I'M Stuck In You

I'M Stuck In You
Roof top


Pandangan Laura terus melihat jalanan dari kaca jendela mobilnya. Tidak ada niat sedikit pun untuk mengalih penglihatannya ke objek lain. Pikirannya kosong. Disaat keadaan kayak gini, biasanya dia selalu teringat dengan sosok ayahnya.


Laura tersenyum miris. Selucu itu kah hidupnya? Hidup yang dulunya ramai, ceria walaupun hanya ber3. Sekarang malah hampa. Padahal sekarang beralih menjadi ber4.


"Makasih, pak," ujar Laura sambil membuka pintu mobilnya yang lalu turun.


"Sama-sama, dek."


Hati Laura serasa sedang ditusuk-tusuk jarum. Pemandangan ini sangat tidak dia suka. Banyak sekali sosok ayah yang mengantar anaknya ke sekolah. Memeluk sebelum anaknya bergegas masuk ke sekolah. Momen hangat itu kembali memasuki pikiran Laura.


Lagi-lagi hanya senyum miris yang bisa Laura tunjukkan ke dunia. Sangat menyakitkan.


"Hai," sapa seorang cowo yang sudah berdiri disamping Laura. Entah dari kapan.


"Hmm, kenapa?"


"Gapapa. Nyapa aja," jawab Kevin yang masih mengikuti langkah cewe disebelahnya.


Laura menggelengkan kepalanya samar. "Gue duluan ke kelas ya."


"Tunggu," lirih Kevin sambil meraih tangan Laura. Dia mendapat tatapan heran dari Laura. Cewe itu melihat ke arah genggaman tangannya. "Sorry."


"Kenapa?" tanya Laura tidak berekspresi. Wajahnya sangat datar dan sulit diartikan.


"Gue diundang ke acara ultah temen gue-"


Belum selesai Kevin menjelaskan, Laura langsung memotongnya. "Urusannya sama gue?" Laura mengerutkan alisnya. Kalau temen si Kevin ulang tahun, terus dia harus gimana?


"Tunggu, belom kelar ngomong. Gue mau ajak lo ikut ke pesta dia," ucap Kevin dengan hati-hati. "Lo mau kan?"


"Um-"


"Enggak. Pacar gue gak boleh pergi sama cowo kayak lo," teriak Nathan dari ujung sana. Suaranya cukup kencang, membuat beberapa murid menoleh ke arahnya.


Laura tersenyum tipis. Entah kenapa hatinya menjadi senang. Better then before.


"Ayuk, Ra. Ke kelas," ajak Nathan sambil menggandeng tangan cewenya. Laura hanya diam mengikuti pacarnya.


"Hmm," deham Laura ditengah jalan mereka. Dari tadi Nathan diam tidak bersuara.


Nathan menoleh sekilas, lalu kembali menatap lurus ke arah kelas mereka yang sudah semakin dekat.


"Cemburu ya?" tanya Laura hati-hati. Dia tidak mau dikira ge-er atau apa pun itu.


"Iya!" jawab cuek Nathan dengan wajah yang masih sama dinginnya.


Laura menghentikan langkahnya, membuat cowo itu juga berhenti. "Liat mata gue!"


Mata Nathan beralih menatap mata coklat Laura. Rasanya sangat canggung. "Kenapa?"


"Gak usah cemburu. Gue gak ada apa-apa sama dia."


Perlakukan dari Laura barusan membuat dia terpaku di tempat. Yang dihadapan dia ini benaran Laura kan? Bukan sosok lain kan?


Yang harusnya cemburu itu gue, Nath. Lirih Laura dalam hati. Tapi dia tidak ingin memperlihatkan sisi cemburunya. Berusaha sebisa mungkin terlihat biasa saja.


"Ah.. lo gagal lagi, Ra. Gue gak bisa cuekin lo," dumel Nathan sambil mencubit pipi kiri Laura. Dia kembali melihatkan senyum lebar yang biasa dia tunjukkan.


