Fall In Love In Korea

Fall In Love In Korea
Part 46


Paginya Shatya terbangun dari tidur lelapnya. keadaannya sudah jauh lebih baik dibanding semalam dan iapun segera membersihkan diri. Usai mengganti pakaian ia berjalan menuju kamar Sofiah.


langkahnya berhenti tepat di depan pintu kamar Sofiah. Dia sungguh tidak kembali.. gumamnya sambil tersenyum sedih. Perlahan Dia membuka pintu kamar tersebut dan masuk ke dalam, lalu mengamati isi kamar tersebut.


"Kamar ini memang sangat cocok untuk Sofiah, membuat kamar ini terlihat lebih hidup."


Kemudian matanya tertuju pada secarik kertas yang terletak di atas meja, karena rasa penasaran ia pun berjalan mendekati meja tersebut dan mengambil secarik kertas yang terletak di sana. kertas tersebut terdapat tulisan tangan Sofiah, kemudian Shatya mulai membacanya..


"Hei tuan sombong, bagaimana keadaanmu? aku harap kau baik-baik saja.. Setelah kau membaca surat ini, aku tidak tau apakah aku sudah di indonesia atau aku sedang dalam perjalanan ke bandara atau mungkin aku sedang di bandara.. Maaf jika harus pergi dengan cara seperti ini, tanpa pamit. Aku hanya khawatir jika pamit dan melihatmu secara langsung aku tidak bisa pergi meninggalkanmu, karena aku menyukaimu dan teramat sangat menyukaimu, sampai-sampai aku gelisah. Namun aku tau siapa yang lebih pantas untukmu. Waktu kau mencium ku aku fikir itu karena kau menyukaiku tapi sepertinya aku salah dan sekarang aku janji aku tidak akan pernah mengganggu hubunganmu dengan Naura lagi, sampai jumpa lagi ya dan terimakasih banyak sudah membantuku selama di Negeri asing ini, aku juga sudah mentransfer hutangku ke rekeningmu. Terimakasih Shatya jika bukan karena kau aku tidak tau bagaimana hidupku sekarang, apakah aku bisa menginjak tanah airku lagi atau terjebak selama-lamanya disana.. Sekali lagi terimakasih banyak SHATYA.."


Usai membaca surat itu tubuh Shatya terasa lemas, ia ragu apakah masih belum terlambat untuk menemui Sofiah saat ini.. Namun ia tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa hatinya ingin menemui Sofiah, perasaan adalah satu-satunya yang tidak bisa dibohongi keinginannya..


Tanpa fikir panjang lagi, Shatya segera keluar dari kamar Sofiah dengan buru-buru ia berlari menuju tempat parkir mobil. Selama perjalanan perasaannya gelisah ia hanya bisa berdoa dalam hatinya semoga ia belum terlambat dan masih sempat menemui Sofiah di bandara..


******


Sofiah berdiri menatap ke suatu tempat dimana ia berharap Shatya akan muncul dari sana.. Namun sudah terlalu lama menunggu Shatya masih juga tidak muncul.


"Aisssh dasar aku, jelas-jelas aku sudah bilang bahwa aku tidak akan menggangu hubungan Shatya dan Naura, tapi hati ini benar-benar keterlaluan dia tidak mau diajak bekerja sama.." Batin Sofiah menggerutu.


"Apa kamu yakin tidak akan pamit secara langsung kepada Shatya?" tanya Eun yang sedari tadi menemaninya. Sofiah menghela nafas.


"Aku yakin.."


"Dasar wanita, mereka selalu mengesampingkan perasaan mereka dan membuat perasaan itu menderita dengan sendirinya." Ucap Eun Woo sambil menggelengkan kepalanya.


"Benarkah? rupanya wanita memang sudah dilahirkan dengan hati yang seperti itu, tapi bukankah laki-laki juga begitu..?"


"Entahlah, tapi jika itu aku maka aku akan mengatakan semua yang aku rasakan.."


"Memangnya apa yang kamu rasakan saat ini?" tanya Sofiah dan dengan sedih,


"Aku merasa sedih karena kau menolak ku, aku merasa kehilangan karena setelah menolak ku kau juga kembali ke indonesia. Bahkan meskipun hanya sebatas sahabatmu aku ingin melihatmu tetap berada disini.."


Sofiah tersenyum tipis mendengar jawaban Eun.."Main ne.."


"Aiish aku tidak mengatakannya agar kau merasa bersalah dan meminta maaf padaku. Lagi pula aku senang kau mengambil keputusan dengan hatimu, setidaknya kau sudah jujur pada hatimu."


"Gomawo..," ucap Sofiah dan tersenyum manis.


"Hahaha sudahlah, ayo sanah pergi, pesawat akan segera berangkat.."


"Baiklah, lagi pula tidak ada yang harus ku tunggu lagi sekarang. " Ucap Sofiah sambil menghela nafas.


"Aku berangkat ya..," pamit Sofiah. Eun mulai merasa sedih dan mulai merasa sunyi mendengar ucapan pamit dari Sofiah.


"Hmm hati-hati ya..," ucap Eun Woo berusaha tersenyum.


"Harusnya kau katakan itu pada kaptennya, karena keselamatan ku bergantung padanya." Ucap Sofiah bercanda..


"Sayangnya aku tidak bisa bertemu kaptennya, jadi bagaimana pun caranya cobalah untuk tetap hati-hati dan sampai dengan selamat okey..!!"


"Ne arasseo." Jawab Sofiah tersenyum, Eun Woo membalas senyuman Sofiah.


"Baiklah aku pergi, dah.." Pamit sofiah sekali lagi sambil melambaikan tangannya pada Eun Woo.


"Daaah." Dengan perasaan sedih dan berat hati Eun Woo membalas lambaian tangan Sofiah. Matanya terus menatap gadis itu yan berjalan semakin jauh dari pandangannya.


"Senang bertemu denganmu, Sofiah. Tolong bahagia lah disana." Gumam Eun Woo.