.


"Nanti sore kamu les lagi ya?" Arief menyeruput air minumnya. Setelah itu melihat ke arah Laura.


"Iya, pa. Hmm.. nanti aku ke Jerman bareng Martin?" tanya Laura untuk memastikan.


"Iya. Nanti papa titip kamu sama keluarga mereka," jelas Arief dengan senyumnya. Dia berusaha meyakinkan Laura. Semuanya sudah direncanakan, tidak mungkin dibatalkan.


Laura mengangguk pelan. Setelah itu dia segera menghabiskan sarapannya. "Ma, pa, Olin, aku berangkat ya," pamit Laura sambil mengambil tasnya.


"Olin, kamu bareng Laura aja," suruh Arief membuat langkah Laura terhenti. Dia tidak bisa bilang 'tidak' atau 'tidak mau', memang sudah seharusnya mereka berangkat bersama.


Sejujurnya Olin sangat malas untuk satu mobil dengan cewe itu. Terlebih lagi hanya berdua. Tapi, sesuai dengan yang dia bilang ke papanya--pindah sekolah karena ingin bersama dengan Laura--Olin pun mengiyakannya.


"Oke, pa. Ma, pa, sekolah dulu ya. Bye," pamit Olin sok antusias. Dia merangkul Laura sambil berlari kecil membawa Laura keluar rumah.


Ketika sudah menghilang dari hadapan orang tuanya, Olin melepas rangkulan itu. Dia mengibas-ngibaskan tangannya, seakan-akan ada debu yang menempel di tangannya.


"Nanti turunin gue sebelum belokan sekolah!" ketus Olin dengan ekspresi yang berubah drastis. Dia tidak duduk di samping kursi pengemudi. Tetapi dia duduk dibelakang. Seakan-akan Laura adalah seorang supir.


Laura tidak meresponnya. Dia segera melajukan mobilnya menuju sekolah. Seperti yang Olin minta, Laura menghentikan Mini Cooper miliknya di persimpangan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolah. Setelah itu, Laura melajukan mobilnya dengan cukup cepat.


Olin merapihkan kemeja sekolah dan roknya. Dia berjalan cepat menuju sekolah. Malu kalau sampai ada yang lihat.


Brem. Suara motor itu membuat Olin menghentikan langkahnya.


"Lo jalan?" tanya Nathan sambil menaikkan kaca helmnya. Setaunya, rumah Olin cukup jauh dari sekolah. Tidak mungkin Olin jalan sendirian. Kan dia bisa berangkat sama Laura.


Olin mengatur aturan nafasnya yang kacau. Dia memejamkan matanya sebentar. "Duh.. gue.. cape.."


"Laura mana? Gak bareng dia?"


Olin memasang wajah sedih. Dia menundukkan kepalanya. "Tadi dia turunin gue di jalan, Nath. Mungkin dia malu punya saudara tiri kayak gue."


Tidak mungkin. Gak mungkin Laura seperti itu. Laura anak yang baik kok. Nathan menggelengkan kepalanya samar. "Gak mungkin Laura kayak gitu! Jaga omongan lo!"


"Lo gak percaya? Ngapain sih gue bohong," kata Olin yang masih merasa cape. Dia melihat ekspresi Nathan, sepertinya dengan seperti ini perlahan Nathan akan benci Laura. Tinggal dia pikirkan saja cara yang tepat untuk memisahkan mereka.


"Naik," suruh Nathan dengan nada yang dingin. Salahnya Nathan adalah seperti ini. Seharusnya dia jangan berbuat naik kepada Olin. Justru ini yang membuat Laura jadi salah paham nantinya.


Tidak butuh waktu lama, motor ninja Nathan berhenti di parkiran sekolahnya. Banyak pasang mata yang menatap keduanya. Dia tidak peduli sekarang. Dengan cepat, dia berjalan menuju kelas tanpa menghiraukan Olin yang dari tadi mengikutinya.


Langkahnya terhenti ketika melihat cewe itu sedang berbicara dengan cowo lain. Cowo yang sangat dia kenal. Kedua tangan Nathan terkepal keras di samping celananya. Rahangnya mengeras.


"Ra," panggil Nathan membuat pembicaraan mereka terhenti.


Laura langsung saja berjalan mendekat ke arah Nathan. Dia takut cowo itu salah paham. Kevin hanya menanyakan materi bahasa indonesia kelasnya. Hanya itu. Tidak lebih. Dan Laura juga hanya menjawab seadanya.


"Nath, baru sampe?" basa-basi Laura mencoba mengalihkan pandangan Nathan dari Kevin.


Nathan menarik tangan Laura sedikit kasar, membuat rasa sakit terasa di tangan Laura.


"Dia nanya apaan sama lo?!" tanya Nathan dengan nada dingin. Sorot matanya sangat tidak nyaman bagi Laura.


"Dia cuma nanya materi bahasa indo doang kok," jawab Laura seadanya. Dia memegang tangan kanannya yang masih terasa nyeri.


Nathan menoleh ke arah tangan Laura yang sedikit merah dan bercetak jarinya. "Maaf. Lagian tuh cowo ngapain nanyanya ke lu sih? Kan dia punya temen di kelasnya!" dumel Nathan sambil meraih dan mengusap-usap tangan Laura.


Senyum Laura sedikit mengembang. Segitu cemburunya dia? Seandainya dia bisa bilang, mungkin dari kemarin dia udah bilang kalau dia cemburu ngeliat cowonya sama cewe lain. Terlebih lagi sama kakak tirinya.


