
Rasanya sangat berat untuk melangkah masuk ke rumahnya. Laura takut dengan apa yang dia dengar di kantor tadi. Apa mungkin formulir di tangannya ini untuk kakaknya?
"Ma, ini formulirnya," sapa Laura sambil memberikan map hijau di tangannya. Ingin rasanya Laura bertanya kepada Alma, siapa kah yang ingin pindah. Tapi, dia mengurungkan niatnya karena sedang malas untuk membahas Olin.
Tidak butuh waktu lama, Olin berlari kecil menghampiri mereka. "Mama.. formulirnya udah?"
Jantung Laura serasa berhenti seketika. Jadi benar formulir itu untuknya? Lantas, Laura harus mempersiapkan mentalnya lebih lagi.
"Udah. Ayuk, kita isi sekarang. Mulai senin besok kamu udah bisa sekolah bareng Laura," ujar Alma sambil berjalan mengambil pulpen yang terletak di meja televisi.
Laura masih terdiam di tempat. Belum bisa menerima kenyataan baru lagi. Masalah baru yang harus dia hadapi.
Ketika Alma balik duduk di sofa dengan tangan memegang pulpen, Olin menaruh tasnya ke sofa dan menghampiri Laura.
"Bentar lagi kita satu sekolah loh.. kita jadi sering bareng deh, Ra. Seneng ga?" tanya Olin berpura-pura antusias. Tangannya memukul-mukul pelan lengan kiri-kanan milik Laura.
"Iya, seneng," jawab gugup Laura tanpa berekspresi. Cobaan apa lagi yang harus dia dapat? Semoga tujuan Olin bukan Nathan.
*
Setelah mengantar Laura, Nathan bergegas menuju sebuah cafe. Dia berjanji dengan seseorang disana. Seseorang yang sudah lama tidak dia jumpai setelah balik ke Malang 2 tahun lalu.
"Nathan," panggil Jessie sambil melambaikan tangannya ke arah Nathan. Cewe itu segera menghampiri meja Nathan, dan duduk dihadapannya.
"Udah nunggu lama ya?" tanya Jessie sedikit canggung. Ini percakapan yang sangat random. Setelah lamanya tidak bertemu, akhirnya sekarang lah waktunya mereka bertemu lagi. Senyum Jessie terus mengembang.
Nathan menyeruput minuman yang dia pesan, lalu mengalihkan pandangan ke arah lain. "Mau ngomong apa?"
"Maaf buat kejadian waktu itu. Gue nyesel udah sia-siain lo. Harusnya gue gak dengerin omongan Kevin." Raut wajah Jessie mendadak serius. Ada rasa bersalah dalam hatinya. Sebenarnya dia sudah ingin meminta maaf sebelum Nathan pergi ke Malang, tapi dia terlambat.
Kalau saja waktu itu Jessie tidak percaya dengan Kevin, mungkin tidak terjadi salah paham sekarang. Kevin memang sengaja menjadi orang ketiga diantara mereka. Dari awal Kevin ketemu dengan Nathan ketika SMP, sudah ada rasa tidak suka. Sampai akhirnya Kevin tau kalau Nathan pacaran dengan Jessie, cewe yang dia suka juga saat itu.
"Jes, itu bukan salah lo. Gue udah maafin lo," jawab Nathan santai. Nathan tipe orang yang tidak mau memperbesar sebuah masalah. Baginya, kalau orang dia sayang memilih untuk pergi buat kebahagiaannya, buat apa ditunda? Nathan tidak mau menjadi orang yang egois, dengan cara mengharuskan orang yang dia sayang terus bersamanya, padahal orang itu tidak menyayanginya seperti yang dia lakukan.
Jessie menundukkan kepalanya. Menyesal dengan keputusan yang dia ambil. "Gue nyesel, Nath. Harusnya gue bisa pertahanin yang gue miliki waktu itu."
"Gak usah nyesel, itu udah jalannya buat lo. Belajar dari kesalahan lo," ucap Nathan dengan wajah datarnya. Sejujurnya masih ada rasa kecewa dan sedih dalam hati Nathan. Dulu dia sangat menyayangi Jessie. Entah sekarang gimana. Sudah ada Laura.
*
Malam ini mendadak banyak sekali cowo yang mengirim pesan menuju ponsel Laura. Mulai spam chat teman-temannya, Nathan, Kevin, Adriel, dan beberapa cowo yang mengajaknya kenalan.
Anehnya, Adriel juga ikut mengirim pesan malam ini. Padahal setelah pergi waktu itu, Adriel menghilang. Entah kemana.
Mygirls🤙🏻
Nadine : masa kata nyokap bkl ad murid baru..
Claretta : serius lo? Sapa tuchh?
Kaila : bnyk amt murid baruny. Kmrn baru aj Nathan.
Claretta : dia cewe/cowo? Ipa/Ips? @Nadine.
Nadine : ktny cewe, Ips. Bs jd kls kt lg.
Tangan Laura melemas. Kenapa harus Olin yang pindah? Apa lagi kalau sampai sekelas dengannya. Bisa-bisa Laura depresi.
Mygirls🤙🏻
Laura : kykny kakak gw.
Laura mengecek room chat dengan Nathan. Mencoba mencari alasan untuk membenci cowo itu, agar rasa takutnya menghilang.
Nathan gans.
Ara.
Lg apa?
Laura.
Nafas!
Tidak butuh waktu lama Nathan langsung read pesan dari Laura. Dan detik kemudian *Nathan gans is typing*
Nathan gans.
