Fall In Love In Korea

Fall In Love In Korea
Part 2


Satu tahun sudah berlalu , Shatya sudah terbiasa dengan kehidupan di Korea. Namun ia lebih memilih tinggal di apartemen ketimbang tinggal di rumah dengan ayah dan ibu tirinya serta saudara tirinya yang merupakan seorang perempuan. Shatya melanjutkan kembali kuliahnya pindah dari UI ke kampus ternama di Seol korea jurusan Management Bisnis.


Awalnya dia diminta ayahnya untuk bekerja di perusahaan milik ayahnya namun dia menolak mentah-mentah tawaran ayahnya tersebut. Dia hanya ingin fokus kuliah dan kembali ke Indonesia setelah lulus nanti. Ayahnya setuju saja dengan apa yang di inginkan putranya, Ia hanya perlu menunggu waktu yang tepat agar putranya bisa bekerja di perusahaan sekaligus menjadi pewaris perusahaan yang sudah berkembang pesat di berbagai negara tersebut.


Di kampus dia menjadi idola banyak wanita Karena ketampanan dan kepandaiannya Yang tentu saja merupakan turunan dari ayah serta ibunya. Namun Semenjak peninggalan ibunya ia bahkan tidak tertarik untuk bergaul dengan siapapun ataupun membuka diri pada teman-temannya, padahal dahulu di Indonesia dia terkenal dengan senyuman dan keramahannya pada semua orang tapi kini ia bahkan lupa bagaimana caranya tersenyum ia menjadi sangat dingin, tertutup dan cuek pada orang lain terutama pada para gadis-gadis yang mengidolakannya di kampus. Ia selalu berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri karena tidak ingin merepotkan orang lain.


Tak seperti biasanya hari ini Shatya baru pulang malam hari dari kampus. Si jenius tampan itu tidak merasa keberatan dengan kesibukannya sehari-hari justru sebaliknya ia begitu menikmati setiap kesibukan itu karena hanya dengan begitu ia bisa melupakan kesedihannya, dan malam ini saat dalam perjalanan pulang dari kampus ia melihat seorang gadis duduk menangis di tepi jalan seorang diri. Ia memandang bingung dan bertanya-tanya mengapa gadis itu duduk di sana selarut ini?


"Ryo tolong tepikan mobil pada wanita yang duduk di sana," pinta Shatya pada Ryo asisten pribadinya semenjak ia tinggal di Korea. Atas perintah ayahnya Ryo selalu menjaga tuan mudanya dan menuruti setiap perintahnya.


"Baik tuan." Jawab Ryo dan segera menepikan mobil di tepi jalan tersebut tanpa bertanya mengapa, dan dari jendela mobil Shatya mencoba bertanya pada gadis malang itu.


"Permisi nona, Ini sudah sangat larut mengapa anda menangis di tepi jalan seperti ini?" (dalam bahasa korea).


"Aaah ternyata meski berhati dingin tuan muda Sepertinya masih punya perasaan." Ryo membatin.


Sementara gadis itu kebingungan menatap Shatya dan akhirnya dengan suara lantang gadis itu membuka suara.


"Apa yang kau katakan?? Apa kau sedang merayuku atau mencemaskan ku? Aku bahkan tidak mengerti apa yang kau katakan dan kau juga pastinya tidak mengerti apa yang aku katakan bukan? pergi saja dari sini, percuma saja bicara denganmu!" Usai berkata begitu gadis itu kembali menangis putus asa dan tangisannya semakin deras terisak.



"Waaah apa kau dari indonesia juga?" tanya gadis tersebut kegirangan dan berlari tepat di depan jendela mobil dimana Shatya berada.


"Tuan, tolong bantu aku sekali ini saja. Sesuatu terjadi padaku dan aku tidak tau harus kemana? Tolong bantu aku tuan, ijinkan aku menginap di rumahmu malam ini," pinta gadis itu terdengar memohon dengan ekspresi wajah yang membuat siapa pun yang melihatnya tidak akan tega menolak, ia memohon tanpa ragu sebab dia benar-benar tidak tau harus pergi kemana lagi tak ada satu pun orang yang dia kenal di Negeri Korea yang sangat asing baginya ini dan karena merasa iba tanpa bertanya mengapa Shatya menyuruhnya masuk ke dalam mobil.


"Masuklah." Pinta shatya dengan ekspresi datar.


"Anda baik sekali tuan terimakasih, Aku tidak akan melupakan kebaikanmu." Tutur gadis itu merasa senang serta lega dan langsung masuk ke dalam mobil, mobil itu pun kembali melaju di jalanan kota Seoul yang semakin gelap dan terasa dinginnya. Sementara dalam perjalanan semua bisu tak ada suara, gadis itu juga hanya diam dan menghapus sisa-sisa air matanya, namun tiba-tiba sesuatu terlintas dipikiran gadis tersebut.


"Tuan anda orang baik kan? Anda tidak akan menjual saya kan??" pertanyaan itu terlontar begitu saja membuat Shatya yang mendengarnya bereaksi kaget.


"Apa kau gila? aku sudah membantumu dan kau malah menuduhku yang tidak-tidak??" Gadis itu menyadari bahwa laki-laki yang duduk disampingnya itu tengah merasa kesal merasa tersinggung dengan pertanyaannya.


"Bukan begitu tuan, hanya saja saya sering melihat di drama bahwa kadang orang yang membantu orang lain itu sebenarnya punya niat jahat," ucapnya dengan polos.


"Sebaiknya otak kecilmu itu jangan hanya digunakan untuk mengingat hal-hal bodoh dalam drama," ucap Shatya dingin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menyandarkan tubuhnya kembali dibangku mobil dan menutup matanya sebentar untuk beristirahat. Gadis itu hanya menghela nafas panjang dan kembali duduk diam dengan manis, perasaannya sudah jauh lebih baik. Meskipun begitu ia masih sangat sedih merindukan rumah dan keluarganya.


"Aku rasa orang ini benar-benar tidak berniat jahat padaku. Aaah sepertinya aku memang berada di Korea. Aku ingin pulang, aku merindukan ayah dan ibuku. Tolonglah aku ayaaah, ibu.." batinnya.