I'M Stuck In You

I'M Stuck In You
Malu


Pipi Laura memerah. Dia mukul kencang tubuh Nathan yang menggendong tubuhnya sekarang. Nathan malah tertawa melihat tingkah Laura. Gemas.


"Turunin gue!" teriak Laura yang masih memberontak agar Nathan menurunkannya.


"Diem," suruh Nathan sambil menekuk sedikit lututnya, salah satu tangannya berusaha membuka pintu mobilnya.


Setelah berhasil menaruh Laura di kursi mobilnya, dengan cepat Nathan masuk ke kursi pengemudi, sebelum Laura berontak keluar dari mobilnya.


"Gitu dong, diem, duduk manis. Kan cantik," ucap Nathan sambil menyalakan mesin mobilnya.


Laura memasang wajah bete. Kedua tangannya dilipat didepan dada. "Ngapain sih tadi lo gendong segala?! Malu-maluin gue aja!"


"Malu-maluin? Bukannya lo malah seneng ya gue gendong?" goda Nathan sambil tersenyum jahil.


Mulut Laura serasa dikunci, tidak bisa berbicara. Dia mengatupkan mulutnya dan mengalihkan pandangannya ke jalanan diluar.


"Gak usah anter gue pulang, gue mau ke Starbucks," ucap Laura tanpa menoleh ke arah cowo disebelahnya.


"Demen amat sih sama Starbucks? Gak boleh sering-sering tau, nanti diabetes."


"Bawel! Turunin gue aja lah disini!" teriak Laura yang sudah muak didalam mobil Nathan.


"Iya iya. Gue selalu salah emang," gumam Nathan.


*


Mobil sport merah Nathan terparkir di area depan Starbucks. Mereka berjalan turun dan memesan minuman. Ternyata, Nathan pun ikut memesan. Padahal waktu itu dia bilang 'tidak suka kopi'.


"Udah suka kopi sekarang?" tanya Laura sambil menyerut caramel frappucinno miliknya.


"Karena lo, gue suka."


Pandangan Laura fokus ada ponselnya yang terus bergetar dari tadi. Beberapa pesan dari temannya, dan juga dari Kevin membuat dirinya berniat mengecek pesan itu.


Mygirls🤙🏻


Nadine : uhuy, Ara balik sama Nathan.


Claretta : gue give up deh. Nathan buat lo aja.


Nadine : atuh iya lah. Lo udh ad pcr! Maruk bgt klo msh mw Nathan jg.


Kaila : serius Ara balik sama Nathan? Kg sama cowo yg di kantin td?


Claretta : di paksa Nathan. Di gendong pula! Uh, iri gw.


Kaila : ha? Serius? Demi apa digendong?


Laura mengembangkan senyumnya singkat. Seheboh itu teman-temannya? Harusnya yang heboh Laura. Tapi, mungkin kalau tidak ada Nathan sekarang, Laura sudah memejamkan matanya malu-malu sendiri membayangkan kejadian tadi.


Melihat Laura yang senyum-senyum sendiri, membuat Nathan ikut mengembangkan senyumnya. "Kenapa lo?"


"Hah? Enggak!" Perubahan wajah Laura sangat drastis. Mendadak galak. Sudah biasa Nathan dimarah-marahin olehnya.


"Bohong! Tadi lo senyum-senyum."


Laura menghiraukan cowo itu. Dia kembali fokus melihat pesan dari teman-temannya.


Mygirls🤙🏻


Kaila : ha? Serius? Demi apa digendong?


Nadine : *send picture*


Disana terpampang jelas foto ketika Nathan menggendong Laura. "Sumpah?!" panik Laura ketika melihat fotonya.


"Kenapa, Ra?" tanya Nathan yang dari tadi merhatikan setiap perubahan ekspresi wajah Laura.


"Nih!" Laura menunjukkan foto itu. Bukannya ikut kesal, Nathan malah tertawa.


"Kirimin dong," minta Nathan. Barang kali bisa buat kenangan di ponselnya.


Laura memutar bola matanya malas. "Ih! Gara-gara lo nih!"


