I'M Stuck In You

I'M Stuck In You
Classmeeting


Mata Laura terasa sangat perih. Kantong matanya membesar karena hampir semalaman dia menangis. Untuk pertama kalinya dia selemah ini karena cowo.


Classmeeting hari pertama, Laura tidak hadir. Dia bilang ke orang tuanya kalau badannya sedang tidak enak. Alhasil dia tidak sekolah hari ini.


Dert dert dert


Banyak pesan yang masuk ke ponsel Laura. Tapi dia mengabaikannya untuk beberapa saat. Sampai tiba-tiba Kaila menelponnya.


"Ra? Lo baik-baik aja?" tanya Kaila dengan khawatir. Disusul juga oleh kedua teman lainnya. "Lo kenapa gak cerita?" sambung Claretta dari seberang sana. Nadine pun ikut membuka suara. "Nanti kita ke rumah lo ya."


"Gue gapapa. Iya, kesini aja, butuh hiburan." Laura tersenyum miris. Dia menoleh ke arah kaca, melihat wajah sembabnya.


"Oke, semangat dong, jangan sedih!" teriak Nadine.


"Makasih."


"Kenapa gak sekolah, Ra?" tanya Kaila cukup kencang. Terdengar dari sambungan telepon, kalau posisi ketiga temannya sangat berisik.


Laura sedikit menjauhkan ponselnya. "Pusing kepala gue."


"GWS," kata Kaila. Diikuti juga oleh kedua teman lainnya.


"Thanks. Kalian lanjut dulu aja sana."


"Oke. Bye, Ra."


Laura mematikan sambungan teleponnya. Matanya kembali sendu, melihat ke arah balkon kamarnya.


*


*kejadian di sekolah hari ini*


Ketika ketiganya berjalan melewati koridor kelas 12, tidak sengaja mereka melihat Nathan dengan wajah yang berbeda dari biasanya. Apa cowo itu sedang ada masalah? pikir mereka kompak.


"Woi, mari," teriak Jason kepada ketiganya.


Mereka saling menoleh satu sama lain. "Kita?" tanya Kaila sambil menunjuk ke arah dirinya.


"Alasan Laura putusin Nathan apa?" tanya Jason yang terbawa emosi. Dia tidak terima kalau temannya dipermainkan seperti cowo-cowo lamanya si Laura. "Temen lo anggap Nathan sama kayak mantan-mantannya?!"


"Udah, gak usah emosi. Biarin aja. Gue udah gak mau ambil pusing," reda Nathan sambil menepuk bahu Jason. "Gue cabut dulu. Lagi pengen sendiri. Ijinin apa kek ke guru-guru."


Mereka melihat Nathan yang menjauh. Cowo itu benar-benar tidak bersemangat. Ketiganya saling menatap satu sama lain.


"Laura gak cerita apa-apa, serius," ucap Nadine mewakili ketiganya. Dia mengangkat tangan ke udara berbentuk angka 2, yang artinya 'peace'.


Ethan yang biasanya tidak pernah cuek pun, kini ikut menatap ketiganya tajam. "Bilang ke temen lo, dia udah sia-siain orang yang bener-bener sayang sama dia!"


Kedua cowo itu berjalan meninggalkan ketiganya. Buru-buru mereka membuka ponsel dan mengirim pesan kepada Laura.


Selama classmeeting, Claretta terus-menerus mengirim pesan ke grup mereka. Tapi Laura tidak membalas.


"Kai, lo telepon Laura deh coba," suruh Nadine.


Tanpa menjawab, Kaila langsung saja menghubungi Laura. Butuh sekitar 3 kali menelpon, baru diangkat.


Singkat cerita, ketika pulang sekolah, Claretta melihat Nathan sangat terburu-buru untuk pulang. Padahal dia baru masuk kelas ketika 15 menit terakhir.


"Than, gue duluan," pamit Nathan kepada Ethan lebih cuek dari biasanya.


"Yoi," sahut Ethan.


Buru-buru Claretta mencegahnya. "Nath, gue yakin Laura punya alasan sendiri. Lo harus ngomongin lagi sama dia."


"Gue gamau tau!" ketus Nathan yang lalu berjalan melewati tubuh Claretta.


"Dia sakit, Nath. Dia gak main-main sama lo. Rasa sayang dia itu beneran!" teriak Claretta. Bodo amat kalau cowo itu tidak mendengarkannya. Yang penting dia sudah menjelaskan ini.


*


"Laura, temen kamu ada yang dateng," ucap Alma sambil mengetuk pintu kamar anaknya, lalu membukanya.


Laura menoleh dan berdiri menghampiri mamanya. "Mereka udah masuk?"


"Hai, Ra," sapa ketiganya bersamaan.


"Yauda, mama balik ke bawah ya. Mau siapin makan buat kalian."


Mereka berempat mengambil posisi masing-masing. Ada yang ikut Laura tiduran di kasur, ada juga yang duduk di salah satu sofa, dan ada juga yang duduk di karpet mini kamar Laura.


"Jelasin coba ke kita, kenapa lo putus?" tanya Claretta mewakili rasa penasaran ketiganya. Setau mereka, Laura sudah sayang kepada cowo itu. Tapi kenapa dia minta putus?


