Fall In Love In Korea

Fall In Love In Korea
Part 44


Sofiah membuka pintu apartemen dan ketika pintu itu terbuka perlahan, seketika ia terkejut dengan apa yang ia lihat. Pemandangan yang membuat jantungnya seolah ingin berhenti namun berpacu lebih kencang, terasa sesak dan nyeri disana.


Shatya yang menyadari kedatangan seseorang melepas ciuman paksa dan tiba-tiba yang ia terima dari Naura tersebut. Perlahan ia melihat ke belakang untuk melihat siapa yang datang, dan orang itu adalah Sofiah. Orang yang diharapkan Shatya bukan dia yang datang dan menyaksikan kejadian bodoh ini. Matanya menatap terkejut dan juga perasaan bersalah pada Sofiah yang masih berdiri terpaku disana, sementara Naura merasa senang karena tidak menyangka perbuatannya bertepatan dengan datangnya Sofiah.


"Sofiah..," gumam Shatya, namun saat mendengar namanya disebut Sofiah malah berbalik dan berlari meninggalkan apartemen Shatya..


"Sofiah tunggu!" panggil Shatya dan mencoba mengejar Sofiah. Namun sebelum berhasil melangkahkan kakinya, Naura terlanjur menggenggam pergelangan tangan Shatya.


"Katakan! kau masih mencintaiku kan?" tanya Naura emosi, matanya berkaca-kaca.


Shatya yang sudah menahan langkahnya tersenyum kecut dan membalikkan badan menghadap Naura.


"Apakah kamu bodoh! jika aku mencintaimu tidak mungkin aku akan mengejar wanita lain. Sekarang bagiku kau hanyalah sahabatku, tidak lebih dari itu." Ucap Shatya ketus dan mencoba menahan amarah. Naura melepaskan pergelangan tangan Shatya dari genggamannya. Kalimat itu jelas-jelas menyakiti perasaan Naura.


"Lalu mengapa berhenti? sekarang pergilah kejar dia..," ucap Naura dalam keputusasaan dan kekecewaan yang luar biasa sakitnya.


"Apakah kau fikir setelah perbuatan mu itu, aku masih pantas untuknya? berkali-kali kamu membuat aku tidak layak untuknya." kata Shatya dan pergi meninggalkan Naura menuju kamarnya dengan kesal dan sedih..


Dari ruang tamu Naura mendengar suara pintu kamar yang dibanting keras oleh Shatya. Naura hanya bisa diam dan menangis, ia fikir Shatya masih orang yang sama yang dikenalnya beberapa tahun lalu namun ternyata berbeda setelah dia bertemu dengan Sofiah. Dan setelah merenung lama Naura akhirnya sadar andai saja waktu itu Naura tidak berkhianat dan tetap setia menunggu Shatya.


Ia teringat bagaimana dia sangat mencintai pria yang membuatnya mengkhianati Shatya namun pria itu kembali mengkhianatinya sehingga dalam keputusasaan dan sakit hati dia pergi mencari Shatya. Mengingat semua itu membuat Naura semakin terisak dalam tangis. Ia benar-benar menyesali perbuatannya.


Setelah menghubungi Eun Woo untuk mengajaknya bertemu, Sofiah menangis di taman kota seorang diri. Perasaannya teramat sakit melihat adegan romantis antara Naura dan Shatya.


"Harusnya aku sadar Shatya memang hanya mencintai Naura"


Tak butuh waktu lama Eun Woo datang dan berlari menghampiri Sofiah dengan khawatir.


"Sofiah kau tak apa-apa?" tanya Eun Woo ketika tiba dan melihat Sofiah duduk menangis seorang diri di taman kota.


"Apa yang terjadi? mengapa mengajakku bertemu malam-malam seperti ini disini?"


Sofiah mengangkat wajahnya dan berdiri tepat berhadapan dengan Eun.. Iya ingin berbicara serius dengan Eun Woo.


"Ada apa Sofiah?" tanya Eun Woo sangat khawatir.


"Aku ingin menjawab pertanyaanmu.. Aku sudah memutuskan jawabanku..," ucap Sofiah mencoba menenangkan diri. Eun Woo mendengarkan dengan serius.


"Bagiku.., kamu adalah sahabatku. Aku tidak ingin cinta merusak persahabatan kita, aku ingin tetap menjadi sahabat baikmu. Aku tidak ingin kita akan saling mencintai dan kemudian kata itu akan merusak hubungan kita ini..," ucap Sofiah sambil terisak dalam tangis, Eun Woo menghela nafas panjang dan dalam..


Sofiah melanjutkan kata-katanya. "Maafkan aku Eun,, tapi aku sungguh hanya ingin menjadi sahabat terbaikmu.. Aku juga ingin berterima kasih banyak kepadamu karena sudah membantuku, menjagaku selama aku berada disini. Aku tidak ingin kehilangan kamu sebagai sahabatku untuk itulah Biarkan kita tetap menjadi sahabat tanpa harus menjalin hubungan cinta yang takutnya akan membuat hancur persahabatan kita ini.."


"Apa ini juga karna Shatya? kau menyukainya kan?" tanya Eun Woo.


Sofiah tidak mampu menjawab pertanyaan Eun Woo, sebaliknya tangisnya semakin Isak, cukup membuat Eun Woo memahami jawaban Sofiah atas pertanyaannya.


Eun Woo tak kuat mendengar Sofiah menangis. "Aku mengerti Sofiah, aku mengerti hal yang kamu khawatirkan.. Maafkan aku sudah menyatakan perasaanku dan membuatmu tak enak.. Sekarang jangan khawatir lagi,, aku akan tetap menjadi sahabatmu.. Sahabat terbaikmu," ucap Eun Woo. "Jangan menangis lagi oke, aku tidak suka melihat sahabatku menangis seperti ini."


Sofiah malah semakin terisak mendengar kata-kata Eun Woo dan akhirnya ia ambruk dalam pelukan Eun Woo, Eun Woo memeluknya cukup erat berusaha menenangkan Sofiah.


"Maafkan aku Eun..," tangis Sofiah dalam pelukan Eun woo.


"Gwanchana, aku baik-baik saja." Hibur Eun Woo sambil menepuk-nepuk pundak Sofiah.


Shatya baru saja tiba di taman kota, setelah lama mencari Sofiah kemana-mana, dan hari ini ia harus menyaksikan kembali Sofiah berada di pelukan orang lain.


Kakinya terasa lumpuh, matanya meneteskan air mata.


"Rupanya aku tidak punya harapan lagi..," ucap Shatya dan berbalik meninggalkan Sofiah dan Eun Woo dengan perasaan sakit hati dan rasa bersalah yang luar biasa.


*****


Cinta terkadang selalu rumit, untuk hidup bahagia bersama itu butuh proses yang tentu saja tidak mudah. Dan hanya orang-orang yang memiliki ketulusan dalam mencintai yang bisa melewati serumit apapun rintangan untuk dilewati..