
"Kau datang kemari hanya untuk mempermalukan aku?" tanya ayah Shatya sangat marah namun menahan kata-katanya agar tidak melonjak yang nantinya hanya akan membuat para wartawan datang, Sofiah yang menyadari situasi seperti apa yang tengah terjadi merasa takut dan bersalah.
"Sudahlah pak, biarkan Shatya menentukan pilihannya sendiri," ucap ibu tiri Shatya yang sudah berada disana sejak rekan ayahnya pergi meninggalkan party dengan kesal.
"Gadis ini, aku tak melihat tanda-tanda bahwa dia putri konglomerat. Apa kau tengah berpacaran dengan gadis miskin yang tidak jelas asal-usulnya?"
"Pantas saja kau meninggalkan ibu, karena kau pria tak berperasaan yang hanya mementingkan harta dan jabatan ketimbang perasaan wanita biasa seperti ibu."
"Sudah pak, Berhenti menyalahkan Shatya." ibu tirinya masih membela.
"Aku sangat malu dan kecewa padanya, harusnya sejak awal dia memang tidak perlu datang ke pesta ini."
"Paaa.." Ibu tiri Shatya masih berusaha menenangkan suaminya.
"Jika kau sudah merasa demikian maka aku akan pergi." Ucap Shatya pada ayahnya dingin sembari tersenyum kecut. Sofiah tak tau harus berbuat apa, ia gugup dan gemetar karena merasa takut.
"Haiiis dasar anak kurang ajar!" umpat ayahnya kesal, lagi-lagi Shatya hanya diam dan segera menarik tangan Sofiah untuk meninggalkan pesta.
"Sudahlah pak, sudah!" ibu tiri Shatya masih menenangkan ayahnya.
Sofiah dan Shatya duduk diam di dalam mobil tanpa suara, Ryo hanya menatap diam-diam pada keduanya melalui kaca spion mobil.
Sampai di rumah pun Shatya masih tak membuat suara, Sofiah sendiri tidak berani membuka suara dan hanya menatap Shatya yang sudah masuk ke dalam kamarnya.
Esoknya suasana masih belum baik, Sofiah pergi ke tempat les kursus bahasa Korea dan Shatya pergi ke Kampus seperti biasanya, mereka masih tak saling bertukar sapa malah saling diam satu sama lain. Sofiah sendiri menunggu Shatya mengajaknya bicara namun tetap saja Shatya masih diam seribu bahasa.
Pukul 12.00 setelah selesai kursus bahasa Korea, Sofiah segera bergegas ke restoran tempatnya bekerja.
"Kau sudah sampai rupanya," ucap Eun Woo namun Sofiah hanya termenung tidak mendengar suara Eun Woo.
"Hei sofiah!!"
"Eh hai..," gumam Sofiah tersadar dari lamunannya.
"Wae? musun iri iso?" (ada apa? apa ada masalah?)" tanya Eun Woo merasa hawatir.
"Ah Ani (tidak), hanya sedang tidak mood saja.."
"Ooh, kita sedang ada pekerja paruh waktu baru lho," ucap Eun Woo.
"Siapa?" tanya Sofiah pura-pura penasaran.
"Shatya..." gumam Sofiah.
"Pagi tadi dia datang kemari melamar pekerjaan disini," ucap Eun Woo.
"Waah bagaimana mungkin." Sofiah masih tidak percaya dan berjalan kearah Shatya..
"Shatya apa yang kau lakukan?" tanya Sofiah penasaran.
"kau tidak lihat ya? aku sedang bekerja," jawab Shatya santai dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Maksudku kenapa bekerja? apa ayahmu menarik semua kartu ATM mu?" tanya Sofiah khawatir.
"Dia tidak akan melakukan itu, aku hanya ingin bekerja denganmu, temanmu itu tidak becus dalam menangani mu bahkan saat kau hampir dihajar dia malah tidak ada." Jawab Shatya simple dan berjalan meninggalkan meja yang sudah bersih, Sofiah tersenyum senang.
"Hei tunggu..," Sofiah masih ingin bicara dengannya.
"Apa kau akan terus menggangguku? sanah pergilah bekerja," ucap Shatya sok cool, Sofiah hanya tersenyum senang.
"Baiklah semangat," Sofiah menyemangati Shatya dan mulai bekerja. Shatya tersenyum kecil, hatinya merasa baikan setelah melihat wajah Sofiah tersenyum.
"Rupanya aku melakukan kesalahan dengan menerima Shatya bekerja disini," gumam Eun Woo yang menatap sedih kearah Sofiah dan Shatya yang tengah bekerja sambil bercanda dan tertawa kecil. "Aku melakukannya untuk Sofiah.."
"Anda baik-baik saja tuan?" tanya seorang karyawan pada Eun Woo.
"Entahlah," jawab Eun Woo menarik nafas panjang, kemudian tersenyum pada karyawan nya. "Aku merasa hatiku sakit."
"Haruskah aku memecat laki-laki itu?"
"Hahaha tidak perlu begitu, lagi pula dia benar, aku tidak mampu menjaga Sofiah dengan baik jadi aku menerima dia bekerja disini itu hanya untuk Sofiah," kata Eun Woo dan kembali menatap pada Shatya dan Sofiah.
"Jika begitu tetap semangat tuan!" pegawainya mencoba menyemangati.
"Hahaha baiklah, sekarang kembalilah bekerja.."
"Baik tuan.."
***
Pada dasarnya orang yang paling mencintai adalah yang selalu memilih untuk mengalah, mengikhlaskan dan memilih menanggung rasa sakit sendirian.