
Tuh kan, bener. Olin senyum-senyum karena pesan dari seseorang. Dia ijin ke mamanya untuk pulang bersama Nathan. Ijin didepan Laura, yang jelas-jelas pacar dari cowo itu. Seperti tidak punya rasa malu.
Alma mengerutkan alisnya. Setaunya Laura itu adalah pacarnya Nathan. Apa dia salah kira selama ini?
"Aku duluan ya ma, Ra," pamit Olin dengan semangat. Dia menekankan panggilan nama Laura sambil melirik penuh kemenangan.
Laura berusaha tidak menghiraukan. Dia semakin yakin dengan keputusannya untuk move on. Seharusnya kalau Nathan masih mikirin perasaan Laura, cukup nolak pendekatan Olin saja. Tidak perlu lain-lain.
Pikiran dan hati Laura sedang tidak bisa dia ajak kerja sama. Selalu ada Nathan disana. Kenapa Nathan jadi berubah? Kenapa sekarang dia yang menjauh? Seharusnya gue yang marah sama lo. Jelas-jelas lo pelukan sama dia didepan umum.
"Laura?" panggil Alma pelan-pelan sambil menyentuh bahu anaknya. Dia melihat perubahan raut wajah Laura.
Laura tersadar dari lamunannya. "Iya, ma? Hmm.. kita jalan ke depan aja gimana? Mungkin Martin udah sampe." Alih Laura yang sudah menebak kalau Alma curiga dengannya.
"Kamu baik-baik aja?" tanya Alma setelah mereka berhenti didepan mobil Alma. Supir sudah membukakan pintu untuknya.
"Baik-baik aja kok, ma. Emang Laura kenapa?" tanya balik Laura sambil tersenyum kaku. Dia menyuruh mamanya untuk cepat-cepat masuk, karena dia ingin menghampiri Martin.
Perlahan mobil mamanya menghilang dari pandangannya. Dia bernafas lega. Senyumnya memudar. Kakinya mulai melangkah ke arah mobil Martin.
Tatapan mata dan langkahnya berhenti bersamaan. Saat dia melihat Nathan sedang menaiki motornya, dan disusul oleh Olin. Tubuh Laura terasa kaku. Sulit untuk digerakkan. Nathan sama sekali tidak menyapanya.
Udah gak ada yang perlu lo harapin, Ra! gerutunya dalam hati.
Laura melanjutkan langkahnya hingga kini dia masuk ke mobil Martin. Dia sadar kalau Nathan melihatnya sampai sekarang. Tapi kenapa cowo itu tidak menghalangnya? Seharusnya dia marah karena tidak suka melihat Laura dengan Martin. Apa Nathan sudah tidak peduli?
Martin mengikuti arah mata Laura yang tidak beralih dari tadi. "Oh.. pacar lo balik sama kakak lo?" tanyanya dengan tawa kecil.
"Apaan sih. Cepetan, jalan," suruh Laura yang kini sudah mengalihkan pandangannya. Dia pura-pura tidak peduli dengan sosok Nathan dan Olin didepannya.
Mobil Martin kini melaju keluar dari halaman sekolah Laura. Dengan kecepatan normal, mereka tiba ke sebuah gedung yang akan menjadi tempat sehari-harinya les bahasa.
Sebelum turun, Martin terkekeh pelan. "Bener kan yang gue bilang? Cowo kayak dia tuh gak bakal tahan lama sama satu cewe. Keliatan kali, Ra."
Laura mencerna kembali kalimat yang dilontarkan oleh Martin. Bisa diakui kalau Martin benar saat ini. Nathan tidak bertahan dengan satu cewe saja. Buktinya, cowo itu cepat sekali berpaling dari Laura.
Proses pembelajaran dimulai. Dengan usaha penuh, Laura membuang jauh-jauh Nathan dari pikirannya. Beberapa kali dia bisa melakukan itu, tapi selebihnya Nathan kembali. Dia tidak bisa seperti ini terus.
*
Ada rasa tidak rela di hati Nathan. Setelah melihat Laura yang belakangan ini jadi sering di jemput oleh Martin, membuat dirinya semakin takut. Takut kehilangan cewe itu. Ditambah Kevin yang sering mengirim pesan aneh-aneh. Teman lamanya itu terus berusaha menjauhkan keduanya. Ketika mereka sudah jauh, Kevin menghilang. Karena tugas dia hanya 1, menjauhkan keduanya.
Jari jemari Nathan memetik senar gitarnya. Alunan musik sudah memenuhi ruangan kamarnya. Matanya terpejam, membayangkan sosok Laura yang sempat bersikap hangat dengannya.
Baginya, sebuah pilihan itu sangat sulit. Menjauh atau tetap memperjuangkan contohnya. Keduanya memiliki resiko yang cukup besar. Kalau menjauh, siap atau tidak siap, hatinya akan terluka. Kemungkinan besar, itu akan membuat dirinya kembali seperti setelah putus dengan Jessie. Tetap memperjuangkan mungkin bisa. Tapi, memperjuangkan sendirian adalah hal yang sangat sulit. Semuanya akan sia-sia kalau salah satunya tidak ingin ikut berjuang. Lama-kelamaan juga pasti akan lelah kalau berjuang sendirian.
