
Jason yang sedang memetik senar gitar di pangkuannya, menghentikan petikan itu ketika mendengar suara Nathan di kelasnya.
"Kenapa Nath?" tanya Jason sambil melanjutkan petikannya pelan.
"Males gue sama temen lo tuh, kayak anak kecil, mainnya nurunin celana orang!" adu Nathan sambil duduk diatas meja belajar Jason.
"Nathan!" teriak Ethan dari luar sana membuat Nathan berdecak sebal. Untung saja Nathan memakai ikat pinggang, kalau tidak, mungkin celana dalamnya sudah kemana-mana.
Seluruh murid kelas XII-Ips 1 yang sedang menyalin tugas, mengalihkan fokusnya kepada Nathan dan Ethan.
Jason hanya menggelengkan kepalanya heran melihat tingkah konyol keduanya. Udah kelas 12 tapi tetap saja tingkah mereka seperti anak sd.
"Diem lah, Than! Ga suka cara bercanda lo yang ini!" dumel Nathan dengan wajah kesalnya. Sungguh memalukan kalau celananya benar-benar turun tadi.
Ethan tertawa lepas sampai perutnya terasa sakit. "Kocak lo! Canda doang elah, Nath."
"Kalo celana gue beneran turun gimana? Malah ada Laura! Bikin malu aja lo!"
Beberapa tertawa karena mendengar keluhan yang Nathan berikan. Cara dia berbicara seperti anak kecil yang sedang ngambek karena dijahili.
Kring kring
"Udah bel, hush," usir Jason sambil mengibaskan tangannya. Kelasnya akan lebih tenang jika tidak ada dua cowo itu.
"Sial lo! Ngusir segala."
Ethan dan Nathan beriringan keluar kelas sambil mendorong satu sama lain. Sesekali Nathan mencoba membalas perbuatan Ethan padanya, menurunkan celana sekolah milik temannya.
*
Ponsel Laura terus bergetar dan menampilkan nama Adriel dan Kevin bergantian. Dia mengurungkan niatnya untuk membalas pesan itu sekarang. Tangan kiri Laura meraba-maba untuk menekan tombol off yang terletak disamping kanan ponselnya.
"Gak dibales?" tanya Nathan dari balik tubuh Laura. Dia sengaja melirik ke arah ponsel cewe itu karena rasa penasarannya. Tapi sayangnya Laura terlalu cepat untuk mematikan layar ponselnya.
Laura menoleh sekilas, lalu membalikkan lagi posisi duduknya semula. "Gak."
"Kalo gue yang kirim chat, lo bales?" tanya Nathan dengan niat untuk menggoda Laura.
Claretta yang mendengar obrolan mereka merasa sebal. Dia iri dengan teman-temannya yang memiliki pasangan satu sekolah. Sedangkan dirinya, punya cowo dari sekolah yang berbeda.
"Berisik ih! Kalo mau pacaran diluar aja!" ketus Claretta sambil melihat ke arah mereka bergantian.
Tangan Nathan mendorong pelan bahu milik Claretta. "Sirik aja lo!"
Pelajaran mereka sangat membosankan. Sungguh butuh kekuatan untuk menahan rasa ngantuk. Bagi Laura semua pelajaran sama bosannya. Dia memilih untuk melihat jalanan dari balik jendelanya.
"Laura! Coba ulangin apa yang bapak jelaskan tadi!" suruh pak Yusuf yang sedang mengajar pelajaran agama. Dari tadi Laura tidak memperhatikannya. Murid yang satu itu terlalu fokus dengan kesibukannya sendiri.
"Gimana? Saya.. emmm.. pak saya ke toilet dulu ya, sakit perut," alasan Laura sambil memegang perutnya. Dia mengalihkan topik agar pak Yusuf tidak bertanya lagi. Karena dia memang tidak mendengarkan penjelasan dari tadi.
Pak Yusuf menggelengkan kepalanya heran. Laura selalu berhasil melatih kesabarannya. "Bilang aja kamu mau kabur dari pertanyaan saya!"
"Pak, gak baik nuduh-nuduh murid sendiri. Nanti dosa loh, bapak mau masuk neraka?" Laura seakan-akan sedang mencerahami guru agamanya.
Beberapa teman sekelasnya mulai sulit menahan tawanya. Seperti sedang tahan tawa, hampir semuanya berusaha menutup mulutnya rapat-rapat. Termasuk Nathan. Cowo itu salah satunya yang sedang menahan tawanya.
"Cape saya ladenin kamu! Nambahin dosa saya aja!" dumel pak Yusuf sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Berusaha menyudahi perdebatan kecil ini.
"Yaudah, pak. Gak usah ladenin saya," balas Laura dengan suara yang cukup kencang. Membuat seisi kelas semakin sulit menahan tawanya.
Kring kring
Tidak terasa kalau sekarang waktunya mereka istirahat. Laura dan ketiga temannya berjalan menuju kantin untuk mengisi perutnya. Dan ternyata ada 3 cowo yang mengikuti mereka dari belakang.
"Gabung boleh kan?" tanya Nathan kepada Laura yang baru saja duduk di kursi panjang kantin.
Tanpa respon atau ijin dari Laura, tiga cowo itu sudah mengambil posisi duduk mereka masing-masing.
Nathan tidak melepas pandangannya dari cewe disebelahnya. Rasanya sangat senang bisa melihat Laura sedekat ini.
"Udah kali liatinnya," ucap Laura setengah berteriak. Sungguh bosan melihat Nathan seperti ini ketika bertemu dengannya.
"Abisnya lo bikin gue kecanduan." Nathan tersenyum lebar ketika melihat ekspresi Laura yang mendadak lebih jutek dua kali lipat. Entah kenapa, melihat Laura bersikap dingin membuatnya semakin tertarik dengan cewe itu.
