Fall In Love In Korea

Fall In Love In Korea
Part 7


Setelah menginap semalam di rumah sakit Shatya akhirnya membawa kembali Sofiah ke apartemennya. Saat ini mereka duduk di sofa ruang tamu sepertinya mereka akan membahas hal penting.


"Ada yang ingin kau katakan?" tanya Shatya membuka percakapan setelah hening beberapa saat. Sofiah sedikit tersentak dan melirik ke arah Ryo dengan tatapan Sedih, Ryo memberinya isyarat dengan mengangguk kan kepalanya. Setelah mendapat kode dari Ryo ia pun membuka suara.


"Tuan Ehh," ia langsung menutup mulutnya ketika mengatakan kata tuan. "Maksudku Shatya...," ucapnya dengan wajah memelas untuk memohon.


"Katakan," ucap Shatya santai sambil menikmati teh hangat dan membaca majalah.


"Ijinkan aku tinggal disini yaa,, hmmm??" wajah polos itu memohon kepada Shatya.


"Sampai kapan?" tanya Shatya terlihat sangat cuek.


"Sampai aku menemukan temanku," jawabnya percaya diri.


"Kapan kau akan menemukan temanmu?"


Sofiah diam sejenak cukup terkejut dengan pertanyaan Shatya yang begitu menginterogasi sebelum akhirnya ia menjawab "emm.. aku tidak tau, tapi aku pasti akan menemukannya dengan segera."


"Baiklah. Tapi Tentu saja itu tidak gratis kan? kau harus membayar untuk kamar tidur setiap malamnya termasuk air, listrik dan makanan,"


"Mengapa anda pelit sekali?" protes Sofiah dengan suara agak pelan agar tidak menyinggung, berharap Shatya memberinya sedikit dispensasi.


"Jika tidak suka ya sudah carilah tempat lain!" Jawaban Shatya cuek dan seolah tak perduli.


"Baiklah-baiklah. Tentu saja aku sangat suka," ucap Sofiah takut Shatya akan benar-benar mengusirnya, ia tak tau akan kemana jika pergi dari rumah Shatya.


"Untuk sementara aku akan membayar mu ikut kelas kursus bahasa korea, aku akan memasukan biayanya ke daftar hutangmu."


"Apa aku memang harus ikut les bahasa Korea?" tanya sofiah lebih terdengar memprotes.


"Hmm, jika ingin terus hidup seperti orang buta, tuli dan bisu disini ya sudah tak perlu ikut les bahasa Korea."


"Ah ya ya, aku akan ikut. kapan kiranya aku akan ikut les tersebut?" dengan terpaksa Sofiah menyetujui rencana bodoh itu menurutnya.


"Besok jam 10 pagi sampai jam 03.00. Ryo akan mengantarmu," jawab Shatya sambil meletakan Majalah di atas meja.


"Jam 10 sampai jam 03.00??" tanya Sofiah karena terkejut, Itu adalah waktu yang sangat panjang baginya yang akan membuat dirinya lelah dan menderita di dalam kelas.


"Hmm, kenapa kau tidak suka?" tanya Shatya terdengar mengancam.


"Hahaha mana mungkin aku tidak suka, Aku mana bisa membantah," jawab Sofiah tersenyum menahan kekesalannya.


"Maksudmu kau mau melakukannya karena terpaksa?"


"Ahh hahaha mana mungkin aku begitu, aku bahkan bisa bertahan selama 24 jam disana hahahaha," tawa paksa Sofiah yang membuat Ryo menahan tawa.


"Baiklah, mulai sekarang tinggallah disini. Kamarmu adalah kamar yang sama."


"Baik terimakasih Shatya.." ucap Sofiah patuh "hanya itu?" Tanya Sofiah.


"Oh iya tolong Jangan membuat keributan, aku tidak suka berisik. Jangan masuk ke kamar ku tanpa ijin, jangan membuat berantakan barang-barang disini dan buanglah sampah pada tempatnya!" Shatya menjelaskan tentang beberapa hal yang tidak dia sukai.


"Aaa rupanya anda sangat rapi dan bersih," gumam sofiah "hanya itu?" tanya sofiah lagi.


"hmm." Jawab Shatya singkat.


"Dasar pria es mengapa kamu bisa hidup di bawah matahari?" batin Sofiah.