"Mana gue tau," jawab Laura sambil menatap wajah Nathan dengan lekat. Nathan adalah cowo yang berhasil membuat perasaan yang belum pernah dia rasakan menjadi dia rasakan. Rasa nyaman yang dia cari selama ini, dia temukan sekarang.


Olin berdecak sebal. Dia sangat bete saat ini. Baru saja dia berpikir akan berhasil membuat Nathan membenci pacarnya sendiri. Eh malah berakhir kayak gini. Oke, gue ga boleh nyerah. Nanti gue coba lagi.


*


Nathan yang dari tadi menggambar-gambar tidak jelas di bukunya, akhirnya menoleh dan berdeham. "Hmm?"


"Bolos yuk," ajak Ethan dengan senyum penuh arti. "Gue tunggu di taman belakang ya."


Ethan menaikkan tangannya ke atas. "Bu."


Bu Mevi menghentikan penjelasannya, dia melihat ke arah Ethan. "Kenapa?"


"Ijin ke toilet ya, bu. Saya mau boker," ucap Ethan sambil memegang perutnya agar guru itu percaya padanya.


Bu Mevi menganggukkan kepalanya memberi ijin. Setelah itu dia melanjutkan penjelasannya lagi.


Nathan sedang berpikir keras, alasan apa yang harus dia pakai? Terlebih lagi dia murid baru, masa iya bolos. 'Bu, saya ijin ke UKS. Kepala saya pusing', 'bu, saya ijin ke toilet, kebelet boker', 'bu, saya ijin mau cuci tangan'. Dia terus melatih kata-kata yang akan dia berikan kepada bu Mevi. Jujur saja, dia tidak terlalu jago dalam memilih alasan yang tepat. Dia selalu ketauan bolos di sekolah lamanya.


Akhirnya dengan rasa ragu, Nathan berdiri dan berjalan menghampiri bu Mevi yang sedang menulis sesuatu di papan. "Bu, saya ijin ya."


"Ijin apa?" tanya Bu Mevi yang baru saja menghentikan kegiatannya. Dia berdiri menghadap ke arah Nathan.


Seketika alasan yang sudah dia siapkan tadi, terlupakan. Dia lupa harus ijin apa. Mau tidak mau dia pakai alasan basic saja. "Ke toilet."


Bu Mevi menoleh ke arah tempat duduk Ethan yang masih belum balik dari kamar mandi. "Kamu mau bolos ya?! Itu temen kamu belum balik!"


Tuh, kan. Nathan selalu ketauan duluan sebelum aksi bolosnya terlaksanakan. Untung saja dia ingat dengan strategi yang di ajarkan oleh teman SMP-nya dulu.


"Ya gapapa sih, bu. Tapi kalo nanti saya ngompol, ibu yang bersihin ya?" Nathan coba meniru kata-kata temannya dulu. Semoga berhasil.


Dibelakang sana, Laura merhatikan cowo itu. Dia tau, pasti Nathan mau bolos dengan Ethan. Hanya saja Nathan tidak bisa memilih alasan yang tepat.


"Enak aja kamu! Gak sopan!" Suara Bu Mevi meninggi dari sebelumnya. Sorot matanya terlihat seram.


Nathan berpikir keras sekarang. Untung saja masih ada cara cadangan yang masih dia ingat. "Kalo ibu gak percaya, ibu ikut saya deh ke toilet. Tungguin di depan pintu. Gimana?"


Pekataan Nathan berhasil membuat beberapa murid tertawa karenanya. Terlebih lagi yang cowo-cowo. Alasannya boleh dijadikan contoh.


Bu Mevi memutar bola matanya malas. "Yauda, sana!"


"Yauda apa, bu? Ibu mau ikut?" tanya Nathan dengan tawa diakhir pertanyaannya. Memang seru jadi anak nakal.


"Cepetan sana ke toilet! Sebelum saya berubah pikiran."


Dengan cepat Nathan berlari menuju luar. Tidak menuju toilet, tapi menuju tempat yang sudah dijanjikan oleh Ethan. Taman belakang.


"Woi," panggil Nathan sambil menepuk pundak Ethan yang membelakanginga.


"Dikira lo nge-stuck di kelas," respon Ethan sambil tertawa kecil. Dia menepuk tanah yang ditumbuhi oleh rerumputan, menyuruh Nathan duduk disebelahnya.


Nathan menatap kosong ke arah depan. Lorong yang menuju ke lapangan basket.


Pertanyaan dari Ethan berhasil membuat keheningan mereka pecah. "Dulu lo punya mantan, anak sini ya?"


"Tau dari mana?" tanya Nathan dengan suara sedikit meninggi. Dia paling benci kalau membahas masa lalunya. Terlebih lagi kalau ada orang yang mengingatkan kisah manisnya mereka dulu.


Ethan dengan santai membaringkan tubuhnya diatas rumput-rumput, dan menutup kedua matanya dengan sebelah tangannya. "Gue kenal Jessie."


Kalau saja yang membahas ini bukan Ethan, mungkin Nathan sudah memakinya. Dia sangat benci tentang masa lalu dengan cewe itu. Cewe yang tidak pernah menghargai perasaannya.


"Gak usah bahas dia." Suara dingin Nathan membuat Ethan memiringkan kepalanya, dia melihat Nathan yang sedang menatap kosong ke arah depan.


"Kenapa putus?"


Lagi-lagi pertanyaan Ethan membuat emosi Nathan menaik. Mendengar namanya saja sudah membuatnya kesal setengah mati. Dan sekarang Ethan malah menanya-nanyakan tentang itu.


Kenapa Nathan benci mantannya ya?


Cari tau di part selanjutnya💢


Like dan komen ya!