"Apaan? Kok gue?"


"Iya lah, gara-gara lo! Kalo aja tadi lo gak gendong gue, gak bakal gue diledekin temen-temen! Sampe difoto pula!"


Nathan terkekeh. Lalu memajukan kepalanya ke Laura. "Bagus lah, gimana sih lo! Biar jadi moment."


Tangan Laura mendorong kasar dahi milik Nathan. "Udah ah! Gue mau balik!"


"Ayuk."


Selama diperjalanan, Laura kembali fokus kepada ponselnya. Dia belum sempat membalas pesan teman-temannya, dan juga pesan dari Kevin.


Mygirls🤙🏻


Nadine : *send picture*


Kaila : eh, bnran dong. Maigat! Leh uga tuh si Nathan.


Claretta : gbs ke club lg deh, Ara ud ad cowo.


Laura : apa sih kalian! Stop bhs dia.


Jari Laura menggeser-geser layarnya, menuju room chat Kevin.


Kevin.


Hai, gw Kevin.


Ud di rmh Ra?


Laura.


Msh diluar.


Tanpa disadari, Nathan melirik ponsel Laura. Membaca pesan dari Kevin. Nathan tidak akan membiarkan cowo itu mendekati Laura.


"Thanks," kata Laura sebelum dia beranjak dari kursi mobil Nathan.


Laura meninggalkan Nathan tanpa membalas ucapan cowo itu.


Sejak tadi, Alma melihat kepulangan Laura dari balik jendela. Ada senyum tipis terbentuk dibibir Alma.


"Cowo kamu?" tanya Alma membuat Laura tersontak kaget.


"Ng-bukan, ma," jawab Laura cepat.


Olin yang sedang duduk di sofa sambil main ponsel, menoleh ke arah mereka. Apa benar Laura sudah punya cowo? Siapa cowo itu?


Alma tersenyum jahil, menyentuh hidung anaknya. "Udah gede kamu ya. Udah ngerti cowo."


"Apa sih, ma.. enggak. Dia temen doang kok."


"Yauda. Mandi gih, bau." Alma mengibaskan tangannya didepan wajahnya, seperti sedang kebauan.


Laura menganggukkan kepalanya, berjalan menuju kamarnya. Disamping itu, Olin berjalan menghampiri Alma.


"Laura udah ada cowo, ma?" tanya Olin yang diam-diam penasaran.


"Gatau tuh, kayaknya udah deh," jawab Alma sambil tertawa membayangkan ekspresi anaknya ketika ditanya tadi.


*


Matahari pagi menyambut hari Laura. Dia mengedipkan matanya berkali-kali, menyesuaikan pandangannya yang masih buram. Tidak lama kemudian, cewe itu meraih ponselnya dan segera menyambungkan ke kabel charger, seperti yang biasanya dia lakukan ketika bangun tidur.


Setelah memakai seragam sekolahnya, Laura menyemportkan parfum dan memakai tipis lip glossnya. Laura mengambil kaos kaki dari lemarinya dan segera memakainya, bersama dengan sepatunya juga.


"Ma, pa, Olin, aku berangkat sekolah ya," pamit Laura sambil berjalan tanpa berhenti menuju luar rumahnya.


"Gak sarapan, nak?" tanya Arief yang sedang melahap roti.


Olin tidak menghiraukan Laura. Dia tetap fokus memakan sarapannya, sesekali dia membuka sosial media dari ponselnya.


"Enggak, pa. Laura buru-buru, ada tugas yang belom selesai," teriak Laura yang sudah berjarak jauh dari mereka.


"Hati-hati."


Walaupun Olin lebih pinter dari Laura, dia selalu santai di pagi hari. Tidak pernah terburu-buru kalau ke sekolah. Karena jaraknya tidak jauh. Hanya butuh 5-10 menit menuju ke sekolahnya. Sedangkan Laura, dia membutuhkan sekitar 15-20 menit. Belum lagi kalau terjebak macet.


Mini Cooper Laura terparkir rapih di parkiran sekolah. Karena 2 menit lagi bel, dengan cepat Laura turun dan berlari menuju kelasnya. Dia belum menyalin tugas sejarah.