"Tentu saja kau harus mematuhinya, jika tidak kau harus siap ditendang dari sini." ucapan Shatya membuat tubuh Shofiah merinding ia tak bisa membayangkan jika nanti ia benar-benar sendirian di luar seperti beberapa hari yang lalu, sangat dingin dan ketakutan.


"Tidak! aku tidak ingin ditendang dari sini."


"Baiklah sekarang istirahatlah aku akan pergi ke kampus nanti Ryo akan membawakan mu makanan."


"kampus? anda kuliah dan bukannya bekerja?" tanya Sofiah penasaran.


"Ah aku lupa. Tolong jangan pernah ikut campur atau bertanya tentang urusanku apalagi pribadiku!" Ucap Shatya dingin bukannya menjawab pertanyaan Sofiah.


"Ahh baiklah. Maaf, aku tidak akan bertanya lagi," ucap Sofiah patuh lalu menatap Shatya yang berlalu meninggalkan apartemen.


"Meskipun anda Sangat bawel dan menjengkelkan tetap saja anda adalah orang yang sudah bersedia membantuku disini, sejuta ucapan terimakasih ku takan bisa membayar kebaikan kamu."


Pukul 10.00 pagi Shatya baru saja tiba di kampus dan seperti biasanya dia selalu menjadi pusat perhatian para wanita yang terpesona dengan wajah tampannya. Kehadirannya selalu disambut dengan senyuman para gadis cantik namun seperti biasanya juga tak ada satupun senyuman dan sapaan yang dibalas olehnya dia hanya terus berjalan dengan santai dan cool seolah-olah ia tak melihat dan mendengar pujian wanita-wanita cantik itu untuknya.


"Hari ini rupanya terlambat?" tanya prof lee ketika melihat kedatangan Shatya.


(mereka berbicara dalam bahasa Korea)


"Aah ya, saya ada urusan sedikit," jawab Shatya. Prof Lee hanya tersenyum kecil.


"Yaa tak apa-apa. Tapi apakah kamu sudah membuat dokumen-dokumen yang aku minta?" tanya prof Lee.


"Ya sudah selesai." jawab Shatya sambil menyerahkan dokumen yang digenggamnya kepada prof Lee.


"Bagus, kau memang si jenius itu." Puji prof Lee. Shatya hanya tersenyum kecil saat mendengar pujian yang hampir setiap hari di dengarnya.


"Creeek" terdengar suara pintu terbuka rupanya itu adalah Go Haa Jin teman sekelas Shatya orang nomor dua terpintar setelah Shatya di jurusannya.


"Annyeong haseyo," terdengar suara sapaan lembut dibaluti senyum manis dari gadis asal Korea yang sangat cantik itu.


"Annyeong," jawab Shatya dan prof Lee membalas sapaan Go Haa Jin.


"Bagaimana dengan laporan mu untuk akhir semester apa berjalan lancar?" tanya prof Lee pada Go Haa Jin.


"Ne. aku sudah berusaha keras Menyelesaikannya," jawab Goo Haa Jin masih menampakkan senyum indah diwajahnya.


"Hmm kalian memang murid-murid yang cerdas yang selalu bisa diandalkan, terlebih lagi kau Shatya kelak kau pasti bisa menjalankan bisnis besar, sebab diusia muda kau sudah bisa membuat beberapa dokumen-dokumen yang terdapat ide-ide brilian dan sangat membantu perusahaan."


"Anda hanya berlebihan dalam memuji saya," ucap Shatya tersenyum kecil sementara gadis yang berdiri disampingnya selalu tersenyum kagum setiap kali mendengar Shatya mendapatkan pujian.


"Kalian ada kelas kan? jika iya pergilah, terimakasih sudah membantuku dengan dokumen-dokumen ini,"


"Ya sama-sama prof. Annyeongi gyeseo," ucap kedua murid itu lalu pamit untuk mengikuti mata kuliah Hari ini.


"Habis mata kuliah ayo makan siang bersama." Go Haa Jin mencoba membuka topik pembicaraan seperti biasanya, Sebab sepanjang jalan menuju ruang kelas hanya ada keheningan.


"Maaf. Aaku punya urusan," tolak Shatya singkat, padat dan jelas tanpa menoleh kearah gadis cantik tersebut, membuat gadis cantik tersebut mengelus dada sembari menarik nafas dalam.


"Baiklah kalau begitu lain kali saja," ucap Go Haa Jin masih dengan senyum manisnya meski perasaannya sedang kecewa.


"Hm." Jawab Shatya dingin. Merekapun kembali melanjutkan perjalanan tanpa suara.