Gw tau klo itu mh. Gw jg nafas, Ra.
Lg sibuk g?
Laura.
G, np?
Untung saja Nathan sabar menghadapi Laura yang sangat jutek dengannya. Semakin Laura jutek dan menghindar, Nathan malah semakin penasaran dengan cewe itu.
Nathan gans.
Call mw?
Laura membaca ulang pesan Nathan berkali-kali. Dia mengucek matanya, takut salah membaca. Belum sempat membalas, layar ponsel Laura berubah. Ada panggilan yang masuk.
"Halo?" Suara berat Nathan yang memulai pembicaraan setiap kali dia menelpon, berhasil membuat Laura terdiam.
"Ra?"
Laura mengedipkan matanya tiga kali dengan cepat. "Hah? Iya?"
"Mau ajak lo keluar-"
"Gue ga bisa. Kapan-kapan aja ya. Lagi males keluar," potong Laura dengan cepat. Sebenarnya alasan Laura adalah, dia tidak mau sampai Nathan bertemu dengan Olin lagi. Mungkin bisa dibilang 'cemburu'.
"Yauda, gue ke rumah lo aja deh. Kita ngobrol-"
"GAK! Kalo lo ke rumah gue, gak bakal ada namanya kepastian!" ucap asal Laura membuat Nathan terkekeh diseberang sana.
Laura tersenyum samar. Dia melihat langit lewat kaca balkonnya. Terbayang ketika Nathan mengakui bahwa dia sayang dengannya, diatas rumah kayu waktu itu.
"Ra? Lagi ngapain?"
"Tadi kan gue udah jawab, lagi nafas!"
"Semua orang juga nafas, Ara.."
....
Selama hampir 1 jam mereka mengobrol lewat telepon. Hanya membahas hal basic ketika sedang PDKT.
"Gue mau tidur, bye!" Tanpa menunggu respon dari Nathan, Laura langsung matikan telepon itu.
Senyum Laura mengembang seketika. Dia membaringkan tubuhnya ke atas kasur, menutup matanya dengan kedua tangannya.
Pesan dari Kevin, Adriel, dan beberapa cowo lainnya tidak semenarik pesan dari Nathan. Kita liat ya chat mereka.
Kevin.
Ra.
Laura.
Laura.
Ya?
Kevin.
Gjd deh, hehe.
Gini nih, tipe cowo yang mau deketin cewe tapi gak modal topik! Oke, lanjut ke Adriel.
Adriel.
Hai.
Sorry, kmrn² sibuk bgt.
Baru smpt cht lo lg.
Laura.
Oh, iya gpp.
Kalo yang ini tipe cowo yang chat kalau sedang kesepian atau bosan saja! Dasar boy! Oke, abis ini chat dari cowo-cowo baru yang tidak dia kenal.
082154******
Hai, Laura.
Kenalan blh?
081492*****
Ktmuan mau?
084567******
Tinggal dmn?
Kpn² jln, mw?
Dan masih banyak lagi model chat seperti ini. Yang ini adalah team gercep! Biasanya yang seperti ini tidak direspon oleh Laura. Mungkin kadang beberapa cowo random yang beruntung bisa dibalas olehnya.
Karena waktu sudah malam, Laura memejamkan matanya untuk tidur. Tidak ingin telat besoknya.
*
Pagi ini Laura terpaksa ikut sarapan bersama mereka, karena Alma menyuruhnya. Dan topik yang mereka bicarakan membuat Laura semakin malas-malasan berada disana.
"Laura, nanti tolong balikin formulirnya ya, nak. Biar Olin bisa cepet diterima di sekolah kamu," kata Alma sambil memberikan map hijau di tangannya kepada Laura.
Laura mengangguk pelan. "Iya, ma." Pandangannya terarah kepada Olin yang duduk dihadapannya.
Olin memberikan senyum yang sulit diartikan. Yang jelas itu adalah rasa senangnya bisa sekolah di tempat Laura.
Setelah menghabiskan sarapannya, Laura segera pamit dan bergegas menuju sekolahnya.
Selama diperjalanan, Laura terus membayangkan apa yang akan Olin lakukan ketika satu sekolah dengannya. Bukan hanya Nathan yang menjadi permasalahan disana, tapi ketiga temannya juga. Laura tau seberapa licik Olin ketika menginginkan sesuatu.
Mungkin pandangan orang-orang terhadap Olin akan bagus. Karena wajah Olin tidak terlihat seperti orang yang jahat. Ketakutan lainnya adalah, ketika suatu saat nanti semua berpihak kepada Olin dan tidak percaya dengan Laura. Semoga itu tidak akan terjadi.
Mini Cooper Laura sudah terparkir di area sekolah, dia segera turun dan langsung saja menuju kantor untuk menyerahkan formulir itu.
Setelah keluar dari kantor guru, tangan seseorang menggenggam pergelangan tangannya, membuat Laura tersentak kaget.
"Kevin?"
"Nanti pulang sekolah jalan yuk, kan lo udah janji waktu itu," tagih Kevin kepada janji Laura waktu itu.
"Emm.. gimana ya.. liat nanti deh ya."
Nathan mengepal telapak tangannya. Dia mengeraskan rahangnya. Dulu Jessie, sekarang Laura? Mau Kevin sebenarnya apa?
Olin bentar lagi masuk ke sekolah mereka nih gais, dan Kevin juga mulai beraksi mendekati Laura.
Kira-kira bakal gimana ya?
Komen dan like!
Tunggu episode selanjutnya💘