I'M Stuck In You

I'M Stuck In You
Dipaksa


Langkah Laura terhenti ketika melihat kedua orang tuanya dan Olin sedang makan malam bersama, tanpa dirinya. Lagi-lagi, ada rasa kecewa dalam hati Laura. Ya, memang posisinya Laura sedang tidak di rumah. Tapi kenapa gak ada usaha untuk makan bersama? Telepon Laura gitu? Kirim pesan, mengajak makan bareng?


Posisi anak tangga di rumah sangat berdekatan dengan ruang makan. Mau tidak mau, Laura harus berjalan ke arah mereka.


"Sini, nak," panggil Arief sambil menggerakkan tangannya, menyuruh Laura bergabung dengan mereka.


Laura menggeleng pelan. "Enggak, pa. Aku udah makan."


"Sebentar aja. Papa mau ngomongin tentang kepergian kamu ke Jerman."


Terpaksa, Laura duduk bergabung dengan mereka, tanpa ikut makan malam. Hanya ikut duduk dan mendengarkan penjelasan Arief.


"Papa udah daftarin kamu, mulai bulan depan, kamu les bahasa ya. Nanti guru les kamu yang akan datang ke rumah," jelas Arief sambil melahap makanannya.


"Aku gimana, pa? Aku gak kuliah gitu?" tanya Olin dengan nada manjanya. Dia melirik Laura sinis.


"Kamu udah papa daftarin di Indonesia. Gak kalah bagus kok sama tempat Laura."


Olin mendadak badmood. Selera makannya menghilang begitu saja. "Kenapa gak aku aja yang ke Jerman, pa?"


"Sayang, papa udah pikirin yang terbaik buat kalian," ujar Arief sambil tersenyum penuh keyakinan.


"Aku ke atas dulu ya," pamit Laura karena suasana sudah tidak mendukung. Dia takut merusak suasana makan malam mereka.


Setelah Laura menyelesaikan kegiatan mandinya, dia membaringkan tubuhnya diatas kasur sambil main ponsel miliknya.


Mygirls🤙🏻


Kaila : jgn lupa ya, senin ad tgs geo.


Nadine : kaila yg baik, cantik, dan manis, blh dong fotoin jwbanny.


Claretta : sumber jwban gw ad di lu @kaila.


Laura terkekeh pelan. Setiap hari senin memang selalu ada tugas. Dan setiap sabtu atau minggu, sudah menjadi kebiasaan mereka untuk meminta jawaban kepada Kaila, yang paling rajin diantara mereka berempat.


Mygirls🤙🏻


Laura : bagi dung jbny, hehe.


*


Senin, hari paling menyebalkan bagi Laura. Harus ikut kegiatan upacara yang sangat membosankan. Terlebih lagi terik matahari yang membuatnya semakin malas-malasan untuk ikut upacara.


"Ara," bisik Claretta yang berdiri tegak dibarisan sebelah Laura.


"Hmm?"


"Bolos yuk."


Nadine dan Kaila ikut menoleh ke arah Claretta. Sempat-sempatnya ingin bolos, disaat pembinanya adalah bu Ani, guru paling killer di sekolah Evergreen International School.


"Yakin lo?" bisik Nadine sambil mengelap keringkatnya menggunakan tissue yang sudah disediakan disaku kemeja sekolahnya setiap upacara.


Claretta mengangguk cepat. "Gc, mau gak?"


"Skuy." Laura berjalan pelan menuju belakang, ijin kepada salah satu guru dengan alasan ingin ke kamar mandi.


Teman-teman Laura yang lain memberikan alasan yang berbeda-beda. Seperti, "saya sakit perut, pak", "pak, saya ijin mau boker ya", dan "rok saya tembus, pak. Masalah cewe." Dan anehnya, guru itu percaya kalau 'tembus'. Baru masuk sekolah masa udah tembus?


Seperti biasanya, Laura dan teman-temannya bolos ke roof top. Guru-guru jarang sekali kesana, karena jaraknya cukup jauh dari kantor mereka.


"Guys, kemarin gue kan jalan sama cowo baru ya, terus dia langsung nembak gue masa. Padahal baru ketemu sekali. Gila ya cowo sekarang," cerita Claretta dengan tawa dibibirnya.


