Fall In Love In Korea

Fall In Love In Korea
Part 18


"Ini sudah pukul 09.30 tapi mengapa Ryo belum juga nampak? apa dia sibuk? jika iya aku akan pergi naik Bus." Sofiah bertanya-tanya pada dirinya sendiri, sudah sejak tadi ia menunggu Ryo untuk mengantarnya ke tempat kursus bahasa Korea tapi sampai sekarang Ryo belum juga nampak.


"Semalam Ryo mengirim pesan padaku, dia tidak bisa mengantarmu hari ini karena ada urusan penting, apa tidak apa jika kau naik bus saja?" tanya Shatya sambil menuruni anak tangga. Sofiah agak terkejut dengan kedatangan Shatya yang tiba-tiba, terlebih lagi mengingat kejadian kemarin membuatnya ingin melarikan diri dari sana, namun tentu saja itu bukan jalan yang benar, lagi pula Shatya sudah minta maaf dan ia juga tidak punya alasan untuk marah pada Shatya.


"Ooh begitu rupanya. Baiklah aku akan naik bus," ucap sofiah. "tapi apa kau tak ke kampus?" tanya balik Sofiah.


"Tidak. Aku merasa tidak enak badan," jawab Shatya


"Apa? ada apa denganmu? apa kau baik-baik saja?" tanya Sofiah merasa khawatir.


"Respon seperti apa itu? apa kau sedang menghawatirkan aku?" tanya Shatya tersenyum bercanda.


"Tidak kok! Aku hanya bertanya," jawab Sofiah salah tingkah.


"Bisakah kamu buatkan aku teh?" tanya Shatya. Wajahnya nampak pucat, dan ia terlihat sangat lemas.


"Emm tentu."


Sofiah hendak bergegas ke dapur untuk membuatkan teh, namun Tiba-tiba terdengar suara "Bruk," Sofiah mengehentikan langkahnya dan membalikan badan untuk melihat suara apa yang baru saja ia dengar. Dan benar saja, seperti yang terlintas dibenaknya, Itu adalah suara Shatya yang terjatuh lemas dilantai saat mencoba dengan susah payah menuju sofa untuk duduk.


"Shatya!" teriak sofiah panik dan berlari mendekati Shatya.


"Kita akan ke rumah sakit," ucap sofiah masih dalam keadaan panik, ia sangat khawatir dan juga cemas. Sementara Shatya yang masih sedikit sadar dengan susah payah mengucapkan kalimat.


"Tidak. Jangan bawa aku kerumah sakit, bawa saja aku ke kamar, istrahat sebentar akan membuatku kembali baik."


"Tapi kamu berkeringat dingin, wajahmu sangat pucat dan kamu juga menggigil," ucap sofiah panik. "Kita harus ke rumah sakit Shatya."


"Aku bilang tidak ya tidak! aku tidak mau ke rumah sakit dan jangan panggil dokter, antar kan aku ke kamarku dan kau pergilah ke tempat kursus." Ucap Shatya bersikeras tak mau ke rumah sakit, sementara tubuhnya terus mengalir keringat dingin. Sofiah sendiri tak ada pilihan lain selain mendengarkan ucapan Shatya, akhirnya dia membantu menopang tubuh Shatya dengan susah payah mengantarkannya ke kamar.


"Yah berbaringlah," ucap Sofiah dan membantu meletakkan tubuh Shatya di atas tempat tidur, ia kemudian menyelimuti tubuh shatya, berlari ke dapur mengambil air hangat dan mengompres kepala Shatya dengan handuk basah yang sudah diremas dari air hangat tersebut.


Kemudian ia keluar lagi dari kamar Shatya dan kembali dengan selimut yang ia ambil dari kamarnya lalu menyelimuti lagi tubuh Shatya yang tengah kedinginan. Antara sadar dan tidak sadar shatya mengamati kesibukan Sofiah dalam merawatnya.


"Apa ini?" tanya shatya dengan suara lemas.


"Teh di campur gula dan garam, sepertinya kamu dehidrasi teh ini bisa sedikit membantu sebagai pengganti oralit," jawab Sofiah lembut. Setelah memberi minum teh larutan garam pada Shatya ia kembali ke dapur untuk membuatkan bubur ayam.


Beberapa menit kemudian bubur ayam sudah matang, Sofiah berlari kecil menuju kamar Shatya, tiba di sana dia membantu shatya duduk dan menyuapinya makan dan masih dalam keadaan lemas Shatya berusaha mengunyah bubur ayam buatan Sofiah, sekitar 10 menit Shatya akhirnya selesai makan meski makanan itu tidak habis karena memang sedang tidak nafsu untuk makan. Sofiah membantu memberinya minum air hangat lalu merebahkan kembali tubuh Shatya seperti semula sampai akhirnya Shatya tertidur.


Sofiah masih duduk di samping ranjang menjaga Shatya, matanya mengamati isi kamar Shatya yang tertata rapi, buku-buku yang berjejer rapi di rak buku, kemudian ia menarik nafas dalam dan bergumam pelan.


"Sejak awal shatya tidak mengijinkan aku masuk ke kamar misterius ini, bahkan untuk mendekati kamar ini saja dia melarang ku, tapi akhirnya mau tidak mau hari ini aku masuk dengan sendirinya ke kamar misterius ini..." Ia masih mengamati isi kamar Shatya sampai akhirnya ia melihat foto yang yang terpajang di atas meja belajar Shatya, iapun mendekat ke meja belajar tersebut untuk melihat lebih jelas foto itu, disana nampak seorang wanita dengan laki-laki berusia sekitar 12 tahun..


"Apa wanita ini ibunya? ibunya sangat cantik pantas saja, mungkin dia mewarisi wajah tampan itu dari ibunya," ucap sofiah tersenyum kecil, Namun ia menyadari sesuatu.


"Tapi kenapa hanya foto dia dan ibunya? dimana foto bersama ayahnya?" tanya Sofiah bingung namun suara Shatya yang meraung kesakitan membuatnya melupakan semua itu dan segera mendekati Shatya, kemudian ia mengambil handuk di kepala Shatya dan meremasnya kembali dengan air hangat lalu mengompresnya kembali di kepala Shatya..


"Haruskah aku menghubungi Ryo? tapi kata Shatya Ryo punya urusan penting, lagi pula aku tak punya nomor handphonenya."


***


Sementara itu ditempat lain Eun Woo datang menjemput Sofiah ke tempat kursus bahasa korea, namun meski semua orang sudah kembali ia masih tidak melihat Sofiah.


"Rupanya dia memang tidak datang," gumam Eun Woo, berkali-kali ia mencoba menghubungi Sofiah namun tak ada jawaban sampai akhirnya dia memutuskan kembali dan pergi ke rumah makan tempat mereka bekerja. Tiba di sana ia bertanya pada salah satu pegawainya.


"Apa Sofiah tidak datang bekerja hari ini?"


"Sejak tadi dia memang belum nampak tuan, mungkin juga tak akan datang," jawab pegawai tersebut.


"Ah baiklah, aku akan pulang. Beritahu aku jika dia datang kemari." ucap Eun Woo


"Baik pak."