Fall In Love In Korea

Fall In Love In Korea
Part 50


Sofiah nampak sibuk bekerja di sebuah rumah makan di salah satu daerah di Jakarta, ia terlihat begitu bersemangat melayani para tamu. Setelah kembali ke Indonesia dan melewati masa 6 bulan dengan bahagia tiba-tiba ayahnya jatuh sakit dan harus di rawat inap di rumah sakit, setiap hari dia terus bekerja keras, Kebahagiaan mereka sekeluarga lenyap kala itu juga.


Kakak perempuannya pun tak bisa membantu Sofiah untuk biaya perawatan Ayahnya sebab perekenomian rumah tangganya sedang buruk apalagi ia hanya bergantung pada suaminya, terlebih lagi dia memiliki dua orang putra dan putri yang harus dia nafkahi dan bayar biaya sekolahnya.


Malam itu ia sangat kelelahan, pulang berjalan kaki menuju rumahnya seorang diri, ia hidup seperti gadis yang tidak punya impian, tidak memikirkan lagi tentang masa depan, ia hanya memiliki satu harapan yaitu agar ayahnya segera pulih dan bisa berkumpul bersama keluarga lagi di rumah.


Pagi kembali menyapa kota Jakarta yang masih terasa hawa dinginnya, Sementara Sofiah saat itu sudah bangun untuk menunaikan Sholat Subuh. Dalam doanya ia selalu meminta agar ayahnya bisa lekas Sembuh agar keluarganya bisa kembali bahagia seperti dulu.


Usai sholat Subuh Sofiah segera siap-siap untuk pergi ke rumah sakit, hari ini sudah waktunya dia membayar kembali biaya rumah sakit ayahnya.


"Kamu mau ke rumah sakit nak?" tanya ibunya yang saat itu sibuk menyajikan makanan di atas meja.


"Iya ma.." Jawab Sofiah sambil mencuci makanan yang dihidangkan ibunya di atas meja.


"Maafkan ibu nak, di usiamu yang masih muda ini ibu tidak bisa membantumu mencapai cita-citamu dan malah membuat kamu harus bekerja keras untuk menafkahi keluarga kita dan juga membayar biaya rumah sakit ayahmu.." Ucap ibunya menatap sedih pada putrinya yang semakin kurus karena sudah sangat jarang beristirahat.


"Tidak apa-apa ibu, lagi pula sudah menjadi kewajiban ku untuk melakukan ini.." Sofiah memeluk ibunya yang sudah menangis.


"Aku sudah sangat lapar buk, jika ibu terus menangis begini bagaimana aku bisa makan." Sofiah berkata manja untuk mengubah topik pembicaraan membuat ibunya tertawa melihat tingkahnya.


"Baiklah Ayo-ayo makanlah.." Kata ibunya dan membawanya duduk, dengan penuh kasih sayang ibunya menyendok kan nasi ke piring untuk Sofiah.


"Terimakasih ibu.." Ucap Sofiah dan melahap makanan yang sudah di sajikan ibunya.


"Sama-sama putriku, makanlah yang lahap." Kata ibunya sambil menatap putrinya yang tengah menyantap makanan itu. Beberapa menit kemudian Sofiah akhirnya selesai sarapan pagi dan hendak berangkat ke rumah sakit.


"Baiklah ibu, aku berangkat dulu ya.." Pamit Sofiah sambil memeluk ibunya. "Aku baik-baik saja ibu, ibu tak perlu menghawatirkan aku.." katanya lagi dengan tersenyum berusaha tegar.


"Hmmm hati-hati ya sayang.." Pinta ibunya sambil melepaskan pelukannya.


"Iya ibu." Jawab Sofiah tersenyum simpul.


****


Sofiah tiba di rumah sakit dan segera pergi ke bagian administrasi untuk membayar biaya tagihan rumah sakit ayahnya.


"Permisi sus, saya mau membayar tagihan rumah sakit ayah saya.." Kata Sofiah.


"Atas nama pasien siapa mbak?" tanya suster tersebut.


"Hendrawan sus." Jawab Sofiah.


"Baiklah saya cek dulu ya."


"Baik sus."


"Mbak, biaya rumah sakit bapak Hendrawan sudah dilunasi.." Kata Suster tersebut sambil tersenyum.


"Tapi sus, saya belum membayar tagihannya bagaimana bisa sudah lunas?" tanya Sofiah bingung. "Coba dilihat lagi Sus, barangkali itu Hendrawan yang lain."


"Bagaiman Sus?"


"Pasien atas nama Hendrawan hanya ada satu orang mbak, dan semua biayanya tidak perlu di cicil lagi karena sudah lunas." Jawab Suster tersebut.


"Tapi siapa yang membayarnya Sus?" tanya Sofiah bingung.


"Saya juga tidak tau mbak, mungkin saat orang itu membayar biayanya bukan saya yang sedang piket saat itu.."


"Baiklah terimakasih suster.."


"Iya sama-sama mbak.."


Sofiah berjalan meninggalkan ruang administrasi dengan bingung penuh pertahanan.


"Siapa orang yang sudah melunasi biaya rumah sakit Ayah?"


Sofiah kemudian masuk ke ruangan tempat ayahnya di rawat namun tidak mendapati ayahnya di dalam.. Ia panik dan langsung menemui para perawat.


"Mbak ayah saya tidak ada di kamar apa anda melihatnya?" Tanya Sofiah panik.


"Maaf mbak, apa mbak tidak tau? ayah mbak sudah di pindahkan ke ruang VIP." Jawab perawat tersebut.


"Apa? tapi siapa yang melakukannya?" Tanya Sofiah semakin bingung.


"Saya tidak tau mbak.." Jawab perawat tersebut. "Permisi.."


"Ah ya.."


Sofiah bergegas pergi ke ruang VIP, dan melihat ayahnya yang tertidur pulas di atas ranjang. Ia menangis terharu Melihat ayahnya berada disana dengan begitu ayahnya akan mendapatkan perawatan yang lebih baik.


"Cepatlah sehat ayah.. Kami semua merindukanmu.." Ucap sofiah sambil memegang tangan ayahnya dan mencium tangan yang sudah keriput dan pucat tersebut.


Sofiah masih bingung siapa sebenarnya yang melakukan ini semua.. Karena sangat penasaran dia menghubungi kakaknya.


"Halo kak.."


"Ya Sofiah ada apa? ayah baik-baik saja kan?"


"Iya kak, tapi.., apa kakak yang melunasi biaya rumah sakit ayah dan bahkan memindahkannya ke ruang VIP..?"


"Haaa Kau bicara apa Sofiah? kau sendiri tau betul perekonomian keluargaku bermasalah bagaimana aku melakukan itu?"


"Ahh baiklah aku sudahi dulu ya.." Ucap Sofiah dan memutuskan sambungan telepon.


Sofiah masih dilanda penasaran dengan orang yang sudah melakukan ini semua. Namun ia masih harus kembali bekerja dan pergi meninggalkan rumah sakit menuju restoran tempatnya bekerja.