Fall In Love In Korea

Fall In Love In Korea
Part 25


Mereka masih saling beradu tatap, sampai Akhirnya Shatya membuka suara.


"Aku juga tidak tau dia siapaku? tapi dia tidak bisa lepas dari ingatanku." Mata Sofiah langsung terbelalak mendengar jawaban Shatya, sementara Eun Woo hanya diam terpaku menyaksikan pemandangan yang menyesakkan dadanya. Sejak awal bertemu Sofiah Eun Wo memang sudah jatuh hati. Kekonyolan atau tingkah lucu Sofiah, Sifatnya yang jujur dan apa adanya, sangat sederhana sehingga membuat Eun Woo jatuh hati pada pertemuan pertamanya.


Shatya kemudian menarik tangan Sofiah keluar dari restoran, Sofiah hanya diam dan patuh saja dengan apa yang Shatya lakukan. Tidak perduli dengan semua orang yang menatap mereka.


"Wooah dasar brengsek!" gerutu pelanggan yang dipukul Shatya sambil menatap mereka dengan kekesalan.


Sofiah melepaskan tangannya dari genggaman Shatya ketika mereka berada di luar restoran, Shatya menghentikan langkahnya dan memandang kearah Sofiah.


"Apa yang baru saja kamu lakukan?" tanya Sofiah menatap tajam kearah Shatya.


"Aku membantumu," jawab Shatya ekspresi wajahnya selalu sulit ditebak Sofiah.


"Hanya.., membantu?" tanya Sofiah ada hal lain yang ingin ia dengar dari mulut Shatya.


"Hmmm." Shatya yang masih bingung dengan perasaannya sendiri hanya menjawab singkat.


"Lalu mengapa mengatakan itu?"


"Aku sendiri juga tidak tau," jawab Shatya, Sofiah tersenyum kecut.


"Jika begitu pergilah aku akan kembali bekerja."


"Apa kau marah padaku?" tanya Shatya.


"Kenapa aku harus marah pada orang yang sudah membantuku? Terimakasih," ucap Sofiah, dalam hatinya memendam kekesalan dan berlalu dari sana. Shatya hanya menatap kepergian Sofiah, hatinya merasa sedih.


Di dalam ruangan Eun Woo melihat kedatangan Sofiah iapun berjalan mendekat .


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Eun Woo, Sofiah tersenyum kecil dan menjawab dengan anggukan kepala.


"Maaf saat kejadian itu aku berada di toilet," ucap Eun Woo merasa bersalah.


"Ngomong apa sih! aku beneran nggak apa-apa kok," ucap Sofiah sambil tersenyum, Eun Woo membalas senyuman itu.


"Syukurlah, orang itu juga sudah pergi."


"Sudahlah, semua orang pasti melakukan kesalahan apalagi ketika masih pekerjaan baru seperti ini, semua orang butuh belajar."


"Haha iya kamu benar, ya sudah ayo bekerja lagi."


"Lebih baik kamu istrahat saja dulu," ucap Eun Woo hawatir.


"Tidak apa-apa, aku bisa bekerja sekarang."


"Baiklah semangat ya."


"Tentu saja, kau juga ya." Ucap Sofiah tersenyum, Eun Woo membalas senyuman Sofiah.


Shatya kembali ke rumah dengan perasaan sedih, setelah melepaskan mantel yang dikenakannya iapun menjatuhkan tubuhnya di atas sofa dan duduk melamun mengenang kisah cintanya dimasa lalu di usia yang memang masih belia.


Shatya punya seorang sahabat perempuan yang cantik dan baik, gadis itu selalu bisa membuat Shatya tertawa setiap kali bersedih, gadis itu juga selalu datang mengadu dan menangis pada Shatya ketika Kedua orang tuanya bertengkar. Mereka begitu dekat dan telah bersahabat baik sejak usia tujuh tahun, itu dikarenakan rumah mereka yang hanya bertetanggaan. Karena gadis itu baik dan cantik juga selalu terlihat lucu dan menggemaskan ketika menangis pada Shatya, diam-diam Shatya menyukainya, merasa selalu ingin melindunginya, menjaganya dan bertekad ingin membahagiakan gadis tersebut.


Sampai akhirnya saat usia 13 tahun, sahabat yang ia cintai tersebut harus pindah ke kota lain karena ayahnya yang seorang tentara dipindah tugaskan. Mereka menangis karena takut tidak akan pernah bertemu dan akhirnya berjanji akan saling menunggu satu sama lain bahkan sampai kapanpun itu, sejak berpisah mereka masih sering berkomunikasi dan bertukar cerita melalui media sosial, namun satu tahun yang lalu saat Shatya akan berangkat ke korea ia mencoba mengirimi pesan pada sahabatnya dengan niat ingin pamit dan semoga sahabatnya mau menunggunya, namun sampai detik ini tak pernah ada balasan dari gadis itu.


Terdengar Suara pintu terbuka membuat Shatya sadar dari lamunan panjang, Shatya menyadari kedatangan seseorang dan benar saja seperti yang ada dibenaknya itu adalah Sofiah, suasana menjadi canggung antara keduanya.


"Kamu.. sudah pulang?" Tanya Shatya.


"Hmmm ya.." Jawab Sofiah canggung tak berani melihat ke arah Shatya.


"Kalau begitu istirahat lah."


"Aku akan masuk ke kamar."


"Ya baiklah."


Shatya memandang kepergian Sofiah.


***


Hiduplah untuk masa depan dan bukannya masa lalu.. Membiarkan hati menetap diantara masa lalu yang suram tentu saja membuat sulit untuk melangkah ke masa depan yang indah karena takut akan kegagalan yang sama..