
Awan tidak secerah hari-hari biasanya. Seperti suasana hati Laura sekarang. Dia sedang tidak baik-baik saja. Ini akan menjadi momen terakhir dia bersama orang-orang yang dia sayang. Setelah ini belum tentu mereka akan bertemu lagi. 'Biasanya', kalau sudah pisah akan sibuk masing-masing.
Laura menarik kopernya menuju ruang tamu. Dia sudah selesai bersiap-siap. Senyum tipisnya dia perlihatkan untuk ibunya.
"Ma, aku berangkat ya," pamit Laura sambil memeluk tubuh mamanya.
Alma membalas dengan hangat. "Hati-hati ya, sayang."
Olin pun melakukan hal yang sama ke Alma. Sedangkan Arief sudah siap di mobil bersama bapak supir yang akan mengantar keduanya ke bandara. Laura melambaikan tangannya sebelum meninggalkan mamanya.
Di pintu depan, Olin menatap sinis Laura. Walaupun dia tidak sekejam dulu, tetap saja masih ada aura tidak suka yang diberikan oleh Olin kepadanya. Sebisa mungkin Laura tidak meresponnya.
*
Mobil yang dikendarakan oleh pak supir sudah tiba di bandara. Laura dan Olin sama-sama berpamitan kepada Arief. Sebelum pergi, Arief memberikan uang pegangan kepada mereka masing-masing.
Tanpa berkata apa pun, Olin meninggalkan Laura. Mereka berangkat bersama, tapi seperti orang asing setelahnya.
Laura mencari keberadaan ketiga temannya. Seperti yang diinformasikan beberapa hari lalu, mereka akan kumpul di pintu masuk.
Tidak butuh waktu lama, Laura menemukan gerombolan sekolahnya. Mereka sudah berkumpul disana. Buru-buru Laura gabung, sebelum teriakan bu Ani terdengar.
Karena waktu terus berjalan, mereka segera check in. Langsung saja mereka boarding. Karena guru-guru membagikan tempat duduk asal, sesuai tiket yang sudah dibagikan, mau tidak mau semuanya mengikuti susunan tempat duduk yang terdapat pada tiket.
"Lu pada deket, gue jauh sendiri," dumel Laura kepada ketiga temannya, setelah tau posisi duduknya. "Tukeran dong!"
"Enak aja. Udah sana! Nanti juga ketemu lagi," sahut Nadine yang lalu menarik kedua temannya.
Laura mencari dimana dia akan berduduk. Untungnya dia mendapatkan di samping jendela. Jadi tidak terlalu bosan.
Beberapa menit setelahnya, tiba-tiba seorang cowo duduk di sebelahnya. Dengan cepat, Laura memalingkan wajahnya ke jendela. Jantung, tolong lah kerjasamanyaa..
Perlahan pesawatnya berjalan, semakin kencang, dan akhirnya sudah berada di udara. Seperti yang dibilang tadi, cuaca hari ini tidak secerah hari biasanya. Ketika sudah berada di awan, rintikan hujan turun. Semakin lama semakin deras, hingga tercipta beberapa kilat disana.
Laura menggigit bibir bawahnya, menahan rasa takut. Sesekali juga ada suara yang menyuruh mereka tetap tenang. Bagi Laura itu malah semakin membuatnya takut. Lebih baik tidak usah ada pemberitahuan.
Nathan menoleh, melihat tingkah aneh Laura. "Takut?"
Laura terdiam sejenak. Jantungnya kembali berdetak cepat. "Hmm.. iya."
Tidak ada jawaban dari Nathan, tiba-tiba cowo itu meraih tangan Laura dan menggenggamnya erat.
Tubuh Laura terasa kaku. Rasa takut karena kilat menjadi hilang, berubah menjadi takut akan semakin sayang kepada cowo disebelahnya.
Tiba-tiba pesawat terasa terguncang. Reflek, Laura mengeratkan genggamannya. Dia memejamkan matanya. Nathan malah terkekeh pelan melihat ketakutan Laura.
*
Sampai di Bali, mereka semua beristirahat di sebuah Villa yang sudah disewa sebelumnya. Seperti permintaan murid-murid, mereka ingin Villanya di pinggir pantai.
Merasa bosan, Laura berpamitan dengan ketiga teman sekamarnya untuk berjalan keluar.
Walaupun di luar sangat panas, Laura tetap berniat untuk bermain disana. Kakinya mulai menyentuh butiran pasir. Sepoian angin pantai membuat rambutnya beterbangan sana-sini.
Ketika sudah berada di tepi pantai, Laura berhenti. Dia membiarkan kakinya tersentuh air. Hidupnya terasa sangat cepat. Tiba-tiba sebentar lagi dia akan pindah ke negara yang sama sekali belum pernah dia kunjungi. Semua akan terasa asing. Dia harus beradaptasi dari awal lagi.
"Ra," panggil seseorang yang suaranya sangat dia kenal.
Laura menoleh dan mendapatkan sosok Kaila. "Hmm?"
"Ganggu gak?" tanya Kaila sambil mendekati posisi Laura. Dia ikut membiarkan kakinya terkena air.
"Enggak. Kenapa?"
"Mau ngobrol aja. Bosen di kamar." Kaila mulai menundukkan tubuhnya dan duduk di atas pasir.
Laura melakukan hal yang sama. Dia menatap ke arah ombak yang bergulung dari depannya.
