
Hari sudah malam sementara Ryo, Shatya dan Sofiah masih bermain-main di luar. Mereka sangat menikmati liburan hari ini. Kini mereka tengah berada di pasar jajan, sambil berjalan pelan Sofiah melihat-lihat berbagai aneka jenis makanan di sana.
"Waah aku melihat ini di drama," ucapnya sambil menunjuk beberapa makanan.
"Lagi-lagi drama..," protes Shatya merasa muak mendengar kata Drama.
"Itu Odeng atau Eumok." Ryo membuka suara saat melihat tangan Sofiah mengambil makanan yang di maksud.
"Aaah apa ini halal?" tanya Sofiah dengan polos.
"Eh? apa anda muslim?" tanya Ryo. Ya Ryo memang berasal dari Korea dan beragama non muslim. Sofiah menganggukkan kepalanya.
"Aah begitu rupanya."
"Makanan itu bisa kamu makan, itu hanya dibuat dari ikan yang dihaluskan dan dicampur dengan tepung terigu bersama bumbu-bumbu, di Indonesia mungkin mirip Seperti bakso." Shatya angkat bicara meski masih dengan tampang dinginnya sambil menyilangkan tangannya di dada.
"Aaah wah pasti enak, kalo begitu cobalah," ucap Sofiah dan menyuapkan makanan itu tiba-tiba ke mulut Shatya. Shatya yang tidak menyangka Sofiah akan melakukan itu hanya merespon kaget dan menerima makanan itu masuk ke dalam mulutnya dengan pasrah. Matanya terbuka lebar sebagai wujud dari rasa tidak percayanya, ia terdiam sampai akhirnya pertanyaan Sofiah mengembalikan kesadarannya.
"Apa Itu enak?" tanya Sofiah merasa puas berhasil membalaskan sedikit dendamnya pada Shatya.
"Ah ya ini enak, tapi karena kau menyuapnya ke mulutku rasanya jadi mengerikan," jawab Shatya salah tingkah dan baru mengunyah makanan itu. Ryo tertawa kecil.
"Ini apa namanya?" tanya Sofiah menunjuk makanan yang dimaksud.
"Hot bar. Sebut saja saudara kembarannya Odeng hanya saja yang ini dimasak dengan cara digoreng," kali ini Ryo yang menjawab nya.
"Apa ini enak?" tanya Sofiah.
"Cobalah sendiri," ucap Shatya dan mengambil satu tusukan lalu menyuapkannya ke mulut Sofiah dengan paksa untuk balas dendam.
"Kalian benar-benar, bos dan pengawal sama saja."
Malam pun semakin larut mereka akhirnya memutuskan untuk kembali pulang. Dalam perjalanan Sofiah mulai merasa ngantuk, akhirnya Sofiah tertidur di dalam mobil dengan posisi kepala Sofiah berbaring di bahu kanan Shatya. Awalnya Shatya selalu menepis kepala Sofiah dari bahunya namun selalu saja kepala mungil itu kembali terbaring di bahunya, akhirnya dia memilih membiarkan nya saja.
Namun tak berselang lama Shatya juga merasa ngantuk dan ikut tertidur, kepalanya berbaring menindih kepala Sofiah. Sementara Ryo ia sibuk menyetir mobil sambil diam-diam tertawa kecil melihat tingkah Shatya dan Sofiah yang seperti bayi sedang tidur.
"Aku tidak mengerti takdir seperti apa sebenarnya yang tengah terjadi di antara kalian berdua, tuan sudah agak berubah dan lebih banyak tertawa semenjak kedatangan nona sofiah."
Beberapa jam kemudian mereka akhirnya tiba di apartemen. Shatya yang sudah bangun mencoba membangunkan Sofiah namun sudah menjadi kebiasaan buruk Sofiah ketika tertidur sangat sulit dibangunkan dan akhirnya dengan terpaksa Shatya harus menggendong tubuh mungil Sofiah.
"Mengapa tubuh mungil ini begitu berat? aku baru menyadarinya hari ini, waktu itu terlalu panik karena dia pingsan." ucap Shatya ketika tubuh mungil itu sudah di pelukannya.
"Biar saya saja yang menggendongnya jika anda merasa lelah," ucap Ryo menawarkan.
"Tidak perlu. Kau sudah kelelahan menyetir mobil jadi pulanglah dan istrahat saja," ucap Shatya dan berjalan masuk membawa Sofiah kedalam apartemennya.
"Baiklah tuan." Ryo menuruti ucapan Shatya dan menatap kepergian tuannya tersebut.
"Ada apa dengannya? selama ini dia tidak perduli padaku meski kelelahan tapi sekarang dia mengatakan itu?" Tanya Ryo pada sendiri.
Setelah Shatya menghilang dari pandangannya iapun segera bergegas masuk ke dalam mobil untuk pulang ke rumahnya.
Tiba di kamar Sofiah, Shatya meletakan tubuh mungil Sofiah di atas tempat tidurnya dengan susah payah. Saat hendak menyelimuti Sofiah tiba-tiba ia kaget karena Sofiah menarik kerah bajunya membuat wajah mereka beradu tatap sangat dekat. Shatya bisa merasakan ******* nafas Sofiah yang masih dalam keadaan tertidur, Shatya menyadari bahwa Sofiah ternyata tengah mengigau. Kemudian dengan sedih Sofiah berkata.
"Ibuuu aku merindukanmu..," lalu melepaskan tangannya dari kerah baju shatya. Shatya segera berdiri kembali dan menarik nafas dalam lalu dengan tergesa-gesa dia menyelimuti Sofiah dan keluar dari kamar.
"Dasar gadis aneh.."