Laura tersenyum, tidak terlalu lebar. Walaupun ini senyum tidak menggambarkan perasaannya sekarang, tapi dia tulus memberikan senyum itu untuk Nathan.


"Uwuu.." teriak Ethan dengan kepala dimunculkan di tengah mereka. "Abang Ethan baper nih. Mau juga."


Tangan Nathan mengambil banyak helai rambut Ethan dan menariknya dengan kasar. "Nih buat lo!"


"Aduh.. duh.. sakit," rintih Ethan sambil mendorong tangan Nathan agar melepas dari rambutnya. "Pomade gua.. elahh."


Jason terkekeh dari seberang sana. Siapa suruh Ethan menganggunya. Sudah benar menunggu saja di kelas, malah disamperin.


Baru sadar hilangnya Olin, Laura mengerutkan alisnya. Dia melihat sekitar, mungkin Olin sedang berdiri disana. Tapi tidak ada. Kemana dia?


"Olin kemana?" tanya Laura kepada Nathan. Matanya masih mencari kesana-sini.


"Oh, tadi gue tinggalin dia di parkiran," jawab santai Nathan tanpa berdosa. "Lagi bete kali tuh orang."


Laura memukul pelan lengan milik Nathan. "Parah! Kasihan dia."


"Bisa kasihan juga lo?" ledek Ethan dengan lidah sengaja dimeletkan.


"Au ah!" Laura langsung saja berjalan meninggikan dua cowo itu. Benar juga yang dibilang Ethan. 'Bisa kasihan juga lo?' Aneh sih kalo dia bisa kasihan ke Olin, orang yang gak pernah mementingkan perasaan orang lain.


*


Pelajaran bu Ani membuat otak Laura berdenyut cepat. Uhh! Mumet! Dia memutuskan untuk bolos ke roof top.


"Bu, saya ijin ke toilet," kata Laura. Beberapa menit lalu, dia berjalan menghampiri bu Ani yang sedang menjelaskan sebuah materi.


Bu Ani menganggukkan kepalanya, tanpa menghentikan penjelasannya.


"Wahh gilaa.. otak gua," gumam Laura setelah berhasil meninggalkan kelas. Dia memegang kepalanya yang masih terasa sakit.


Sepoian angin di roof top memang paling terbaik sepanjang masa. Selalu membuat dirinya lebih tenang disana. Dia memejamkan matanya, dengan tubuh menghadap ke dinding pembatas ujung bangunan itu.


"Bener dugaan gue."


"Ngapain?" tanya Laura dengan bingung. Seharusnya bu Ani tidak membiarkan murid kelasnya keluar disaat ada murid lain yang masih diluar kelas.


Nathan melangkah lebih dekat, menghampiri Laura. "Bolos juga lah. Gak asik kalo lo bolos sendirian kan?"


"Mending lo masuk kelas, ikutin materi aja. Mingdep udah ujian," suruh Laura dengan wajah seriusnya.


Nathan membantah, dia semakin mendekat. "Pacar gue aja bolos, masa gue gak bolos?" Dia memberikan senyum menggoda. "Ciee mulai perhatian."


Laura menatapnya tajam. "Idih, kepedean!"


Nathan menganggukkan kepalanya. Seakan-akan dia setuju dengan pembicaraan itu.


"Sorry ya, Ra," lirih Nathan tiba-tiba. Dia memiringkan tubuhnya ke arah Laura, agar pembicaraan ini bisa lebih serius.


Laura mengerutkan alisnya. Apa yang harus dimaafkan? Cowo itu tidak ada salah. "Buat apa? Kalo gak ada salah gak usah minta maaf."


"Gue ada salah, Ra." Nathan menatap lekat kedua mata Laura. Berharap cewe itu akan membalas keseriusannya.


"Salah apa?"


"Sorry, gue selalu biarin lo ngalah sama Olin. Kayak tadi pagi aja-"


"Gak usah bahas," suruh Laura yang setelah itu membalikkan tubuhnya membelakangi Nathan. Baru saja dia melupakan semua itu, dengan gampangnya Nathan mengingatkannya kembali.