Laura mengerutkan alisnya. "Kalian tau dari mana?"


"Tadi seharian Nathan bolos. Terus Ethan sama Jason marah-marah sama kita," jawab Nadine.


Kalau saja waktu itu Laura bisa menahan, mungkin sekarang mereka belum putus. Apa gue kasih kesempatan lagi aja?


Laura pun menjelaskan kenapa dia mengakhiri hubungannya. Alasannya sih karena sudah lelah melihat Nathan bersama dengan Olin. Selain itu, karena Nathan bilang 'gak siap LDR'.


"Gue mau nanya deh sama lo. Kenapa lo gak pernah marah sama Olin kalo dia rebut Nathan? Itu bukan diri lo banget, Ra!" sela Claretta di tengah cerita temannya. "Gue tau dia kakak tiri lo. Tapi gak harusnya lo biarin dia gitu aja!"


"Gak bisa, Ta. Bokapnya udah baik banget sama gue. Bahkan anaknya sendiri kuliah di indo, sedangkan gue? Gue yang bukan anak kandung malah di biayain ke luar negeri. Kesannya tuh gue gak tau diri banget kalo marah sama Olin cuma karena cowo. Gue gamau bikin mama malu." Mata Laura memanas. Sebisa mungkin dia tahan air mata yang ingin keluar.


Kaila merangkul tubuh Laura, menguatkan. "Gue ngerti. Ambil keputusan sesuai kata hati lo aja. Gue dukung terus, Ra."


"Sorry. Yauda, gue bantu lo move on," ucap Claretta sambil berdiri menghampiri Laura, memeluknya. Begitu juga Nadine.


Seketika air mata Laura membasahi pipinya. Tidak apa kalau tidak memiliki pasangan, sahabat saja sudah cukup untuknya.


"Tapi lo yakin sama keputusan lo? Dia udah bikin lo luluh loh." Nadine masih tidak yakin dengan keputusan temannya. Bisa saja Laura mengambil keputusan disaat emosinya memuncak. Biasanya yang seperti itu akan menyesal di akhir.


Laura tidak menjawab. Dia pun masih ragu. Rasa sayangnya cukup serius. "Semoga."


*


Classmeeting hari terakhir, Laura masih saja tidak berhenti memikirkan cowo yang duduk tepat di belakangnya. Mereka belum ngobrol apa pun setelah hari itu.


Laura berusaha sebisa mungkin membuang Nathan jauh-jauh dari pikirannya. Tapi tidak bisa. Nathan tidak pernah bosan untuk mengisi ruang pikirannya.


"Ra, kantin yuk," ajak Nadine.


Bahkan dia tidak sadar kalau dari tadi ketiga temannya mengajak ke kantin. Dia menoleh dan melihat ketiga temannya sudah mengunggu.


"Iya."


Sebelum keluar dari kelas, Laura menoleh. Dia melihat kedua mata Nathan. Rindu, yang sedang dirasakan keduanya.


"Mau ke kantin juga, bro?" iseng Ethan dengan tawanya. Dia tau kalau Nathan sedang merhatikan mantannya dari tadi.


Nathan menatap Ethan tajam. "Gak!"


"Galak amat, heran," gumam Ethan yang kembali bermain dengan ponselnya.


"Gue bakal kuliah di luar juga, Than. Kayaknya harapan buat nunggu dia, hilang." Tanpa disadari Nathan menuangkan isi hatinya ke Ethan.


Beberapa waktu lalu, Nathan mempertimbangkan untuk menunggu sampai Laura selesai kuliah. Tapi setelah bokapnya memberi kabar kalau dirinya akan dikuliahkan di luar negeri, semua harapannya buyar.


Ethan tidak menoleh. Dia masih sibuk dengan game di ponselnya. "Gue doain yang terbaik aja buat lu. Jangan ampe sakit hati lagi aja."


*


"Mau pesen apa, Ra?" tanya Kaila.


Laura menoleh lalu tersenyum tipis. "Samain kayak lo aja deh."


"Oke!"


Mereka berempat duduk di kursi paling ujung. Tidak ada pembicaraan yang mulai disana. Hanya suara murid-murid lainnya yang terdengar.


"Gue juga baru putus, Ra," ujar Claretta. Tapi dia berbeda dengan Laura. Sama sekali tidak terlihat sedih. Claretta masih dengan pendirian yang dulu. 'Gak boleh rapuh karena cowo'.


Nadine memutar bola matanya malas. "Heh! Lo mah gak usah ditanya. Laura putus baru sekali ini. Lo udah berapa kali pas Laura masih sama Nathan?"


Claretta memperlihatkan jari jemarinya. Dia menghitung berapa banyak mantannya belakangan ini. "Hmm.. yang gue inget ada delapan. Tapi gatau udah semua apa belom, hehe."


"Parah ya kalian. Kasihan cowonya," kata Kaila sambil terkekeh.


"Tobat, Ta. Gue aja mau tobat nih," sambung Laura dengan tawa kecilnya. Dia merasa sudah lebih baik dari sebelumnya.


Tunggu part selanjutnya💢