"Kecanduan senyum sama tawa lo yang kemarin," jelas Nathan dengan suara yang cukup kencang, sampai teman-temannya mendengar.
"Kemarin? Kemana tuh? Kok gak ngajak gue?" seru Ethan dengan niat untuk mengejek keduanya.
"Ngapain ajak lo!" ketus keduanya bersamaan. Setelah itu mereka saling menukar pandangan.
Jason tertawa ketika melihat keduanya menjadi kompak. Claretta, Nadine, dan Kaila pun ikut tertawa. Mereka sangat serasi dimata ke-5nya.
"Oh, jadi kalian beneran pergi berdua nih ya." Ethan menyipitkan matanya, melihat keduanya bergantian.
Laura mendendang kaki Nathan sebagai kode agar tidak memperjelas tentang kepergian mereka kemarin. Tapi Nathan malah sengaja melanjutkan penjelasannya.
"Dilan kemarin seru ya, Ra?" tanya Nathan sambil menaik-turunkan alisnya berkali-kali.
"Gak usah dibahas!" Laura memutar bola matanya lalu mengalihkan pandangannya. Seketika kedua mata Laura membulat, disana ada mamanya sedang berjalan dengan... dengan Olin. Laura memperjelas penglihatannya. Dia gak salah. Itu Olin!
"Lo berdua pacaran udah kayak gak pacaran tau gak!" ketus Nadine yang kesal melihat keduanya. Sama sekali tidak romantis. Tidak seperti pasangan pada umumnya.
Karena terlalu fokus melihat Alma dan Olin disana, sampai-sampai Laura tidak mendengar ocehan dari Nadine. Dia berdiri meninggalkan mereka begitu saja. Tanpa berkata apa pun. Mereka menatap Laura bingung karena mendadak pergi begitu saja.
"Dia ngambek? Lo sih!" Kini Nathan ikut berdiri mengikuti langkah pacarnya.
Alma dan Olin terlihat sedang berjalan santai melewati beberapa kelas disana. Beberapa pandangan cowo teralih pada Olin yang mereka tebak akan menjadi murid baru.
"Ma, mama ngapain?" tanya Laura yang menghentikan langkah keduanya. Matanya tertuju pada Alma, tidak ke Olin.
"Mama lagi temenin Olin keliling sekolah. Katanya dia mau liat-liat," jawab Alma sambil menoleh ke arah Olin yang sedang melihat sekeliling sekolah.
Laura melirik sekilas ke Olin. Kakak tirinya itu sedang menebar pesona kepada beberapa cowo disana. Sudah tidak heran lagi melihat Olin seperti ini.
"Tante," sapa Nathan sambil menundukkan sedikit kepalanya. Suara Nathan berhasil mengambil seluruh perhatian Olin.
Laura yang melihat tingkah Olin itu menjadi kesal. Belum mulai sekolah disini saja udah seperti ini. Gimana nantinya?
"Eh, iya. Kamu temen deket Laura yang waktu itu ya?" tanya Alma penuh curiga. Wajah Nathan tidak asing baginya. Dia sudah berkali-kali melihat keduanya bersama. Di rumah, dan sekarang di sekolah.
"Iya, tante. Pacar malah." Nathan sengaja menekankan intonasi pembicaraannya saat mengatakan 'pacar'. Sontak Laura menoleh memberikan tatapan tajam.
Olin menatap kesal melihat keduanya. Bisa-bisanya Nathan pacaran dengan Laura. Bagaimana pun caranya, Olin akan merebut posisi itu!
Sesekali Olin melirik Nathan dengan niat mencari perhatian. Tapi dia gagal. Nathan terlalu fokus dengan Laura.
"Gue kira lo ngambek," bisik Nathan dengan suara kecil. Hanya keduanya yang bisa mendengar suara kecil itu.
Laura mendorong pelan kepala Nathan agar menjauh darinya. "Berisik!"
"Kok Laura galak sih sama.. eh nama kamu siapa?" Alma sampai lupa untuk menanyakan nama teman anaknya.
"Nathan, tan," jawab Nathan dengan santun.
"Masa kamu galak sama Nathan. Dia baik loh sama kamu. Sama pacar kok gitu sih." Alma memandang Laura dengan sorot mata sedikit tajam. Dia sengaja memperingati anaknya agar tidak galak dengan orang lain. Terlebih lagi pacarnya. Alma sudah memberi lampu hijau terang-terangan kepada keduanya.
"Tuh, Ra. Jangan galak sama gua." Nathan terasa dibela oleh calon mertuanya. Berharap sedikit boleh lah ya. Bisa jadi kesampaian.
Olin yang merasa tidak dihiraukan mendadak makin kesal. Bagaimana bisa keberadaannya diabaikan oleh mereka?
"Ma, aku jalan sama Laura aja ya. Aku gabung mereka aja," minta Olin dengan senyumnya. Dia sengaja. Dia ingin memulai semuanya sekarang.
Mendengar permintaan itu membuat telinga Laura menjadi panas. Laura yakin 100% kalau Olin ingin mencari perhatian Nathan. Lantas, apa yang harus dilakukan Laura sekarang?
Alma menganggukkan kepalanya. "Yauda. Mama juga mau ke kantor papa dulu. Nanti kalian pulang bareng aja."
Nathan heran sekali ketika melihat perubahan wajah cewenya. Tadinya galak dan lebih berekspresi menjadi diam dan tidak berekspresi.
Olin mengangguk antusias. Dia menyetujui itu. Dengan begitu dia bisa mencuri kesempatan untuk minta Nathan mengantarnya. Entah apa alasan yang akan dia pakai nanti.
Apakah Nathan akan terpengaruh?
Komen dan like💜
Tunggu part berikutnya!