Nathan memegang kedua bahu Laura, membalikkan tubuh cewe itu. "Ra, lo marah? Lo cemburu?" Entah kenapa Nathan malah senang. "Itu tandanya lo mulai sayang sama gue."


"Jangan asal nebak. Gue gak pernah ngerasain yang namanya sayang sama cowo selain bokap gue," jawab Laura dengan cepat. Tatapan matanya semakin tajam. Dia sengaja bicara seperti ini. Setidaknya ini membuat Nathan sedikit membencinya. Karena dia sadar, setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Dan dia tidak ingin Nathan terlalu menyayanginya yang akan sulit melepasnya nanti.


Hati Nathan serasa ditabrak mobil truk barusan. Sakit. "Gak pernah?" tanya Nathan memastikan.


Laura mengangguk dengan penuh keyakinan. "Gue gatau gimana rasanya sayang atau cinta sama seseorang. Dan mungkin gak akan pernah."


Nathan meraih kedua tangan cewenya. "Gue yakin, suatu saat nanti lo akan buka perasaan lo buat gue."


Rasanya Laura ingin mengeluarkan air matanya. Tapi dia tahan. Tidak mau terlihat lemah. "Let see."


*


Kring kring


Murid-murid berhamburan keluar kelas untuk meninggalkan sekolah. Ada yang langsung pulang, ada juga yang ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas kelompok.


Ponsel Laura bergetar lama yang menandakan ada yang menelponnya. Dari nomor yang tidak dia kenal.


"Ini siapa ya?" tanya Laura hati-hati. Tangan kanannya masih sibuk memberesi buku-bukunya.


Mendengar suara Laura, membuat Nathan dan teman-teman yang tersisa di kelasnya, menoleh.


"Siapa, Ra? Kalo gak kenal jangan diangkat," ucap Kaila dengan nada khawatir. Takutnya dia penjahat yang ingin berniat jahat ke Laura.


"Gue Martin. Nyokap lo nyuruh gue jemput lo, terus anter lo ke gramed," jelas Martin dari seberang sana.


"Oh, iya." Penglihatannya terarah ke Nathan. Dia bakal marah gak ya? Cemburu gitu?


"Gue udah di gerbang depan sekolah lo."


"Hmm. Iya, tunggu bentar." Setelah itu Laura memutuskan teleponnya sepihak. Dia mempercepat gerakkan tangannya.


Claretta bingung dengan Laura yang terlihat buru-buru. "Kenapa lo? Tadi siapa?"


"Temen, gue disuruh nyokap beli kamus buat les," jawab Laura sambil meraih tasnya dan menggenggam ponselnya. Dia sudah siap menghampiri Martin.


"Sama siapa?" tanya Nathan dengan suara dingin. Jangan bilang pacarnya akan pergi sama cowo yang dia lihat di rumah Laura sore itu?


"Temen les, gue duluan ya semuanya," pamit Laura yang langsung saja bergegas meninggalkan mereka.


Nathan menarik tangan Laura dengan cepat, sebelum cewe itu benar-benar melangkah pergi. "Kenapa gak sama gue aja? Gue bisa anterin lo kok."


"Disuruh mama gitu. Kalo enggak juga gue mending pergi sendiri," jawab Laura dengan jujur. Dia kembali melihat beberapa notifikasi dari Martin.


"Tapi kan-"


"Tenang aja. Nanti gue kabarin lo kok. Duluan ya," pamit Laura sekali lagi. Yang ini sih lebih dituju ke Nathan seorang. Dia melambaikan tangannya pelan.


*


"Sorry, lama ya?" tanya Laura yang baru saja duduk di kursi mobil Martin.


Martin tersenyum bentar melihat Laura terburu-buru seperti ini. Seakan-akan Laura tidak ingin dirinya menunggu lama.


"Iya, lama banget," jawab Martin dengan wajah sengaja dibetekan.


"Duh.. sorry."


Hari ini Nathan cemburu 2 kali gais, kira-kira dia bakal marah gak ya setelah satu ini?


Cari tau di episode selanjutnya💘


Like dan komen ya.