"Jangan serius banget ah. Sans aja," ucap Kaila dengan tawa kecilnya. Dia lebih suka bicara santai dibanding serius. Tapi bukan berarti malah bercanda terus.
"Kenapa?" tanya Laura yang beralih menjadi seperti biasanya.
Tangan Kaila sambil memainkan butiran pasir di sampingnya. "Lo yakin bakal move on dari orang yang jelas-jelas udah bikin lo luluh? Siapa lagi yang bakal kayak dia?"
Laura tersenyum samar. Beberapa detik dia diam, lalu akhirnya membuka suara. "Kalo udah gak cocok, gue bisa apa, Kai?"
"Setidaknya berusaha. Yang gue liat nih ya, kalian tuh sama-sama sayang. Cuma kurang berjuangnya aja."
Kaila pun menoleh. "Coba lagi aja. Jangan sampe nyesel loh," godanya dengan tawa kecil.
Kalo aja semudah ucapan, gak akan ada namanya sakit hati kayak sekarang.
*
Malam ini mereka akan mengadakan acara api unggun di samping pantai. Semuanya akan berkumpul melingkari api unggun dan melaksanakan kegiatan sesuai jadwal yang sudah panitia susun.
Kini tiba pada sebuah permainan yang mungkin sangat seru bagi beberapa murid.
"Kita akan main Truth or Dare. Pasti kalian gak asing dong sama permainan ini. Kita langsung mulai aja ya. ..."
Mereka akan memindahkan sebuah benda ke teman samping kanannya. Hingga nanti suara lagu berhenti, dan orang yang memegang benda itu akan mendapatkan ToD-nya.
Pertama berhenti pada Kevin. Dan yang akan bertanya adalah orang yang pertama kali memegang benda itu, Bima--salah satu teman sekelas Laura.
"Truth," kata Kevin yang langsung saja memilih.
Bima berpikir sejenak. Dia sama sekali tidak ingin tau apa pun dari Kevin. Entah apa yang harus dia tanyakan. "Hmm.. udah berapa kali lo boker di sekolah?"
Seketika semuanya tertawa dengan pertanyaan itu. Sama sekali tidak penting.
"Lebih dari dua puluh kali," jawab santai Kevin.
Kini giliran Kevin yang memulai memberikan benda ke teman samping kanannya. Pas, berhenti di tangan Laura.
Dengan malas Laura memilih Truth. Dia tidak ingin Kevin menyuruhnya yang aneh-aneh.
"Kenapa lo bisa pacaran lama sama Nathan? Sebelumnya kan gonta-ganti."
Laura bingung ingin menjawab apa. Dia juga tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi. Apa karena Nathan berhasil bikinnya luluh? Jatuh cinta sesungguhnya? Atau gimana?
"Gatau," jawab singkat Laura tanpa menoleh ke siapapun. Dia hanya melihat ke pasir sambil memainkannya.
Tanpa menunggu lama akhirnya permainan dilanjutkan. Kini benda berhenti pada Olin. Sungguh ini diluar dugaan Laura.
"Truth." Lagi-lagi semua memilih itu. Belum ada yang memilih Dare.
Jujur Laura ingin menanyakan ini, tapi dia tidak yakin Olin akan menjawabnya disini. Apa lagi banyak orang yang mendengarkan.
"Alasan lo pindah ke sekolah gue?" tanya Laura dengan nada santai. Dia tidak berniat bertengkar disaat seperti sekarang ini.
Olin tersenyum samar. Entah itu tulus atau tidak. "Salah ya kalo mau satu sekolah sama saudara sendiri?"
Walaupun itu jawaban langsung dari Olin, Laura tidak bisa langsung percaya begitu saja. Dia yakin semua ini ada hubungannya dengan Nathan. Pasti.
Lagu berhenti ketika benda itu dipegang oleh Nathan. Sungguh malas rasanya mengikuti permainan ini.
"Truth," ujar Nathan.
Beberapa cowo yang mulai bosan dengan permainan ini, protes. Mereka memaksa Nathan agar memilih Dare. Mau tidak mau Nathan mengikuti suruhan mereka.
"Yauda, Dare," pasrah Nathan.
Olin tersenyum tipis. Dia berpikir sebentar. "Peluk gue selama tiga puluh detik."
Sorak-sorai terdengar disana. Tapi tidak dengan Laura dan ketiga temannya. Mereka ber4 terdiam. Ketiganya menoleh ke arah Laura. Sebisa mungkin Laura biasa saja.
Ternyata gini rasanya malu, cemburu, kesal bersamaan.
Nathan sama sekali tidak menolak. Dia berdiri dan menghampiri posisi duduk Olin. Sesuai permintaannya dia akan memeluk cewe itu sampai 30 detik kedepan.
Laura tidak tahan melihat pemandangan ini. Matanya memanas. Emosinya meluap. Buru-buru dia berdiri dan pergi dari tempat itu.
Belum jauh dari sana, air mata Laura sudah turun membasahi pipinya. Dia menoleh sekali lagi sebelum benar-benar menjauh. Nathan masih di posisi yang sama. Laura tersenyum miris.
Dia bukan siapa-siapa gue lagi, tolong jangan cemburu.
Tangannya memegang dadanya yang terasa sangat sakit. Air matanya terus turun.
Oke, Laura sudah putuskan. Dia akan benar-benar move on kali ini. Semoga bisa.
Makasih buat yang udah baca🙈
Like dan komen.