
Selesai makan malam Shatya duduk di sofa menonton tv bersama dua orang gadis di rumahnya. Namun Shatya nampak lebih asyik bercanda dengan Sofiah sehingga membuat Naura merasa sangat kesal dan pergi ke kamarnya dengan jengkel.
Karena rasa iri dan dengki dihatinya, Naura mulai memikirkan cara licik untuk menyingkirkan Sofiah.
"Sial, siapa sebenarnya gadis sialan itu!!" gerutu Naura di dalam kamar Shatya.
Di ruang tamu Sofiah mulai merasa mengantuk.
"Aku pergi tidur ya," gumam Sofiah sambil menguap.
"Hmmm," jawab Shatya seperti biasa.
"Apa kau yakin akan tidur disini? tidurlah saja di kamarku, biar aku yang tidur di sofa," ucap Sofiah.
"Sudahlah aku laki-laki, tidur di manapun tidak jadi masalah."
"Hmm baiklah, Good Night."
"Good Night."
****
Pagi kembali menyapa kota Seoul yang masih membekas dinginnya akibat hujan semalaman, penghuni apartemen masih tertidur pulas tapi tidak dengan Naura, ia sudah bangun dan membuatkan sarapan pagi.
Shatya yang hanya tidur di ruang tamu terbangun dengan aroma masakan Naura yang wangi berbau lezat, lalu dengan susah payah ia membuka mata dan mencari dari mana asal bau masakan sedap itu.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Shatya setelah melihat Naura yang sibuk memasak di dapur.
"Ah kau sudah bangun? aku sedang membuat sarapan pagi,"jawab Naura.
"Mengapa repot-repot? jika lapar pesan saja makanan," ucap Shatya
Naura tertawa kecil "Apa gunanya ada wanita di rumah tapi untuk makanan saja masih dipesan dan membuang-buang uang?" ucapnya, namun ternyata kata-kata itu diucapkan tidak hanya ditujukan kepada Shatya semata, melainkan untuk menyindir Sofiah yang saat itu sudah berdiri dibelakang Shatya. Naura tersenyum sinis pada Sofiah membuat Sofiah menyadari apa maksud dari kata-kata Naura.
Shatya tak menjawab dan ketika membalikan badannya ia terkejut melihat Sofiah yang sudah berdiri di sana. Saat mereka tepat berhadapan Sofiah membalikan badan dan berlari kecil ke kamarnya karena merasa malu pada Shatya dan Naura. Ia merasa bahwa yang dikatakan Naura benar adanya. Shatya yang melihat Sofiah pergi begitu saja meninggalkan dapur ingin menahannya namun lebih memilih diam dan hanya menatap kepergian Sofiah tanpa suara.
"Haruskah kau mengatakan itu?" tanya Shatya pada Naura terdengar kesal.
"Memangnya apa yang ku katakan? aku kan hanya bilang sesuai fakta.," jawab Naura ikut kesal.
"Kamu benar, tapi tetap saja kita adalah orang Indonesia yang tinggal di korea, berada di negara asing harusnya belajar hemat dengan tidak membuang-buang uang kan?" bantah Naura.
"Kemana perginya Naura yang ramah dan pandai menjaga hati orang?" tanya Shatya. Sorotan matanya menandakan kekecewaan.
"Bukankah kau juga sudah berubah?" tanya balik Naura, ia tak terima di salahkan seperti itu. Shatya tak ingin berdebat lagi dan pergi meninggalkan dapur.
"Sial, Memangnya siapa gadis itu Sampai kau berbuat segitunya padaku hanya demi dia?"
****
Sofiah bersiap-siap hendak pergi kursus bahasa Korea, ia berjalan menuju pintu apartemen namun Naura menahannya.
"Tunggu Sofiah!" cegat Naura. Sofiah menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Naura.
"Makanlah dulu, kau kan belum sarapan."
Sofiah tersenyum kecil yang dipaksakan.
"Tak apa, aku akan makan di luar, lagi pula aku akan terlambat."
"Baiklah aku juga tidak perduli kau makan atau tidak, tapi aku harus mengingatkan kamu bahwa Shatya adalah kekasihku, aku adalah wanita yang dia cintai sejak kecil jadi jangan ganggu kami dan kumohon menjauh lah dari kehidupan kami," ucap Naura menatap tajam pada Sofiah.
"Memangnya aku melakukan apa? aku sama sekali tidak mengganggumu ataupun Shatya, kau saja yang membuat Shatya kecewa karena telah mengkhianatinya." Bantah Sofiah, Naura merasa sangat kesal pada Sofiah dan hendak menamparnya.
"Beraninya kau menguping pembicaraan kami, dasar wanita tak tahu diri," ucapnya sambil melayangkan tangan ke wajah Sofiah Namun Sofiah berhasil menangkap pergelangan tangan Naura.
Tapi ketika Sofiah telah berhasil menggenggam tangannya erat dengan liciknya Naura menjatuhkan dirinya ke lantai seolah-olah Sofiah mendorong tubuhnya. Naura melakukan hal itu dengan sengaja karena melihat Shatya yang berjalan menuruni anak tangga, Sofiah terkejut dengan apa yang Naura lakukan.
"Awww," jerit Naura pura-pura kesakitan.
Melihat pemandangan tersebut Shatya terkejut.
"Naura," gumamnya dan berlari kearah Naura yang terjatuh dilantai. Sofiah bisa melihat jelas raut wajah hawatir dan cemas dari wajah Shatya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Shatya khawatir dan membantu Naura untuk kembali berdiri. Sofiah hampir tidak percaya dengan sandiwara yang dibuat Naura. Gadis cantik ini tidak benar-benar sempurna dia begitu licik.