Fall In Love In Korea

Fall In Love In Korea
Part 47


Setibanya di bandara Shatya panik mencari kesana-kemari akan keberadaan Sofiah, namun tak ada tanda-tanda jikalau Sofiah masih berada disana, Sementara Eun Woo yang hendak kembali ke rumah tanpa sengaja melihat Shatya yang panik mencari seseorang. Eun Woo merasa sedih dan kesal melihat Shatya seperti itu dan langsung berjalan menghampiri Shatya. Shatya yang sibuk mencari keberadaan Sofiah akhirnya mendapati Eun Woo berjalan kearahnya ia pun berlari kearah Eun Woo dan dengan kasar bertanya tentang keberadaan Sofiah..


"Dimana Sofiah?" tanya Shatya matanya merah menahan sedih, tangannya memegang erat bahu Eun Woo yang berdiam diri.


"Dia sudah kembali ke Indonesia, pesawatnya baru saja berangkat.." Jawab Eun Woo.


"Apa? tanpa pamit dariku secara langsung? itu tidak mungkin,, Sofiah tidak boleh melakukan ini padaku!" ucap Shatya sambil melepas tangannya dari pundak Eun Woo, air matanya menetes, ia sangat menyesali sikapnya pada Sofiah. Selama ini dia terkenal cerdas di kampus faktanya dia sangat bodoh dalam hal seperti ini.


"Kau yang seharusnya memikirkan perasaan Sofiah, jika bukan karena dirimu dia mungkin masih berada disini.."


"Apa yang harus ku lakukan? Sofiah sudah pergi.. Aku sudah terlambat.." Shatya merasa putus asa.


"Kau sungguh terlihat seperti orang bodoh, Sofiah hanya kembali ke Indonesia bukan pergi meninggalkan dunia ini selamanya. Pastikan nomor handphonemu masih sama. Aku akan mengirim alamat rumahnya padamu," ucap Eun Woo dan pergi meninggalkan Shatya, Shatya diam mencerna kata-kata Eun Woo dan akhirnya ia sadar bahwa ia masih bisa menemui Sofiah dengan cara pergi ke Indonesia.


Shatya akhirnya tersenyum dan berterima kasih pada Eun Woo "Terimakasih Eun Woo, aku akan mengingat kebaikanmu. Aku juga ingin minta maaf padamu atas perilaku yang tidak baik terhadapmu." Eun Woo yang mendengar ucapan Shatya hanya tersenyum simpul dan terus berjalan dengan gayanya.


****


"Kau ingin pergi ke Indonesia hanya untuk gadis miskin itu? apa kau sudah gila??" tanya ayah Shatya dengan kesal.


"Ya, aku ingin menemuinya. Tapi kamu sudah memblokir semua kartu rekeningku. Ayah aku mohon padamu sekali ini saja, aku mohon Ayah.." Shatya begitu inginnya menemui Sofiah sehingga rela bermohon pada ayahnya sendiri.


"Maaf tapi aku tidak bisa." Ucap ayahnya tegas dan berlalu meninggalkan Shatya, Shatya tak bisa berbuat apapun selain menangis patah hati melihat kepergian ayahnya dari ruang tamu rumahnya. Akhirnya dengan perasaan sakit hati ia hendak kembali ke apartemennya..


"Tuan apa anda baik-baik saja?" tanya Ryo namun Shatya langsung masuk ke dalam mobil tanpa menjawab pertanyaan Shatya. Ryo akhirnya sadar semuanya tidak berjalan lancar namun ia juga tidak bisa membantu tuan mudanya dengan melawan tuan besarnya.


"Maafkan saya tuan.."


"Bukankah kamu sudah keterlaluan pada Shatya? mengapa tidak biarkan dia mengejar cintanya? kau adalah ayahnya tapi tidak berhak mengatur jalan hidupnya!" Ucap ibu tiri Shatya tak tega melihat Shatya pergi dalam keadaan putus asa.


"Aku hanya tidak ingin dia melakukan kesalahan yang sama sepertiku dulu," jawab ayah Shatya dengan sedih.


"Aku tidak perduli tentang masa lalu mu, kau meninggalkanku dengan wanita lain ke Indonesia dan memperoleh seorang anak dengan wanita itu yang tak lain adalah Shatya, dan beberapa tahun kemudian kamu kembali padaku meminta maaf dan ingin melanjutkan kariermu kembali. Aku dengan ikhlas menerima kehadiran kamu kembali padaku, namun aku tau Shatya berbeda denganmu, dia tidak akan pernah meninggalkan orang yang dia sayangi demi alasan apapun itu." Ucap ibu tiri Shatya dengan tangis yang akhirnya pecah.


"Sekarang bagiku Shatya adalah putraku, putraku satu-satunya. Jika kau mencoba menghalangi kebahagiaannya maka aku akan menjadi orang pertama yang melawan mu..!" ucapan tegas tersebut menyentuh hati Stevan atau ayah Shatya, ia terduduk lemas di atas sofa dan menangis. Sementara Mi Raa pergi dengan air mata meninggalkan Stevan yang duduk lesu di atas sofa.


Dibalik pintu ternyata Shatya yang kembali untuk mengambil handphonenya yang tertinggal tanpa sengaja mendengar semua pembicaraan ibu tiri dengan ayahnya tersebut. Air matanya menetes, ia masih tidak percaya bahwa ternyata ibu kandungnya lah yang telah merebut ayahnya dari ibu tirinya.


"Selama ini aku berfikir bahwa wanita itu yang telah merusak kebahagiaan ibuku dan aku, tapi ternyata dialah yang telah dikhianati, dia juga menderita akibat penghianatan namun meskipun begitu dia yang ku fikir pura-pura baik padaku ternyata sangat menyayangiku seperti putranya sendiri, seharusnya dia membenciku.." Batin Shatya mulai dilema.


Ia tak berani masuk kembali untuk mengambil handphonenya yang ketinggalan dan malah berbalik kembali ke mobil, Ia hanya memerintahkan kepada Ryo untuk mengambilkan handphonenya tersebut. Suasana hatinya semakin kacau ditambah kenyataan yang menyakitkan ini. Selama ini ia fikir ibunya lah perempuan yang menderita dan dikhianati namun fakta yang sebenarnya telah membuat ia merasa malu dan sakit hati.


"Mengapa hidupku menjadi se kacau ini?


mengapa kau tak bawa aku pergi bersamamu ibu?


mengapa kau biarkan aku sendirian harus menanggung malu atas perbuatan mu?


aku malu ibu, aku sakit, aku sakit."


Shatya menangis sepanjang perjalanan menuju apartemen nya, Diamnya kali ini membuat Ryo benar-benar prihatin dengan kondisi kesehatannya. Selama ini Ryo melihat tuannya sebagai sosok yang cool, pintar, bijaksana, namun ternyata dia menyimpan penderitaan sebanyak ini.