*
Laura tidak banyak bicara kepada Martin. Hanya diam yang bisa dia lakukan. Mata lemahnya melihat jalanan yang macet. Hari ini dia hanya makan sedikit ketika istirahat sekolah. Perutnya terasa perih. Perlahan tangannya meremas kemeja sekolah bagian perutnya.
"Kenapa?" tanya Martin datar. Sama sekali tidak khawatir. Beda dengan Nathan.
"Boleh makan bentar gak? Gue laper," minta Laura. Tidak peduli dengan Martin yang akan kesal dengannya. Yang penting, perutnya terisi sekarang.
Bukannya menjawab, Martin malah terkekeh. "Mangkanya, gak udah sok-sok diet!"
"Dih, siapa juga yang diet?!" balas Laura tidak suka. Rasanya ingin sekali pukul cowo itu. Moodnya sudah tidak bagus kini semakin tidak bagus.
Martin langsung saja memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Dia membawa Laura ke tempat makan biasanya. Pecel lele kesukaannya. Martin ingin tau, Laura akan sama dengan teman-teman cewe lainnya atau tidak.
"Kita makan ini aja," ucap Martin yang lalu duduk di sebuah kursi. Dia mengangkat tangannya untuk memesan makanan.
Laura menurut, dia duduk dihadapan Martin. Baginya tidak masalah untuk makan disini. Walaupun memang tempatnya lebih kotor dari tempat biasa dia makan. "Saya mau lele, nasi uduk, es teh manis."
"Saya kayak biasanya aja mas." Makanan Martin tidak pernah berubah. Dia selalu memesan lele, nasi uduk, beserta kulit goreng kesukaannya. Dan satu lagi, kol goreng. Makanan sederhana yang menjadi favoritnya.
Sebelum mas-masnya pergi, Martin melirik ke arah Laura yang sedang sibuk mengusap-usap kakinya. "Mau kulit goreng atau yang lain lagi gak?" tawarnya.
"Kulit goreng satu aja," sahutnya sambil menoleh ke bawah. Dia mulai tidak nyaman dengan kehadiran seekor kucing.
Reflek Laura berdiri dan menghampiri Martin. "Gue takut kucing. Tolong usirin," suruhnya dengan memohon.
Martin tidak percaya. Kucing sangat lucu baginya. Kenapa Laura takut? "Lo takut sama kucing?" tanyanya dengan heran.
"Serius, tolong usirin!"
Setelah kucingnya pergi, Laura kembali duduk dan sesekali memantau keadaan sekitar. Tidak butuh waktu lama, makanan mereka pun sampai.
Laura tidak asing dengan ini. Dia mencelupkan tangannya ke air yang sudah disediakan. Sebelumnya, Laura juga sering makan seperti ini. Cuma memang belakangan ini lagi jarang.
"Lo gak jijik makan disini?" tanya Martin disela-sela kegiatan makannya. Tentu saja dia heran. Bahkan ini diluar ekspektasinya. Biasanya, teman-teman cewenya selalu menolak untuk makan disini. Mereka meminta Martin untuk makan di restoran.
Ini adalah pertanyaan yang aneh bagi Laura. Dia menggelengkan kepalanya pelan. "Kenapa harus jijik?"
"Ya, enggak. Biasanya cewe kayak lo tuh pasti gamau makan disini," jujur Martin sambil melahap kulit goreng dari tusukannya.
Laura berpikir sejenak. Memang benar sih yang dibilang Martin. Gak semua cewe mau dibawa ke sini. Apa lagi model sepertinya, yang memang tidak akan terbayang kalau makan seperti sekarang.
"Gue terlihat pemilih?" tanya Laura tiba-tiba.
Martin mengangkat kedua bahunya, lalu detik berikutnya dia turunkan kembali. "Bukan gitu. Cuman kan cewe sekarang kebanyakan maunya makan di resto mahal."
"Gue enggak tuh," pede Laura sambil mengangkat dagunya.
Tangan martin tergerak ke arah wajah Laura. Dia mendorong pelan dagu cewe itu. "Makan dulu yang bener! Cabenya kemana-mana tuh!"
Buru-buru Laura menarik gulungan tissu. Dia mengelap mulutnya. Benar, ada cabe disekitar mulutnya.
Laura menatap Martin sinis. "Gak usah ketawa lo!"
"Siapa juga yang ketawa?!" Martin membalas tatapan sinis Laura. Dia sama sekali tidak tertawa.
Setelah menghabiskan makanan yang mereka pesan. Keduanya langsung bergegas pulang. Sepanjang perjalanan, tidak ada pembicaraan.
"Makasih," ucap Laura sambil menutup pintu mobil Martin. Dia berjalan masuk ke rumahnya.
Matanya membulat melihat sosok Nathan sedang duduk di ruangan tamu rumahnya. Dia mau ketemu gue?
"Nath," panggil Olin dengan berbagai buku ditangannya.
Duh! Mereka itu mau belajar bareng, ngapain gue kepedean gini sih!
Laura menoleh ke arloji di pergelangan tangannya. Pukul 18:43. Mereka baru mulai belajar?
"Hmm?" Nathan berdeham tanpa mengalihkan pandangannya dari Laura.
Buru-buru Laura berjalan menuju kamarnya, tanpa menoleh kembali ke arah Nathan yang mungkin masih melihatnya. Dia memukul kepalanya kasar ketika sudah menutup pintu kamarnya.
"**** banget sih lo, Ra!" dumelnya.
Makasih buat yang udah bacaš„°
Jangan lupa like dan komen.