"Terus lo terima?" tanya Nadine setelah mendengar cerita dari Claretta.


Laura dan Kaila menoleh ke arah Claretta, menunggu jawaban darinya.


"Iya lah. Ganteng gitu, masa gue tolak," jawab Claretta. Dia tertawa lepas.


Laura, Nadine, dan Kaila menyerbu temannya yang satu itu. "WOOO!!!"


"Sama aja kalo gitu!" teriak Laura sambil menggelengkan kepalanya.


Claretta menutup kedua telinganya. Dan ikut tertawa bersama mereka.


"Waktu sabtu, Adriel ngajak gue jalan. Tapi, dia ninggalin gue gitu aja," cerita Laura ditengah keheningan mereka. Sontak, ketiga temannya menoleh ke arahnya.


"Ninggalin gimana?"


"Ya, pas pergi kan dijemput, pas pulang dia tinggal."


"Terus lo balik sama siapa? Kan lo gak bisa balik naik taxi online," bingung Kaila sambil menggeser posisi duduknya menghadap ke arah Laura.


"Nathan," jawab Laura dengan ragu-ragu.


"Hah?! NATHAN?!" kaget Claretta yang tidak percaya.


Laura mengangguk kepalanya pelan. "Gak sengaja ketemu di mall."


"Dugaan gue, dia mau deketin lo," ucap Nadine penuh keyakinan. Dia yakin banget, kalau Nathan suka sama Laura. Terlihat dari sikap Nathan kepada Laura.


"Gak lah!" respon Laura dengan cepat. Biasanya Laura selalu menganggap benar kalau ada yang bilang seseorang menyukainya, tapi tidak dengan yang sekarang.


"Coba aja kita liat."


Pembelajaran pertama akhirnya dimulai. Untung saja keempat cewe ini tidak telat masuk ke kelas. Jadinya, mereka tidak ketauan kalau bolos upacara.


"Pagi anak-anak," sapa bu Mevi, selaku guru geografi kelas 12. Dia meletakkan beberapa buku yang dibawanya ke atas meja.


"Pagi bu," balas murid-murid kelas XII-Ips 2.


Laura bernafas lega. Untung saja semalam dia tidak lupa untuk menyalin jawaban yang dikirim oleh Kaila.


Setiap baris ada perwakilan perorangan yang berdiri mengumpulkan tugas barisan tempat duduknya. Beberapa tumpuk buku sudah berada di meja guru. Bu Mevi menghitung jumlah buku dihadapannya. Hanya 28, sedangkan sekelas ada 29 murid.


"Satu orang lagi siapa?" tanya bu Mevi sambil menghitung ulang jumlah bukunya.


Seorang cowo yang bernama Ethan mengangkat tangannya. "Saya, bu."


Ethan adalah teman baru Nathan di sekolah. Tidak hanya Ethan yang menjadi teman Nathan, tapi Jason juga. Jason murid XII-Ips 1, yang hanya bisa bertemu diluar jam pelajaran.


"Maju!" suruh bu Mevi dengan suara khasnya. Suara yang tegas dan mengerikan. Bu Mevi tidak kalah killer dengan bu Ani. Keduanya sama.


Dengan perasaan pasrah, Ethan berjalan gontai menghampiri gurunya. "Maaf, bu. Saya lupa."


Nathan terkekeh. Siapa suruh Ethan tidak mau menyalin tugasnya. Padahal sebelum bel masuk berbunyi, Nathan sudah menyuruh Ethan untuk menyalin tugasnya. Tapi, Ethan menolak. Dengan alasan tidak percaya dengan jawaban Nathan.


"Berdiri sampai pelajaran ibu selesai!"


"Iya, bu."


*


Seusai menahan ngantuk pada jam pelajaran, akhirnya istirahat pun tiba. Semuanya berhamburan. Memanfaatkan waktu istirahat dengan baik-baik.


Ketika keempatnya sedang makan, tiba-tiba ada cowo dari kelas XII-Ipa 1 menghampiri mereka.


"Ra, nih gue beliin minum." Cowo yang bernama Kevin memberikan minuman ditangannya kepada Laura.


Beberapa pandangan tersorot kepada Laura. Ketiga temannya menghentikan kegiatan makannya, diam menyaksikan mereka berdua.