"Kailaaa!!" teriak Laura dari luar kelas. Dia langsung saja mengeluarkan bukunya, dan mengambil paksa buku Kaila dari meja Ethan.


"Woi, gue belom kelar nyalin!" Ethan terlihat kesal. Gimana tidak kesal? Bayangin aja, lo lagi nyalin tugas, terus tiba-tiba sumber jawabannya diambil sama temen lo. Tanpa ijin. Dan Ethan tidak mau kena hukuman lagi.


"Duh! Gue belom nyalin samsek!" balas Laura yang sedang menyalin cepat tugas Kaila. Anak malas sekarang menjadi rajin mendadak ketika waktu sudah mepet seperti ini.


Karena takut kena hukuman, Ethan melakukan yang sama. Dia mengambil buku milik Kaila tanpa ijin dari Laura.


"WOI! SETHAN!" kesal Laura. Kegiatan menulisnya jadi terganggu.


"Main ngomong setan-setan aja lo!" dumel Ethan sambil fokus menyalin. 1 nomor lagi selesai.


Laura mengambil buku Kaila lagi. Dan terjadilah perebutan buku disana. Pemilik buku sudah menyerah. Sekelas tertawa melihat pertengkaran mereka.


Kring kring


Laura belum sempat menyalin tugas Kaila. Baru beberapa kata saja tertulis di bukunya. Laura pasrah. Semoga saja gurunya tidak ingat kalau ada tugas. Amin.


Pas. Nathan masuk kelas, seling 2 detik bu Ani masuk kelas. Nathan menghela nafas lega. Dia tidak harus cape-cape mendengar ocehan guru itu.


"Pagi," sapa bu Ani.


"Pagi, bu," sapa balik murid kelas XII-Ips 2.


"Satu orang pimpin doa," suruh bu Ani sambil menaruh buku-buku yang dia bawa.


Nita, sebagai seksi rohani di kelasnya terpaksa maju karena tidak ada yang mau gantian berdoa. Jadinya, tiap disuruh, mau tidak mau Nita yang maju.


"Mari teman-teman, kita bersatu didalam doa ...."


Laura berdoa didalam hati 'semoga bu Ani lupa, Amin Amin Amin'.


Karena Ethan memiliki dendam, dia ingin membalasnya sekarang. "Bu, ada tugas."


Laura menatap Ethan tajam. Nih anak ngeselin banget! Butuh asupan gizi supaya gak sebodoh ini!


"Oh iya, makasih Ethan. Semua kumpul bukunya kedepan!"


Satu-satu murid berdiri dan maju menyerahkan tugasnya. Tidak dengan Laura dan seorang cowo dibelakangnya. Mereka berdua tetap diam duduk di kursi.


"Kalian berdua, mana tugasnya?!" teriak bu Ani membuat seisi kelas melihat ke arah Laura dan Nathan.


"Lupa, bu," jawab keduanya bersamaan. Laura menoleh ke Nathan.


"Sini kalian!" Suara bu Ani bergema membuat seisi kelas rata-rata menutup telinga mereka.


Mereka berdua jalan gontai kedepan. Dengan wajah yang datar, tidak berdosa.


"Kamu, Laura! Gak ada bosan-bosannya ya nyari masalah sama saya! Dan kamu, Nathan! Murid baru kok udah nakal?!"


Laura menghela nafasnya. Lalu menatap ke arah Ethan penuh kebencian. Awas aja tuh anak!


"Kalian berdua saya hukum. Berdiri di lapangan sampai istirahat!"


"Hah?" bete Laura dengan wajah memelas.


"Kalau kalian ngehindar dari hukuman, saya akan panggil orang tua kalian! Cepet sana ke lapangan! Saya akan cek lewat CCTV sekolah!"


"Iya, bu."


Dengan rasa malas, keduanya berjalan meninggalkan kelas, menuju lapangan.


Kira-kira mereka bakal jalanin hukumannya gak ya?


Komen dan like🧡


Tunggu episode selanjutnya ya!