Fall In Love In Korea

Fall In Love In Korea
Part 8


Pukul 03.00 sore Shatya baru tiba di apartemen setelah menyelesaikan urusannya di kampus. Diamatinya keadaan rumah sepertinya aman-aman saja kemudian Ia berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


Usai membersihkan diri dan menyelesaikan urusan di kamarnya ia berniat pergi menemui Sofiah. Tiba di depan pintu kamar Sofiah ia mengetuk pintu kamar tersebut. Sementara dari dalam, Sofiah yang mendengar pintu kamarnya di ketuk dari luar langsung berlari kecil untuk membukakan pintu. Ia tau betul siapa yang mengetuk pintu kamarnya.


"Ada apa?" tanya Sofiah saat pintu kamar terbuka dan dilihatnya lelaki tampan dengan tubuh tinggi yang tak lain adalah Shatya berdiri dihadapannya.


"Tak ada. Hanya ingin memastikan apa kau baik-baik saj," jawab Shatya


"Apa kau menghawatirkan ku?" tanya Sofiah tersenyum menggoda ia tak serius bertanya seperti itu hanya mencoba mengajak laki-laki dihadapannya untuk bercanda.


"Tentu saja. Aku sangat khawatir jika kau terus-terusan sakit nantinya kau hanya akan merepotkan ku dan bukannya mencari pekerjaan untuk membayar hutangmu," jawab Shatya sambil tersenyum mengejek membuat Sofiah kesal.


"Jadi cepatlah sembuh okey?" tatapan mata Shatya terlihat meledek.


"Haaa ada kecoak!" teriak sofiah membuat Shatya kaget sekaligus panik.


"Kecoak dimana kecoak??" dan reflek Shatya menarik tangan Sofiah namun yang terjadi hanyalah sesuatu yang tak mereka duga dimana keduanya terjatuh di lantai dengan posisi Sofiah berada di pelukan Shatya mata keduanya saling beradu tatap. Sofiah tak menyangka jika Shatya benar-benar takut kecoak. Ryo yang memberitahu padanya pagi tadi saat mengantarkan makanan. Masih dengan posisi seperti itu Ryo yang datang tiba-tiba untuk mengantarkan pakaikan Sofiah yang sudah di pesan Shatya hanya bisa Menatap terbelalak kepada mereka dan langsung saja dia membalikan badannya.


"Maaf, sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat," ucapannya itu membuat Shatya dan Sofiah menyadari kedatangannya sontak mereka langsung berdiri kembali sementara Ryo sudah berjalan meninggalkan keduanya.


"Hey Ryo, aku hanya terjatuh apa kau tidak lihat? beraninya membuat kesimpulan sendiri!" teriak Shatya kesal memandang Ryo yang tidak perduli dengan omongannya.


"Tak apa-apa tuan aku takan mengganggumu," teriaknya sambil terus berjalan.


"Apa yang dia katakan? apa dia sudah gila?" Shatya mendengus kesal. Sofiah hanya diam dan kembali berdiri. Rupanya dia Membuat kesalahan besar dengan membohongi Shatya.


"Dan kau, apa kau membohongiku?" tanya Shatya menatap curiga pada sofiah dan membuat Sofiah Ketakutan setengah mati namun dengan jurus lincahnya dia menjawab tanpa ragu.


"Tidak kok, aku sungguh melihat kecoak." dengan percaya diri dia mengangkat wajahnya melihat ke mata Shatya.


"Kecoak muncul hanya ketika kau tinggal disini, sepertinya kau yang membuat kecoak-kecoak itu datang kemari!" tuduh Shatya.


"Whattt?" Sofiah hampir syok mendengar tuduhan yang tak masuk akal dari Shatya.


"Dengarkan baik-baik, jangan berani-beraninya masuk ke kamarku, ah tidak! mendekat saja kau tidak boleh nanti di kamarku bisa ada kecoak. Mengerti?"


"Yayaya, jangan khawatir tuaaaan. Lagi pula aku tidak tertarik melihat ataupun mendekati kamarmu," jawab Sofiah menahan kesal.


"Sekarang pergi temui Ryo dan beritahu dia agar menelpon petugas untuk membersihkan rumah dari kecoak-kecoak itu," perintah Shatya.


"Ne arraseo." Jawab Sofiah menekan kata-katanya dan pergi berlari kelantai bawah untuk menemui Ryo namun kata-kata selanjutnya dari Shatya membuat ia menghentikan langkah kakinya.


"Tunggu! beritahu dia juga bahwa yang dilihatnya tadi hanyalah kesalahpahaman."


Di lantai bawah Ryo duduk di sofa ruang tamu dan Sofiah pun menghampirinya.


"Permisi, Shatya menyuruhmu menelpon petugas untuk membersihkan rumahnya dari kecoak-kecoak dan juga memintaku untuk memberitahumu bahwa yang kau lihat tadi hanyalah kesalahpahaman,"


"Aaah jadi kau pasti menakutinya dengan kecoak?" tanya Ryo yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Sofiah.


"Aku tidak menyangka ternyata dia benar-benar takut dengan serangga kecil itu," ucap Sofiah sambil tertawa cekikikan.


"Pantas saja..." gumam Ryo. "Apa dia tidak curiga bahwa kau membohonginya? jika dia tau kau berbohong maka dia akan curiga bahwa aku yang memberitahumu."


"Jangan khawatir aku sangat pandai berbohong," jawab Sofiah dengan bangga. "Tapi rupanya kau sangat pandai bahasa indo apa kau juga dari indo?" tanya Sofiah penasaran.


"Tidak. Aku hanya bisa berbicara dalam beberapa bahasa termasuk bahasa Indonesia." Jawab Ryo.


"Wooaaaah kau sungguh keren," hanya kalimat itu yang bisa di ucapkan Sofiah sebagai wujud dari kekagumannya.


"Baiklah. Ini ambillah pakaianmu aku akan menelpon petugas kebersihan," ucap Ryo sambil menyerahkan pakaian wanita yang terisi di tas belanja kepada Sofiah.


"Waah banyak sekali, semua ini untukku?" tanya Sofiah


"Hmm tuan Shatya memintaku membelinya untukmu."


"Waaah ternyata dia sangat baik, terimakasih yaaaaaa," ucapnya sangat senang.


"Tapi tuan muda bilang jumlah uang yang digunakan untuk membeli semua pakaian itu dimasukan ke dalam catatan hutangmu,"


"Whooaaaa!!!" Teriak Sofiah syook. "Sepertinya aku hanya akan hidup untuk melunasi hutang-hutangku...," keluh Sofiah meratapi dirinya sendiri.


"Semangat lah" ucap Ryo sambil tersenyum kecil dan berlalu dari sana untuk menelpon petugas pembersih.


"Bos dan pengawal sama saja," gumam Sofiah dengan wajah lesu.


"Aiiiish dasar pria Gila itu! Bagaimana caranya aku membayar semua ini??? Aiiiish dasaaaar Rasanya aku ingin membunuhnya."


"Membunuh siapa?" Tanya Shatya yang muncul tiba-tiba. Sofiah sangat terkejut dan segera mencari Jawaban.


"Aah serangga tadi, mereka sangat menjengkelkan."


"Kau tidak sedang membicarakan ku kan?" tanya Shatya dengan tatapan mengintimidasi.


"Aish mana mungkin aku berani. Ah aku permisi dulu masih harus merapikan pakaian ini." Ucap Sofiah mencari Alasan dan berlari secepat mungkin menuju kamarnya, Shatya hanya memandang nya bingung lalu duduk di sofa sambil memainkan handphonenya.