"Hmm, makasih." Laura mengambil minumannya, lalu menyeruputnya.


Disamping itu, Nathan merhatikan Laura dari meja yang jaraknya lumayan jauh. Masa dia keduluanan sama anak Ipa.


"Minta nomor hp boleh?" tanya Kevin dengan ragu-ragu. Takut ditolak mentah-mentah. Bukan hanya malu yang akan ditanggung, tapi sakit juga harus dia tanggung.


Laura mengangguk, lalu memberikan telapak tangannya kepada Kevin. "Hp lo?"


Tidak menyangka Laura akan memberikannya secara cuma-cuma. Setelah ini, Kevin bisa mengambil langkah selanjutnya.


"Nih." Kevin memberikan ponselnya dengan senyum yang penuh arti, bahwa dia senang.


Setelah mengetik beberapa nomor di ponsel milik Kevin, Laura pun membalikkan ponsel itu. "Udah ya."


"Makasih. Gue duluan ya, Ra," pamit Kevin dengan senyumnya. Laura hanya mengangguk sebagai responnya.


Claretta menggelengkan kepalanya takjub. "Gile gile, banyak yang nyantol di elo ya.."


Nadine bertepuk tangan seperti sedang melihat aksi yang menarik. "Keren keren. Gue suka gaya lo!"


"Lanjut makan sana!" suruh Laura yang risih ditatap oleh teman-temannya.


*


Jam pulang sekolah pun tiba, Laura berniat untuk pergi ke Starbucks dan nongkrong disana. Tapi, hari ini dia tidak membawa mobil karena kesiangan. Tadi pagi, dia diantar oleh supirnya. Kemungkinan besar, pulangnya juga akan dijemput oleh supirnya.


Langkah mereka terhenti dilorong menuju ke halaman depan sekolah, karena seseorang menganggil nama 'Laura'


"Laura," panggil Kevin sambil melambaikan tangannya.


Keempatnya menoleh, melihat Kevin yang masih berjalan menghampiri mereka.


"Gue duluan ya, udah dijemput nyokap," pamit Kaila lalu berjalan meninggalkan teman-temannya. Ketiganya mengangguk sebagai respon untuk Kaila.


"Ra, balik sama siapa?" tanya Kevin yang sudah tidak gugup seperti di kantin tadi. Ketika di kantin, Kevin terlihat gugup karena takut ditolak sama Laura. Dan setelah Laura memberikan nomor teleponnya, Kevin merasa ada kesempatan baginya untuk mendekati Laura.


"Ng-"


"Sama gue," teriak Nathan dibelakang tubuh mereka. Reflek, mereka semua menoleh ke arah Nathan.


Laura membulatkan kedua matanya. Sejak kapan mereka janjian ingin pulang bersama.


"Ayuk, Ra," ajak Nathan sambil merangkul tubuh Laura yang tingginya hanya sepundak tubuhnya.


Tubuh Laura terasa kaku. Jantungnya lagi-lagi berdebar. Banyak pasangan mata yang menyoroti mereka.


"Gue duluan," pamit Laura kepada dua temannya, dan juga kepada Kevin.


Posisi tangan Nathan masih sama sampai mereka tiba di parkiran. Laura mengurungkan niatnya untuk menghempas tangan Nathan, karena baginya bukan masalah besar.


"Kemana?" tanya Nathan yang melihat tubuh mungil Laura ingin pergi meninggalkannya.


"Balik lah!" ketus Laura yang menoleh sekilas, lalu berjalan kembali meninggalkan cowo itu.


"Balik bareng!" perintah Nathan yang menghalangi jalan Laura.


Laura menghela nafasnya. "Gak usah! Minggir!"


"Ra, masuk ke mobil gue sekarang, sebelum gue gendong!"


"Apaan sih! Awas lah!"


Tidak menyangka, Nathan benar-benar menggendong tubuh Laura. Tangan kirinya terletak dibawah lutut Laura, dan tangan kanannya menahan punggung Laura. Membuat banyak murid disana menyaksikan mereka. Termasuk Claretta, Nadine, dan Kevin.


Gimana menurut kalian? Komen yuk💘


Like juga ya, share ke temen-temen.


Tunggu episode berikutnya!!